Wara menciptakan jarak. Reflek mendorong tubuh Jun kala ancaman pria itu menyentak pendengaran.
Sial! Jun sama sekali tidak berpindah tempat. Gerakan yang dilakukannya justru membuat kepala Wara nyaris beradu dengan tembok yang tak rata. Untungnya, Jun sigap meletakkan telapak tangan di rambut Wara. Meninggalkan bekas kemerahan pada buku-buku jarinya.
Jun tetap berlagak cool. Tidak menunjukan keperihan yang tengah dirasakan.
Merasa ada yang janggal, Wara menoleh. Mendapati tangan Jun sebagai bantalan, mata Wara membulat dengan tangan membekap mulut. Wajahnya kacau dipenuhi keterkejutan sekaligus perasaan bersalah.
"Bos?" panggilnya dengan suara kecil nan lirih. Meraih tangan Jun, meniup kotoran penuh kasih sayang.
Seperti anak ayam yang menurut dengan induknya, Jun pasrah. Namun, ketika wanita itu hendak membersihkan jamur dinding yang menempel dengan blazer yang dikenakan, Jun menolak.
"Eh! Eh! Eh! Mau ngapain! Mau ngapain! Mau ngapain!" protes Jun, menarik tangan. Menjentik-jentikkan jarinya di dahi Wara. "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Tanganku bisa infeksi jika kau menerapkan standar perawatan luka seperti itu!" caci Jun menyambung ucapannya.
Wara menunduk. Menggenggam kuat-kuat telapak tangannya yang tengah bergetar. "Maaf .... Saya panik."
Lagi! Suara indah yang mengundang simpati itu membuat otak Jun mati kutu. Tercenung sejenak, memutar ulang apa yang baru saja didengarnya. Lembut sangat lembut. Mengantarkan perasaan damai hingga ke relung hati.
Ketakutan yang melanda Wara tak luput dari pengamatan Jun. Sukses menimbulkan ketidaktegaan. Memaksa Jun untuk mengalihkan perhatian wanita itu.
Jun memangkas celah yang tercipta di antara mereka. Menggiring Wara, memojokkan wanita itu pada tembok yang bersih.
Jun mendekatkan wajah pada telinga Wara sembari berbisik, "Bagaimana dengan noda lipstik ini! Sebentar lagi saya meeting dan kau malah—"
Kalimat Jun tertahan saat Wara justru bertingkah di luar pemikirannya. Ketegangan menuntun tangan Wara untuk membuka kancing Jun satu persatu.
Jun membuang pandangan lalu tertawa hampa. Tak berlangsung lama, ia memusatkan kembali perhatiannya pada wanita itu.
Jun memukul tembok dengan telapak tangan. Tepat di samping kepala Wara. Mengakibatkan karyawan baru itu terlonjak.
"Apa yang kau lakukan! Lancang sekali menelanjangiku! Kau pikir aku pria murahan! Bisa disentuh sembarang tangan! Begitu!" hardik Jun penuh kegeraman.
DEG!
Menyadari perbuatannya, Wara ternanap. Melebarkan pupil dengan wajah yang semakin ketakutan.
"Sa-saya hanya ingin membersihkannya. Ti-tidak bermaksud yang lain," kata Wara terbata. Merundukkan kepala, tidak berani menatap Jun.
Staf lain yang mencuri pandang kompak menepuk jidat, memejamkan mata sambil menggeleng tidak percaya. Mengutuk kelakuan Wara yang mereka anggap beloon.
Jun menghela napas kasar. Setiap bait yang keluar dari mulut wanita itu berhasil menggerogoti nurani Jun. Penyampain yang tidak biasa dan langka itu menjadi penyebabnya.
"Kenapa hanya empat kancing? Kenapa tidak semuanya?" tanya Jun mengundang pusat perhatian.
Wara mendongak, mengedip-ngedipkan bulu mata. Sedikit memiringkan kepala, tampak berpikir. Sangsi dengan perintah yang ia dengar.
Jun berdesis panjang. Tidak sabar dengan respon wanita itu. Ia pun menarik tangan Wara. Meletakkan gumpalan kertas faktur di tangannya.
"Minta print ulang. Faktur itu belum tersales update. Mita bisa menerbitkannya kembali. Untuk surat jalan, kau setrika saja. Tapi ingat! Kalau sampai terbakar ...." Jun sengaja menahan ucapannya. Ia mendekatkan wajah, menyisakan jarak dua centimeter saja. "Kau yang akan kupanggang hidup-hidup!" ancamnya dengan intonasi yang kembali meninggi. Menciutkan nyali lawan.
Wara merapatkan mata. Dahi dan alisnya mengerut bersamaan. Mengangguk berulang-ulang. Memangnya apalagi yang bisa dilakukannya. Jun sudah berbaik hati memberi toleransi di hari pertama. Itu lebih baik daripada potong gaji.
Beberapa detik tak mendengar napas Jun, Wara membuka mata. Menelan ludah kala menyaksikan Jun membuka kemejanya di depan mata. Menggiring pikiran liarnya menuju kehaluan yang hakiki.
Berkhayal sedang berada di sebuah presidential suite. Jun mendorong Wara hingga tubuh wanita itu terpental di atas tempat tidur. Pelan tapi pasti, merayap, mengukung wanita itu. Gerakan membuka baju yang dilakukan Jun terlihat seksi di mata Wara. d**a bidang dan tubuh sixpack yang terpampang, membangkitkan hawa panas.
Jun mengikis celah. Wajah rupawan itu mulai menyapa paras ayunya. Hembusan napas yang menerpa bak angin surga yang memberi kesejukan. Aroma maskulin yang memenuhi indra penciuman mampu menyalurkan kehangatan.
Wara tidak tahan. Mendekap tubuh Jun seraya bertutur, "Lakukan!"
Jun tersenyum lembut. Besiap melabuhkan bibir. Padahal yang sebenarnya, pria itu tengah meronta. Menghindari Wara yang sudah berjinjit hendak menciumnya.
"Hei! Hei! Hei!" seru Jun tidak digubris.
Yang lain hanya menatap prihatin tanpa berani ikut campur.
"Sadar! Hei! Sadar!" Jun masih berusaha mengembalikan kewarasan wanita itu.
Tetap diabaikan, Jun pun terpaksa bertindak. Kala jarak itu semakin dekat, dekat, dan sangat dekat. Tiba-tiba ....
CUP!
"Ternyata kau memang sudah bosan hidup!" maki Jun membuat kelopak yang ditumbuhi bulu-bulu lentik itu menyentak ke atas.
Wara melotot, sepasang indra penglihatannya nyaris keluar dari rongga. Apalagi saat cap bibir itu terukir indah di faktur.
Wara merebut bukti penjualan, menggunakannya untuk menutupi wajah. Wanita itu mengacak-acak rambut kemudian membenturkan kepalanya ke pembatas antar ruangan. Melayangkan sumpah serapah di dalam hati.
'Mati saja kau! Mati saja! Hancurlah sudah citraku sebagai wanita baik-baik! Malu! Malu! Maluuuu ...!'
Rasa jijik menyelimuti pimpinan DCB. Jun sudah muak. Tidak ingin membuang banyak waktu dengan kegilaan wanita itu.
"Benturkan yang keras! Siapa tahu otakmu memang sudah bergeser! Kalau bisa, hancurkan saja! Sayang sekali jika digunakan untuk berpikir jorok!" Jun meletakkan pakaiannya di meja. "Cuci!" bentaknya sebelum meninggalkan ruangan itu.
***
Di kantor berbeda. Panasnya terik di tengah hari tidak menyurutkan keinginan sepasang manusia untuk bercinta. Ruang kerja yang dilengkapi kamar pribadi itu baru saja menjadi saksi gairah intim yang menggelora.
Berdiri menatap cermin. Jackson memasang dasi. Sudah rapih dan bersiap untuk kembali bekerja. Mengabaikan Batari yang masih polos hanya dengan selimut yang membalut tubuh.
"Tidak bisakah kita menghabiskan waktu sedikit lebih lama, Jackson?" tanya Batari terdengar memohon.
"Waktu istirahat telah usai," sahutnya dingin.
Batari merapatkan bibir. Cairan bening terlihat menggenang di pelupuk mata.
Jackson tak pernah memanjakannya. Perlakuan manis hanya ditunjukan ketika sedang membutuhkan tempat penyaluran. Jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan Jun. Apakah Batari menyesal? Maukah Jun memaafkannya? Entahlah!
Sejak ketahuan berselingkuh, permainan Jackson bisa dibilang kasar. Tapi bukan itu yang membuatnya terluka. Warna di dalam kegiatan panasnya bersama Jackson membuat Batari ingin selalu mengulangnya. Tapi erangan kala pria itu menggapai puncak, terasa sedang menancapkan anak panah. Sakit! Sangat sakit!
Bagaimana rasanya jika orang yang sedang merengkuh kenikmatan bersamamu justru menyebut nama wanita lain? Itulah yang sedang dirasakan Batari saat ini.
"Jadi, aku hanya sekedar penghangat ranjang saja," gumam Batari, tertawa getir.
Jackson terpaku. Menatap Batari dari balik cermin. Sejujurnya, ia juga merasa candu dengan pelayanan Batari. Wanita itu pandai memberi kepuasan. Jackson mengakuinya. Meskipun demikian, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa Wara masih menjadi satu-satunya wanita yang bertakhta di hidupnya. Jackson pun dilanda dilema. Ingin memiliki keduanya, tapi itu jelas tidak mungkin.