"William ...."
William berhenti. "Ini tempatnya, kau bisa masuk ke dalam untuk mengecek majalah dinding," ucap William datar lalu melepaskan pegangannya pada tangan Kathy.
Tatapan mengintimidasi itu membuat Kathy menjadi merinding. Aura William terasa beda kali ini, berbeda saat mereka masih bersama Ellie dan Aland.
Apa karena William kesal denganku?
"Kathy?" Suara berat itu mengintruksi.
"Ah, iya. Terima kasih atas bantuanmu, William. Aku merasa tidak enak karena sudah merepotkanmu," ujar Kathy seadanya seraya mengusap tengkuk mendadak salah tingkah.
Pria tampan itu menyunggingkan senyuman tipis yang disadari oleh Kathy.
"Tidak apa, anggap saja ini sebagai permintaan maafku, seperti yang dikatakan oleh Ellie," urai William, mendadak sikapnya berubah drastis, membuat Kathy bingung sekaligus sedikit terpesona oleh senyuman itu.
"Oh ... baiklah. Kalau begitu, aku masuk dulu."
Kathy segera melangkahkan kakinya, namun, baru beberapa langkah, Kathy terdiam saat tangannya digapai oleh William.
"Hei, Kathy. Bisakah kita bertemu lagi nanti?"
Kathy menoleh ke belakang, menerjabkan matanya gugup. Tatapan William kini bukanlah tatapan datar, melainkan tatapan teduh yang siapa saja bisa luluh hanya dengan sekali melihatnya, tidak terkecuali Kathy.
"Bo-boleh ...," Kathy menunduk, memilih untuk memandang sepatunya. "Kita bisa bertemu lagi di taman tadi," putusnya.
William terkekeh saat menyadari perempuan di depannya sedang tersipu.
Dia terlihat sangat polos Batin pria itu.
"Baiklah, jam 10 pagi aku akan menunggumu di sana. Oke?"
Kathy mendongak, membalas tatapan William. "Oke."
~
William berjalan tegap menelusuri lorong kampus, sesekali senyumnya terukir saat beberapa mahasiswi menyapanya.
William termasuk salah satu pria yang dikenal oleh banyak orang di kampusnya, selain karena wajahnya yang tampan, William juga mempunyai kepribadian yang humble sehingga orang-orang menjadi nyaman saat berada di dekatnya.
Begitu pula dengan Ellie, perempuan cantik itu tak kalah terkenalnya dengan William, paras anggun serta memiliki aura berkelas bak model menjadikan Ellie perempuan yang diincar oleh para pria dalam kampus maupun di luar kampus. Walaupun pembencinya dari kalangan perempuan tidak sedikit, mereka tidak pernah benar-benar menampakkannya di depan Ellie, mereka terlalu takut konsekuensi jika berani mengganggu saudara kesayangan William dan Aland.
Dan perihal Aland, pria itu justru berbanding terbalik dengan adik bungsunya, William. Jika William terkenal dengan keceriaannya, maka Aland terkenal dengan kedinginannya. Pria itu jarang berbicara, ia hanya membuka mulutnya jika benar-benar ingin berbicara. Selebihnya, Aland hanya berfokus ke ponsel dan mendengarkan musik. Walau begitu, Aland begitu digandrungi perempuan. Karena bagi mereka, tipikal pria seperti Aland itu terasa menantang.
"William!"
Suara merdu yang memanggil William membuat pria itu berbalik mencari sang pemilik suara.
Dilihatnya Alice sedang berlari menuju ke arahnya, sebuah senyum terpatri di bibir perempuan berparas manis itu.
"Oh, hai, Alice. Ada apa?" tanya William saat Alice sudah berada di dekatnya.
Alice memasang tampang ceria, senyum perempuan berambut pendek sebahu itu kian melebar. "Tidak. Hanya saja kau berada di kelas yang sama denganku, ayo pergi sama-sama!"
Tanpa menunggu persetujuan William, Alice menggandeng tangan pria itu dan membawa William dengan sedikit terburu-buru.
William menanggapi sikap Alice dengan tersenyum simpul.
Alice adalah sahabat William sejak 2 tahun yang lalu, saat mereka menjadi mahasiswa baru di kampus Royal Light. Alice adalah perempuan pertama yang mengajaknya berkenalan, dan mengenalkan lingkungan kampus yang ternyata adalah milik ayahnya.
Sejak saat itu Alice menjadi teman akrab William, dengan sikap keduanya yang humble membuat Alice maupun William menjadi cepat merasa nyaman.
Tanpa sadar, kedekatan mereka tak luput dari pandangan perempuan bergaun biru yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berpijak tadi.
Kathy, menatap kepergian William dan Alice dengan sorot tak terbaca.
~
Kathy mendudukkan dirinya di kantin, setelah mencoba bertanya dengan beberapa mahasiswa mahasiswi yang tak sengaja berpas-pasan dengannya, akhirnya Kathy dapat menemukan letak kantin.
Perempuan itu merasa lega saat mengetahui bahwa dirinya lolos masuk ke kampus Royal Light. Saking senangnya, Kathy tanpa sadar melompat kegirangan hingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
Bukannya merasa malu, Kathy malah pergi dari tempat itu dengan melompat kecil tanpa mempedulikan pandangan orang terhadapnya.
Namun, rasa senang itu perlahan surut saat melihat seorang perempuan yang menghampiri William dan menggandeng tangan pria itu. Dan tampaknya William juga tidak mempermasalahkannya, justru, William tersenyum teduh menatap perempuan itu.
Mendadak atmosfer di dekat Kathy menjadi panas entah kenapa.
"Ada apa dengan diriku? Hei, bukankah aku menyukai Matthew? Tapi, mengapa aku merasa tidak suka ketika melihat William bersama perempuan itu?" gumam Kathy kesal sambil menatap spagetti di hadapannya dengan pandangan tak berminat, padahal Kathy sudah sangat kelaparan mengingat dirinya belum sempat sarapan saat pergi ke sini.
Kathy menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir berbagai pemikiran tidak masuk akal yang mulai menghantui otaknya.
"Jangan bodoh, Kathy. Bagaimana bisa kau melupakan Matthew yang jelas-jelas menjadi cinta pertamamu hanya karena seorang pria yang baru kau temui beberapa jam lalu?" gumamnya lagi mencoba untuk berpikir secara logika.
Duk
Sebuah nampan berisi salad dan orange juice muncul di meja Kathy. Lebih tepatnya, seseorang yang menaruh nampan itu.
Kathy seketika mendongak kesal, keberadaan tiba-tiba seseorang itu membuat Kathy menjadi tambah badmood.
Namun, kekesalannya tak berlangsung lama saat netranya menangkap sosok tak asing berada di depannya, menatap Kathy dengan pandangan datar.
"Aland?" bisik perempuan itu tak percaya.
Ya, orang itu adalah Aland. Untuk saat ini, telinga Aland terbebas dari earphone hingga suara Kathy mampu terdengar jelas di telinganya.
Namun, Aland memilih untuk tak acuh dan menarik kursi di depan Kathy kemudian duduk di sana.
Kathy terdiam. Merasa asing dengan sosok Aland yang tiba-tiba duduk di depannya, apalagi kini pria itu mulai menyantap makanannya tanpa menghiraukan keadaan Kathy.
Oh ayolah, bahkan di pertemuan pertama kali mereka, Aland dan Kathy sama sekali tidak mengobrol.
Bagaimana Kathy mengatasi kecanggungan ini? Atau mungkin hanya dirinya yang merasa canggung sebab Aland terlihat sangat santai walau tanpa membuka suaranya.
Kathy menatap Aland yang sedang makan, setelah Kathy lihat dari dekat, ternyata Aland tak kalah tampan dari William. Hanya saja, wajah Aland terlihat lebih tegas dengan rahangnya yang tajam serta mempunyai tatapan mengintimidasi, membuat siapapun menjadi segan untuk dekat dengan pria itu.
Kulit Aland juga sedikit kecoklatan dibanding William, walau masih tergolong dalam kelompok kulit putih.
"Kenapa?"
Kathy yang sedang menatap Aland sambil meminum cappucinonya kini tersedak saat netranya beradu dengan netra kelam milik Aland.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman ... ah, maksudku-" ucapan Kathy terpotong saat Aland kembali berbicara.
"Tenanglah, Kathy. Aku tidak menuduh dirimu berbuat macam-macam," tutur Aland dengan suara seraknya.
"Ah ..." Kathy kembali menutup mulutnya. Merasa malu karena kepergok menatap pria itu secara terang-terangan.
Sial.
30 menit berlalu, tanpa terasa Kathy duduk bersama Aland sudah setengah jam lamanya, dan selama itu pula diantara mereka tidak ada yang membuka suara.
Saat menyelesaikan sedotan terakhir orange juicenya, Aland menatap Kathy yang terlihat kikuk sedang mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Dia tidak akan datang," tutur Aland dengan nada datar.
Suara Aland membuat Kathy kini memfokuskan perhatiannya kepada pria itu.
"Maksudmu?"
"William."
"William ... tidak akan datang?" tanya Kathy mengulangi perkataan Aland.
Pria itu mengangguk singkat seraya mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap mulutnya.
"Darimana kau tahu?"
Aland mengendikkan bahunya tak acuh. "Sekedar tahu, saat ini William sedang sibuk bersama Alice. Dia tidak akan ingat dengan janji pertemuan kalian."
Kathy merasa tidak percaya, namun, yang berkata di depannya adalah saudara kandung William. Jelas Aland lebih mengerti tentang sikap saudaranya.
"Ah, begitu. Ya sudah, terima kasih telah memberitahuku, Aland. Kalau begitu aku pulang saja," ucap Kathy dan mulai berdiri, yang membuat Aland ikut berdiri.
Alis Kathy menyatu. "Oh, kau juga ingin pergi, ya? Kalau begitu, sampai jumpa, Aland," tuturnya menyunggingkan senyum.
"Tidak."
Senyum Kathy memudar, otaknya yang lemot membuat Kathy sulit mencerna maksud dari ucapan Aland yang selalu singkat.
"Maksu-"
"Ayo ikut bersamaku."
"Apa?" Kathy terjengit kaget.