Wara menghentakkan satu kaki, lirikan sinis diberikan kepada Jun sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan.
Siapa sangka! Seorang wanita yang tampak senior menghadang jalannya. Membentangkan kedua tangan, menahan Wara agar tidak keluar dari kantor.
"Mbak Wara?" sapa Mita yang berkedudukan sebagai SPV MS (Marketing Support).
Wara mengangkat wajah, reflek mundur saat dirinya nyaris menabrak wanita itu.
"Eh, i-iya?" jawab Wara mengusap lembut dahinya yang terasa nyeri.
"Kita obati dulu lukamu!" perintah Mita. Berinisiatif menggandeng tangan Wara menuju ruangannya.
"Eee ... bu! Bu! Bu! Tidak usah bu! Saya bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu repot-repot. Terima kasih," tolak Wara sukses menghentikan perbuatan Mita.
Mita menghela napas, menggeleng dengan gelagat tidak untuk dibantah. "Mungkin tidak menjadi masalah untukmu. Tapi bagi kami, itu bisa berbuntut panjang."
"Hah?" Wara bingung, tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.
Saat melihat Jun keluar dari ruangan, mata Mita melebar. Tidak ingin mengambil resiko, Mita menarik Wara. Memaksa karyawan baru itu setengah berlari. Kehadiran Jun sudah seperti makhluk tak kasat mata. Ditakuti para bawahan.
"Bu! Bu! Bu! Bu!" protes Wara tidak digubris.
"Tidak ada waktu! Nanti saya jelaskan!" tegas Mita dengan wajah tegang.
Pada akhirnya, Wara pun pasrah. Jiwa keingintahuan yang tengah meronta, terpaksa disimpan.
Jun tergemap, menyaksikan reaksi para karyawan yang dianggap berlebihan.
"Kenapa Mita jadi aneh? Padahal aku hanya menyuruhnya untuk mengobati Wara. Apa cuma aku satu-satunya orang yang normal di sini?" gumam Jun, tidak habis pikir.
Tidak ingin ambil pusing, Jun melanjutkan niatnya. Desakan jiwa dan nurani menyemburatkan rona tertahan. Panggilan alam menuntun Jun ke toilet.
Di ruangannya, Mita dan Wara kompak mengatur napas yang tersengal. Mita menarik kursi, mempersilahkan Wara untuk duduk. Kotak darurat diambilnya.
"Kau boleh menganggapku gila," cicit Mita.
"Ee ...?" Wara bengong, sedikit memiringkan kepala, menuntut penjelasan.
"Aku Mita," katanya sambil membersihkan luka di dahi Wara.
"Awww ...!" pekik Wara, di tengah-tengah kegiatan menyimaknya.
"Ups, sorry!" ucap Mita ketika Wara merintih, menahan perih saat cairan dingin berwarna bening diaplikasikan ke luka.
"Kita beda divisi. Tapi kau akan selalu berhubungan dengan anak buahku. Faktur-faktur yang nantinya kamu periksa, berasal dari mereka." Mita mengedarkan pandangan seolah tengah memperkenalkan anggotanya. Satu per satu, mereka saling menyapa.
Mita menatap prihatin sesaat setelah menyelesaikan tugas dadakan. "Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah kau perbuat? Kenapa keluar dari neraka jahannam dengan keadaan seperti ini?"
"Uhuk! Uhuk ...! Jahannam?" Wara melotot.
Semua orang di ruangan itu menahan tawa. Sudah bisa menebak bahwa wanita itu akan menjadi target andalan Jun.
SPV MS berdehem, memberi isyarat pada anak buahnya agar mengkondusifkan keadaan.
"Tidak baik meracuni anak baru. Siapkan dirimu! Kesehatan mental harus tetap dijaga!" saran Mita, menepuk lembut bahu Wara. Merapikan kembali kotak P3K yang sempat dibuat berantakan.
Wara tertegun, berusaha mencerna setiap perkataan yang dilempar.
"Akan ada waktunya kita bergosip," bisik Mita sambil terkikik. Paham dengan kesangsian yang terlukis di wajah ayunya.
Wara memberikan setengah senyuman. Mengangguk bodoh.
"Terima kasih bu. Maaf—"
"Tidak! Kaulah yang telah menyelamatkanku. Jika aku tidak mengobatimu, sudah pasti Mr. Chili berkhotbah hingga lupa waktu. By the way, matur nuwun," potong Mita, mengucapkan rasa syukur yang membawa ketentraman hati dalam bahasa Jawa.
"Aa ... ibu orang Jawa juga?" tanya Wara, berbinar.
"Yes!" Mita mengibaskan rambutnya yang panjang. Kecentilan sudah tidak ragu untuk ditunjukan.
"Kalau begitu, nanti kita ngerumpi ria pakai bahasa yang tidak dimengerti olehnya," ajak Wara, tertawa kecil.
Semua orang menyemburkan tawa. Menimbulkan kegaduhan di ruang administrasi marketing.
Mita menaruh jari telunjuknya di bibir. Memberi kode untuk menghentikan kebisingan yang tercipta.
"Sepertinya kau sudah paham," puji Mita mengajak Wara tos high five.
Saat selebrasi sedang berlangsung, Jun yang sudah menguping pembicaraan mereka sedari tadi, berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Apa yang sedang kalian lakukan! Kerjaaaaaa ...!" teriak Jun kesetanan diiringi tatapan tajam.
Laksana sangkakala yang ditiup, seruan yang menggema sukses membuat ruangan itu berantakan.
Ada yang pura-pura merapikan faktur yang tingginya sudah segunung. Tapi yang terjadi, karyawan justru menjatuhkannya. Membuat dokumen tagihan itu berserakan di lantai. Belum lagi yang terkejut. Menjatuhkan ATK (alat tulis kantor), menimbulkan suara genderang peperangan yang menusuk telinga. Bahkan ada yang hendak melakukan pangggilan telepon tapi justru jadi salah sambung. Bukannya menghubungi customer, nomor Jun yang sudah di luar kepala pun di teleponnya.
Antara marah, ingin tertawa, dan pura-pura sok keren. Jun memilih pergi saat Wara tampak menyesali kedatangannya ke tempat itu. Kegiatan mengacak-acak rambut yang tidak manusiawi hampir saja menghilangkan kewibawaan seorang Arjuna Dewanata.
***
Matahari baru saja sampai di tempat persembunyiannya. Menandakan pergantian siang ke malam telah terjadi.
Seorang wanita berjalan sendirian. Menyusuri jalan komplek menuju rumah pemberian kedua orang tuanya. Penampilan wanita itu jangan di tanya! Sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baru mengikuti proses rekrutmen. Saat sebuah tangan terulur, mendarat di bahunya, Wara menoleh.
"Bisakah kita bicara?" pinta Jackson, sudah satu jam ia di sana. Menunggu Wara yang sangat sulit ditemui.
Wara tersenyum dingin, menepis kasar tangan yang dulu selalu menyalurkan ketenangan baginya. Perbuatan Jackson pagi itu, menorehkan ke dalaman luka yang sulit diukur. Wara mengepalkan tangan, mengayunnya dan...
BUG!
Satu tonjokan keras mendarat di wajah CEO Orlando Group. Meninggalkan setitik darah segar yang mengalir dari hidung. Sesuatu yang tidak pernah Jackson pikirkan baru saja terjadi. Wara yang lemah lembut tidak lagi ia jumpai. Terasa asing, tidak dikenal.
"Wara?" panggil Jackson, wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan.
"Jangan bertingkah seolah kau adalah Jackson yang kukenal! Jacksonku sudah mati! Hari berkabung untuknya telah usai!" seru Wara. Saat berkata, matanya berkilat mengerikan.
Wara melenggang, meninggalkan Jackson yang masih membatu di tempatnya. Namun, ungkapan Jackson berikutnya sukses menahan langkah wanita itu.
"Aku menyesal. Sangat sangat menyesal," lontar Jackson, berat, terdengar menyayat hati.
Sepasang bola mata Wara memerah. Mendengar kalimat memuakan. Wara berbalik, pancaran manik coklatnya mencemooh.
"Menyesal katamu?" Wara menggeleng pelan kemudian tertawa sarkastik. "Tidak Jackson! Kau menikmatinya! Dan jika memang demikian, kau tidak akan membawa seekor dung beetle (kumbang kotoran) ke tempat ini!"
Jackson mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" tanyanya, tidak mengerti. Cukup tercengang menyaksikan perubahan Wara yang drastis.
Wara memilih bungkam, tatapannya menghujam dalam pada seorang wanita yang tengah berjalan di belakang Jackson.
"Jackson?" Batari mencukup pipi bosnya penuh kekhawatiran. Ekspresi kelembutan yang ditunjukan itu dibuat-buat.
Batari tidak terima, memberi pelajaran pada Wara. Terlebih, ia masih ingat betul. Bagaimana cara wanita itu mengibarkan bendera peperangan.
"Berani sekali kau melukainya!" geram Batari.
PLAK!
Tamparan tangan kotor itu meninggalkan bekas kemerahan di pipi Wara. Mantan kekasih Jackson tergelak.
"Bata!" Jackson menarik kasar perempuan itu, berteriak mengandung amarah. "Kau—"
Belum sempat Jackson mengumpat, perkataan pedas Wara sukses memotong pertengkaran sepasang penghianat.
"Waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan dengan orang seperti kalian. Mulai sekarang, tolong jaga sampahku ini dengan baik. Jangan sampai wanita yang lebih jalang, merebutnya darimu. Enyahlah dari hadapanku! Sungguh aku mengharapkan yang terbaik untuk kalian."
Wara berjalan cepat. Tapi langkah Jackson yang panjang bisa menyusulnya. Jackson menarik tangan Wara. Mencengkramnya begitu erat.
"Ayo kita mulai dari awal. Kita perbaiki semuanya. Aku berjanji tidak akan mengkhianatimu lagi," tegas Jackson. Kesungguhan bisa dirasakan oleh lawan bicara.
"Bagaimana dengan dia?" Wara mengayunkan dagunya pada Batari.
"Aku akan memutasikan dia ke cabang terjauh."
"Jackson!" Batari keberatan.
Setelah ia menyerahkan segalanya, membantu Jackson begitu banyak, sekarang ia diasingkan? Tidak! Batari tidak akan tinggal diam!
"Aku memang tak sekaya dirimu. Tapi aku tidak pernah memungut sampah yang sudah kubuang."
Wara menarik tangannya sekuat tenaga. Tentu Jackson tidak mau melepaskannya. Kemarahan yang tengah memuncak mempengaruhi Batari untuk menghempaskan Wara. Terjatuh, dengan kedua lutut mencium kerasnya aspal.
BRUK!
"Pergilah! Akan kujaga sampahmu yang sudah kuanggap red diamonds itu sebaik mungkin! Kau memang tidak layak mendapatkan Jackson. Wanita cerdas tau bagaimana menghargai sesuatu yang bernilai bagi hidupnya," sungut Batari.
Pada saat yang bersamaan, seorang pria menghentikan mobil sport berwarna merah yang dikendarainya tepat di samping Wara. Pria itu turun, berlari menghampirinya. Menjatuhkan satu kecupan sayang di puncak kepala. Mengeratkan pelukan seakan-akan takut kehilangannya.
Aroma maskulin yang hinggap di penciuman tampak tidak asing. Wara membeku. Menerima perlakuan manis dari seseorang yang nyaris membuat jantung wanita itu loncat dari sarangnya.
"Jun?" sapa Jackson dan Batari serempak, keterkejutan tergambar nyata di wajahnya.