Malam kian larut, hawa dingin di Kota Bandung semakin menusuk sukma. Layaknya orang yang mengidap insomnia, Wara menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari posisi tidur ternyaman. Sial! Hal itu tidak ia temukan.
Kembali ke pose awal. Wara tidur telentang, menarik selimut hingga melebihi puncak kepala. Melindungi tubuhnya dari suhu yang mendingin. Merasakan pasokan udara yang mulai menipis, Wara menyingkap bedcover yang membalut tubuhnya.
Kesejukan mulai hinggap di paru-paru. Wara membuka mata. Tiupan angin yang diciptakan oleh bibir, menyentak poni tipisnya. Perasaan yang tengah berkecamuk semakin menjadi ketika suasana terasa sunyi. Menambah kehampaan yang tengah dirasakan. Saat wanita itu menatap langit-langit, ia menerbangkan ingatannya pada kejadian beberapa jam lalu.
"Tunggu! Tunggu! Tunggu!" Wara menoleh ke samping. Kebingungan menyergap paras ayunya. Bagaimana bisa pria itu menghentikan mobil tepat di depan rumahnya. Padahal, ia tidak merasa telah menunjukkan arah.
"Kok bapak tau rumah saya?" Wara menunjuk hunian tipe standar berlantai dua itu dengan penuh keheranan.
Jun berdesis panjang, tidak suka dengan panggilan yang diucapkan wanita itu. Wara pikir ia bapaknya! Begitu pikir Jun.
Jun menyandarkan tubuh pada sandaran jok. Memejamkan mata cukup lama. Pertengkaran Jackson dan Wara tereka ulang di pikiran. Belum lagi kemunculan Batari, mengguncang jiwanya dengan kekuatan penuh.
Jun yang baru saja keluar dari parkiran sebuah minimarket, terpaksa menghentikan mobilnya saat melihat wanita yang tidak asing tengah bersitegang dengan orang yang dikenal. Tidak bermaksud ikut campur, tapi dia tidak bisa berdiam diri ketika Batari mendorong karyawannya. Hati nurani Jun pun terpanggil.
Berbeda dengan Jun yang tengah memendam sejuta lara di hatinya. Pemandangan di depan mata kian mempesona. Hanya sekedar merapatkan indra penglihatan, tapi kesan yang ditampilkan Jun tampak lain di benak Wara.
Wajahnya yang tenang itu seolah menggiring Wara pada perasaan tentram dan damai. Menghilangkan kekesalan yang menumpuk di hari itu. Tanpa sadar, Wara mengulas senyum berbeda. Betah berlama-lama memandangnya.
"Mau sampai kapan kau bertingkah bodoh di depanku!" seru Jun membuat Wara terlonjak. Kesal karena wanita itu sudah menatapnya sepuluh menit.
"Uhuk...! Uhuk...!" Wara terbatuk, gelagapan. "A-aku ...."
Jun membuka mata, melirik garang pada lawan bicara. "Turun!" perintahnya lirih namun menusuk telinga.
Wara menyengir konyol. Menggaruk rambutnya yang sudah tidak layak untuk dilihat. "Ah, i-iya. Terima—"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Apa yang kulakukan hanya karena aku tidak suka penindasan!" tegas Jun, memperjelas perlakuannya pada Wara.
Wara pura-pura tertawa, seakan-akan itu adalah hal yang sangat lucu. Menggerakkan tangan di depan muka Jun, ia membenarkan perkataan pria itu.
"Tentu saja! Mana mungkin bapak menyukaiku," Wara membuang pandangan, tawa yang masih mengiringi perlahan berubah menjadi seringai penuh cibiran.
'Cih! Kalau niatnya menolong kenapa harus mengataiku jelek! Benar sih! Tapi bisakah perbuatan muliamu itu tidak dibumbui dengan hal yang memancing kejengkelan?' gerutu Wara di dalam hati.
Jun menajamkan mata. "Aku bukan bapakmu!" teriak Jun penuh kegeraman. "Cepat keluar dan jangan sekali-kali memanggilku seperti itu!" semburnya.
Suara bariton yang melengking itu laksana petir yang tengah menyambar. Memecahkan gendang telinga Wara. Wanita itu pun reflek menutup kedua telinga. Jun tidak segan menunjukan jati dirinya yang suka menguji jantung anak buah.
Tidak ingin membuang waktu, Jun keluar dari mobil, membuka pintu di samping Wara.
"Tolong tahu diri! Aku lelah dan ingin segera beristirahat!" usir Jun tanpa hati.
"Eh, i-iya. Ma-maaf," kata Wara tergesa-gesa keluar.
Apes! Kecerobohannya lagi-lagi menghibur Jun. Saat turun, kepala Wara justru beradu dengan kerasnya dudukan pintu.
Bukannya merintih kesakitan, Wara justru mengacak-acak rambut. Merasa sangat kacau.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" tanyanya nyaris tak terdengar. "Aku benci diriku! Aku benci dirikuuuu ...!" raung wanita itu sebelum mengacak rambutnya lebih brutal.
Jun yang sudah tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawa, memilih menutup pintu lalu masuk ke mobil. Membiarkan Wara yang tengah membentur-benturkan kepala ke badan mobil. Mengutuk keteledorannya.
Saat Wara teringat sesuatu, Wara membungkuk, hendak mengetuk kaca mobil namun dengan tega Jun justru melajukan mobilnya. Masih dalam posisi menundukkan punggung, Wara mengetuk udara hampa.
Jun terbahak-bahak penuh kepuasan. Melihat tingkah konyol wanita itu dari balik spion.
Wara menarik tangan, berkacak pinggang, menunjukan ekspresi penuh kebencian.
"Sialan! Padahal aku hanya ingin berterima kasih! Apa dia pikir aku hendak mengemis? Dasar menyebalkan!" sungut Wara. Mengibaskan salah satu rambutnya ke belakang, membuka dan menutup gerbang dengan keras.
Wara meremas selimut, mengenang hal itu justru memicu jiwa urakan yang belum lama ini bersemayam di dalam dirinya bangkit. Wara menjejak gebar. Melempar bantal dan guling ke sembarang arah.
"Kenapa aku harus bertemu dengan pria seperti itu? Kenapa? Huhuhu ...." keluhnya.
Wara ngacak seprai, menambah kesan berantakan. Ia membenamkan mukanya pada kasur. Meninggikan posisi pinggul. Wara memukul-mukul tempat tidurnya. Hari-hari yang akan dilaluinya sudah pasti akan sangat suram. Apalagi Jun adalah pimpinan di tempat perusahaan yang telah berbaik hati menampungnya. Malang! Sangat malang!
Kegilaan Wara di pagi buta itu berujung pada tangis. Saat mengingat kenangan indahnya bersama Jackson yang ditutup dengan penghianatan, Wara menjerit.
"Jacksoooon ...! Pria macam apa kau sebenarnya! Setelah apa yang kau lakukan kepadaku, kau bahkan tidak meminta maaf? Harrrrrggg ...!" Wara turun dari tempat tidur, menjatuhkan apa saja yang ada di dekatnya.
Wara menggaruk rambut kasar, tampak seperti penghuni rumah sakit jiwa. Wanita itu tertawa penuh luka, suara yang dihasilkan pun lebih seram dari sesuatu yang tidak kasat mata.
Wara duduk bersimpuh di lantai, keadaannya memilukan. "Kau bilang menyesal?" gumamnya pelan. Tawa wanita itu berangsur menghilang. Digantikan sorot mata yang berkilat. "benar! Kau akan menyesal! Apalagi jika tanganku ini telah berpihak kepada lawan! Sungguh, menangis darah pun aku tidak akan peduli!" sambungnya.
Wara merapikan rambut. Berjalan menuju balkon. Tepat ketika ia membuka pintu, sepasang matanya melebar. Keberadaan pria di sebelah rumahnya sukses memaksa Wara mengurunkan niat. Ia pun menutup kembali pintu itu.
Bersandar pada daun pintu. Wara memegang letak jantungnya yang berdegup tidak biasa.
"Apa dia hantu?"
Wara menampar pipinya berulang-ulang. Menyingkap tirai, mengintip balkon tetangga. Tampak Jun tengah melamun, ditemani banyak soda yang menyisakan ruang kosong di kemasannya.
Jun tak kalah kacau. Tapi tingkat kekalutan pria itu jelas berbeda. Jun masih cukup waras untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Belum mempercayai apa yang dilihat, Wara kembali mengintai setelah beberapa detik yang lalu memilih menutup vitrase. Wara menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah. Hanya melihat Jun dari kejauhan tapi efeknya mampu menghilangkan amarah pada mantan kekasih. Luar biasa!
Wara menyandarkan tubuh ke tembok. Badannya terasa lemas. Perlahan tergelosor ke lantai dengan punggung yang masih menempel pada dinding. Wara mencengkram erat jantungnya. Takut jika organ pemompa darah yang bersembunyi di balik rongga d**a itu meloncat.
Wanita itu tertawa hampa. "Kenapa bisa seperti ini? Jatuh cinta kembali pada saat dia masih benar-benar menguasai hati dan pikiran. Lucu sangat lucu!"