Waktu baru menunjukan pukul 20.30 WIB tapi Kota Bandung sudah diselimuti hawa dingin yang menusuk.
Seorang pria muda nan tampan berjalan menyusuri wilayah yang ramai diperbincangkan para traveler. Mengenakan hoodie berwarna biru, dipadukan dengan celana jeans dan sepatu senada keluaran brand ternama. Fashion style yang tampilkan Jun, mencuri perhatian.
Jun mengedarkan pandangan. Menikmati panorama malam yang memanjakan mata. Bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda tampak terawat. Berdiri kokoh bergaya Indische Art Deco (Arsitektur Hindia Baru). Visual yang terpampang menciptakan keunikan tersendiri. Penerangan yang mendukung, menimbulkan kesan hangat.
Jun mengangkat kamera yang tengah dipegangnya. Mendekatkan benda itu pada indra penglihatan. Satu mata menyipit saat ia sedang mengatur fokus kamera. Memusatkan lensa pada obyek yang diincar.
CEKREK!
Lengkungan bulan sabit itu bertengger indah di bibir. Puas dengan hasil yang didapatkan. Jun melanjutkan perjalanan, menuju spot yang tengah booming.
Braga ... nama seruas jalan di Kota Bandung. Tempat bersejarah yang masih dipertahankan keberadaannya. Beberapa perbaikan yang dilakukan, menambah keindahan. Mengundang wisatawan untuk berkunjung. Bahkan seorang Arjuna Dewanata hadir di sana. Membuktikan tangkapan layar beberapa orang yang terlihat instagramable.
Tidak peduli dengan kekaguman yang sedang ditunjukan para kaum hawa. Keberadaan Jun yang dianggap lebih bersinar menjadi penyebabnya. Dengan acuh, pria itu lebih memilih berburu foto. Menikmati hari ketiganya di Kota Kembang. Merasa lelah, Jun singgah ke sebuah coffee shop.
Memilih lantai dua. Duduk di pojok, dekat jendela besar. Secangkir caramel latte hangat menemani kesendirian pria yang gagal move on itu. Menengok kembali potret yang dihasilkan. Menimbulkan kesibukan pada ibu jarinya.
Sepasang mata Jun melebar ketika sosok wanita yang tidak asing, tak sengaja tertangkap kamera.
"Dia?" Jun terperangah lalu tertawa hampa.
Wanita itu mengingatkan kejadian yang ia alami di apotek sore tadi. Kekesalan Jun pun kembali mencuat. Jempolnya bergerak lincah, hendak menghapus foto itu. Tiba-tiba, seseorang yang datang mampu menahan pergerakan pria itu saat sekrat minuman bersoda dihentakkan di atas mejanya.
"Maukah kau menemaniku minum?" tanya Wara, tertunduk, lemah, dan serak.
Jun membuang pandangan. Tertawa tanpa suara, mendengar permintaan tidak masuk akal. Setelah apa yang dia lakukan, Wara masih berani mengusiknya? Begitu pikir Jun.
Wanita dengan penampilan sangat kacau itu sukses membangkitkan sisi tidak menyenangkan dari seorang Arjuna. Bibir Jun bahkan sudah sangat gatal. Ingin melempar cibiran pedas khas dirinya.
"Ti—"
"Terima kasih!" potong Wara tak tahu diri. Tidak membiarkan pria itu menolak. Ia menarik kursi, duduk tanpa seizin Jun. Menjatuhkan kepala di atas meja. Belum menyadari jika lawan bicaranya adalah pria yang sama.
Jun memejamkan mata, rahangnya mengeras diiringi gigi yang saling beradu kuat. Menahan emosi yang memuncak. Banyak pengunjung di sana. Jun masih sedikit waras untuk tidak mempermalukan dirinya.
Jun meletakkan kamera di atas meja. Kedua tangan dilipat di d**a, menyandarkan punggung pada kursi yang tengah diduduki. Tatapan Jun tidak ramah, menghujam dalam pada Wara. Perilaku yang ditunjukan Wara tak pernah luput dari pengamatannya.
Sial! Perlahan tapi pasti, tingkah laku Wara justru mampu meredam amarah Jun. Digantikan rasa iba saat pria itu menyadari kemiripan dirinya ketika tengah patah hati. Manik gelapnya yang tajam, mendadak redup dan tumpul.
Wara mengulurkan satu tangan. Merambat, menggapai sebotol minuman. Sejenak mengangkat kepala hanya untuk menenggak soda bening. Ekspresi tidak berdaya yang ditunjukan murni, tanpa dibuat-buat. Wara kembali meletakkan kepala di meja. Menangis dalam diam. Tapi bahunya yang naik turun membuat Jun paham.
"Hei, Nona! Aku tahu semua wanita mendambakanku! Kau pikir aku bodoh! Tolong, jangan bersandiwara di depanku! Aktingmu itu sungguh payah! Caramu mendekatiku, sangat murahan!" kritik Jun, bermaksud memancing Wara dengan api peperangan.
Jun tidak suka melihat seorang wanita menangis. Berusaha menghibur Wara dengan caranya tersendiri. Keahlian Jun mencibir, diharapkan mampu menghilangkan kesedihan.
Jun boleh saja terkenal dengan lidah tajamnya, tapi lihatlah! Sejatinya, pria itu mudah terenyuh. Hanya saja, Jun memang tidak suka pencitraan. Kepedulian yang dilakukan, tetap disampaikan dengan gayanya.
Wara menegakkan posisi duduk, menghabiskan minuman itu secepat kilat. Ia memasang tutup botol. Menggunakan benda kosong itu untuk memukul wajah Jun.
"Tutup mulutmu! Aku tidak menyuruhmu untuk menilaiku! Diam dan dengarkan saja curhatku!" sungut Wara sebelum melanjutkan tangisnya. Menyembunyikan wajah di antara tangan yang di tekuk di atas meja. Air mata yang bercucuran seolah merabunkan penglihatan. Masih belum menyadari keberadaan Jun.
Jun tergelak, tapi melihat meja mereka menjadi pusat perhatian, ia tidak bisa berdiam diri. Tak ingin para pengunjung berpikir yang tidak-tidak, Jun terpaksa mengambil tindakan. Namun, celotehan Wara sukses membuat Jun menahan langkah kakinya.
"Apa kau tahu rasanya dikhianati? Hubungan yang tampak baik-baik saja, ternyata menyimpan duri di dalamnya," ucap Wara menangis sesenggukan. Masih tetap pada posisinya namun ia bisa merasakan pergerakan Jun.
Jun menoleh, menatap prihatin wanita itu. Jelas Jun bisa merasakannya. Luka yang ditinggalkan mantan kekasih, masih menganga.
"Bagaimana rasanya jika kau menemukan kekasihmu tengah merengkuh kenikmatan bersama wanita lain di depan matamu?" tanya Wara, suaranya bergetar, menyayat hati Jun.
"Aku yang menolak melanjutkan hubungan, tapi kenapa justru aku yang tampak menyedihkan? Bukankah pria seperti itu layak kucampakkan? Apa keputusanku salah?" Wara menggeleng pelan. "Tidak! Ini hanya proses. Akan baik-baik saja seiring dengan berjalannya waktu." Wara mengambil botol lain, menenggaknya lebih kasar.
"Aku ingin mabuk tapi tak ada seorang pun yang bisa kupercaya. Lagi pula, itu hanyalah khayalan. Minuman beralkohol sama sekali tidak menarik." Wara mengibaskan tangan ke arah Jun. "Pergilah! Kopimu ... biar aku yang membayarnya."
Jun yang sedari tadi menyimak, melanjutkan niatnya. Menghampiri salah satu karyawan yang berada tidak jauh dari dirinya.
Wara menegakkan kepala. Menyeka cairan bening di pipi. Tersenyum getir saat menatap punggung Jun.
"Bahkan mendengar curahan hatiku saja dia tidak mau. Apa di dunia ini aku benar-benar sendiri?" keluh Wara masih didengar baik oleh Jun.
Wara meraih dua botol minuman bersoda sekaligus. Meminumnya bergantian. Saat ia bersendawa, Wara tertawa bodoh. Mengacak-acak rambutnya dengan brutal.
"Sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Menangisi pria sialan sepertinya?" Wara tertawa di tengah-tengah isaknya. "Cih! Betapa bodohnya diriku!"
Wara merebahkan kembali kepalanya. Tangan wanita itu sibuk memainkan botol-botol yang kosong.
Sesuai perintah Jun, satu persatu pelanggan cafe itu berkurang. Menyisakan dua orang yang tidak saling kenal. Ya! Tidak ingin orang berprasangka buruk, Jun menyewa lantai itu dengan harga yang tidak murah.
Jun memilih meja lain. Duduk tepat di belakang Wara. Mereka saling memunggungi. Tenggelam dalam lamunan masing-masing. Kenangan indah dan buruk bersama seseorang yang masih bertakhta datang silih berganti. Hanya minuman soda yang menemani mereka.
Tanpa terasa, sudah satu jam mereka melewati waktu tanpa arti. Wara beranjak, mengucek mata saat wajah rupawan itu memenuhi iris coklatnya.
Wara menghampiri pria itu. Berkacak pinggang, setengah meledek.
"Woa ... pria sepertimu bisa patah hati juga?" Wara menutup mulut, wajahnya penuh keterkejutan.
Jun hanya melirik sinis. Tidak tertarik menanggapi wanita itu. Rambut Wara yang sudah seperti singa yang baru bangun tidur menambah tingkat kemuakan.
Wara memicing. "Apa kau baru saja ditinggalkan oleh pacarmu? Aa ... apa pria sepertimu juga diselingkuhi? Apa kau ditinggalkan kekasihmu hanya karena pria lain yang mungkin lebih dari dirimu?"
Jun yang malas memilih berajak, menghindari Wara. Tapi wanita itu justru menahan bahu Jun. Sedikit dorongan yang diberikan, memaksa Jun kembali ke tempat duduk.
Wara menjangkau soda tak berwarna yang tinggal tiga botol. Menaruhnya tepat di depan Jun. Hentakan keras yang diberikan sempat membuat Jun terperanjat.
"Jangan pulang dulu sebelum kau menghabiskan minumanmu! Sprite pesananmu akan kubayar. Lampiaskan kesedihanmu dan jangan berlarut-larut! Kau tidak akan mengakhiri hidup hanya karena seorang wanita bukan?" selidik Wara.
Masih tidak mendapat jawaban, Wara menepuk bahu Jun dua kali. Mendekatkan bibir tepat di samping telinga. Lirih ia berbisik, "Balasan setimpal untuknya adalah kebahagiaanmu bersama wanita lain. Tidak perlu membalasnya. Cukup tunjukan bahwa melepas orang yang tidak tepat merupakan pilihan terbaik." Wara mengedipkan mata genit. Bergaya sok tegar padahal hatinya tengah rapuh.
Wara meninggalkan Jun yang masih menatapnya tidak percaya. Sesuatu yang tidak menyenangkan justru terjadi. Rok selutut berbahan woll yang Wara kenakan tersangkut di sudut meja. Lambat tapi pasti benang itu terulur sepanjang jarak yang tercipta. Beberapa karyawan cafe menahan tawa. Tentu Jun tidak bisa berdiam diri. Melepas hoodie yang dikenakan, berlari menyusul Wara.
Jun menarik salah satu tangan Wara. Membuat wanita itu berbalik, menabrak d**a bidang Jun. Wara terpaku, aroma maskulin yang hinggap di indra penciuman sungguh membius. Menimbulkan getaran jantung yang tidak biasa.
Kesempatan itu digunakan Jun untuk mengikatkan hoodie miliknya di pinggang Wara. Tak mengizinkan mata-mata yang tidak terdidik menyaksikan keindahan paha Wara yang mulus nan bersih. Tapi Wara justru salah sangka.
PLAK!
"Lancang!" seru Wara, murka dengan tindakan Jun yang tiba-tiba memeluknya.
Bersamaan dengan itu, karyawan cafe tampak menyesal. "Uhh ...."
Jun meraba pipi yang terasa panas, manik legamnya seakan-akan siap melesatkan tombak. Jun sudah tidak bisa menahan diri.
"Kau!" Jun mendorong dahi Wara, geram. Jika saja bukan perempuan, tentu Jun sudah membalas dengan pukulan yang jelas lebih layak untuk diberikan.
Wara berjalan mundur, menghindari Jun yang terus memangkas ruang di antara mereka.
"Tidak bisakah kau berterima kasih? Aku telah menyelamatkan harga dirimu tapi kau justru menamparku! Lihat rokmu! Apa kau mau tubuhmu yang tidak menarik itu dinikmati banyak orang?"
Mata Wara membulat dengan sempurna ketika melihat benang yang terhubung ke dirinya, menyingkap hoodie Jun untuk memastikan dugaannya. Wara pun diliputi rasa bersalah. Melarikan diri dari pria itu jelas tidak mungkin. Ia pasrah ketika punggungnya membentur tembok.
Jun mengunci pergerakan Wara. Memukulkan telapak tangan ke tembok, tepat di samping telinga wanita itu. Wara bukannya takut, tapi rasa tidak enak pada pria itu membuat mulutnya terkunci.
"Saat kau melempar kaleng dan meninggalkan noda di bajuku, aku masih berbaik hati kepadamu. Mendengarkan omong kosong yang tidak berguna. Ketika kau memukulku dengan botol, aku masih menyelamatkanmu dari orang-orang yang hendak mencemooh. Padahal bisa saja kubilang bahwa aku tidak mengenalmu. Kau akan dianggap wanita gila. Aksi menyedihkanmu itu bisa diviralkan di sosial media. Aku menyewa tempat ini agar martabatmu terjaga. Tapi apa balasanmu?" Jun menggeleng.
"Jangan pernah muncul di hadapanku! Kehadiranmu hanya membawa kesialan!" kecam Jun sebelum meninggalkan tempat itu.
Wara membatu, menatap nanar kepergian Jun. Otaknya sibuk mencerna perkataan pria itu.