Di ufuk timur, matahari mulai menunjukkan keindahannya. Sayup-sayup terasa belaian sang surya. Menembus melalui celah-celah jendela kereta. Sinarnya yang hangat, menerpa paras cantik yang masih terlelap. Tidurnya pulas, tak terusik. Sial! Lengkingan klakson lokomotif sukses membuatnya mengerjap.
Bersandar pada kaca, dengan penglihatan yang masih gamang wanita itu menoleh ke samping. Panorama yang terbingkai terlihat tidak asing. Stasiun tujuan sudah di depan mata.
Peregangan tubuh dilakukannya sejenak. Beranjak, mengambil koper kecil lalu berjalan menuju pintu. Wara turun sesaat setelah kereta api yang menawarkan pelayanan eksekutif itu berhenti dengan sempurna.
Gombong Station, menyimpan cerita tersendiri bagi seorang Wara Sembadra. Di sinilah kisah cintanya dengan seorang CEO muda nan tampan dimulai.
Namanya ... Jackson Orlando. Putra ketiga dari Orlando Jr, penguasa Orlando Group. Sosok yang sudah dikaguminya sedari anak-anak. Pria yang nyaris sempurna di mata Wara itu tengah berada di kampung halaman kakeknya. Di sebuah pesisir pantai selatan yang masih menjadi bagian wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Hubungan mereka sudah berjalan empat tahun. Tapi Jackson menghabiskan lebih dari separuh umur pacaran mereka dengan berada jauh darinya. Tuntutan pekerjaan membuat pria itu disibukkan dengan segudang agenda. Mengurus bisnis baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untungnya, mereka saling percaya.
Wara merogoh gawai kesayangan dari tas yang menggantung di bahu. Mengaktifkan kamera, memindai tempat bersejarah.
KLIK!
Sebuah kursi peron kosong menjadi obyek jepretan. Hanya tempat sederhana. Namun, keberadaannya penuh makna. Digunakan Jackson untuk menyatakan perasaan yang tidak biasa.
Kembali pada tampilan wallpaper. Foto Jackson menyejukkan mata. Mengusir sisa-sisa kantuk yang masih tertinggal. Digantikan dengan semangat menggelora. Wara mendekatkan benda pipih berwarna hitam itu ke d**a. Mendekapnya begitu erat. Lengkungan bulan sabit yang terukir dibibirnya menggambarkan kerinduan yang teramat.
Wara menundukkan kepala. Matanya berbinar, menatap benda kotak yang berada di depan kaki. Rona pun merangkak naik ke wajah. Hadiah spesial telah disiapkan, bersemayam aman di dalam koper.
Jackson boleh saja sibuk. Tapi menyempatkan waktu untuk merayakan hari ulang tahunnya, tentu sudah menjadi kebiasaan mereka beberapa tahun terakhir. Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan, diharapkan akan menjadi kado tambahan. Lagi pula, Wara juga merindukan kedua orang tuanya.
Langkah riang mengantarkan Wara ke north exit, sosok lain yang sangat ingin ditemui menyapa indra penglihatan.
"Ayah?" sapa Wara, meraih tangan kanan pria itu kemudian menciumnya. Sebuah unggah-ungguh atau pola perilaku kehidupan yang beradab, sudah diajarkan secara turun temurun di keluarganya.
"Oh, putriku?" kata pria paruh baya itu. Mengelus rambut Wara, menjatuhkan satu kecupan sayang di sana.
Wara Sembadra ... wanita berparas ayu yang juga memiliki tingkah laku sopan, tutur kata halus, dan budi pekerti yang luhur. Mencerminkan sosok priyayi perempuan Jawa. Putri Basudewa, pengusaha furniture lokal yang sangat sukses. Menjadi orang terkaya kedua di desanya setelah Orlando. Putra daerah yang sanggup mendirikan banyak perusahaan yang bergerak di bidang bedding industries. Bersaing ketat dengan kompetitornya, sekelas Dewanata Group. Musuh bebuyutan sepanjang masa yang saat ini dipaksa mengakui keunggulan lawan.
Sudah berada di dalam mobil. Pria berjasa di hidup Wara itu menginjak pedal gas. Menuju istana kecil yang selalu menjadi tempat berteduh yang paling nyaman.
Sesampainya di rumah, Wara menemui ibunya. Melepas kerinduan yang sempat tertahan. Sudah tiga bulan mereka tidak bertemu. Pertemuannya yang terakhir saat Wara merayakan kelulusan. Merasa kebahagiaan yang dirasakan belum lengkap, Wara mengunjungi sebuah rumah paling mewah di sekitar tempat tinggalnya. Itu adalah kediaman Orlando.
Berada di dataran yang tinggi, rumah berlantai dua itu menawarkan pemandangan yang mengagumkan. Laut pantai selatan memberi kesan takjub bagi siapa saja yang berkunjung.
Orlando menghabiskan masa tuanya di tanah kelahiran. Sepeninggalannya, rumah mewah sebanding perumahan di komplek elit itu hanya ditinggali oleh orang kepercayaan Orlando Jr. Penerus Orlando Group itu memilih tinggal di Jakarta.
Kedatangan Jackson ke tempat itu bukan tanpa alasan. Sejak bekerja sama dengan Basudewa, Orlando Group mendulang puncak kejayaan.
Ahli design yang menjelma menjadi pengusaha kecil itu selalu menghasilkan ide yang cemerlang. Terbukti, beberapa rancancangan kasur yang dibeli dan dipatenkan oleh Jackson mampu mencuri perhatian.
Bagi Orlando Group, Basudewa lebih dari sekedar aset masa depan. Jackson berhasil menjalin hubungan yang sangat kuat. Putri semata wayangnya bahkan dalam genggaman.
"Sugeng enjing, Pak Langgeng?" sapa Wara pada satpam yang bertugas. Mengucapkan selamat pagi dalam bahasa Jawa. Suaranya mendayuh lembut, memberi kentraman di pendengaran.
"Eh, mbak Wara?" Pak Langgeng terkejut. Teror terlihat di wajah ramah pria itu. Pasalnya, kedatangan Jackson kali ini tidak sendiri. Ultimatum yang diberikan Jackson, menyentak pikiran.
"Menopo mas Jackson sampun wungu?" tanya Wara. Ingin mengetahui apakah kekasihnya sudah bangun atau justru masih bergulung dengan selimut.
"Anu mbak, anu anu anu—" Pak Langgeng tergagap. Kepanikan menyergapnya.
Tidak ingin membuang waktu, Wara berlari menuju kediaman mendiang Orlando. Sebuah keresek bergelantung di genggaman.
"Mbak! Mbak! Mbak!" panggil Pak Langgeng, berusaha menahan langkah Wara. Sayangnya, wanita itu hanya menoleh, melempar senyum anggun. Wara memang diberi wewenang khusus. Bisa masuk tanpa harus meminta persetujuan Jackson.
Usaha Pak Langgeng harus kandas saat Wara masuk dan mengunci pintu utama. Mengabaikan rengekan Pak Langgeng yang terdengar memohon.
"Gawat!" seru Pak Langgeng, menepuk jidat cukup keras. Kehilangan pekerjaan sudah pasti dialaminya hari ini.
Pria yang tidak lagi muda itu berlari. Menuju pos satpam, menghubungi Jackson. Nasib baik seolah tak berpihak. Jackson mengabaikan panggilan teleponya.
Wara menaiki anak tangga yang terbuat dari material khusus, menambah kemewahan desain interior. Satu tangan membawa birthday cake. Menyampaikan pesan perayaan kelahiran yang ke tiga puluh tahun. Sekotak hadiah berwarna putih yang dihias pita senada, berada dalam genggaman.
Sudah sampai di ujung tangga. Sempat terkikik saat mendapati pintu kamar Jackson tidak tertutup rapat. Hanya sesaat sebelum erangan m***m penuh kenikmatan dari seorang pria dan wanita itu menyentil pendengaran.
Wara membeku. Tangannya gemetar bersamaan dengan wajah yang memucat. Hampir menjatuhkan apa yang dibawanya andai kesadaran wanita itu tak segera kembali. Sangat familiar dengan suara pria yang tertangkap di telinga.
Wara menyeret sepasang kaki yang mendadak terasa lumpuh, sulit digerakkan. Lambat tapi pasti, langkah penuh keraguan menuntunnya mendekati tujuan. Membuktikan praduga. Sebulir air mata tergelincir tanpa bisa ditahan. Wara menggigit salah satu sudut bibirnya. Menahan tangis yang nyaris pecah.
"Oh, Jackson! Ahh—" desah seorang wanita sebelum dinggantikan dengan decapan intim yang memenuhi kamar.
Dengan bantuan siku, Wara membuka pintu kamar pria yang sudah lama menghangatkan hatinya.
DEG!
Benar saja! Tanpa sehelai benang, Jackson memacu perkasa perempuan yang tengah berada di bawah kuasanya. Tidak menyadari kehadiran Wara. Posisi intim yang sedang berlangsung, meremukkan hatinya. Hancur lebur, tak berbentuk. Sakit! Sangat sakit!
Jackson ... pria yang dikenal Wara sangat alim dan santun. Sosok pelindung yang selalu menghargai posisinya sebagai seorang wanita berprinsip kuno. Jangankan berhubung badan. Mencium Wara saja tidak pernah ia lakukan.
Tak pernah terpikirkan, Jackson akan menghianatinya sedalam itu. Menodai hubungan yang selama ini terjalin.
"Ja-Jackson?" panggil Wara dengan suara parau, nyaris tak terdengar. Cairan bening menganak sungai. Berhamburan membasahi kedua pipi.
Pasangan yang sedang memadu asmara itu ternanap. Menghentikan kegiatan panas yang tengah dilakukan. Mereka kompak menoleh. Mata Jackson melebar, mendapati pujaan hatinya di sana. Reflek mencabut pusaka kebanggaan, Jackson menarik selimut. Menutupi tubuh mereka yang polos. Rasa bersalah terlukis jelas di wajahnya.
"Wa-Wara?" sambut Jackson terbata, panik bercampur takut.
Sesaat kemudian, tiba-tiba Wara terkakak tidak waras. Mentertawakan kebodohan dan ketidaktahuannya. Ia pun melempar kue tepat mengenai wajah sepasang penghianat. Berjalan mundur, menggelang tidak percaya. Meninggalkan Jackson dengan membanting pintu.
BRAK!