Wara membeku. Getaran hebat yang menjalar seolah melumpuhkan persendian. Memaksa wanita itu tidak berdaya di hadapan ciptaan Tuhan yang nyaris tanpa cela. Gugup dan malu bercampur menjadi satu. Tapi semua itu sirna ketika Wara menyelami manik indah Jun yang membawa keteduhan.
Ingin rasanya ia menghentikan waktu. Menahan lebih lama moment yang tengah berlangsung. Memandang Jun dari jarak dekat tanpa guratan amarah sungguh memanjakan mata. Sayang untuk mengakhirinya.
"Dasar Miss Rusuh!" cicit Jun, mengakhiri kebodohan Wara. Sedikit membuat gerakan lembut, menegakkan tubuh wanita itu. "Lain kali kubiarkan saja kau terjatuh! Menyita waktuku saja!" sungut Jun sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sekali lagi! Jun tidak suka pencitraan. Lebih senang membalut uluran tangan yang diberikan dengan cacian. Lebih gembira jika seseorang tidak menyadari kebaikan yang dilakukan.
Wara menatap punggung Jun, mengawal kepergian pria itu dengan ekspresi sangat malu. Hanya sesaat sebelum ia mengedarkan pandangan. Menelisik pasang mata yang menatapnya dengan ledekan. Sebelum mereka melempar ejekan, Wara lebih dulu beraksi.
Kedua telapak tangan digunakannya untuk menutupi wajah. Wara menggerak-gerakan kepala, mengacak rambut, menambah kekacauan pada makhkotanya. Sesekali ia juga mengadu dahi yang masih dibalut betadine plaster berwarna bening dengan kerasnya tembok yang sebenarnya sudah lapuk. Untungnya, tembok itu tidak sampai runtuh.
"Aku benci diriku! Aku benci!" rengeknya berperilaku menyedihkan. Menimbulkan simpati di benak Bisma.
Pria itu mendekat, menepuk pelan bahu Wara. "Jangan dimasukkan ke hati. Nanti juga terbiasa. Bos memang seperti itu. Tapi kelihatannya sih baik," bujuk Bisma.
"Iya Ra," imbuh Dewa. Menunjukan kekhawatiran namun diam-diam ia mengamati wajah Wara lebih jauh.
Staf pemasaran yang lainnya pun nampak memberikan dukungan. Mengepalkan tangan, menyalurkan semangat.
"Entahlah," kata Wara. Berbalik sambil memainkan rambutnya yang sudah tidak terkontrol.
"Ra!" panggil Dewa saat dirinya menyadari sesuatu.
Wara yang sudah melangkah, mendadak menoleh. "Apa?" tanyanya lirih. Suaranya mendayuh, mengundang nurani untuk melindungi.
Dewa memiringkan kepala, mengamati penampilan wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Sebenarnya kamu cantik. Sayang! Rambutmu mengerikan." Dewa terkekeh, geli dengan ucapannya sendiri.
Wara memutar bola mata. Tidak mempermasalahkan ucapan pria itu. Memilih mencari ruangan yang seharusnya.
Bisma tidak suka dengan kejujuran Dewa. Ia pun angkat tangan. Memberi isyarat pada anak buahnya yang lain.
"Amankan buaya Citarum ini! Dia harus segera divaksin sebelum virus liar menyerangnya!" perintah Bisma.
"Ee?"
Dewa menciut. Tubuh Bisma yang tinggi dengan postur ideal nan berotot, menyurutkan nyali. Hanya bisa pasrah kala ia menjadi bulan-bulanan rekan kerja sesama sales.
***
Sudah berada di ruang AF (Accounting & Finance). Wara mulai menimba banyak hal. Apa yang diajarkan, diserap baik olehnya. Termasuk cepat untuk seorang fresh graduate yang baru berkenalan dengan System Application and Processing (SAP) milik perusahaan. Sebuah software yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dalam bisnis.
"Nah! Itu namanya sales update. Setelah faktur diterima, jangan lupa cocokan dengan surat pengiriman. Seandainya tidak sesuai, kamu kembalikan ke anak buah Mita. Sebelum input ke sistem, pastikan diskon yang diberikan sudah benar! Paham ya?" papar SPV AF setelah perjalanan panjang, menerangkan tahapan pada pekerjaan yang tertuang di dalam job description wanita itu.
"Paham," jawab Wara.
"Bagus! Sekarang coba kamu ceritakan apa saja yang sudah tertangkap di pikiran!" perintah pria setengah dewi yang memiliki kuasa penuh di tempat itu. Sengaja menguji kemampuan anak buahnya yang baru.
"Hah?"
SPV AF menggerak-gerakkan pulpen di depan wajah Wara seperti ingin memukul kepala wanita itu. Ayunan tangan yang dihasilkan lemah gemulai. Belum lagi desisan panjang yang keluar dari bibir begitu manja. Gemas bercampur kesal bisa dirasakan dari lirikan yang juga sinis kepadanya.
"Kamu itu pintar tapi kenapa lemot?" cela pria yang hanya bersikap normal di depan Jun. Sudah gatal ingin mengetok otak Wara agar ia cepat tanggap.
Wara menggaruk rambut, sedikit berpikir, mencerna titah pria itu.
"Masih tidak mengerti?" ulang SPV AF, sedikit meninggikan nada bicara.
Wara terkesiap. Menegakkan posisi duduknya lalu menjawab, "Saya pegang dua brand. Comfortyou dan Super Healty. Semua sales yang memegang brand itu akan berhubungan dengan saya. Ada dua jenis tipe toko. Reguler dan deposit order (DO). Reguler ditagih paling lambat 60 hari setelah barang dikirim. Sementara toko DO akan ditagih jika saldo minimal penyimpanan mendekati 10 juta. Sales update dilakukan setiap hari. Pembaharuan data penjualan sangat penting bagi orang marketing. Sebelum memulai pekerjaan wajib menyiapkan tagihan dan setoran ke bank. Deadline semua laporan tanggal 5. Pengajuan pencairan dokumen maksimal tanggal 10, harus sudah sampai di kantor pusat."
Harap-harap cemas Wara menanti reaksi atasannya.
Beruntung yang diucapkan benar. Jika tidak, maka wanita itu sudah pasti panen omelan khas emak-emak.
SPV AF mengketuk-ketukkan jari telunjuknya di meja. Mengadili penampilan Wara sambil geleng-geleng kepala.
Bagaimana tidak illfeel! Wanita itu bahkan lupa menyisir rambut. Menciptakan pemandangan yang meresahkan.
"Salah ya?" tanya Wara lambat, menggigit bibir bawahnya dengan raut cemas.
SPV AF menghela napas kasar. Memilih memberikan beberapa bundel kertas kemudian beranjak. Meninggalkan Wara menuju mejanya.
"Itu tagihan toko yang umurnya di atas 90 hari. Tolong di follow up!" titah pria itu.
"Siap!" sahut Wara antusias.
Baru saja ia hendak mengangkat telepon kantor yang ada di depannya, tiba-tiba suara yang tidak asing menyapa pendengaran.
"Wah ... sudah belajar apa saja hari ini, Wara? Kau terlihat bersemangat," lontar Jun, berjalan mendekat. Menggendong faktur yang tingginya sudah segunung. Anak buah Mita mengekor. Membawa barang serupa.
Wara mengurunkan niat. Feeling wanita itu mendadak buruk. "Baru modul piutang Pak."
"Huuuusssh ...! Boss!" tegur SPV AF.
"Eh, iya maaf Pak."
SPV AF melolot, memberi isyarat bahwa Wara masih memanggil Jun dengan panggilan yang tidak sama dengan karyawan lain.
"Eh bos?" koreksinya pelan. Wajah polos dengan bibir mengerucut sukses membuat Jun menahan tawa.
Jun meletakkan tumpukan faktur yang ia bawa di meja Wara. Bunyi yang ditimbulkan membuat karyawan baru itu terlonjak.
"Letakkan disini!" pinta Jun pada bawahan Mita.
Wara menurunkan kedua bahu, tatapannya sendu pada pekerjaan yang baru diserahkan. Melihat Wara terbebani, Jun semakin bersemangat menindas wanita itu dengan caranya.
"Ini adalah bentuk kasih sayangku kepada kalian. Mereka lega karena pekerjaannya sudah berpindah tangan, dan kau pun terbantu olehku. Faktur-faktur itu sudah saya terima. Kau tidak perlu berkutat dengan serah terima yang sialnya masih manual. Sungguh, rincian pekerjaan yang banyak juga berkat pertimbanganku. Mendapatkan pengalaman melimpah akan sangat berguna bagi kamu yang baru lulus. Keluar dari kantor terkutuk ini, kualitasmu bertambah." Jun memberi senyum tulus.
Bukan sisi kepahlawanan yang sedang ia tunjukan. Melainkan tekanan demi tekanan yang sedang pria itu sampaikan. Hanya saja bahasanya memang diperhalus.
Wara mempertemukan kedua telapak tangan, menghasilkan satu tepukan nyaring. Pura-pura senang dengan kebaikan hati Jun.
"Terima kasih bos," ucap Wara dengan wajah dibuat-buat.
Jun menyampirkan tangan di sandaran kursi Wara. Tangan lainnya bertumpu pada meja. Setengah membungkuk. Mendekatkan wajahnya pada telinga Wara sembari berbisik, "Jika input data penjualan sudah menguasai, kenapa tidak belajar menyajikan laporan omset per toko dan per brand? Dealer reguler dan deposit order tolong dipisah ya?" Jun menunjukan perhatian yang dibalut wajah ramah.
Wara tetap menunjukan kecerian, menjawab penuh semangat. "Baiklah!"
Saat Jun lengah, Wara melengos. Menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Bekerja keraslah! Saya tunggu hasilnya tiga puluh menit lagi," tambah Jun.
"Apa! Setengah jam lagi?" ulang Wara tidak percaya.
Jun mengangguk enteng. "Kenapa? Keberatan?"
Wara tertawa renyah. "Tidak! Tidak! Tidak!" kelitnya, berlagak seolah-olah itu adalah hal yang sangat mudah.
Jun menegakkan tubuh. Melenggang meninggalkan ruangan itu. Sepeninggalannya, Wara bersembunyi di balik tumpukan faktur. Menjatuhkan kepala di atas meja dengan bibir yang berkomat-kamit. Melafalkan seribu mantra kutukan untuk bos menyebalkan itu.
'Apa dia pikir aku ini siluman laba-laba yang punya banyak tangan? Sialan! Sepertinya dia memang sengaja melakukannya! Tapi baiklah! Demi menebus rasa bersalahku, aku akan membantumu!' batin Wara tanpa sadar meremas faktur customer hingga tak berupa.
"Apa yang kau lakukan!"
Suara bariton itu menggemparkan seisi ruangan. Membuat semua orang terlonjak. Apes! Saking kagetnya, Wara kembali melakukan kecerobohan. Ketika hendak menengok ke sumber suara, kepala Wara justru tertimpa reruntuhan faktur yang berguguran saat kedua tangannya reflek bergerak tak terkendali.