Jam telah menunjukan pukul delapan malam. Tapi seorang wanita masih setia berdiri di depan gerbang milik tetangganya. Sudah setengah jam ia berada di sana. Ragu untuk menemui pemilik rumah. Sebuah paper bag bergelantung di tangan.
Kali ini rambutnya tidak berantakan. Hair bun dengan tatanan poni tipis menghasilkan kesan manis. Mahkota kecoklatan itu terlihat rapih. Jumpsuit berwarna kuning yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha menambah gemas penampilannya.
Sekali lagi! Wara mencoba memberanikan diri. Namun, yang terjadi tetaplah sama. Membiarkan tangannya mengawang di depan bel dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Gugup, malu, dan tidak enak bercampur menjadi satu.
Wara membuang napas kasar. Mengangguk mantap, meyakinkan diri bahwa ia bisa memperbaiki situasi.
"Ini tidak boleh berlanjut! Hentikan kegilaanmu dan berhentilah bersikap bodoh! Sungguh, itu bukan dirimu!"
Wara memangkas jarak. Pelan tapi pasti ia memajukan jari telunjuk. Menatap saklar bel penuh kebimbangan. Detik berikutnya, wanita itu berpaling. Menggigit jari saat kontraksi berirama yang ditimbulkan oleh rongga organ berotot semakin tidak menentu.
Wara menggeleng cepat. Menepis rasa yang tak biasa itu dengan sebuah tekad.
"Tidak! Tidak! Tidak! Itu jelas bukan cinta! Aku hanya tidak bisa melihat pria tampan di kala jomblo. Ya! Itu saja, bukan yang lain! Fakta jika aku masih memikirkan Jackson sudah cukup memberi jawaban. Bos hanya sebatas tampan. Mencuci mataku dengan kemanjaan surga dunia." Wara terkikik. Berbalik penuh semangat.
Sial! Tatkala ia hendak menekan tombol, suara seseorang yang tidak asing membuat wanita itu salah tingkah.
"Cuci mata? Sebatas tampan? Apa kau sedang membicarakanku?" tanya Jun. Berdiri di belakang Wara sambil menyembunyikan kedua tangan di balik saku celana.
DEG!
"Uhuk...! Uhuk...!"
Wara terbatuk, tanpa sadar menekan tombol begitu lama. Menimbulkan keributan di sekitar tempat tinggal. Anjing-anjing tetangga bahkan kompak menggonggong. Mencurigai sesuatu yang janggal. Memaksa beberapa petugas keamanan untuk mengecek kondisi sekitar.
Sadar akan perbuatannya yang telah menciptakan kegaduhan, dengan cepat Wara menarik tangan. Kepanikan kembali menyergapnya.
Wara hendak mengacak rambut tapi seketika itu ia mengingat prinsip yang telah ditetapkannya hari ini.
Tangan sudah mengawang di udara, Wara menggerak-gerakan kepala ke kanan dan ke kiri. "Itu bukan Wara yang kukenal! Tolong jangan lakukan itu!" seru Wara mensugesti dirinya sendiri.
Mata Wara membulat dengan sempurna ketika beberapa satpam mendekat ke arahnya. Ia pun segera mencari perlindungan. Sedikit membungkukkan tubuh, bersembunyi di belakang Jun.
"Apa aku akan diadili sebagai pencuri? Penyusup? Maling? Oh tidak!" Wara meremas kuat kaos bagian samping yang tengah dikenakan Jun. "Bos ... kau tahu aku hanya menekan bel saja. Tidak melakukan apapun. Tolong jangan memfitnahku," rengek Wara setengah memohon.
Jun terkekeh. "Kau ini sedang meminta tolong tapi kenapa malah menuduhku! Mungkin kau lupa! Jika negara masih memiliki pasal pencemaran nama baik yang bisa diandalkan."
"Abisnya bos—"
"Apa? Aku kenapa? Menyebalkan begitu? Suka marah-marah? Ngegas terus kerjaannya? Iya?" potong Jun. Menghujani wanita itu dengan banyak pertanyaan.
Kepala Wara reflek mengoleng, menyangkal apa yang dikatakan pria itu. Meskipun demikian, batinnya tentu tak sejalan.
"Ah, tidak. Bos marah karena karyawan berulah. Itu baru benar," bela Wara dengan suara kecil.
Di belakang, wanita itu sudah menegangkan jari-jari. Bak seokor singa yang hendak menangsa Jun hidup-hidup.
'Ya benar! Kenapa sih bos suka teriak-teriak? Mukul meja, pintu, tembok, sesuka jidat! Bisa ga sih marahnya tetap stay cool gitu? Tidak usah menggapai oktaf tertinggi? Bos kan bukan penyanyi. Mana ada yang mau kasih penghargaan sekalipun kau bisa memecahkan pemegang rekor suara tertinggi di dunia. Bos! Bos! Bos! Itu loh aku ngeri. Takut pita suara bos putus. Kerongkongan kering. Lidah kesleo. Bos model begini pasti banyak yang nyumpahin. Percaya deh! Tapi dipikir-pikir iya sih, kamu marah kalau kami berbuat salah. Herannya, kenapa cara memaafkanmu juga terkadang keren. Huhuhu ....' berang Wara di dalam kalbu, mengeratkan cengkramannya.
"Jangan memendamnya di dalam hati. Aku termasuk orang yang punya banyak kelebihan. Tidak sulit menebak pikiranmu," sindir Jun.
Wara terhenyak. Ia menegakkan tubuh. Teror terlihat jelas di wajahnya.
"Be-benarkah?" tanya wanita itu ketakutan.
Jun menoleh. "Apa sulitnya?"
"Ta-tapi aku tidak mengutukmu," kelit Wara.
"Oh iya? Apa aku baru saja mendengar sebuah pengakuan?" selidik Jun setengah memicing.
"Ti-ti-tidak! Bu-bukan begitu!" kilahnya semakin tergagap.
"Aa ... sudahlah! Lain kali, keluarkan saja sumpah serapahmu itu! Sungguh, aku pasti akan membalas cacianmu lebih pedas! Asal kau tahu, bos tidak pernah salah! Mencari kelemahan orang juga bagian dari kelebihanku. Apalagi tak ada hal yang menarik yang bisa kulihat dari dirimu. Semuanya ... mines!" terang Jun, memperlambat dan memberi tekanan pada kata terakhir.
Jun meluruskan pandangan. Tersenyum miring saat jarak Pak Satpam semakin mendekat.
"Bos! Bos! Bos!" Wara menarik-narik ujung kaos Jun.
"Hem ...!" sahutnya dingin.
"Beneran bos bisa baca isi hati orang?"
Jun terbahak. Berbalik hanya untuk menoyor dahi Wara. "Bodoh!" cemoohnya.
Wara cemberut. Menghentak-hentakkan kaki dengan ekspresi geram yang justru terlihat lucu di mata Jun.
"Apa?" tantang Jun berkacak pinggang. Mengangkat dagu, meninggikan derajat.
Wara tidak menanggapi. Memilih memutar tubuh Jun saat satpam menyapa mereka. Bersembunyi di balik punggung pria itu. Sesekali ia mengintip dari celah yang terbentuk akibat tangan Jun yang masih menempel di pinggang.
"Selamat malam mas? Ada apa ya?" tanya salah satu satpam.
Jun melempar senyum ramah. "Tidak ada yang perlu dicemaskan Pak. Saya tidak bermaksud mengagetkan tamu saya, tapi dia malah terlonjak dan membuat kecerobohan. Tolong maafkan kami," papar Jun terdengar tulus.
"Oh, syukurlah. Kalau begitu, selamat beristirahat."
"Ah iya. Saya akan ganti dengan bel yang lebih ramah lingkungan. Sekali lagi maafkan kami," tukas Jun, menunjukan penyesalan.
"Tidak masalah mas. Yang penting tidak ada hal buruk," ungkap satpam lainnya. Mereka pun pergi setelah berpamitan.
Jun memfokuskan pandangannya pada barang yang tengah di bawa Wara.
"Ingin menemuiku?" lontar Jun tanpa basa-basi.
Kembali ke posisi tegap. Wara menekuk wajah dengan bibir bawah yang terlihat bergetar. Sesekali ia juga menggigit sudut mulut. Grogi sesaat menyergap.
Wara menyerahkan paper bag yang dibawanya. Enggan menatap Jun lalu berkata, "Bajumu."
Suara yang keluar lagi-lagi menjerat Jun. Terpaku sejenak dengan apa yang didengarnya.
"Soal tadi siang—"
"Krucuk! Krucuk!"
Bunyi perut yang ditimbulkan menjadi kesialan beruntun. Memangkas kalimatnya sendiri. Wara mengelus perut. Tertunduk semakin dalam. Menangis dibuat-buat.
"Kau pun tak berpihak kepadaku!" Wara menyalahkan cacing di perutnya.
Jun menghela napas. Ketidaktegaan menuntun nurani pria itu untuk bertindak.
"Tapi kali ini aku berpihak kepadamu. Ayo!" ajak Jun, menerima paper bag kemudian menggantungnya di pagar. Jun menarik tangan Wara.
"Eh! Mau kemana? Aku bisa teriak dan bilang jika kau hendak menculikku!" ancam Wara berjalan tertatih, menyeimbangkan langkah Jun.
Jun menghempaskan tangan Wara. Kesal karena dituduh yang tidak-tidak.
"Hei! Tolong sadar diri!" Jun mengusap kasar paras lawan. "Apa untungnya menculikmu, hah? Kau bahkan selalu menyusahkan!" gerutu Jun. Berjalan lebih cepat meninggalkan Wara.
"Bungkam cacingmu yang menyedihkan dengan makan! Memalukan saja!" cibirnya kemudian.
Kelopak mata wanita itu menyentak bersamaan. Menimbulkan binar kebahagiaan pada indra penglihatan.
Wara berlari menyusul Jun. "Aku tidak membawa uang. Apa bos bawa uang? Ditraktir kan? Yeeyy!" Wara bersorak girang.
Jun berhenti. Ketidaksigapan membuat Wara menabrak punggung Jun. Wara pun terpental dua langkah ke belakang.
"Isshh ...! kenapa berhenti mendadak?" protes Wara.
Jun menyeringai. "Tidak perlu membawa alat pembayaran yang sah. Aku bisa menukarmu dengan jajanan kaki lima. Meninggalkanmu sebagai jaminan sepertinya menarik. Setidaknya, keberadaanmu bermanfaat. Apalagi jika pada akhirnya aku tidak datang untuk menebusmu. Bisa kau bayangkan apa yang akan mereka lakukan kepadamu?"
"Apa!" sungut Wara tidak terima.
Jun tertawa renyah. Meninggalkan Wara yang masih menahan amarah di tempatnya.
Wara membuntuti Jun. Langkah cepat sukses memangkas celah yang tercipta.
"Nyebelin! Nyebelin! Nyebelin!" rajuknya. Memukul-mukul pelan punggung Jun. Tapi detik berikutnya ia malah mengaitkan tangan di lengan atasannya.
"Bos, mau itu, itu, dan itu." Wara menunjuk lumpia basah, cimol, dan empek-empek Palembang. Berjejer ramai di depan pusat perbelanjaan.
Komplek perumahan kelas menengah ke atas itu memang dilengkapi berbagai fasilitas. Pusat kuliner, sekolah elit, karauke, kedai, bar, dan sebagainya bisa ditemui di sepanjang jalan menuju hunian.
Jun menahan kaki. Melirik sinis pada lengannya. "Kenapa gandeng-gandeng? Memangnya kamu siapa? Berani sekali kamu!" tegur Jun.
DEG!
Wara tersentak. Menoleh pada arah yang dimaksud. Ia reflek menarik tangan. Tidak ingin disembur, Wara memilih berlari kecil, menghampiri makanan yang menggoda lidah. Acuh dengan keberadaan Jun saat ini.
Jun tergelak. "Pantas saja kinerja otaknya lemot. Jajanan dia seperti ini. Makanan apa yang dia beli? Seumur hidup aku bahkan tidak pernah mencobanya." Jun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kenapa aku jadi merasa sedang mengasuh anak kecil?"
Belum juga sampai pada gerobak yang menjual lumpia, kaki Wara terasa berat. Pemandangan yang tertangkap sukses meremukkan hatinya. Ada Jackson dan Batari yang baru keluar dari supermarket.
Berniat membantu Batari, namun justru disalah artikan oleh Wara. Kesempatan yang didapat tak dilewatkan oleh Batari. Wanita itu berlagak layaknya kekasih Jackson ketika CEO Orlando Group itu mengambil dua buah keresek besar yang tengah dijinjing sekretarisnya.
Wara memutar tubuh, menghindari seseorang yang tidak asing. Berjalan hampa dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Katamu hari berkabung untuknya telah usai. Tapi kenapa melihatnya bersama wanita lain dadamu terasa sesak. Katanya dia akan berubah. Lalu apakah bergelayut manja di bahunya bisa dikatakan sebagai bagian dari pekerjaan?"
Wara berjalan lurus. Pendangannya kosong, dirundung pilu. Tiba-tiba bahunya menabrak seseorang. Tanpa pamit pria itu meletakkan tangannya di kepala Wara. Memeluk wanita itu dalam diam.
Sempat terkejut namun akhirnya Wara memilih menyembunyikan kesedihannya dipelukan Jun.
Siapa sangka! Luka yang teramat dalam juga tengah dirasakan Jun. Bedanya, Jun terlalu pandai untuk menyembunyikan apa yang tengah dirasakannya.