Matahari baru sampai di seperempat perjalanan. Tapi ITB integrated career days yang diadakan di Sabuga, sudah dipenuhi oleh para pelamar kerja. Job fair terakbar di Kota Bandung itu menyimpan banyak harapan. Berkarir di perusahaan ternama jelas menjadi impian banyak orang.
Wara baru saja berkeliling. Sepuluh cover letter yang ia bawa sudah dimasukan ke beberapa perusahaan. Menyisakan satu surat lamaran kerja menuju walk in interview.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang bedding industries sedang mengadakan wawancara langsung. Posisi yang ditawarkan pun sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Lagi pula, Wara memang bercita-cita mengembangkan bisnis keluarga. Tidak ada salahnya jika ia terjun pada bidang yang sama.
Wara merogoh gawai yang ia simpan di saku blazer. Mengaktifkan front facing camera. Wara menelisik penampilan.
Rapih! Begitu kesan yang terlihat. Meskipun tak seanggun dan secantik biasanya, tapi wanita itu masih cukup waras pagi ini. Mendambakan gaji di atas rata-rata, Wara tidak mungkin berpenampilan buruk.
Kemeja putih yang dipadukan dengan outwear bermotif kotak-kotak, ditambah polesan make up tipis, menuntun Wara melangkah penuh percaya diri. Harapan besar jika suatu saat nanti karya ayahnya bisa dikenal masyarakat Indonesia, menyejukkan hati. Sayang! Saat logo perusahaan dan desain kasur yang tertangkap indra penglihatan itu tampak tidak asing, Wara berhenti.
Dari sekian banyak perusahaan, kenapa Orlando Group harus ikut andil di dalamnya? Tentu Wara tidak ingin bayang-bayang Jackson mengusik hidupnya. Memilih berbalik, mengurunkan niat. Sial! Pemandangan menusuk hati justru terpampang jelas di depan mata.
Batari yang menjabat sebagai sekretaris pribadi Jackson tengah merapikan penampilan CEO Orlando Group. Tersenyum miring saat melihat keberadaan Wara yang berstatus sebagai job seeker. Dokumen yang dilengkapi foto formal itu menegaskan kedudukan wanita yang masih bertakhta di hati Jackson. Batari sengaja mengarahkan Jackson agar pria itu tidak melihat keberadaan Wara.
Sesaat setelah Jackson menghampiri seseorang, sekretaris Orlando Group itu mendekati Wara. Mensejajarkan diri lalu menabrakkan salah satu bahunya pada lawan.
Batari menoleh, rautnya penuh ejekan. "Kau ... kalah!"
Mencoba setenang mungkin, Wara menatap Batari. "Aku tidak merasa sedang berkompetisi. Bagaimana bisa kau menjatuhkan kekalahan kepadaku?"
Batari bersedekap angkuh, menatap remeh wanita itu. "Lalu kata apa yang pantas untukmu jika kekasih hati yang selama ini bersamamu telah jatuh ke dalam pelukanku?"
Sesaat Wara murung, tapi rasa sakit yang teramat menyulut api di jiwanya.
"Aku baru tahu, menjadi orang ketiga di dalam sebuah hubungan ternyata bisa dianggap prestasi. Bangga sekali dirimu!" caci Wara, sudut bibir terangkat membentuk senyum sinis.
Batari tertawa kecil. Tidak peduli dengan perkataan mantan Jackson. Ia merapatkan jarak, setengah berbisik, "Aku hamil."
DEG!
Sepasang bola mata Wara melebar, tersentak dengan berita yang baru didengarnya. Sakit sungguh sangat sakit! Tapi Wara tidak akan membiarkan wanita itu menindasnya.
"Kenapa kau mengatakannya kepadaku? Aku bukan orang yang mengencingimu!" ketus Wara dingin.
Batari terkikik. Geli dengan perkataan wanita itu.
"Tentu saja karena ini adalah anak Jackson. Apa kau tahu?" Batari mencondongkan tubuh, bertutur lembut, "Kami akan segera menikah. Tidakkah kemenangan telah berpihak kepadaku? Kau sudah bersamanya selama empat tahun. Tapi kau tidak mendapatkannya. Dia bahkan tidak menyentuhmu. Cinta di antara kalian sangat meragukan. Tidak tertarik secara seksual padahal kau lumayan cantik. Itu patut dicurigai."
Wara mengepalkan tangan, menahan kegeraman. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Batari untuk mempermainkan emosi yang tengah terbentuk.
"Setiap ada kesempatan, kami selalu melakukannya. Di rumah, di kantor, dan dimanapun sudah seperti surga untuk kami. Bodoh! Lain kali, kau harus tahu bagaimana melayani seorang pria. Prinsip kuno yang kau terapkan tentu membuat mereka muak," cicit Batari.
Wara memalingkan wajah, tertawa hampa. Perkataan Jackson menggema di pendengaran. Katanya, pria yang baik akan menjadi pelindung. Cinta yang murni, terlepas dari hawa nafsu.
Omong kosong! Jackson tidak lebih dari seorang pembual. Wara sudah tidak mempercayainya. Jangan berharap ada kesempatan kedua! Ia tidak akan sudi! Jika perlu, menyesallah seumur hidup! Sungguh ia tidak akan peduli!
"Setidaknya prinsip kampunganku bisa menyelamatkan wanita terhormat dari pria yang tidak baik," sindir Wara sebelum meninggalkan wanita yang tidak dikenalnya. Tapi baru empat langkah, Wara berbalik, menyambangi Batari.
"Oh iya! Jangan mengumbar aib di depanku. Aku bukan pemburu berita yang gila nilai jual. Perlu kau ketahui. Aku sama sekali tidak tertarik dengan sampah yang sudah kubuang. Heran saja, kenapa ada orang yang memuja seongok barang bekas melebihi red diamonds yang terkenal bernilai fantastis," cibir Wara tidak tanggung-tanggung sebelum melenggang elok, menciptakan jarak.
Batari menatap kepergian Wara penuh kekesalan. Berniat menjatuhkan kepercayaan diri Wara, Batari justru harus menelan pil pahit. Kebohongan yang ia paparkan sama sekali tidak membuat Wara terusik.
***
Pagi telah bergulir mengganti hari menyebalkan dengan harapan baru. Semalam Wara tidak bisa tidur. Akan tetapi, kerja kerasnya beberapa hari yang lalu mengobati kegundahan di dalam hati.
Panggilan kerja didapatkan Wara via email. Lamaran pekerjaan yang ia apply ke salah satu situs lowongan kerja terpercaya, telah direspon. Tentu Wara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Terlebih, ia sudah mengantongi latar belakang perusahaan yang ternyata pesaing Orlando Group. Bidang yang sesuai dengan minat, menjadi daya tarik.
Berdiri konyol di depan pintu gerbang yang telah lapuk dimakan usia. Wara berulang kali mengecek alamat yang tercantum di email.
"Huh! Benar! Tidak salah! Ini memang Dewanata Cabang Bandung. Sudah sesuai dengan alamat dan juga—" Wara menunjuk papan dekil bertuliskan nama perusahaan. "kenapa seram sekali? Apa mungkin hantu di zaman milenial bisa pasang iklan lowongan pekerjaan?" gumam Wara sedikit merinding.
"Untuk posisi apa mbak?" tanya Pak Satpam, membuyarkan ketakutan yang sempat hinggap.
"Eh, Pak?" sapa Wara basa-basi. "Accounting, Pak?" jawab Wara menyambung ucapannya.
Pak Satpam mengangguk ramah. "Silahkan masuk, HRD telah menunggu."
Keraguan terlihat jelas di wajah Wara. Sempat tergiur dengan bangunan megah Dewanata Group yang ada di profil perusahaan, Wara tidak tahu bahwa yang terpampang adalah kantor pusat bukan DCB. Wajar saja ia shock dengan penampakan yang tersuguh.
"Tenang saja mbak, pasti diterima. Posisi accounting memang sedang dibutuhkan. Sudah kosong dari tiga bulan yang lalu. Apalagi dari kemarin yang diundang interview pada kabur. Belum juga melewati gerbang ini, mereka sudah mengundurkan diri," papar Pak Satpam.
"Apa!" Wara terkejut, matanya melotot.
Pak Satpam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa tidak enak. "Hehehe ... bercanda mbak. Ayo, silahkan."
"Kenapa feelingku buruk?" gerutu Wara, tidak menolak ajakan seseorang yang bertugas menjaga keamanan di tempat itu.
Pak Satpam mengarahkan Wara ke ruang meeting. Sepanjang langkah, Wara mengedarkan pandangan. Menelisik taman, tempat parkir, dan bangunan yang sama sekali tidak menarik. Saking ganjilnya dengan keadaan yang tak layak, Wara tidak memperhatikan langkahnya.
DUG!
"Awww ...!" pekik Wara merintih kesakitan saat ia menabrak seseorang.
Malang baginya! Satu kaki Wara justru masuk ke solokan. Wara terjatuh dengan posisi terduduk.
Aroma maskulin yang tidak asing menerpa hidung. Wara menyelipkan rambut ke sudut telinga. Saat wajah rupawan itu mengisi iris coklatnya, jantung Wara berdebar tidak karuan. Rona pun merangkak naik ke wajah. Terlebih ketika paras tampan itu terlihat nyata dan semakin jelas. Memangkas jarak di antara mereka.
Wara pun mengkhayal. Jika pria yang tampak seperti seorang pangeran dari Hastinapura itu mendekat dan mengulurkan tangan, hendak monolongnya. Mulut Wara mendadak melengkung membentuk senyum ceria.
Laksana berada di surga, hembusan napas beraroma mint yang menerpa wajah bagai angin yang membawa kesejukan. Mengantarkan Wara pada musim semi. Semerbak bunga yang bermekaran, mengundang jutaan kupu-kupu di hatinya. Wara tersihir, ketampanan seorang Arjuna Dewanata meluluhlantakkan hatinya.
"Ehem ...!"
Deheman seseorang menghancurkan lamunan. Wara menoleh ke sumber suara. Ia terguncang bukan main. Tak pernah terpikirkan olehnya, jika yang menolong Wara justru Pak Satpam berkumis lele. Merasa geli dengan kumis yang bergerak seiring dengan tawa yang dilempar, Wara menarik tangan lalu memundurkan tubuhnya. Apes! Wara terjatuh saat satu kakinya kembali terjebak di parit.
"Aaa ... aaaa ...."
BRUK!
Sumpah demi apa! Dari balik kaca ruangan, Jun terkakak-kakak melihat ketidakberuntungan Wara.
Benar, jika Jun mengulurkan tangan. Tapi Jun tidak tertarik untuk membantu Wara. Yang sebenarnya, Jun justru mengambil makanan ikan yang sempat terjatuh akibat ditabrak oleh wanita itu. Kemasan itu terongok tepat di depan kaki Wara.
Jun merapihkan rambut. Saat penampilannya sudah sesuai harapan, ia menyelipkan kedua tangan ke saku celana. Siulan nyaring penuh kebahagiaan, mengiringi langkahnya.
'Menuntut balas melalui sebuah pekerjaan sepertinya menarik. Hei, Nona! Bersiaplah menerima pembalasan! Aku tidak akan membuatnya menjadi mudah!' ancam Jun di dalam hati.