Kathy bangun lebih pagi hari ini, karena hari ini adalah pengumuman apakah ia berhasil masuk ke kampus impiannya.
Seraya mengusap wajahnya, Kathy berjalan gontai menuju kamar mandinya. Jangan salah paham, Kathy ke kemar mandi hanya untuk membasuh wajah serta menggosok giginya karena perempuan itu terlalu malas untuk mandi jika tidak ada acara yang penting.
Setelah selesai dengan rutinitasnya, Kathy mengganti baju kaosnya dengan dress berwarna biru laut selutut lalu menyemprotkan parfum ke area leher dan pergelangan tangan.
Kathy mematut dirinya di cermin, mata bulat itu kini menyipit.
"Sepertinya aku harus memakai make up supaya tidak terlalu pucat," gumam perempuan itu kemudian mengambil tas make upnya yang berada di dalam laci meja rias.
Tidak banyak yang Kathy pakai, ia hanya memakai lipcream berwarna nude, blush on pink yang tampak cocok di kulit putihnya, serta mascara agar bulu matanya tampak lebih indah.
Walaupun terkesan sederhana, Kathy tampak sangat cantik.
Setelahnya, Kathy menyambar tas kecilnya yang menggantung di gantungan belakang pintu kamar lalu melangkah keluar.
~
Kathy memberhentikan taksi saat terasa sudah sampai di depan gerbang besar kampus Royal Light. Setelah membayar, Kathy segera keluar dari taksi kemudian merapikan penampilan serta rambutnya.
Lalu Kathy dengan percaya diri melangkah tegap masuk ke area kampus yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang.
Langkah anggun itu terus berjalan mencari letak majalah dinding, matanya bergulir ke kanan dan ke kiri.
Perempuan itu mendengus.Ternyata kampus ini lebih luas dari perkiraannya, Kathy yang tidak tahu seluk beluk kampus Royal Light hanya bisa merutuki dirinya karena terlalu percaya diri bahwa ia bisa melakukannya seorang diri.
Kathy melangkahkan kaki jenjangnya menuju taman yang berada di tengah-tengah kampus. Bibirnya menipis seraya berpikir bagaimana caranya agar ia mendapatkan teman baru untuk membantunya mencari letak majalah dinding.
Namun tiba-tiba ...
Duk
"Aw!" Kathy memegang kepalanya yang terasa pening sambil memejamkan mata.
Ia membuka matanya, menemukan sebuah botol minuman yang isinya masih tersisa setengah.
Jadi ini yang mengenai kepalaku tadi? Sialan.
Kathy meringis seraya mengusap kepalanya yang masih sakit.
"Oh my God! Sudah aku bilang jangan membuang sampah sembarangan, William! Look at that, botol minumanmu mengenai kepala seorang perempuan di sana!"
Sebuah teriakan melengking mengintrupsi, membuat Kathy mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.
Tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat dua orang pria dan satu orang perempuan yang tengah marah, terlihat dari wajah perempuan itu yang tampak memerah.
Pria yang pertama, memakai outfit yang terkesan casual, ia hanya memakai baju kaos panjang berwarna abu-abu serta celana jeans panjang ditambah sepatu kets berwarna putih dan sebuah earphone menyumpal telinganya. Terkesan cuek ke sekitar, ia hanya memainkan ponsel tanpa peduli dengan amarah seorang perempuan di dekatnya.
Pria yang ke dua, terkesan seperti seorang bad boy di novel-novel romantis, memakai pakaian serba hitam. Kaos hitam, serta jaket kulit berwarna senada. Pria itu memadukan celana hitam panjang berbahan kain untuk melengkapi stylenya, di bahu kanannya terdapat tas berwarna coklat. Walaupun terlihat seperti bad boy, sepertinya ia lebih ramah dibanding pria satunya.
Terlihat dari ekspresinya yang jenaka saat menanggapi amarah dari perempuan itu.
Dan terakhir, perempuan tadi. Tampak begitu anggun dengan dress merah menyala di atas lutut, kaki jenjangnya dipadukan dengan heels berwarna hitam. Rambut panjang bergelombangnya ia biarkan terurai hingga membuat dirinya semakin tampak seperti bidadari.
Sejenak, Kathy termangu oleh pemandangan tiga orang itu yang mempunyai aura seperti tokoh kartun. Hingga tanpa sadar ketiga orang itu sudah berjalan menuju dirinya.
"Hai! Apa kau baik-baik saja?" tanya perempuan bergaun merah tersebut seraya melambaikan tangannya di depan wajah Kathy.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, membuat pria dengan setelan serba hitam itu mendengus.
"Hei, apa kau tuli?" tuturnya kasar.
"William! Jaga ucapanmu!" Perempuan itu berteriak kesal, membuat pria berkaos abu-abu mendelik ke arahnya.
Teriakan yang cukup nyaring hingga membuat Kathy tersadar dari lamunan.
"Ah ... eh?" Kathy menerjabkan matanya bingung seraya menatap ketiga orang di depannya dengan pandangan polos.
"Hei, cantik. Kau tidak apa-apa?" tanya perempuan itu sekali lagi.
Kathy mengernyit.
Mungkin maksudnya tentang botol tadi, ya?
Kathy tersenyum menanggapi pertanyaannya. "Sedikit pusing, tapi aku tidak apa-apa. Itu hanyalah hal kecil, tenang saja," ujar Kathy.
Plak
Perempuan itu menepuk pundak pria bernama William secara kasar.
"Cepat minta maaf padanya, William! Kau menyakitinya!"
William memutar bola mata malas, lalu perhatiannya beralih ke sosok Kathy yang sedang menatapnya dengan pandangan ... tertarik?
Entahlah, William tidak tahu.
Yang jelas, binar di mata Kathy membuat pria itu merasa sedikit tidak nyaman.
"Baiklah. Hei, maafkan tingkahku, ya? Apakah kepalamu masih terasa pusing?" tanya William mendekat selangkah.
Kathy berdiri gugup, entah kenapa aura orang-orang di depannya terasa sangat mengintimidasi.
"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Dengar, 'kan? Dia tidak mempermasalahkannya, Ellie," urai William menatap Ellie jengah.
Ellie ikut mendekat selangkah, kemudian, tangannya mengusap surai lembut Kathy. "Maafkan saudaraku, ya? Dia memang menyebalkan."
"Hei!" William protes.
Tanpa menghiraukan William, Ellie mengulurkan tangan kanannya. "Mari kita berkenalan. Namaku Ellie Peter, aku anak tengah dari tiga bersaudara. Pria serba hitam menyebalkan itu saudara terakhirku, namanya William Peter. Sedangkan pria sok misterius ini bernama Aland Peter, dia adalah saudara tertua kami," terang Ellie.
Kathy mengangguk seraya tersenyum manis, kemudian menjabat tangan Ellie. "Senang berkenalan dengan kalian, aku Kathy Goudge."
Selang beberapa detik, mereka melepaskan jabatannya.
"Baiklah, Kathy. Apakah kau mahasiswa baru di sini? Sepertinya aku baru melihatmu," tutur Ellie.
"Ah, iya. Beberapa minggu yang lalu aku mendaftarkan diriku di kampus ini, seharusnya hari ini pengumumannya, tapi ... aku tidak tahu di mana letak majalah dindingnya," jawab Kathy panjang lebar.
"Gotcha! Kalau begitu, biarkan William yang mengantarmu ke sana. Tenang saja, William sangat hafal letak kampus ini." tutur Ellie dengan wajah sumringah.
William melotot tidak terima. "Hei! kenapa harus aku yang mengantarnya?!"
Ellie memasang raut datar menatap saudara bungsunya. "Anggap saja ini sebagai permintaan maafmu, William. Sudahlah, lakukan saja!"
"Tidak, Ellie. Aku ada kelas beberapa menit lagi, aku tidak bisa mengantar Kathy," sanggah William seraya berkacak pinggang.
"Sejak kapan kau peduli dengan hal itu? William, aku tidak bodoh. Lakukan sekarang atau jatahmu akan aku berikan ke pembantu di rumah kita," ancam Ellie.
Perempuan itu beralih menatap Aland. "Aku benar 'kan, Aland?"
Aland melirik Ellie sebentar, lalu menghembuskan nafasnya berat. "Iya."
"Hei, kau! Kenapa kau malah bersekutu dengan makhluk menyebalkan ini, Aland?!" William berteriak melayangkan protes.
Kathy yang hanya bisa menyimak perdebatan mereka sedari tadi kini meringis. "Sudahlah, Ellie. Tidak apa, kau hanya perlu menjelaskan rutenya kepadaku, biar aku yang mencari tempat itu sendiri."
Ellie menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu tersesat di kampus ini, Kathy. Ayo, William!"
William memasang tampang memohon ke arah Aland, namun, pria berbaju abu-abu itu tidak mengindahkan keberadaannya, Aland kembali sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Ah, kalian menyebalkan! Baiklah, akan aku antar Kathy sesuai perintahmu. Tapi ingat, jangan pernah sentuh jatahku, Ellie!" desis William dengan nada mengancam.
Walaupun begitu, Ellie sama sekali tidak takut, bahkan, Ellie memasang wajah menantang dengan kedua alis yang naik seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Nah, begitu lebih baik, adikku."
William mendelik sebal, lalu tangannya menggapai pergelangan tangan Kathy kemudian membawa perempuan itu menjauh.
Kathy terkejut, lalu kepalanya menoleh ke belakang melihat Ellie yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
Kathy membalas lambaian tangan itu dengan senyumannya.
Perempuan itu merasa lega dan tidak nyaman dalam waktu bersamaan. Lega karena menemukan orang yang bisa membantunya, namun juga tidak nyaman karena tampaknya William kesal kepada dirinya.
Diam-diam, Kathy menghembuskan nafasnya gusar seraya menatap tangan kanannya yang kini digenggam lembut oleh William.