Sudah setengah jam, ruang tamu kediaman Basudewa dibuat hening. Padahal dua orang yang selalu bersemangat membahas bisnis itu biasanya tak pernah kehabisan topik pembicaraan.
Terlalu asik bertukar pikiran, membahas peluang usaha sampai menyalurkan hobi yang sama, sering kali membuat pria berbeda usia itu lupa waktu.
Sayangnya itu tidak berlaku untuk pagi ini. Tatapan Basudewa yang tidak biasa, terkunci kepadanya. Perbuatan Jackson membentuk kecanggungan. Menciptakan batas yang sulit untuk dilalui. Beruntung! Langkah kaki yang terdengar, memecah kesunyian yang membelenggu.
Jackson mengakat kepala. Sepasang manik indahnya tertuju pada wanita paruh baya. Penampilan sederhana itu sama sekali tidak memudarkan kecantikan alami yang dimiliki. Tampak masih muda, terawat, dan anggun. Menuruni anak tangga, hendak menyapa tamu yang tidak lagi asing. Secercah harapan pun terpancar jelas di wajah Jackson.
"Bagaimana bu?" tanya Basudewa.
Meskipun kecewa, tapi pria yang terkenal baik hati itu pandai mengendalikan amarah. Jika bukan Basudewa, mungkin nasib Jackson sudah berakhir di rumah sakit. Berani sekali dia menyakiti putri semata wayangnya. Anak yang selalu diperjuangkan kebahagiannya.
Rohini menghentikan langkah tepat di ujung tangga. Menggeleng pelan dengan raut menyesal. Gagal membujuk Wara untuk menemui Jackson.
Kekecewaan menyelimuti pria yang menjabat sebagai CEO Orlando Group. Jackson pun kembali tertunduk. Menyembunyikan wajah penuh rasa bersalah sekaligus malu.
"Ma-maaf karena telah menorehkan luka yang dalam di hati Wara," kata Jackson sesaat setelah Rohini duduk di samping Basudewa. Penyesalan bisa dirasakan dari suara Jackson yang berat, serak, dan tersendat.
Baik Basudewa maupun Rohini hanya bertukar pandang. Belum menanggapi permohonan pria itu.
Tidak direspon, Jackson melanjutkan ucapannya, "Ma-maaf ... sudah mengecewakan Anda sekeluarga. Menodai kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Saya sadar, ini tidaklah cukup. Tidak sebanding dengan apa yang Wara dan Anda rasakan."
Senyap! Tapi tangan Rohini terulur. Mengusap lembut tangan Basudewa yang perlahan mulai terkepal. Senyum ayu yang diberikannya seolah menjadi penawar.
Basudewa mengedipkan mata. Membalas perbuatan istrinya dengan genggaman hangat.
Pengusaha furniture lokal itu menghela napas panjang. Dadanya sesak mendengar curahan hati Wara. Ribuan jarum seakan-akan ditusukkan dalam waktu bersamaan. Menimbulkan rasa sakit yang teramat.
"Nak Jackson?" panggil Basudewa, kewibawaan bercampur ketegasan menggema di pendengaran.
Jackson mendongak, memberanikan diri menatap lawan bicara. Kesan ramah yang biasa menyambutnya tak lagi terlihat. Digantikan ekspresi sedih. Apa yang dilakukan kekasih putrinya sungguh mengurut d**a.
"Iya ayah," jawab Jackson.
Diam sejenak, menimbang apa yang ingin diungkapkan. Basudewa menatap lekat tepat di iris gelapnya.
"Jika kau tidak lagi mencintai putriku, kenapa kau tidak putuskan saja dia? Kau tinggalkan saja dia? Berkata jujur bahwa hatimu telah terlabuh di dermaga lain, akan lebih baik. Memang sakit! Tapi ke dalaman luka yang terukir tidak akan seburuk ini," ujar Basudewa.
Tak ada amarah yang menggebu. Mengalir begitu saja, seperti seorang ayah yang tengah menasehati putranya.
Jackson dihantam penyesalan yang tiada tara. Kembali menjatuhkan wajah, mengakui kekhilafannya.
"Saya tergoda. Maaf ...." Kalimat Jackson tercekat. Lidahnya mendadak kelu.
Basudewa dan Rohini kompak memejamkan mata. Menelan mentah saliva yang terasa pahit. Menarik napas dalam-dalam, menstabilkan d**a yang terasa pengap. Jari-jari yang bertautan tengah saling menguatkan. Masih menunggu penjelasan.
Jackson menatap Basudewa dengan kesungguhan. "Wara tetap penguasa hatiku. Perasaanku kepadanya sama sekali tidak berkurang. Jika diberi kesempatan, aku bersumpah akan menghapus luka yang kubuat dengan kebahagiaan. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya lagi di kemudian hari. Tidak boleh ada air mata kesedihan di wajahnya. Jika pun dia menangis, kupastikan hanya sebuah haru bahagia."
Kata-kata Jackson sudah tak sekaku sebelumnya. Akrab seperti percakapan yang biasa mereka lakukan.
Basudewa mencondongkan tubuh ke depan. Meraih secangkir teh buatan istrinya. "Diminum dulu nak?" ajak pria yang tidak lagi muda itu.
Jackson sigap menuruti tawaran rekan bisnis yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri. Ia mengangkat suguhan, mengulas senyum pada Rohini.
"Dimanapun aku berada, teh buatan ibu selalu menimbulkan rindu," puji Jackson. Bukan sedang merayu, memang itu sudah menjadi kebiasaannya. Memberikan apresiasi pada minuman buatan tangan ajaib. "terima kasih, Ibu?" sambungnya.
Rohini mengangguk pelan, senyum meneduhkan yang semakin memancarkan sosok keibuannya itu terukir di bibir.
Basudewa meletakkan minumannya ke tempat semula. Pria muda di depannya mengikuti pergerakan yang dilakukan. Kembali pada pokok permasalahan. Mereka saling bersirobok.
"Semua keputusan ada di tangan Wara. Sebagai orang tua, kami akan mendukung pilihannya!" tegas Basudewa.
Sejujurnya ia masih tidak menyangka. Jackson yang dikenal alim dan santun, tega berbuat demikian.
Jackson mengangguk-anggukan kepala, lemah tak berdaya. Putus asa menyergap dirinya. Sangat paham dengan prinsip yang diterapkan Wara. Wanita yang tidak bisa menoleransi perselingkuhan itu sudah pasti memilih berpisah.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menemuinya, Nak Jackson. Beri dia waktu. Apapun keputusan Wara nanti, kau sudah kuanggap putraku sendiri. Berkunjunglah jika merindukan teh buatanku," hibur Rohini. Bermaksud membesarkan hati Jackson. Suaranya lembut, pembawaan wanita itu begitu tenang. Salah satu alasan yang membuat Jackson jatuh cinta kepada Wara. Sifat yang diturunkan, begitu langka.
"Baik bu. Terima kasih untuk segalanya," ungkap Jackson mengandung kesedihan.
Jackson pun memilih undur diri. Pekerjaan yang rencananya akan dibahas bersama Basudewa hari ini, mendadak ia batalkan. Tidak mungkin membahas proyek saat dirinya menjadi penyebab kekeruhan di dalam keluarga itu. Jackson sadar diri.
***
Waktu begitu terasa lambat. Pergantian siang ke malam berjalan bagai siput. Sudah tiga hari Wara broken heart. Memilih pulang ke Bandung untuk menyibukkan diri. Melamar pekerjaan diharapkan menjadi pelipur lara.
Besok, ITB integrated career days akan diadakan di Sabuga. Job fair terakbar di Kota Bandung itu diikuti oleh sederet nama perusahaan besar. Baik BUMN maupun swasta. Menjadi jembatan penghubung mimpi-mimpinya. Tentu! Wara tidak akan membuang kesempatan. Mempersiapkan diri sebaik mungkin. Segala keperluan yang menunjang, telah disiapkan. Wara bisa bernapas lega saat ini. Memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan.
Perhatian Wara teralihkan ketika melihat sebuah apotek yang sepi. Hanya ada satu pengunjung di sana. Menarik langkah wanita itu untuk mendekat. Peluang terhindar dari antrian menjadi bahan pertimbangan.
Berdiri di depan tempat pelayanan. Wajah murung diiringi mata sendu itu tampak memohon.
"Ada obat patah hati?" tanya Wara sukses membuat semua orang bingung.
"Ee ...?"
Karyawan apotek serempak merespon. Pelanggan lain yang disebelahnya tampak mengejek. Mencemooh kegilaan wanita itu.
"Tidak ada obatnya?" ulang Wara sebelum tertawa bodoh. Batin wanita itu mencaci kelakuannya sendiri yang tidak biasa.
Karyawan apotek menunjuk pria tampan yang sedang menunggu pesannya. Berdiri tepat di samping Wara. Ia pun menoleh. Mengikuti arah yang dimaksud.
Indra penglihatan yang tadinya kelabu, mendadak terang benderang. Pusat penerangan baru saja ditemukan. Mengirim sinyal kesejukan pada hati dan pikiran. Sayang untuk dilewatkan.
'Dia menyadarkanku, bahwa Jackson bukan satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling indah. Sumpah demi apa! Tampan sekali pria itu,' puja Wara di dalam hati.
Saat tangannya reflek bergerak memukul kepalanya sendiri, Wara pun mengerjap. Tersadar dari lamunan.
"Gimana teh? Apakah obat seperti itu yang teteh cari?" ledek salah satu karyawan apotek, disampaikan dengan logat Sunda.
'Gawat! Kebiasaan burukku mulai kembali. Tidak bisa melihat pria tampan saat jomblo. No! No! No! Ini tidak boleh berlanjut! Jiwa haluku bisa meronta tidak terkendali! Membayangkan hal yang tidak-tidak!' tepis Wara masih di dalam batin.
Kesuraman kembali menerpa Wara. Wanita itu menggeleng pelan.
"Aku bahkan baru saja mencampakkan seorang CEO yang lebih rupawan daripada dirinya," kilah Wara. Ia berbalik, menyeret langkahnya yang terasa berat. Merogoh minuman bersoda kemasan kaleng. Tersenyum getir sebelum menenggaknya.
Rahang pria itu turun, terperangah dengan perkataan Wara.
"Sepertinya dia hanya memutar balikkan fakta. Tampang tertindas itu jelas tidak bisa berbohong. Tingkat kewarasannya berkurang hanya karena ditinggal seorang pria?" cibir Jun, pelan. Menggeleng tidak percaya. Mendadak lupa ingatan saat dirinya justru nyaris gila karena ditinggalkan mantan kekasih yang sampai saat ini masih bertakhta di hidupnya. "bodoh!" maki Jun menyambung ucapannya.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, kritik pedas yang terlempar dari bibir sensual itu langsung mendapatkan balasan.
Sebuah kemasan minuman berbentuk kaleng mengenai kepalanya. Menimbulkan bercak merah yang tidak sedikit di kemeja putih yang dikenakan saat isi soda itu keluar dari tempatnya.
Jun ... murka! Kegeraman memuncak di kepala. Mulutnya yang pedas terasa sangat gatal, bersiap menyembur wanita itu dengan cacian ala dirinya.
Jun berbalik. Berkacak pinggang, penuh amarah. Sial! Dengan tanpa dosa, Wara justru naik ke angkutan kota yang baru saja disetopnya.
Jun mengejar Wara. Tanpa hati, supir angkutan melajukan tunggangannya.
"Hei! Hei! Hei! Nona! Nona! Nona! Urusan kita belum selesai ...!" teriak Jun sebelum menendang udara hampa. Kesal dengan keapesan yang menimpa dirinya.
Jun menatap noda di pakaian. Matanya terpejam diiringi gigi yang saling beradu kuat. Urat-urat di wajah pun terlihat jelas.
"Kita ditakdirkan untuk bertemu kembali! Ketika waktu itu tiba, habislah kau!" sungut Jun.
Jun mengambil suplemen yang baru saja dibelinya. Mengeluarkan uang, tidak ramah. Meskipun ketus, kadar ketampanan seorang Arjuna Dewanata tetap maksimal. Menjadi pusat perhatian kaum hawa. Semakin membuat Jun muak.
***