Tak seperti biasanya. Ruang meeting cabang Bandung yang terkadang disulap sebagai tempat serba guna itu diselimuti hawa panas. Bukan hanya suhu di siang hari yang meningkat. Tensi Jun juga masih memuncak.
Semua karyawan hadir di sana. Keluarga besar DCB tengah berkumpul. Ketersediaan tempat duduk yang terbatas, mengakibatkan sebagian besar dari mereka berdiri berjajar seperti wayang. Wajah-wajah panik tertunduk tak berdaya. Menunggu pimpinan cabang yang baru bersuara.
Jun duduk di paling ujung, memimpin meja besar berbentuk oval. Pria itu berulang kali mengendurkan dasi. Satu kancing kemeja paling atas dibuka. Menatap sengit para bawahannya satu per satu. Tidak ada yang berani mengangkat wajah. Pak Jamil menjadi satu-satunya orang yang tetap menegakkan kepala. Setia berdiri di samping Jun.
Jun menuangkan minuman bersoda dingin ke dalam gelas. Satu kebiasaan unik yang selalu dilakukannya setiap kali pria itu nyaris hilang akal. Jun bukan tipe pemabuk. Lebih menyalurkannya pada minuman lain yang tidak membuatnya hilang kesadaran.
"Harrrrggg ...!" Jun menghentakkan gelas sesaat setelah menenggak habis minumannya. Ia mengibas-ibaskan tangan, menciptakan angin buatan. "Kenapa panas sekali? Kipas! Kipas! Kipas!" teriaknya. Menjatuhkan kepalan tangan tepat di atas meja. Semua karyawan tersentak. Beberapa orang reflek memberikan piranti seadanya.
Jun tergelak. "Kertas?"
Seorang Arjuna Dewanata harus mengusir rasa gerah dengan selembar kertas yang di lipat menjadi dua? Gawat! Dunia bisa mentertawakannya. Begitulah yang terlintas dibenak Jun.
Jun tidak punya pilihan. Merampas kasar kertas HVS yang diulurkan. Tangan karyawan bahkan bergetar setelahnya. Seolah meninggalkan sengatan yang menusuk.
"Ehem!" Pak Jamil berdehem. Menetralkan kerongkongan yang sempat terkuci beberapa saat. Berusaha memecah perhatian anak asuhnya.
Jun beranjak, menunjuk benda persegi panjang berwarna putih yang berada di atas. Tertempel pada tembok.
"Aku tidak mau tahu! Ganti barang rongsok itu hari ini juga! Dasar miskin! Air conditioner saja tidak terbeli!" sungut Jun.
"Mohon maaf, Pak. Saya sudah pernah mengajukan dana untuk pembelian AC yang baru. Tapi pusat—"
"Beli pakai uang pribadiku! Dasar pelit!" skak Jun memotong alasan SPV AF (Accounting & Finance).
Glek! Semua perhatian tertuju pada Jun. Mereka dibuat membisu sekaligus kagum. Menelan mentah salivanya sendiri.
Bagaimana tidak! Kantor pusat yang selama ini mereka kutuk ramai-ramai justru memiliki pemimpin yang sangat paham dengan penderitaan mereka.
Berusaha menjadi penengah, Pak Jamil urun bicara. Berjalan menuju whiteboard, pria yang berada di jajaran penting Dewanata Group itu meraih spidol board marker (snowman), menulis poin penting.
"Semua AC di tempat ini akan diganti. Silahkan berikan tagihannya kepada Pak Jun," kata pria paruh baya itu.
Karyawan bersorak kegirangan. "Yeeyyy ...!" Tepuk tangan meriah mengiringi selebrasi.
"Terima kasih, Pak?" ucap semua karyawan serempak.
Jun sama sekali tidak tersajung. Menilai reaksi berlebihan anak buah dengan cibiran ala lidah pedasnya.
"Cih! Seperti menemukan harta karun saja! Hanya sebuah AC sudah bisa menyenangkan hati?" Jun menggeleng dibarengi dengan mata yang memicing sinis. "Standar kebahagiaan kalian sungguh rendah! Pantas saja hidupnya stuck di tempat terkutuk ini!" sambung Jun.
Sunyi! Ocehan Jun lagi-lagi membungkam aksi karyawan. Sekalipun omongan Jun membakar indra pendengaran, tapi lihatlah! Tidak ada yang berani mengeluarkan unek-uneknya. Jun menjelma menjadi penguasa. Semua yang berada di bawah jabatannya, bertekuk lutut. Jangan salah! Di dalam hati, para karyawan kompak mencaci kesombongan pria itu.
"Ok!" Jun menggebrak meja. Kesehatan jantung anak buah seolah tengah diuji.
"Dengar!" seru Jun kemudian. Sejenak menuangkan minuman lalu menghabiskannya dalam sekejap.
Jun mempertemukan kedua telapak tangan. Gerakan yang berulang menciptakan tepukan nyaring. Berdiri di tengah-tengah, menjadi pusat atensi. Jun menyelipkan tangannya di saku celana. Tingkah sederhana yang sanggup menambah kadar ketampanan sekaligus kewibawaan seorang pewaris takhta.
"Saya ... Arjuna Dewanata. Area Manager kalian yang baru. Abaikan fakta jika saya putra tunggal Pandhu Dewanata. Keberadaan saya di sini sama seperti kalian. b***k perusahaan!" Jun menghentikan kalimatnya sejenak, melengos, melempar senyum getir. Mengingat penurunan jabatan membuat hatinya terluka.
"Tidak berbeda jauh dengan kalian. Saya digaji, dituntut mencapai target, dan wajib taat pada peraturan. Sebagai atasan, saya cukup kecewa dengan birokrasi yang bobrok!"
Di akhir kalimat, suara Jun melemah. Warna terkuras dari wajahnya. Menciptakan ekspresi kosong. Tabiat karyawan sukses mengurut d**a.
Hanya beberapa detik, Jun menghela napas berat. Kembali fokus pada pokok bahasan.
"Untuk itu!" bentak Jun menggebu.
Sekali lagi! Gebrakan di meja berhasil membuat karyawan terkesiap.
"Mulai hari ini, Cabang Bandung harus menerapkan peraturan yang dibuat oleh Dewanata Group! Suka tidak suka, mau tidak mau, bagi yang masih ingin bekerja di sini wajib mentaatinya!"
Jun mengedarkan pandangan. Mengamati respon yang tersemat di wajah para bawahan. Sorot netra yang tajam seolah menegaskan kesungguhan pria itu.
"Saya tidak akan memaksa. Yang keberatan, bisa keluar dari ruangan ini sekarang juga. Gaji dan pesangon akan saya bayar sebelum kalian melewati pintu gerbang yang tidak berguna itu!" tandas Jun.
Karyawan saling lirik. Kekhawatiran, ketakutan, dan ketegangan bercapur menjadi satu, terpancar jelas di wajah mereka.
Jun memberi waktu untuk berpikir. Mengisi keheningan sambil menikmati minuman favorit yang mampu mengubah suasana hati. Bisikan-bisikan kecil yang dilempar para bawahan tidak lupat dari pengamatan Jun. Tapi pria itu berakting seakan-akan dirinya tuli. Membiarkan mereka memutuskan masa depannya sendiri.
"Bagaimana? Ada yang mau resign?" tanya Jun setelah sepuluh menit berlalu.
Hening! Semuanya hanya bisa menyembunyikan muka. Merasa sangat butuh dengan pekerjaan. Apalagi bagi mereka yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Mengundurkan diri dari perusahaan sebelum mendapat pekerjaan baru jelas bukan solusi yang tepat.
"Dengan senang hati saya akan kabulkan keinginan kalian. Tidak ada gunanya mempertahankan orang yang sulit diatur. Tempat pembangkang bukan di DCB," imbuh penguasa cabang yang baru. Memecah kesunyian yang tercipta.
"Semuanya masih ingin bertahan?" Jun memastikan.
Anggukan-anggukan kecil memenuhi indra penglihatan Jun. Menandakan kesiapan para karyawan dalam menghadapi perubahan.
"Bagus! Jika demikian, pasang telinga kalian baik-baik! Pantang bagi saya untuk mengulang apa yang telah keluar dari mulut ini!"
Sesuai permintaan. Barisan wajah itu sangat antusias. Menambah semangat Jun.
Jun berjalan, merebut snowman dari tangan Pak Jamil kemudian kembali pada posisi sebelumnya.
"Datang dan mengisi daftar hadir sebelum jam delapan! Telat sedetik saja, lebih baik pulang! Gaji kalian hari itu, tidak dibayar! Catat! Catat! Catat!" Jun menunjuk-nunjuk ke arah belakang. Kebiasaan lama saat dirinya masih memiliki sekretaris.
"Jun?" panggil Pak Jamil, pelan. Hendak mengingatkan bahwa whiteboard marker yang hanya satu itu tengah dipegangnya.
Jun tidak menghiraukan Pak Jamil. Kembali mengeluarkan titahnya yang sebentar lagi menjadi undang-undang.
"Dilarang mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan sendal jepit! Ini kantor! Kalian datang untuk bekerja! Bukan bersantai apalagi tidur! Catat!" Jun kembali menunjuk tempat yang sama. Penekanan selalu disampaikannya pada kata terakhir.
"Jun? Jun?" lirih Pak Jamil merecoki. Tapi tetap saja, Jun tidak menanggapinya. Lebih tertarik melanjutkan ceramah.
"Menjaga kebersihan, tanggung jawab bersama. Bukan hanya tugas office boy saja. Ruang kerja kalian harus bersih dan rapih! Jika saya menemukan pemandangan yang membuat mata saya semakin sakit, kalian wajib membersihkannya! Gaji kalian baru akan dihitung saat kalian memulai pekerjaan! Waktu untuk bersih-bersih tidak termasuk jam kerja! Catat!"
"Tidak boleh makan saat jam kerja! Makan di tempat makan! Bukan di ruang kerja! Nanti akan disediakan tempat khusus! Jika masih ada yang melanggar, jangan memohon pengampunan! Saya akan menindak tegas! Catat!"
"Jun? Jun? Jun?" Pak Jamil belum menyerah. Usahanya harus kandas saat Jun kembali mengabaikannya.
"Dilarang membuat kegaduhan! Menyalakan musik seperti yang terakhir saya dengar, siap-siap saja untuk angkat kaki! Catat!"
"Tingkatkan kebersihan toilet! Tempat sanitasi di sini sungguh buruk! Kalian semua … jorok!" Jun menunjuk karyawan satu per satu. "Bisa-bisanya tempat itu sangat bau! Bahkan j*mb*n di pinggir sungai lebih terhormat! Yang suka makan jengkol dan pete tolong tahu diri! Catat!"
Pak Jamil sudah putus asa, membiarkan Jun berbuat sesuka hati.
"Tidak boleh nongkrong! Apalagi merokok di area kantor! Melanggar sama dengan menyerahkan surat pengunduran diri! Catat!"
"Yang suka main-main dengan bahan baku, sebaiknya berpikir ulang! Hukumannya sudah pasti merugikan kalian! Catat!" Jun melirik garang pada karyawan produksi. Masih jelas diingatan bagaimana dacron itu mengenai wajahnya yang rupawan. Jengkel sangat jengkel! Berani sekali mereka berbuat demikian. Begitu pikir Jun.
Jun menjepit dagu, berjalan lambat seraya berpikir. Mencoba mengingat apa saja yang tidak sejalan dengan prinsipnya.
"Sementara itu dulu. Peraturan lainnya menyusul. Ada pertanyaan?" Jun tampak menunggu.
Jun berbalik, tercengang saat whiteboard itu hanya menampilkan sebaris tulisan Pak Jamil yang terukir.
"Pak Jamil!" geram Jun. "Kenapa kau tidak mencatatnya?" cecar pria itu.
Pak Jamil menunjuk spidol yang tengah di pegang Jun. Wajahnya datar, menyengir bodoh. "Cuma satu Jun. Sepertinya kau juga lupa. Kau belum memiliki sekretaris."
Jun melebarkan mata, perlahan manik gelap yang indah itu tertuju pada alat yang tengah dipegang. Malu! Sangat malu! Tapi Jun punya seribu cara untuk menutupinya. Membungkam semua karyawan yang tengah menahan tawa.
"Hei, kau!" seru Jun pada SPV AF.
"Ya, Pak?" sahut SPV AF, sigap.
"Kau tulis poin-poin tadi! Berikan kepadaku sebelum jam kerja berakhir! Kau bisa menempelnya di tempat pengumuman jika aku telah menandatanganinya!" perintah Jun, sudah dengan bahasa informal.
"Siap!" jawab SPV AF, tanpa keraguan.
Siapa sangka! Si tukang cari perhatian itu sudah bersiap melempar pekerjaan pada anak buah. Untuk apa punya bawahan jika hal sepele seperti itu saja masih dia yang mengerjakan. Terdengar benar tapi juga perhitungan.
"Tidak ada yang bertanya?" Jun mengulang pertanyaan.
SPV produksi angkat tangan. Jun memberikan anggukan, mempersilahkan pria itu menyampaikan sesuatu yang mungkin mengganjal.
"Eee ... anu?" SPV produksi sedikit tidak enak.
"Katakan!" ketus Jun, dingin.
"Jika diperkenankan, kami yang bekerja di depan mesin-mesin lebih nyaman bila menggunakan seragam berbahan kaos yang dikeluarkan Dewanata Group. Hanya saja, kami mendapatkan seragam setahun sekali, dan itu hanya satu buah. Makanya baju kami seperti ini. Yang kami pakai saat ini adalah keluaran empat tahun yang lalu," ungkap SPV produksi berusaha jujur.
"Cih! Kikir sekali!" gerutu Jun lirih namun masih didengar baik oleh bawahannya.
"Buatkan mereka seragam! Bandung pusat konveksi. Dapatkan harga miring dengan kualitas terbaik. Masing-masing orang akan mendapatkan tiga seragam. Ada yang bisa mendesain baju?" sambung pria itu.
"Jun?" Pak Jamil keberatan.
Jun mengangkat tangan. "Tenang saja! Aku tidak akan mengajukan dana ke pusat. Itu hanya seujung kuku. Tidak masalah jika aku mengurangi tabungan yang tidak pernah habis."
Semua karyawan dibuat melongo dengan kesombongan pria itu. Meskipun menyebalkan, tapi mereka bisa merasakan kebaikan hati Jun.
Pak Jamil mengangguk. Kekaguman memenuhi relung hati.
"Tidak ada yang bisa mendesain?" Jun menggeleng tidak percaya. Melihat tanda-tanda keterbatasan skill yang dimiliki tim kerja.
Bertumpu pada tepi meja, Jun membuang napas kasar. "Beruntung sekali kalian punya atasan sepertiku! Sudah tampan, kaya, dan serba bisa! Tagih desain itu besok pagi! Aku akan membuatkannya untuk kalian!" cicit Jun penuh keangkuhan.
"Satu lagi!" Jun diam sejenak, semua karyawan tampak menunggu.
"Berapa banyak insentif yang kudapat sebagai Area Manager, Pak Jamil?" pria itu memusatkan pandangan pada kepercayaan Pandhu.
"Jika mencapai target cabang, kau berhak mendapatkan 1,25% dari total omset DCB," papar Pak Jamil.
Jun mengangguk mantap. "Aku tidak akan mengambil insentifku. Semuanya disumbangkan untuk perbaikan kantor. Perindah tempat ini agar kita bisa nyaman dalam bekerja. Sebagai balasan untukku, mohon kerja samanya! Patuhi peraturan yang ada dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh! Kalian setuju?"
"Setuju!" seru semua karyawan, sangat bahagia.
"Hidup bos Jun!" teriak salah satu staf marketing.
"Hidup!"
"Hidup bos Jun!"
"Hidup!"
Bukannya senang, Jun terperangah. Berkacak pinggang dengan mata yang melebar. "Boss?"
Mulut Jun terasa gatal, ingin segera menghujani anak buahnya dengan kata-kata pedas. Namun, baru saja Jun membuka mulut, tiba-tiba listrik pun padam. Ruangan itu menjadi gelap gulita.
"Pak Jamiiill ...!" raung Jun. "Sekarang apa lagi?" keluh pria itu sudah hampir gila dengan segala hal yang terjadi di DCB.
"Sepertinya hari ini ada pemadaman listrik bergilir Pak," ujar SPV marketing.
Jun duduk, bersandar pada kursi. Tubuhnya lunglai tak bersemangat. Jun menarik gawai disakunya. Mengarahkan ke bawah dagu lalu menghidupkan flashlight di handphonenya. Jun memiringkan kepala. Menjulurkan lidah dengan mata yang dicelikkan ke atas, dibuat seolah-olah hanya menampilkan warna putih. Aksi jahilnya itu sukses membuat semua karyawan wanita ketakutan, menjerit histeris.
"Ha-hantuuuuu ...!"
Ruang tanpa cahaya itu mendadak rusuh. Kaum hawa berlarian, mencari tempat persembunyian. Tidak jarang mereka saling tabrak. Sementara kaum adam justru kompak menyemburkan tawa. Mencemooh ketakutan yang dirasakan rekan kerjanya.
Jun sedang tidak memposisikan diri sebagai atasan. Saat ini dirinya tengah membaur. Menyambut keluarga baru yang ternyata menerimanya dengan hangat.
Mengesampingkan sejuta tuntunan Jun. Mereka memahami. Jun peduli pada keluh kesah yang selama ini membelenggu. Merubah citra dan wajah DCB tidaklah mudah. Jun dengan segala yang ia miliki, bertekad kuat menghadirkan kesejahteraan bagi bawahannya. Harapan baru pun diletakkan karyawan di pundak kebanggaan Dewanata Group itu.