Jun memejamkan mata sambil berdesis panjang. Melihat dua satpam yang masih kesulitan membuka pintu gerbang, amarah pria itu memuncak hingga ke ubun-ubun. Ibarat gunung berapi yang meletus, meluluhlantakkan isi bumi. Kepalanya yang tengah terbakar, mengeluarkan semburan api yang menjulang tinggi.
Jun membuka mata. Pupilya berkobar menyambut penglihatan yang terpampang.
"Harrrgg ...!" Pria itu menjejak pintu mobil lalu membukanya. Berkacak pinggang, menghela napas kasar. Menggulung kemeja putih berlapis waistcoat hitam. Jun membantu satpam yang bertugas.
"Mas Jun! Biar saya saja," pinta Pak Ujang yang sedari tadi mengemudikan mobil. Sudah mau turun tapi di tahan oleh Jun.
Pak Jamil yang duduk di samping Pak Ujang mengulurkan tangan, menepuk lembut bahu supir pribadi keluarga Dewanata diiringi anggukan berarti.
"Biarkan saja! Jun yang kita kenal telah kembali," ujar Pak Jamil. Sorot kekaguman terpancar di wajah yang telah menggapai setengah umur abad itu.
"Tapi Pak—"
Pak Jamil menggeleng, tersenyum ramah. Bermaksud menetralisir rasa tidak enak yang hinggap di hati Pak Ujang.
Setelah menuntaskan aksi yang jelas mencuri perhatian semua karyawan khususnya kaum hawa, Jun mencuci tangan di tempat yang telah disediakan. Mengakibatkan perhatian karyawan yang masih berkumpul di pelataran tempat parkir tertuju pada satu titik. Waktu pun terasa berhenti.
Wajahnya yang rupawan, putih, mulus, nan bersih. Rahang tegas, alis tebal, hidung mancung, sorot mata yang bening sekaligus tajam, tinggi dengan postur tubuh ideal. Belum lagi gayanya yang nyentrik, sepatu kinclong keluaran brand ternama, dan caranya mencuci tangan sesuai protokol kesehatan, menyuguhkan panorama yang memanjakan mata.
Wanita mana yang sanggup menampik pesona seorang Arjuna Dewanata? Dibalik ketakjuban yang tercipta, sering kali hati mereka menjerit, meneriakan kata cinta. Dimana ada Jun, di sana pusat dunia seolah terkumpul.
Jun, pemilik mantra sihir bawaan lahir yang memabukkan. Daya tariknya mampu menghipnotis setiap mata yang memandang. Percikan air yang menyeruak seolah menebar pemikat. Menghanyutkan indra penglihatan. Terisi dengan sosok yang nyaris tanpa cela, idaman sejuta umat.
Jun menutup kran air. Menarik tissue, mengeringkannya dengan gaya maskulin. Semua gerak gerik pria itu seolah sayang untuk dilewatkan. Merasa ada yang janggal, Jun menoleh pada kerumunan.
Cukup tersentak! Kebiasaan karyawan DCB membuat Jun geram. Watak asli pria itu hampir tidak bisa ditutupi pada pertemuan pertama. Lidah pedas tanpa penyaring nyaris bekerja saat sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipnya mengirim sinyal kuat ke otak.
Jun, pria apa adanya. Tidak suka membuang waktu, apalagi berbasa-basi. Suka mengatakan suka. Benci pun ditunjukannya tanpa ragu. Pria yang paling tidak bisa berdamai dengan sifat buruknya itu selalu menjadi bahan gunjingan anak buah. Wajar! Di kantor pusat, banyak sekali yang mengharapkan pria itu lengser dari jabatannya.
Sayang! Fakta bahwa Jun adalah pewaris takhta Dewanata Group melahirkan banyak penjilat yang berkonspirasi. Kelicikan seseorang, berhasil memanfaatkan masa patah hati Jun yang berkepanjangan. Untuk membangun kembali image Jun, dengan berat hati Pandhu mengirim putranya ke Bandung.
Beruntung! Kedatangan Pak Jamil sukses membuat amarah Jun tertahan. Jika tidak, kata-kata andalan yang seperti titah raja sudah pasti merugikan banyak pihak.
Pak Jamil berjalan ke arah karyawan. Telapak tangannya saling beradu. Menghasilkan suara tepukan yang berulang.
"Hei! Hei! Hei! Kenapa masih berkumpul? Sudah pukul 08.15 WIB, dengan santainya kalian justru masih merokok? Mau makan gaji buta, hem?" Pak Jamil memasang kedua tangannya di pinggang. Pria yang biasa terlihat tenang dan berwibawa itu mendadak garang. "Bubaaaarrr ...!" teriak pria paruh baya itu saat para karyawan hanya menunduk ketakutan.
Karyawan kompak mengangkat kepala. Tersentak dengan seruan tangan kanan Pandhu Dewanata.
"Si-siap Pak!" jawab mereka bersamaan.
Berbaris, saling dorong. Menunduk sopan saat mereka melewati Jun.
"Selamat pagi Pak?" sapa mereka masih kompak.
Jun tidak menjawab, tengah terguncang dengan keadaan di sana. Data yang dibacanya memang membuat pria itu menilai buruk etos kerja yang dimiliki karyawan. Tapi Jun sama sekali tidak menyangka. Jika yang terjadi di lapangan justru lebih buruk dari perkiraan.
"Thank you!"
Bunyi fingerprint menggema sejumlah karyawan yang menggunakan. Piranti yang digunakan untuk merekam daftar kehadiran itu sukses membuat Jun geleng-geleng kepala.
"Pak Jamil!" sungut Jun sudah sampai pada batas kesabaran.
Pak Jamil terkekeh. Lucu! Pemandangan seperti itu tidak ditemukan di cabang manapun. Hanya Bandung! Cabang termiskin yang karyawannya bisa bertingkah sesuka hati.
"Sudahlah! Hanya hari ini, tolong maafkan mereka. Keberadaanmu di sini akan mengubah kebiasaan yang mendarah daging. Asal kau tahu, HRD bahkan pernah kalang kabut. Mereka tidak takut peraturan. Tapi kau cukup cerdas untuk mendidik pembangkang," bujuk Pak Jamil.
Jun mengusap kasar wajahnya. "Pak Jamil, ini sudah keterlaluan! Lihat!" Jun menunjuk beberapa karyawan yang tengah memasuki gudang. "Ini kantor apa apa? Kenapa berpakaian kaos? Kenapa mengenakan sendal jepit? Tidak bisakah mereka berpakaian rapih? Kumal, lusuh, dekil, aku curiga mereka belum mandi! Seperti perkumpulan sampah masyarakat saja!" cibir Jun menyambung kalimatnya.
"Husssshh ...! Mulut Jun! Mulut!" Pak Jamil tidak segan untuk memukul bibir Jun. Mendidik Jun sedari kecil, menimbulkan ikatan yang dekat di antara mereka.
Jun melapangkan kedua tangan. "Apa yang perlu kututupi? Memang begitu faktanya!" kilah Jun, tetap pada prinsip. Jujur tanpa ada yang dikurang dan ditambah.
Pak Jamil mengangguk-anggukan kepala. Perkataan Jun memang sesuai dengan keadaan. Tapi alangkah lebih baik jika pria muda itu menjaga ucapannya. Menyinggung perasaan orang lain tentu tidak baik. Bagi yang tidak terima, bisa berekor panjang.
"Oh iya Jun. Itu inventarismu sebagai Area Manager. Kau bisa menggunakan mobil itu untuk kepentingan perusahaan," kata Pak Jamil, menunjuk sebuah mobil keluaran negeri Sakura yang cukup ternama.
Jun reflek menoleh, mengikuti pandangan Pak Jamil.
Jun ternanap. "Ini?" Jun mendekati mobil. Menunjuk kendaraan beroda empat itu dengan ekspresi merendahkan. "Yang benar saja Pak Jamil! Yang benar saja!" Jun menggebrak mobil itu dengan telapak tangan. Keberatan dengan hadiah yang tidak masuk akal.
Pak Jamil menghela napas. "Jun, itu sudah yang paling bagus. Area Manager lain mana mungkin mendapatkan seri itu."
"Ini mobil apa kaleng s**u? Jika tertabrak, sudah pasti Pandhu kehilangan penerusnya! Papah pasti sudah gila!" protes Jun dengan raut menegang. Pria yang biasa hidup mewah itu merasa dunianya jungkir balik.
Pak Jamil terdiam, tampak berpikir. Menimbang ulang keputusan Pandhu yang bisa dirubah dengan alasan yang kuat.
"Ok! Hanya dua mobil! Orangku akan mengirimnya besok! Jangan menawar! Kau sedang dihukum! Tuntutan pekerjaan telah menanti! keberadaanmu di tempat ini hanya untuk mengganti kerugian perusahaan! Bukan untuk pamer gaya hidup!" tegas Pak Jamil, berlagak sebagai seorang bapak yang tengah menasihati putranya.
"Cih! Itu kata-kata Pandhu! Kenapa terdengar horor meskipun kau yang mengucapkannya!" sinis Jun sudah sedikit tenang.
Sudut bibir Pak Jamil tertarik, membentuk lengkungan bulan sabit. Merasa keren dengan ucapannya.
Pak Jamil memangku tangan di belakang pinggang. Pria yang setia pada keluarga Dewanata itu, melenggang meninggalkan Jun di tempatnya.
"Siapkan jantung untuk kejutan demi kejutan yang akan menyambut kedatanganmu!" seru Pak Jamil, berjalan semakin cepat.
"Hei, tua bangka! Tunggu aku!" Jun berlari, menubruk tubuh Pak Jamil. Meminta gendong layaknya anak kecil.
KREK!
Mereka nyaris jatuh andai Jun tak segera turun dan menopang tubuh Pak Jamil.
"Sialan! Kau meremukkan punggunggungku!" keluh Pak Jamil, menahan rasa sakit.
Jun terkakak, detik berikutnya tubuh Pak Jamil sudah berpindah ke gendongan Jun.
"Terima kasih telah menemani perjalanan hidupku. Kau bisa melepasku tanpa kekhawatiran. Aku berjanji akan giat bekerja. Kebanggaan kalian akan mengembalikan kejayaan Dewanata Group. Bersabarlah hingga waktu itu tiba. Jaga dirimu, jaga kesehatan. Kau harus panjang umur untuk menyaksikanku berdiri kokoh memimpin perusahaan," ucap Jun terdengar tulus.
Sepasang mata Pak Jamil memancarkan haru. Dibalik sikap Jun yang tidak disukai banyak orang, tersimpan hati yang lembut yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar mengenal Jun.
"Anak koala! Kenapa kau cepat sekali beranjak dewasa," sesal Pak Jamil, mengacak-acak rambut Jun.