Seorang wanita berlari terseok-seok. Menyusuri kawasan pabrik elit di Kabupaten Bandung. Udara yang tadinya sejuk kini terasa pengap. Polusi akibat antrian kendaraan yang terjebak traffic jam menjadi penyebabnya.
Ribuan orang berlomba-lomba dengan waktu. Kemacetan sudah menjadi hal biasa di tempat itu. Tapi demi memenuhi kebutuhan, mereka rela melakukannya.
"Pagi Pak?" sapa Wara kilat pada satpam yang bertugas. Berlari semakin cepat dengan rambut yang sangat berantakan, menuju fingerprint.
"Pagi juga teh?" sahut Pak Satpam ramah. "Ayo cepat teh! Tiga menit lagi!" sambung pria itu dengan logat Sunda. Mengingatkan jam kerja yang sebentar lagi akan dimulai.
Jika terlambat mengisi daftar hardir, sudah pasti wanita itu mendapatkan siraman rohani dari bibir Jun yang terkenal pedas. Terlebih ini adalah hari pertama ia bekerja.
Wara membungkuk, napasnya terengah, melirik waktu pada benda bulat yang melingkar di pergelangan. Cukup senang, tersisa dua menit. Satu tangan terulur pada mesin perekam kehadiran.
"Thank you!"
Balasan operator menimbulkan kelegaan di benak Wara.
Bayangkan! Dari jalan utama hingga sampai ke tempat itu, ia berlari. Tenaganya nyaris tak tersisa. Bangun kesiangan menjadi awal yang buruk untuk memulai hari.
Masih menunduk setengah badan, Wara mengatur napas. Saat sepasang sepatu kinclong berwarna coklat tua itu tertangkap di indra penglihatan, mata Wara mendadak membulat. Perlahan mulai mengukur tinggi badan si pemilik sepatu.
Wara mendongak, terlonjak kala wajah garang Jun memenuhi iris coklatnya. Berdiri tepat di depan wanita itu. Satu tangan menempel pada tembok, menopang berat badan.
Wanita itu menyengir bodoh. Menyisipkan dengan memberi tekanan, jari-jarinya di rambut yang jauh dari kata rapih. Gerakan lambat yang diciptakan menimbulkan perasaan muak.
"Pa-pagi Pak Jun?" sambutnya lirih, penuh keraguan.
"Jam delapan itu sudah mulai bekerja, Waraaa ...! Bukannya baru datang!" teriak Jun, reflek membuat karyawan barunya itu lari terbirit-b***t.
Keberadaan pimpinan DCB itu benar-benar sudah seperti makhluk halus. Menimbulkan rasa takut di benak setiap orang.
Jun terkikik, bersedekap angkuh menatap kepergian wanita yang dianggapnya begitu aneh.
'Ada harga mahal yang harus dibayar karena sudah berani mengotori pakaian dan menampar seorang Arjuna Dewanata. Selamat datang di duniaku, Wara!' gumam Jun di dalam hati.
Ketergesa-gesaan menuntun Wara pada ruangan yang salah. Bukannya masuk ke ruang AF (Accounting & Finance), ia justru menjerumuskan diri ke kandang buaya.
Kedatangan Wara menimbulkan keheningan di ruang marketing. Para staff dan jajarannya pura-pura menyibukan diri dengan orderan. Tidak ada yang menoleh ke arah pintu. Duduk melingkar di meja bulat. Mereka kira Wara adalah Jun yang hendak memulai meeting.
Sunyi! Melihat tempat yang hanya ada satu komputer di sudut ruangan, Wara pun berpikir.
"I-ini ruang apa?" tanya karyawan baru, bingung.
Para sales mengangkat kepalanya serempak. Menoleh ke sumber suara. Ekspresinya sama-sama penuh keterkejutan.
Tidak sabar, Wara membuka pintu. Melihat tulisan yang tertempel di daun pintu. Wara menepuk jidatnya sendiri. Kecerobohan lagi-lagi menjadi penyebab ia mempermalukan diri.
"Maaf, salah ruangan." Wara memberikan setengah senyumnya.
"Huuuuu ...!" staf pemasaran itu kompak bersorak, merasa zonk.
Wara mengatupkan kedua tangan di depan d**a. Paras yang ditampilkan penuh penyesalan. Ia hendak pergi namun seruan seseorang mampu menahannya.
"Eh! Eh! Tunggu!" seru Dewa, pria paling playboy di kantor itu. Karyawan yang memenuhi kriterianya sudah pasti pernah dipacari, termasuk Mita. Bermodalkan tampang sedikit ganteng, Dewa dengan mudah menjerat mangsa.
"Ya?" jawab Wara, kesangsian terlihat jelas di paras ayunya.
"Wara ya?" tanya Dewa basa basi busuk.
"Eh, I-iya."
"Kamu tahu ga? Ngemil apa yang paling enak?" Jurus yang Dewa pelajari di penangkaran buaya mulai diluncurkan.
"Hah?" Wara memutar otak.
Dewa berdecak kesal karena wanita itu lamban dalam menebak. "Ngemilikin kamu seutuhnya, Ra!"
"Cie... Cie ...." ledek temannya yang lain.
Wara tertawa garing. Sama sekali tidak tertarik dengan rayuan Dewa. Jelas pria itu tidak memenuhi standar wanita yang pernah menaklukkan hati seorang Jackson Orlando. Bagi Wara, ketampanan Dewa sangat biasa.
"Hei, anak baru!" tegur Bisma. Sales paling teladan di kantor itu. Hobinya bikin rusuh orang.
"Eh, ya?"
"Enak ya jadi kamu!" sungut Bisma dengan wajah tidak suka.
"Hah? Enak kenapa memangnya?" Wara menggaruk rambut, gagal paham dengan pria-pria yang dianggapnya sedikit kurang waras.
"Ingin melihat bidadari tinggal lihat kaca!" canda Bisma.
"Huuuuu ...!" Dewa memukul kepala senior dengan tumpukan price list yang tengah dipegangnya. "Dah Wara! Pergi! Pergi! Pergi! Ini orang kerjaannya nyusahin!"
Mendengar kegaduhan, Jun mendekat. Berdiri di belakang Wara lalu berdehem.
"Ehem!"
"Bos?" Mata mereka melolotot. "Mampus!" serunya bersamaan. Kembali mencari posisi teraman. Berebut tempat duduk yang sekiranya jauh dari jangkauan Jun.
"Sudah dapat omset berapa? Masih sepagi ini berani gombalin anak orang? Ayo! Laporan! Laporan! Laporan!" tuntut Jun, menggebrak-gebrak daun pintu. Membuat Wara senam jantung.
"Tiga set bos. Tiga puluh tiga juta," kata Dewa yang memang memegang brand premium.
"Cih! Itu jajan cilok bukan omset!" cibir Jun. Dewa pun beringsut. "yang lainnya?" imbuh pria itu.
"Enam set Comfortyou tipe Super Dream bos," ucap salah satu sales yang memegang brand medium.
"Dua set Super Healty," ujar sales dari brand kasta terendah. Produk yang memang sengaja diciptakan agar harga merakyat.
"Belum ada bos," dua orang yang lainnya menjawab dengan wajah menciut.
"Apa!" bentak Jun, kesetanan.
"100 set Comfortyou tipe Luxury. Pesanan toko Cap Payung untuk hotel di daerah Lembang," cetus Bisma, menyebut jenis kasur paling mewah di kelas menengah. Mengibarkan surat pesanan dengan gaya elegan.
"Nah! Ini baru namanya omset," puji Jun menarik kertas yang ditunjukan.
Emosi yang baru reda itu harus kembali memuncak ketika Jun melihat tanggal pengiriman.
"Omset hari ini Bisma! Omset hari ini! Kalau dikirim bulan depan ya masuk ke omset bulan depan!" hardik Jun, urat-urat di wajah nampak sangat jelas.
Bisma menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oke bos! Izinkan saya ngepet dulu. Tolong jaga lilin ya teman-teman! Ingat jangan sampai padam! Seles berprestasi mau ada proyek untuk akhir bulan." Bisma meraih tas gendongnya. Beranjak, menunduk sopan di depan Jun. "Cabut dulu bos! Setengah jam lagi ketemuan sama owner toko Sinar Jelita."
"Hemm!" Jun merespon dingin.
Bisma melempar seringai ejekan pada teman-temannya. Melenggang tanpa beban. Padahal, tujuan pria itu pergi hanya untuk menghindari ceramah Jun yang sudah pasti penuh tekanan.
"Jangan pernah membohongiku! Karena tanpa sepengetahuan kalian, semua kendaraan inventaris telah dipasang GPS. Yang suka balik ke rumah tapi bilangnya lagi kunjungan toko?" Jun melirik sengit ke Dewa. "Yang nongkrong di warung kopi berjam-jam? Yang parkir di mall dan jalan-jalan? Yang mancing bareng kolektor? Yang main futsal? Yang punya kebiasaan godain SPG (Sales Promotion Girl)? Yang ngakunya mau ketemuan sama pemilik toko? Tolong jangan berdusta! Saya tahu, kamu baru akan bertemu dengannya sore nanti!" tegas Jun.
Glek! Semua menelan mentah ludah yang mendadak terasa pahit.
Siapa sangka! Jun sangat jeli melihat praktik kecurangan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di lapangan. Jun pernah berada di posisi mereka. Jelas pria itu sudah sangat hafal tabiat para sales. Jangan coba-coba bermain curang dengannya! Jun tidak sebodoh yang mereka kira.
Bisma berlari, menuju tempat duduknya kembali. "Sorry, lupa bos kalau janjiannya diundur," kilahnya.
Jun memandang remeh. Matanya menajam bak panah yang siap membidik bawahannya satu per satu.
"Kali ini saya maafkan. Tapi tidak untuk besok dan seterusnya. Yang masih mau bermain-main silahkan angkat kaki!"
Senyap! Jun sengaja memberikan kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
"Siapkan data! Setengah jam lagi kita akan membahas toko-toko yang sebenarnya potensial namun jarang order atau bahkan belum sama sekali memasarkan produk kita!" perintah Jun.
"Siap bos!" jawab staf marketing, kompak.
Jun menahan langkah tatkala ia hendak meninggalkan ruangan itu. Melihat Wara membatu seperti manekin yang tengah dipajang, Jun berang.
"Kenapa kau malah berdiri tidak berguna di situ? Sudah jam berapa ini?" sembur Jun, menampakkan jiwa iblis.
Wara tersentak, terburu-buru keluar. Sial! Kakinya justru menyandung kaki Jun. Wara nyaris terjatuh andai saja Jun tak sigap meraih pingganya. Posisi seperti itu membuat keduanya cukup lama beradu pandang. Menimbulkan getaran aneh di d**a Wara.