'Bodoh! Sangat bodoh! Sampai kapan kau akan mempermalukan dirimu sendiri?'
Di balik reruntuhan faktur, Wara mengutuk kecerobohan yang dilakukan. Semakin mengeratkan remasannya pada continuous paper rangkap tiga yang telah tak berbentuk. Seketika melupakan alasan yang membuat dirinya terlonjak. Apalagi jika bukan suara Jun yang sanggup menggetarkan hati.
Wara mendekatkan continuous form yang ada di dalam kepalan menuju letak jantungnya. Tekanan yang diberikan diharap mampu menormalkan kinerja organ pemompa darah yang bersarang di balik rongga d**a.
Sia-sia! Perasaan alamiah yang muncul, sulit dikendalikan.
Jun menahan tawa. Sebenarnya, pria itu memang iseng. Melihat Wara melakukan tindakan konyol sudah seperti hiburan tersendiri untuknya. Mengusir penat akibat tekanan kerja yang diberikan. Oleh karena itu, Jun memutuskan untuk kembali. Menciptakan kekagetan kepada anak buahnya. Jun belum menyadari bahwa kertas yang diremas-remas Wara adalah faktur penjualan.
Perasaan yang janggal menuntut Jun untuk memusatkan perhatian. Mengamati tidak ada pergerakan yang dilakukan oleh wanita itu, kekhawatiran pun mulai hinggap di benaknya.
Jangan harap! Seorang Arjuna Dewanata akan berlagak seperti pria di negeri dongeng. Asal kalian tahu! Hidup tak seindah drama Korea. Jun tetaplah Jun. Punya cara tersendiri untuk menunjukan kepedulian. Keahliannya mencibir pun digunakan sebaik mungkin. Bertujuan memastikan karyawan baru dalam keadaan baik-baik saja.
"Baru hari pertama masuk kerja tapi kau sudah berani menjadikan faktur-fakturku sebagai bantal iler?" geram Jun. Menarik penggaris berukuran 30 cm dari rak alat tulis kemudian menjatuhkan ayunan tangannya ke meja Wara.
Suara yang ditimbulkan sukses membuat Wara terperanjat. Dokumen bukti penjualan pun berjatuhan, berserakan di lantai seiring dengan usahanya untuk menegakkan posisi duduk.
"Ti-tidak! Ma-mana mungkin saya berani melakukannya," kilah Wara tergagap namun disampaikan dengan suara lembut yang menyejukkan pendengaran.
Sempat terkesiap dengan alunan pita suara yang menghasilkan bunyi tak biasa, mata Jun berkilat setelahnya. Memberi isyarat agar wanita itu segera merapikan faktur yang tercecer.
"Dua puluh lima menit waktu tersisa! Saya tidak menerima alasan apapun!" tegas Jun, mengingatkan data yang diminta.
Wara melebarkan mata. Sigap beranjak, memungut dokumen penting yang berhamburan akibat ulahnya. Tanpa sadar, ia menjatuhkan faktur yang sudah tak layak untuk diberikan ke toko itu di bawah kursinya.
Jun hendak pergi namun saat menyadari status Wara yang masih dalam masa training, ia mengurunkan niat. Duduk manis, mengambil alih pekerjaan Wara begitu saja.
"Kau tidak akan mampu menyelesaikannya dalam dua puluh menit! Tapi aku jelas sanggup memangkas banyak waktu! Perhatikan! Beginilah seharusnya kamu bekerja!" cicit Jun dingin.
Wara mendongak, terkagum-kagum menyaksikan kelincahan tangan yang bergerak seirama dengan matanya yang tajam. Memindai satu per satu dokumen yang ada di depannya.
Pembawaan Jun begitu tenang. Namun, pergerakan yang dilakukan sangatlah cepat dan teliti. Caranya mengecek pekerjaan sungguh mengesankan. Wajah rupawan yang dibalut kecerdasan itu sukses memporak-porandakan hati Wara.
"Jika menunggu laporanmu, saya bisa digantung Pandhu di pohon mangga depan kantor! Kamu tau siapa Pandhu?" tanya Jun tanpa menoleh, masih sibuk dengan apa yang dikerjakan.
SPV AF dan dua bawahan lainnya kompak menepuk dahi. Menyaksikan Wara yang malah membatu. Ketiga orang itu sibuk ngerumpi di group chat pada Skype yang memang terinstal di dekstop dan digunakan sebagai sarana penghubung antar cabang.
| Kita-kita juga suka sama bos tapi ga gitu juga. Ada apa dengan kepala Wara? Isinya apa sih? | tulis Sinta, menduduki jabatan yang sama dengan Wara. Hanya saja, ia memegang brand premium.
| Entahlah! Sepertinya kita harus memandikan dia dengan bunga tujuh rupa. Bisa jadi dia kemasukan setan penunggu tempat terkutuk ini. | balas Utari, memegang modern market. Semua produk DCB yang dijual di mall di handle olehnya.
| Ee ... setannya kan bos! | recok SPV AF. Gelagat kewanitaan dalam dirinya tanpa sadar ditunjukan di depan Jun.
| (emoji wajah tertawa sampai menangis) | tambah Sinta.
| (emoji tertawa guling-guling) | imbuh Utari.
| Terlepas dari ketidakhati-hatiannya, kita diuntungkan juga. Kapan lagi lihat bos ngantor di tempat pengap ini, | ujar SPV AF.
Andai tidak ada AC di tempat itu, mungkin mereka sudah mengukir nama abadi di batu nisan. Ruang kerja mereka memang paling tidak layak. Tidak ada jendela, temboknya berjamur sangat parah, belum lagi letaknya di paling sudut. Semakin menyiksa penghuninya.
Jun tidak menutup mata. Ia juga memikirkannya. Namun, jabatan yang dipegang saat ini tentu memaksa Jun untuk berpikir keras. Mengandalkan insentif yang disumbangkannya, jelas kurang.
Perilaku gemas dan kecentilan yang sedang ditunjukkan SPV AF semakin menjadi-jadi. Mempengaruhi kedua bawahannya untuk menyembunyikan kemuakan mereka. Sama-sama melengos, berakting seolah dirinya tengah muntah.
Terbukti! Pesona Jun tidak hanya menyihir kaum hawa. Bahkan makhluk setengah dewi pun tergila-gila kepadanya.
Apa yang dilakukan pria itu mengganggu konsentrasi Jun. Jun menghentikan sejenak proses input yang tengah dilakukan.
"Kenapa kau tidak pakai rok dan berdandan cantik sekalian! Jaga martabatmu sebagai seorang pria!" ketus Jun. Berhasil membuat pria itu kembali normal.
"Maaf bos," ungkapnya. Segera menyibukkan diri, menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Letak meja Utari dan Sinta yang berada satu garis lurus dengan Wara memungkinkan Jun melihat dengan jelas apa yang dilakukan kedua wanita itu. Menyembunyikan kepala di balik layar komputer. Mentertawakan atasannya yang juga terkena semburan Jun.
Jun berdesis panjang. "Kalian!" Kalimat Jun tertahan, masih berusaha menahan amarah. "sudah selesai memangnya? Berani sekali bersikap seperti itu di depanku! Pekerjaan kalian kurang? Mau ditambah lagi?" sambungnya.
Secepat kilat mereka menggeleng. "Ti-tidak bos! Jangannnn ...!" protes mereka kompak.
Jun berdecak kesal, mengulurkan tangan menciptkan gerakan menagih. "Mana data yang saya minta! Mana! Mana! Mana!"
Utari dan Shinta tercungap. "Hah? Data apaan bos?" tanya mereka tidak mengerti.
Jun mengeratkan gigi-giginya. Membiarkan barisan putih yang tertata rapi itu saling beradu. Jun mengambil penggaris. Menggebrak-gebrak meja sambil berteriak, "Omset! Omset! Omset! Saya mau meeting sebentar lagi! Mana omset kalian! Manaaa ...!"
DEG!
Utari dan Sinta bertukar pandang. Tatapan mereka seperti tengah mempertanyakan kebenaran pria itu. Detik berikutnya, pandangan mereka terkumpul pada Jun.
"Bos kan cuma minta data sama Wara," sanggah Sinta.
"Iya. Bos cuma minta omset Super Healty sama Comfortyou kok," bela Utari.
"Apa telingaku sudah tidak berfungsi dengan baik?" tanya Sinta.
"Engga kok. Emang bos cuma minta ke Wara," beber Utari.
"Jadi kalian menuduhku pikun begitu?" serang Jun. Manik indah itu semakin memperlihatkan kegarangan.
"Bu-bukan begitu bos!" kelit mereka, ekspresi yang ditunjukan penuh ketakutan.
Jun menggebrak meja. Menimbulkan goncangan maha dahsyat di tempat kerja Wara. Beruntung tidak ada peralatan kantor yang terjatuh. Menyentak semua orang. SPV AF pura-pura tuli. Sibuk dengan kewajibannya sendiri. Wara juga tidak mau ikut campur. Segera menumpuk faktur-faktur yang masih memenuhi lantai.
Jun tidak mau terlihat bodoh. Di dalam hati pria itu mengakui kelupaannya. Enggan terlihat tidak keren, Jun punya seribu cara untuk menyangkal.
"Kalau saya minta data ke Wara berarti kalian juga! Kalian sudah senior di sini! Kenapa masih tidak mengerti! Kamu pikir meeting itu hanya membahas dua brand saja! Mikir! Mikir! Mikir! DCB itu tanggung jawab saya! Semua data penjualan cabang sialan ini sudah pasti ditanyakan oleh atasan saya! Mengerti tidak!" sembur Jun, mengadu mistar sesuka jidat. "Kerjakan dalam lima belas menit! Penjualan kalian tak sebanyak milik Wara! Bukankah seharusnya lebih mudah!"
Tidak ada yang berani menjawab. Langsung sigap menyiapkan bahan yang diminta. Jangankan untuk tertawa, menoleh saja mereka tidak punya waktu. Tapi jangan salah! Hentakan demi hentakan keras yang tercipta di atas keyboard jelas menunjukan kekesalan mereka. Mengutuk Jun ramai-ramai di dalam hati.
Pada akhirnya, bos selalu benar dan bawahan akan tetap bersalah.
Jun menatap komputer, tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Senang karena telah berhasil menebar bubuk cabai pada karyawan. Padahal, meeting baru akan dimulai satu jam lagi. Jun tidak mau mengambil resiko. Pantang baginya menerima omelan dari atasan. Untuk menyiasati kinerja mereka yang sedikit lamban, Jun terpaksa melakukan hal itu.
Tatkala Jun hendak memasukan data ke sistem, Jun tidak sengaja menjatuhkan pulpen. Mengurunkan sejenak niatnya, Jun membungkuk. Bermaksud mengambil alat tulis yang tergolek di pijakan kaki.
Bersamaan dengan hal itu, Wara beranjak. Mengangkat dan menopang kumpulan faktur. Kemalangan yang terasa seperti karunia panuh nikmat itu menghampiri. Wara yang sedang mendongak, berpapasan dengan wajah Jun yang menawan. Menyisakan jarak hanya lima centimeter saja. Terpaan napas segar yang terasa mengantarkan wanita itu pada kehaluan tingkat dewa.
Wara memejamkan mata. Berkhayal jika Jun bersiap melabuhkan bibir. Di luar kendali, faktur di tangannya kembali terjatuh. Wara bahkan mengerucutkan bibirnya. Laksana menyambut sentuhan lembut yang sebentar lagi dirasakan. Prinsip kuno yang diterapkan mendadak tertutup ketidakwarasan. Wara pun mengulang kebodohan.
Jun terkekeh tanpa suara. Kelakuan karyawannya yang satu itu selalu membuatnya geleng-geleng kepala. Mengabaikan kegilaan Wara, Jun mengambil pulpen. Tapi tiba-tiba perhatian pria itu tertuju pada gumpalan kertas yang ada di samping tangannya.
Jun membatalkan hajat. Lebih tertarik dengan kertas transparan yang tidak asing. Cap toko yang tertempel di surat pengiriman mencuri atensi Jun. Ia pun mengambil benda yang terlihat seperti sampah itu.
"Apa ini?" tanya Jun dengan suara bariton khas dirinya.
Sepasang mata Wara terbuka. Pupilnya melebar dengan iris yang menegang, terkesiap dengan pertanyaan Jun.
Saat pimpinannya hendak membuka bongkahan kertas itu, Wara reflek meraihnya. Sayang! Ia kalah cepat. Rasa penasaran Jun tidak sengaja menarik tangannya ke atas. Kala Wara berdiri dan masih mengejar tangan Jun, pria itu juga beranjak. Mengamankan benda yang tengah berada dalam genggaman.
Wara melompat-lompat, berusaha menggapai tangan Jun. Fakta jika Jun lebih tinggi darinya membuat wanita itu pasrah. Begonya, Wara malah memeluk Jun. Memohon agar pria itu tidak melanjutkan tindakannya.
"Tolong jangan dibuka! Tolong! Tolong! Tolong!" Wara memelas, merengek tidak tahu diri.
"Memang isinya apa?" Jun menanggapinya dengan santai.
Wara malah menggeleng-gelengkan kepala. Menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang Jun.
"Maaf ...." lirihnya sedikit serak, sayup-sayup pelan nan lembut. Menimbulkan ketidaktegaan.
Lagi! Suara langka itu menghentikan kinerja otak Jun. Terpaku sejenak, Jun menatap puncak kepala Wara. Rambutnya yang jauh dari kata rapi kembali membuat pria itu tak habis pikir.
"Siapa kau! Lancang sekali mendekap tubuhku! Modusmu ini sungguh tidak lucu! Apalagi nyali yang kau miliki cukup besar! Meninggalkan noda lipstik di kemejaku sama saja dengan menyerahkan nyawa! Sudah bosan hidup, hem?" berang Jun. Suaranya meninggi menggapai oktaf tertinggi.
DEG!