Mendengar sapaan seseorang yang tak asing, Jun menoleh. Cukup lama mereka bersirobok. Ekspresi yang ditunjukan sama-sama penuh keterkejutan.
Tidak sudi berlama-lama memandang, Jun mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Mulutnya setengah terbuka, menciptakan tawa penuh ironi.
Benar kata Pak Jamil! Di Bandung, Jun menemukan keraguan yang selama ini dipendam. Apalagi jika bukan hubungan Jackson dan Batari yang tampak nyata di depan mata. Melesatkan anak panah yang telah dioles racun mematikan, tepat ke dasar hatinya.
Jun boleh saja menutup mata dan telinga. Tidak mempercayai bukti yang telah disodorkan. Tapi hari ini, pria itu dituntut menerima fakta pahit. Rahasia perusahaan yang dibocorkan jelas menambah perih luka yang ditinggalkan.
Batari Durga ... satu-satunya wanita yang sampai saat ini masih bertakhta. Menguasai pikiran dan jiwanya dengan sempurna. Pengkhianatan yang dilakukan, menimbulkan kebencian yang tak terbantahkan. Sayang! Perasaan Jun yang terlalu dalam, mengunci mulut yang terkenal pedas itu. Jun kehilangan kata-kata. Tapi pria yang pandai bersandiwara itu sudah pasti menguasai situasi.
Jun memfokuskan perhatiannya pada Wara. Mencakup pipi wanita itu, membiarkan kedua ibu jarinya bergerak lembut pada permukaan mulus yang tengah menyemburatkan rona. Senyum menawan yang dibalut dengan tatapan meneduhkan, sukses meluluhlantakkan hatinya.
Terlebih, ketika tangan Jun mulai turun ke bahu. Pelan tapi pasti, bergerak halus menuju telapak tangan. Meraih jari jemari lentiknya. Genggaman hangat, mengantarkan getaran yang luar biasa.
Wara membeku dengan raut tersipu. Tak mengalihkan pandangan sedikitpun. Tertuju pada medan magnet.
Jun mengusap telapak tangan dan lutut Wara yang tampak lecet. Cubitan manja diberikan Jun pada hidung Wara sebelum pria itu terkekeh. Mengacak-acak rambut Wara yang entah kenapa menjadi menarik untuk dimainkan.
"Dasar Miss Rusuh!" Jun menyentil dahi Wara. Memaksa wanita itu terbebas dari mantra pemikat yang baru saja menyihirnya. "Kenapa kecerobohanmu selalu membuatku ingin melindungi?" Jun menunduk, memunculkan perilaku layaknya orang yang tengah jatuh cinta. Menyempurnakan permainan yang tengah diciptakan.
Cukup terkejut dengan perkataan pria itu. Wara melirik pada Jackson dan Batari yang tengah menunjukkan ekspresi ketidakpercayaan. Tidak ingin diremehkan, Wara justru memoles drama yang ditampilkan oleh Jun.
Wara mencebikkan bibir. Mengusap dahinya yang masih nyeri akibat pintu laknat di ruang Jahannam.
"Sakit tau!" protes Wara, suaranya lembut dibumbui dengan kolokan mesra.
Jun mengulas senyum. Menarik Wara pelan, mengajaknya beranjak. "Bangun jelek! Lukamu harus segera diobati."
Panggilan yang tidak mengenakkan menyentil telinga Wara.
"Jelek?" tanya Wara penuh kekesalan. Mendadak lupa jika mereka sedang berpura-pura.
Jun terkikik. "Mulutku terdidik untuk selalu mengucapkan kejujuran. Sungguh aku tidak pandai berbohong. Memangnya kamu merasa cantik?" sindir Jun terang-terangan.
Wara memiringkan kepala. Rambutnya yang berantakan memberi kesan menyeramkan saat ia menyeringai penuh kejengkelan.
Jun meletakkan kedua tangannya di pinggang. Sedikit mengangkat dagu, meninggikan derajat. "Apa? Mau bukti?" tantang Jun. Jun menunjuk convex mirror (cermin tikungan) yang ada di belakang Wara dengan gaya elegan. "buktikan sendiri!" sambung pria itu mengandung ejekan.
Wara mengikuti arah tunjuk. Sesaat mengabaikan namun kembali menoleh ke safety mirror saat matanya bergerak liar. Memikirkan penampilan yang tidak sengaja terekam di memori.
Wara terperanjat, mundur satu langkah, shock dengan keadaan dirinya yang kacau. Ia memejamkan mata. Mengutuk penampilannya yang justru terlihat sangat menyedihkan ketika berpisah dengan Jackson. Apalagi, Jackson berdiri di sana. Kegagalan move on jelas bisa dirasakan pria itu. Malu sangat malu!
Bukankah seharusnya dia meningkatkan kualitas? Mencari pria yang jauh lebih layak untuk dijadikan teman hidup? Membuktikan bahwa Jackson bukan orang yang tepat untuknya? Yang terjadi, Wara malah menurunkan derajatnya! Bodoh! Sangat sangat bodoh!
Mata Wara melebar, mulutnya menghasilkan bunyi keterkejutan yang tertahan.
"Aku benci diriku ini!" keluh Wara, melihat dirinya yang tidak semenarik dulu. Ia menggerak-gerakan kepala sambil mengacaknya brutal. Pemandangan yang entah sejak kapan menjadi jenaka bagi Jun. Senang menyaksikan reaksi tertindasnya. Sumpah demi apa! Jun tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawa.
Jun mendekatkan kepala tepat di samping telinga Wara. "Bagaimana?" bisiknya tapi masih bisa didengar dengan baik oleh Batari dan Jackson.
"Huaaaaaa ...! Kenapa kejujuranmu justru menyakitkan?" teriak Wara. Menghujani lengan Jun dengan pukulan-pukulan kecil.
Jun membiarkannya sesaat. Tapi tak lama kemudian, ia menarik Wara ke dalam pelukan. Memberi efek merah pada muka Jackson dan Batari yang diam-diam memendam kecemburuan. Jun menjatuhkan satu kecupan lagi di puncak kepala wanita itu.
"Kau memang bukan tipeku. Bahkan kau sangat jauh dari standar wanita idaman yang kutetapkan. Hanya dua kelebihanmu."
Jun memberi jeda pada kalimatnya. Menjauhkan tubuh Wara namun masih dalam jangkauan. Pasangan manik yang terlihat penuh cinta itu saling mengunci.
Jun merapikan rambut Wara. Menyelipkannya ke sudut telinga. Merasa geli sendiri dengan apa yang ingin diucapkan. Ia pun menahan tawa. Posisi mereka yang berhadapan, memungkinkan Wara melihat dengan jelas. Wara berusaha menahan kegeraman.
"Kau …." Jun menyerongkan wajah sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Memaksa Wara menyipitkan mata, mencoba menebak isi kepala pria itu.
"Jelek dan lucu. Tapi itu sudah cukup menorehkan warna-warni yang indah di hidupku." Jun hendak mengeratkan pelukan namun Wara berusaha keras membebaskan diri.
Sesaat setelah terlepas dari pria itu, Wara melengos, tertawa hampa.
Wara berkacak pinggang, memerosokkan jari telunjuknya di d**a bidang Jun. Tekanan berulang kali yang dihasilkan, mampu membuat Jun memundurkan langkah demi langkah.
"Sekarang aku paham kenapa anak buahmu bertingkah aneh. Kau ... menyebalkan!" sungut Wara. Melenggang meninggalkan mereka.
Jun terkakak. "Miss rusuh! Aku menyukaimu!" seloroh Jun tidak digubris. Hanya menoleh ke belakang, memberi isyarat yang menyudutkan Jun sebagai pria gila.
"Miss rusuh ...! Aku tidak akan menyerah!" serunya lagi sambil berjalan menyusul wanita itu.
Tiba-tiba, Wara menghentikan langkah. Garis miring terukir di bibirnya. Wara berbalik.
"Sungguh?"
Jun ikut menahan langkahnya. "Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Kau bisa memuaskanku?"
Jun bingung, tidak mengerti dengan obrolan wanita itu.
"One night stand?" cetus Wara, mengikis kesangsian yang terpatri di wajah rupawan itu.
"Wara!" Jackson keberatan.
Jun terkekeh. Semakin tertarik memainkan perannya. "Masih belum terjamah? Tidak masalah jika memang sumber kenikmatan itu belum pernah disinggahi. Tapi kau harus berdandan cantik!" Jun menegaskan ucapannya.
"Jun!" panggil Jackson penuh peringatan.
"Kenapa?" tanya Jun dan Wara serempak. Aksi kompaknya itu membuat mereka saling pandang.
Jackson menyampirkan tangan di bahu Wara, kepedulian yang ditunjukkan dibalas dingin oleh mantan kekasihnya.
"Hukum aku! Hukum aku seberat yang kau mau! Tapi aku mohon jangan seperti ini!" pinta Jackson mengiba.
"Ck!" Wara menepis tangan Jackson. "Siapa kau? Berani sekali mengatur hidupku!" sinis Wara.
Jackson tersadar. Dia bukan lagi kekasih Wara. Tidak ada hak untuk melarang wanita itu. Jackson merasa dirinya penuh dosa. Melukai wanita sebaik Wara.
Tidak berhasil membujuk Wara, Jackson memusatkan pandangan pada Jun.
"Aku harap kau masih Jun yang kukenal," gumamnya terdengar memohon.
Jun tertawa, menyusupkan kedua tangan di saku celana.
"Jackson, sepertinya kau melupakan sesuatu. Apa perlu aku mengingatkanmu? Bahkan seorang Jackson Orlando bisa berubah. Bagaimana dengan diriku yang kotor ini?"
"Sepertinya kalian cukup akrab. Apa dunia memang sesempit itu? Menyingkirlah kalian semua dari hadapanku! Menambah kesuraman di hidupku saja!" geram Wara sebelum meninggalkan tempat itu.
Jun menggeleng, memangkas jarak dengan Jackson. Jun bertutur pelan, "Kau menaruh harapan pada orang yang tidak tepat."
Jun bukannya tidak goyah menyadari keberadaan Batari di sana. Tapi pria yang selalu bisa menutupi kelemahan itu berusaha berpikir logis. Mengesampingkan cinta yang masih terlalu nyaman bersemayam di tempat terlangka.
"Miss Rusuh, tunggu!" perintah Jun, diabaikan begitu saja.
Jun menyusul Wara. Ketika melihat Wara berhenti, menahan sakit di kedua lutut, Jun berlari. Berjongkok di depan Wara, merelakan punggungnya untuk wanita itu. Jun pun menggendong Wara.
Sempat tergemap dengan tindakan pria itu, Wara memberontak.
"Turunkan aku! Turunkan aku! Hei, kau! Turunkan aku!" protesnya dan...
BRUK!
"Awww ...!" pekik Wara terjatuh dari gendongan Jun.
Jun dengan santainya melanjutkan langkah, bersiul seolah tidak terjadi apapun. Kedua tangannya masih berada di belakang pinggang, tampak sedang menopang berat. Saat menoleh, Jun mencibir.
"Miss Rusuh, apa yang sedang kau lakukan! Bukannya cepat-cepat pulang ke rumah, kau malah bersimpuh seperti seorang pengemis yang sedang menunggu kebaikan orang!"
Wara berdiri susah payah, melempar tombak tepat di iris gelap Jun. "Aku minta diturunkan. Tapi kenapa kau malah menjatuhkanku?"
Alis Jun menyentak bersamaan. "Aku tidak merasa menjatuhkanmu. Hanya mengabulkan apa yang kau inginkan. Lalu dimana letak kesalahanku?"
Wara mengepalkan kedua tangan, meraung dengan paras yang tidak terkontrol.
"Bos sialaaaannnn ...!"
Jun terbahak-bahak. Melangkah meninggalkan Wara, menuju mobilnya.
Jackson hendak menolong Wara namun ditahan oleh Batari. Beberapa detik kemudian, Jun menghentikan mobilnya di depan Wara. Gerakan sensual membuka kacamata hitam yang tengah dikenakan itu mampu membekukan dunia.
"Kesayangan, ayo naik!"