"Belok kanan! Ini office dan itu gudang sekaligus tempat produksi," kata Pak Jamil. Masih nyaman memberi beban pada punggung Jun. Menunjuk dua bangunan tua yang tampak sejajar namun berbeda fungsi.
"Aa ... tidak terlalu buruk. Kita satu-satunya pemasok bantal dan guling bukan? Seharusnya ini menguntungkan," ujar Jun.
"Ya! Bandung memang difokuskan untuk produksi pillow and bolster. Memenuhi permintaan semua cabang. Kau tidak bisa mencari keuntungan dari intercompany. Kita simbiosis mutualisme. Bandung memperoleh kasur, mereka mendapatkan produkmu."
"Bukan itu maksudku. Aku tahu, kasur-kasur di sini dibuat di Bekasi," tepis Jun.
"Kau melihat peluang? Hah! Aku sama sekali tidak meragukan kemampuanmu!" Pak Jamil mengaitkan tangannya di leher Jun. Pria muda itu dibuat kesulitan bernapas.
"A... A... A... Pak Tua! Apa yang kau lakukan! Kau ingin membunuhku? Lepaskan! Lepaskan!" Jun pura-pura memberontak, tapi lihatlah! Yang ia lakukan justru sebuah bentuk kasih sayang.
"Tanganmu sudah tak bertenaga! Sepertinya kau lupa, sudah bau tanah masih juga berbuat dosa. Kenapa kau tidak memperbayak amal saja. Aku takut malaikat kematian tengah berdiri di belakangku. Mengincarmu yang sudah terlalu lelah bekerja," cibir Jun, memijat lengan Pak Jamil. Gerakan yang dilakukannya tidak kalah dengan profesional. Menimbulkan rasa nyaman.
Pak Jamil memukul kepala Jun. "Dasar bocah—"
Belum sempat umpatan itu keluar dari bibir Pak Jamil, keterkejutan Jun justru memberikan dampak yang buruk bagi pria paruh baya itu.
BRUK!
"Arrgggg ...!" pekik Pak Jamil, pinggangnya yang sudah renta terasa semakin sakit.
Tanpa sadar, Jun menjatuhkan Pak Jamil. Tepat di depan pintu, Jun membatu. Terguncang dengan penemuannya.
"Kau sungguh keterlaluan Jun!" keluh tangan kanan Pandhu. Pak Jamil menegakkan tubuhnya dengan susah payah.
Bagaimana Jun tidak terpukul! Suasana kantor itu benar-benar tidak layak. Ekspetasi Jun yang tinggi mendadak ditumpulkan.
"Papaaahhh ...!" teriak Jun dengan tubuh menegang. Matanya merah diiringi kepalan tangan yang kuat. Tidak bisa menerima keadaan cabang Bandung.
Tak pernah terpikirkan oleh Jun sebelumnya. Pria yang selalu bergelimang harta, hidup dengan segala bentuk kemewahan, harus bekerja pada kantor yang tidak layak huni. Bangunan tua, catnya pudar, tembok berjamur, dinding mengelupas, kumuh, membuat mata Jun seketika sakit jika memandangnya.
"Ayo masuk!" ajak Pak Jamil berusaha membesarkan hati anak asuhnya.
Jun patuh. Menelan mentah kenyataan yang sangat jauh dari harapan. Langkah gontai mengiringi dukanya. Apes! Baru tiga langkah, Jun kembali terpukul.
DEBAM!
Selembar plafon yang tertempel di atas ruangan terjatuh. Hanya berjarak lima meter dari posisi Jun saat ini. Langit-langit ruangan yang sudah termakan usia itu terlepas dari tempatnya.
"Huuuffff ...!" Pak Jamil bernapas lega. Mengelus d**a tanda bersyukur. Setidaknya, kejadian itu tidak menelan korban.
Jun melonggarkan dasi. Tergelak, membuang pandangan. Saat iris yang tengah menajam itu kembali tertuju pada lawan bicara, Jun mengomel.
"Pak Jamil! Pak Jamil! Pak Jamil! Apa lagi ini Pak Jamil! Apa lagi!" geram Jun tak berkesudahan.
Pak Jamil terkikik-kikik, merangkul Jun yang sudah terlihat sangat kesal.
"Sudah kubilang, siapkan jantungmu. Ini belum berakhir. Di dalam, kau bisa benar-benar gila," bisik Pak Jamil, tidak kuasa menahan tawa.
Jun menoleh, matanya melotot. "Apa katamu!"
"Buktikan saja!" ledek Pak Jamil, seringai ejekan yang dilempar membuat Jun begitu berang.
"Harrrgg ...!" Jun menyingkirkan tangan kepercayaan Pandhu sangat kasar. Membuka ruangan terdekat. Itu adalah ruang marketing.
Bagaikan patung, semua membeku di tempatnya. Seruan bariton Jun yang pertama saja sudah membuat mereka waspada. Terlebih ketika tampang kesetanan itu menyapa indra penglihatan.
Karyawan yang sedang minum kopi, mendadak tersedak. Mengotori pakaiannya. Yang sedang sarapan mie instan, mendadak menggantungkan mienya di mulut. Ada juga yang tengah makan roti seribuan yang tidak ada tanggal kadaluarsanya. Mendadak memasukkan semua roti ke bibir. Memenuhi ruang mengunyah.
Si tukang cari perhatian, pura-pura memegang pricelist. Menulis pesanan toko. Terkadang tampak seperti berpikir. Mengkalkulasi perhitungan tanpa bantuan kalkulator. Jika dibandingkan dengan yang lain, dia karyawan yang patut dicontoh.
Belum lagi si tukang heboh. Menggunting-gunting kertas, kemudian menjahili teman-temannya. Sampah yang dihasilkan membuat Jun semakin murka. Ada yang duduk di meja, kursi, dan lantai. Benar-benar menguji mental Jun.
Kedatangan Jun memang mendadak tanpa pemberitahuan. Tentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Terbukti! Kebobrokan birokrasi di cabang Bandung terkuak di depan mata.
Jun menjambak rambut sambil menggeleng. Masih berusaha menyimpan semburan naga api. Penasaran dengan ruangan lain, Jun berkeliling. Accounting and Finance Staff menjadi incaran berikutnya.
Tidak berbeda jauh. Kekacauan juga tercipta di sana. Jika di tempat lain ruangan mereka menjadi yang paling tenang, tidak untuk cabang Bandung.
Di ruang yang banyak uang itu, musik tengah diputar. Ada yang ngeprint dokumen sambil bergoyang. Ada yang menyiapkan tagihan sambil makan gorengan. Ada pula yang tengah menggulung-gulung rambut layaknya berada di salon.
Jun masih diam. Menyimpan segala rasa di benaknya. Jiwa keingintahuan Jun meronta, tertarik menyelidik ke setiap sudut ruangan. Jun mengeceknya satu per satu. Berpindah ke gedung sebelah. Jun mengontrol keadaan gudang.
"Selamat datang di Bandung, Mas Jun?" sapa Pak Agus. Kepala Gudang yang dulunya berprofesi sebagai tukang kebun di rumah Jun.
Kejujuran dan ketekunan, menarik hati Dewanata untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pak Agus dikirim ke tempat itu. Diberikan jabatan yang cukup mentereng.
Jun hanya mengangguk, memilih berkeliling gudang. Tampak rapih. Jun sedikit terhibur. Sayang! Hanya sesaat sebelum dua ekor tikus berlarian, merangkak ke kaki Jun.
"Aaaaaaaa ...!" Jun berteriak. Reflek meminta gendong kepada Pak Agus.
"Tikus! Tikus! Tikus!" jerit Jun, ketakutan setengah mati.
Jun ditertawakan karyawan produksi yang kebetulan melihat kejadian konyol itu.
Dengan boyok yang masih sakit, Pak Jamil tertatih-tatih mengejar tikus.
"Ma-maaf mas Jun. Ma-maaf. Di sini memang banyak tikus. Segala hal telah saya lakukan. Tapi tetap saja ada tikus yang masuk," terang Pak Agus tergagap.
"Pak Jamiiiilll ...!"
Lagi! Jun turun dari gendongan Pak Agus lalu kembali menyeru.
Pak Jamil menghampiri Jun dengan napas terengah-engah. "Temukan solusi untuk ini Jun," pinta pria itu.
"Gila! Gila! Gila! Aku bisa mati muda jika terlalu lama di sini!" gerutu Jun. Berjalan cepat menghampiri staf produksi yang berani mentertawakannya.
Di ruang produksi, Jun kembali dihantam syok. Karyawan produksi bermain-main dacron (bahan baku bantal). Saling melempar satu sama lain. Sial! Lemparan seseorang mengenai wajah Jun. Membuat pelakunya ketakutan melebihi bertemu sesosok hantu.
"Ma-ma-ma-ma-maaf Pak," ucap pelaku.
Jun menggeram, menatap tajam Pak Jamil yang tengah terburu-buru menghampirinya.
"Pak Jamiiiil ...!" raung Jun.
"Aku akan mengumpulkan mereka semua di ruang meeting," jawab Pak Jamil sudah bisa menebak jalan pikiran Jun.
Jun membersihkan wajah. Mengabaikan permintaan maaf salah satu karyawan. Parasnya jangan ditanya! Selimut iblis tengah menutupi aura baik pria itu. Jun pergi dengan kekesalan yang memuncak.
"Aku menunggumu di ruanganku!" seru Jun, semakin mempercepat langkahnya. Mengabaikan Pak Jamil dan yang lain.
"Kalian membangkitkan singa jantan yang tengah lapar," kata Pak Jamil sukses menciutkan nyali semua orang.
Karyawan saling lirik, menyalahkan satu sama lain. Pak Agus menepuk jidat. Mengelus kepalanya yang setengah botak. Sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Jun.
"Hei, Jun! Memangnya kau tahu dimana ruanganmu?" Pak Jamil menyeru.
Jun berhenti. Langkahnya tertahan membenarkan pertanyaan pria itu. Jun pun menoleh. "Dimana?"
Pak Jamil memimpin langkah. "Tenang! Ruanganmu dan ruang meeting adalah yang terbaik di sini."
Jun sedikit tergirang. "Tapi kenapa feelingku buruk?"
Mengabaikan pertanyaan Jun, Pak Jamil menarik salah satu sudut bibir.
"Nah, ini!" Pak Jamil membuka pintu, melewati ruang meeting.
Jun memejamkan mata sejenak, ingin mencaci tapi lagi-lagi ia berusaha menahan diri.
'Yang seperti ini dianggap terbaik? Tolong jangan bercanda! Aku sungguh lelah dan ini tidak lucu!' maki Jun di dalam hati saat yang terlihat hanya ruang meeting sederhana dengan peralatan dan perlengkapan yang jauh dari standar kantor pusat.
"Ruanganmu!" Pak Jamil tersenyum ramah, membuka pintu, mempersilahkan Jun masuk.
Sepasang mata Jun nyaris loncat dari rongga, tergemap dengan kejutan yang tidak ada habisnya.
"Bagaimana bisa ruang kerjaku lebih kecil daripada ukuran kamar mandi di rumah? Bagaimana bisa Pak Jamil? Bagaimana bisaaaaa ...?"
Jun tertawa bodoh, mecemooh dirinya sendiri yang tidak beruntung. Jun bersandar pada daun pintu dengan ekspresi tak berdaya. Tubuhnya lunglai. Perlahan tergelincir ke lantai dengan punggung yang masih bersandar pada pintu.
Jun mengacak rambut. Siku bertumpu pada lutut, menopang kepala dengan kedua tangan.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?" tanya Jun, lemah, nyaris tak terdengar.