Kathy menatap layar laptop di depannya dengan pandangan jengah. Gadis itu menghembuskan nafasnya ke atas hingga poninya tersibak.
"Sudah hampir sampai di chapter terakhir, tapi, kenapa mereka masih saja tidak mampir ke novelku?!" ucapnya dengan nada kesal.
Perempuan cantik bersurai panjang dengan warna coklat alami yang sudah berusia 22 tahun itu bernama Kathy Goudge.
Kathy adalah seorang penulis amatir di salah satu platform digital. Ia sudah menekuni dunia kepenulisan sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Awalnya, Kathy hanya sekedar ingin menyalurkan hobi dengan menulis di mana saja yang ia bisa, akan tetapi, setelah perempuan itu beranjak dewasa, Kathy berinisiatif ingin menjadikan hobi menulisnya menghasilkan uang.
Namun, yang namanya usaha pasti mempunyai titik turun naik. Begitu pula dengan Kathy yang masih berusaha melanjutkan tulisannya walaupun ditolak editor berkali-kali.
Kathy tidak akan menyerah begitu saja. Kathy yakin suatu saat nanti ia akan menjadi penulis terkenal yang selalu menerbitkan buku hingga puluhan cetak.
Setidaknya, itu yang Kathy yakini hingga sampai saat ini.
Balik lagi ke kondisi Kathy sekarang, perempuan itu memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen dengan harga normal. Suasana di rumahnya yang selalu tidak pernah damai menjadikan mental Kathy rusak, hingga ia memutuskan untuk hidup mandiri di kota lain.
Kathy tidak sendiri di kota ini, sebab, Paman dari Ibunya -Sarah- juga tinggal di daerah yang sama seperti dirinya.
Maka dari itu Kathy tidak perlu merasa asing, karena sewaktu-waktu Kathy bisa saja pergi ke rumah pamannya untuk meminta bantuan atau sekedar mengajaknya jalan-jalan.
John, Paman Kathy itu sudah menginjak usia 42, walau begitu pria itu masih setia melajang tanpa menghiraukan usianya yang rentan.
John berpikir bahwa menikah bukanlah sesuatu yang mudah, hidupnya yang sulit membuat John menjadi mengurungkan niatnya untuk mencari pendamping hidup.
Kring
Kathy melirik ponselnya yang berada di atas nakas itu bergetar, di sana menampilkan telepon dari seseorang yang bernama Matthew.
Dengan gerakan malas, Kathy mengambil ponsel itu lalu memencet tombol hijau.
"Hm."
"Kath! Are you there?!"
Kathy mendengus seraya menjauhkan ponselnya dari telinga.
Matthew, sahabatnya sejak mereka masih berumur 7 tahun. Mereka bertemu ketika sepeda Kathy tidak sengaja menerobos lobang yang cukup dalam di dekat perkarangan rumah Matthew. Kathy terjatuh tidak bisa berdiri karena tubuhnya ditimpa oleh sepedanya, di saat yang bersamaan Matthew keluar dari rumahnya dan langsung membantu dan mengobati luka Kathy.
Sejak saat itu mereka berteman dekat sampai sekarang. Walau Kathy sering dibuat kesal oleh tingkah random dan menyebalkan Matthew, pria blasteran Canada-Indonesia itu tetap menjadi sahabat terbaik yang Kathy punya.
"Kathy! Apa sekarang kau mendadak bisu?!"
Kathy berdecak. "Ada apa? Dan … bisakah kau berhenti berteriak, Matthew? Kepalaku semakin pusing karena mendengar teriakanmu!"
Tak lama, terdengar suara tawa dari seberang telepon yang membuat Kathy semakin jengah.
"Ok, babe. It's my fault, haha … why you so cute and annoying at the same time, huh?"
Dan lagi, kalimat gombal itu lah yang paling Kathy hindari karena hal itu membuat Kathy menjadi berdebar.
Hei, memangnya ada sebuah persahabatan bertahun-tahun tanpa landasan cinta dibaliknya?
Kathy salah satunya.
Terjebak pada perasaannya sendiri yang sudah memendam rasa kepada Matthew sejak 5 tahun yang lalu.
"Kath, ada apa dengan dirimu?"
Perempuan itu menipiskan bibirnya, gugup. Padahal diawal telepon Kathy merasa biasa saja, tetapi saat mendengar panggilan "Babe" dari Matthew membuat dirinya mendadak kehilangan kontrol atas jantungnya.
"Aku baik-baik saja, ada apa menelepon?" tanya Kathy ketika sudah berhasil menetralkan detak jantungnya.
"Aku membawa kabar baik! Coba kau tebak …"
"Kau mendapat voucher belanja gratis?"
"Tsk … kau menyebalkan. Bukan itu, Kathy."
"Lalu apa?" tanya perempuan itu lagi tidak sabaran, Kathy beranjak dari kursi dan berjalan menuju balkon.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut panjangnya. Malam ini terasa lebih sejuk karena mendung, membuat Kathy merasa kedinginan karena ia hanya menggunakan celana pendek di atas lutut dan baju kaos putih yang longgar.
"Besok aku akan mengunjungimu dan tinggal di sana dalam beberapa waktu, itu kabar yang baik, bukan?"
Kathy terperanjat karena terkejut, kakinya tanpa sengaja menginjak genangan air di lantai hingga Kathy kehilangan keseimbangan.
Bruk
"Oh, s**t," umpat perempuan itu ketika merasakan bokongnya yang sakit menghentam lantai.
"Kathy? Ada apa?"
"Tidak … hanya saja aku tidak sengaja terjatuh," tuturnya seraya meringis mencoba berdiri.
"What? Kenapa kau selalu bertindak ceroboh?!"
Perempuan itu mencebik kesal, berdiri lalu melangkah menuju kasur dengan tertatih. "Aku 'kan sudah bilang, aku tidak sengaja!"
"Ya … ya … up to you. Kalau begitu, kau istirahat saja malam ini, besok siang aku akan sampai ke sana."
"Hei, Matthew." Kathy menarik nafasnya sebentar. "Kau tidak bisa ke sini," sambungnya.
"Apa? Kau menolakku? Kenapa?!"
"Tidak. Bukan begitu …," Kathy gelisah, menggigit buku-buku jemarinya.
"Then?"
"Aku … aku butuh waktu untuk sendiri Matthew, kau tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi keluargaku saat aku terakhir berada di rumah itu? Aku hanya … masih ingin menyembuhkan lukaku," jelasnya.
Itu tidak sepenuhnya bohong, Kathy berbicara apa adanya. Namun, kondisi mental bukanlah alasan utama Kathy menolak Matthew datang ke apartemennya, tetapi, Kathy tidak siap bertemu dengan sahabatnya itu setelah dua tahun lamanya mereka berpisah.
Terlebih lagi ketika Kathy sudah menyadari bahwa perasaan yang ia punya untuk Matthew bukanlah sebuah perasaan sayang sekedar sahabat.
Keberadaan Matthew di dekatnya akan membuat Kathy semakin tersiksa.
Setidaknya, Kathy ingin mengontrol perasaannya terlebih dahulu, baru lah Kathy bisa menerima kedatangan Matthew.
"Ah, begitu. Baiklah, aku mengerti kondisimu. Tapi, kalau kau memerlukan bantuan, kau bisa menghubungiku kapan pun. Aku akan segera ke sana untuk membantumu, oke?"
Kathy mengangguk, menghela nafas lega. "Baiklah, tenang saja."
"Good girl. Sekarang, kau harus istirahat. Aku tidak mau wajah jelekmu itu bertambah jelek karena kau terus-terusan memaksakan diri untuk bergadang mengerjakan novelmu."
Kathy tersenyum saat mendengar rentetan kalimat panjang dari Matthew, pria itu selain bisa menjadi sahabat, Matthew juga terkadang sudah seperti Ibu baginya.
"Iya, kau bawel sekali."
"Kau tahu kalau itu demi kebaikan dirimu."
"Ya, baiklah Tuan Matthew. Aku akan tidur sekarang, jadi, tolong jangan menggangguku." Kathy terkekeh geli.
Dengusan Matthew terdengar.
"Aku akan selalu mengganggumu, by the way. Oke, selamat tidur, Babe …"
Jantung Kathy kembali berpacu kencang hingga ia speechless. Bahkan, Kathy masih terdiam saat sambungan telepon itu sudah terputus.
"Menyebalkan." Perempuan itu mendengus lalu meletakkan ponsel ke samping kemudian Kathy merebahkan tubuh lelahnya.
Pandangannya menerawang, seharian ini Kathy sibuk mencari kampus yang sesuai dengan seleranya. Ia berkeliling di berbagai situs, hingga ia menemukan kampus yang bernama Royal Light.
Kampus dengan bangunan yang megah namun unik itu berhasil menarik perhatian Kathy, pada akhirnya Kathy memutuskan untuk mencoba mendaftar ke kampus Royal Light.
Uang per semester juga masih terjangkau bagi Kathy, dengan mengumpulkan uang bulanan yang ditransfer oleh orang tuanya sudah cukup untuk menghidupi dirinya.
Walaupun begitu, Kathy harus segera mencari uang tambahan untuk berjaga-jaga.
"Semoga aku diterima di kampus itu," gumam Kathy sambil menguap, perlahan kelopak matanya menutup dan mulai mengarungi mimpi.