Layaknya perusahaan besar, seleksi Dewanata Cabang Bandung (DCB) tidaklah mudah. Mendatangkan HRD kantor pusat, psikotes yang dilaluinya menggunakan sistem gugur. Wara pun dituntut mengikuti prosedur.
Tes intelligence quotient (IQ), penalaran logika dan aritmatika, wartegg, analog verbal, spasial, draw a man (DAM), edwars personal preference schedule (EPPS), kraepelin, army alpha intelegence, dilalui dengan baik. Mengantarkan Wara pada wawancara HRD dan user. Untuk bagian yang bersangkutan, SPV AF (Accounting & Finance) sendiri yang mengujinya.
Sudah duduk di depan Jun. SPV AF bersiap melaporkan hasil.
"Sesuai dengan standar yang Anda tetapkan, dia memenuhi kriteria. Tes tertulisnya mengagumkan. Pemahaman akuntansi, penguasaan jurnal, kemampuan mengerjakan laporan laba rugi, perubahan modal, neraca, dan arus kas juga fantastis. Jadi, bagaimana bos?" tanya SPV AF.
Jun tersenyum miring. Sibuk membaca curriculum vitae (CV) milik Wara. Mengabaikan sejenak lawan bicaranya.
"Lulusan UNPAD, c*m laude dengan IPK 3,62. Pernah magang di Bank Indonesia dan Kantor Akuntan Publik. Menjadi asisten dosen selama dua tahun. Cukup menarik untuk seorang fresh graduate. Lagi pula, tes yang diujikan juga lolos. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Mintakan kontrak pada HRD. Suruh dia menemuiku sepuluh menit lagi," ucap Jun.
"Baik bos. Jika memungkinkan, bisakah besok dia masuk? Pekerjaan sudah sangat menumpuk. Kupikir lebih cepat lebih baik," usul SPV AF.
"Tentu!" sahut Jun penuh semangat.
Raut kebahagiaan terpancar di wajah SPV AF. Sebentar lagi, pekerjaan yang selama ini terpaksa ia kerjakan akan segera berpindah tangan. Hal itu jelas membuat pria yang terkenal perhitungan begitu girang.
***
Di ruang tunggu, mungkin sudah seribu kali Wara memanjatkan do'a. Bukan ingin diterima, melainkan berharap ditolak. Penyesalan karena telah mengerjakan serangkaian tes sesuai dengan kemampuan yang ia miliki, tidak bisa disembunyikan.
"Silahkan masuk, Pak Arjuna telah menunggu Anda. Beliau adalah pimpinan cabang kami," papar staf HRD.
'What! A-Arjuna? Dia bukan Arjuna Dewanata kan?' Wara tampak menahan tawa. 'Apa dia setampan pangeran dari dinasti Kuru? Apa dia juga Pandawa Lima? Apa bapaknya Pandhu? Ibunya Kunti? Saudaranya Yudistira? Bima? Nakula? Sadewa? Lucu sekali! Bagaimana dengan diriku? Bahkan orang tuaku bernama Basudewa dan Rohini. Seperti perkumpulan tokoh Mahabarata saja. Tidak mungkin kan kami berjodoh? Konyol!' seloroh wanita itu di dalam hati.
"Mbak?" panggil staf HRD saat Wara justru terlihat bengong.
"Eh, i-iya. Terima kasih," balas Wara sebelum beranjak.
Staf HRD tersenyum ramah. Mempersilahkan wanita itu menuju ruangan Jun. Pun dengan Wara, membalas kesupelan HRD dengan perilaku yang sama.
"Kenapa deg-degan gini?" gumam Wara tepat di depan pintu Area Manager DCB. Meremas ujung rok yang dikenakan dengan wajah panik.
Wara menarik napas dalam-dalam, mengatur kegugupan yang tengah menerpa. Saat nyali sudah terkumpul, ia mengangguk mantap.
"Permisi?" sapa Wara setelah ketukan di pintu sebanyak tiga kali dilakukan. Menunggu pemilik kuasa memberikan izin. Suaranya lembut, mengalun indah di pendengaran Jun. Pria itu bahkan sempat meragukannya.
Jun mencari gaya terkeren, mengatur posisi duduknya seakan-akan tengah bekerja. Padahal, sedari tadi pria itu sibuk membayangkan bagaimana reaksi Wara setelah melihat dirinya yang ternyata menjadi atasannya.
"Masuk!" perintah Jun terdengar berwibawa. Pura-pura sedang membaca beberapa dokumen yang ada di depannya.
Pelan tapi pasti pintu dibuka, ditutup kembali dengan penuh kehati-hatian. Saat Wara berbalik, ia terperanjat. Mendapati wajah yang tak asing, tampil semakin menawan dengan kacamata bulatnya.
Wara reflek mundur, kedua tangannya menempel pada tembok. Mencengkram dinding seolah tengah berpegangan kuat. Ekspresi yang ditunjukan penuh keterkejutan.
"Ja-jadi tadi aku tidak mengkhayal? Di-dia pria yang kutabrak? Su-sungguh?" tanyanya terbata. Wara menutup mulut dengan mata yang masih melebar.
Saat ingatannya memutar kejadian di coffee shop, Wara berbalik. Mengutuk kesalahpahaman yang ia lakukan. Merasa malu sekaligus bersalah. Wara membentur-benturkan keningnya ke tembok. Kebiasaan baru mengacak-acak rambut secara brutal pun dilakukan. Kewarasannya mendadak sirna. Wara lupa! Ia sedang berhadapan dengan atasan. Bagaimana bisa wanita itu justru memberikan kesan buruk!
Jun menahan tawa. Melihat Wara salah tingkah, ia begitu puas. Tetap menampilkan profesionalismenya, Jun mengakhiri kebodohan Wara.
"Silahkan duduk!" perintah Jun, ramah. Senyum meneduhkan yang ia lempar sukses membuat Wara semakin menjadi-jadi.
Langkah lambat menuntun wanita itu pada kursi yang terletak di depan Jun. Lengkungan bulan sabit di bibirnya bak energi supranatural yang seolah-olah menarik wanita itu untuk segera mendekat. Wara terjerat, terpesona dengan paras tampannya.
Terlalu menikmati pemandangan yang memanjakan mata, Wara kembali mempermalukan dirinya sendiri. Ketika ia hendak duduk, Wara justru menjatuhkan bokongnya pada tempat yang tidak sesuai. Akibatnya, Wara terjatuh.
Sumpah demi apa! Jun hampir saja tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawa. Tanpa ia membalas, kelakuan Wara sudah seperti hiburan tersendiri untuknya. Tapi Jun tetaplah Jun. Selalu menunjukkan kesempurnaan dalam bekerja.
Jun beranjak, menghampiri Wara lalu berjongkok. Uluran tangan yang dibalut kekhawatiran, menebar pemikat. Cukup lama Wara menatap Jun tanpa berkedip.
"Maaf jika kursinya tidak nyaman. Kupastikan besok sudah diganti," kata Jun, terdengar menyesal.
Secepat kilat Wara menggeleng. "Bu-bukan kursinya. Sa-sayalah yang ceroboh."
"Aa ... jika demikian, lain kali hati-hati. Mari, biar kubantu." Jun semakin mendekatkan tangannya. Berakting penuh kepedulian.
Wara menatap telapak tangan Jun yang entah kenapa juga menarik. Semua hal yang ada pada pria itu membuat hatinya bergetar.
Ragu-ragu Wara menaruh telapak tangannya di sana. Menerima pertolongan yang diberikan.
Jun memegang sandaran kursi. Memastikan Wara duduk dengan semestinya. Jun kembali ke tempat duduknya.
"Terima kasih dan ma-maaf ...." tutur Wara begitu berbeda, mendayuh lembut memberi ketentraman.
Jun terpaku sesaat, tapi pria yang pandai bersandiwara itu kembali menguasai permainan.
"Ini kontrak kerjamu. Silahkan dibaca dengan teliti. Jika ada yang ingin ditanyakan, maka jangan ragu untuk bertanya." Jun mengulurkan beberapa lembar kertas berkop resmi.
"Sa-saya diterima?" tanya Wara, murung.
"Ya!" terang Jun tanpa keraguan.
Wara menerima lembaran itu. Melengos, reflek memukul dahinya yang tengah berkerut dengan kertas itu.
"Kenapa? Tidak senang bergabung bersama kami? Jika memang bimbang atau bahkan tidak sesuai harapan, Anda tidak perlu menandatanganinya. Sesuatu yang dipaksakan sering kali berakhir dengan tidak baik," saran Jun, bermaksud menelisik.
"Bu-bu-bukan seperti itu!" kilah Wara.
Jun memberi isyarat untuk membaca surat perjanjian kerja yang tengah dipegang Wara. Keputusasaan tidak terbantahkan, terlukis jelas di wajah ayunya.
Sesuai perintah, Wara mulai melafalkan di dalam batin apa saja yang tertangkap oleh indra penglihatan. Terkadang alisnya terajut, tidak jarang juga giginya saling beradu kuat. Membaca beberapa ketentuan yang tampak mencekik lehernya.
"Gaji saya lima juta?"
Spontan pertanyaan itu terlempar saat Wara sudah sampai di lembar terakhir. Pupil wanita itu melebar. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Jika dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu bekerja, tentu nilai itu terlihat besar. Salary yang sudah pasti di atas upah minimum regional itu jelas berharga untuk orang yang baru diwisuda.
"Yap! Itu hanya selama masa training. Jika lolos, sudah pasti akan ada kenaikan," urai Jun.
'Huh... baiklah! Tidak masalah kantor bulukan juga. Atau mungkin sudah runtuh hanya dengan kekuatan gempa di bawah 4 skala richter. Imbalan yang diterima lebih besar daripada mereka yang bekerja di bank-bank ternama.' batin Wara bersorak.
Wara membubuhkan goresan persetujuan di sana. Dengan wajah secerah mentari, ia mengembalikan dokumen itu kepada Jun. Salinan dokumen diberikan pria itu setelah Jun menyetujuinya.
"Selamat bergabung dengan Dewanata Cabang Bandung. Mulai besok kau sudah diperbolehkan bekerja." Jun menjulurkan tangan seraya mengajak berjabat.
Wara menyambutnya dengan hangat. Tanpa wanita itu sadari, garis tipis di sudut bibir Jun terukir.
"Oh iya, ini job description yang akan menjadi kewajibanmu." Selembar kertas diberikan Jun kepada Wara.
Wanita itu menerimanya dengan antusias. Ketika membaca poin demi poin, Wara tidak ragu untuk melempar protes.
"Tunggu! Ini tidak salah?" tanya Wara setengah memicingkan mata.
Jun menggeleng santai. Membenarkan apa yang tertulis di sana.
"Yang benar saja Pak! Saya melamar untuk bagian accounting. Tapi kenapa ada petty cash dan pengajuan dana? Bukankah seharusnya masuk ke finance? Lihat! Apa ini?" Wara menunjuk beberapa poin yang janggal. "Tagihan itu bukannya masuk ke staf piutang? Kenapa ke saya juga? Ini udah kaya bala-bala saja Pak! Masa iya satu orang harus mengerjakan pekerjaan tiga divisi?" cecarnya.
Jun terkekeh, geli dengan raut tidak terkontrol yang diperlihatkan Wara. "Divisi kami memang Accounting and Finance. Semua orang merangkap pekerjaan. Pandanglah sisi baik yang ada di dalamnya. Setidaknya, ilmu yang kau dapat tidak melulu tentang accounting. Saya juga lulusan ekonomi. Tapi saya bersyukur karena bisa mempelajari banyak hal."
Wara mendengus. "Saya tidak mau gaji segitu Pak. Maaf ...."
"Berapa yang kamu minta?" tanpa basa-basi Jun memberi penawaran.
Cukup tercengang, Wara tidak membuang kesempatan, tampak berpikir.
"Enam juta!" cetus Wara tidak ingin goyah.
"Ok!" putus Jun dengan gelagat elegan.
Senyum Wara mengembang dengan sempurna. Senang karena permintaannya dikabulkan.
Jun merubah kesepakatan. Mereka pun menandatangani employment aggreement yang baru. Wara pamit segera setelahnya. Namun, celotehan Jun yang hinggap di telinga mampu membangkitkan jiwa urakan yang belum lama terbentuk.
"Bukan Arjuna namanya jika tidak bisa menciptakan keuntungan di segala kondisi. UMR dikali tiga masih lebih tinggi dari gajinya. Daripada mempekerjakan tiga orang, tentu dia lebih efisien."
Wara yang emosi, membuka pintu dengan tenaga penuh. Sial! Daun pintu itu justru menghantam wajahnya.
DUG!
"Awwww...!" pekik Wara menahan rasa sakit. Meninggalkan bercak darah dan benjolan di dahinya.
Jun terbahak-bahak menyaksikan keapesan wanita itu. Memegang perutnya yang terasa sakit akibat gelak tawa yang dilemparnya.
Tanpa perlu memutar otak untuk menuntut balas, kecerobohan Wara sudah cukup menjadi pelipur lara.