"Wuih ... yang udah naik jabatan, dari kemarin susah dong ditemuinnya ...." Suara Hanif menghentikan langkah seorang Liana.
Di dekat pintu ruangan divisi perpajakan, Hanif ternyata sedang bersandar di dinding, dengan satu telapak tangan kirinya ada di dalam saku celananya.
Liana yang datang kepagian saat itu, membuat dia akhirnya melipir sebentar ke area divisi pajak. Area yang menjadi favoritnya semenjak bekerja di hotel tersebut. Selain banyak spot buat bersantai, para staff-staffnya pun sudah mengenal akrab Liana juga.
Liana memanfaatkan waktu paginya itu untuk cuci mata, sebelum ia bertempur dan berperang bersama alat-alat masak di dapur milik Tuan muda Arkhan.
"Bang Hanif aja kali yang sok sibuk, aku masih ada aja kok makan di pantry umum, bareng anak-anak lain," jawab Liana sambil melangkahkan kaki santai ke tempat di mana Hanif berada.
"Kapan?"
"Kemarin-kemarin dong Bang."
"Kemarin? Oh ... aku ke kantor pajak kemarin, biasa setor berkas NPWP karyawan baru," ucap Hanif menjelaskan.
"Bang,"
"Hm."
"Punya macaroni pedas nggak, Bang?" tanya Liana dengan wajah dilugu-lugukan.
"Mana ada Na. Lagian kamu, masih bandel aja juga kamu ya? Kalau sakit perut lagi kan nyusahin diri kamu sendiri," ucap Hanif sedikit gemas.
"Heleh ... bahasa Abang nih, sama kayak si Cecep markocep, nyusahin-nyusahin melulu kalau ngomong," sahut Liana sambil mengerucutkan bibirnya hingga makin mancung.
Makaroni pedas krispi adalah makanan camilan favorit Liana, selain ice cream. Kalau membuka tas kecilnya, di situ akan terlihat harta karun makaroninya itu.
Hanif pun terkekeh geli, "itu bibir minta dikuncir atau dicipok, Na?" tanya Hanif menggoda.
"Wooh! Sembarangan. Jangan mengadi-ngadi ya Bang. Kepalan tanganku ini cukup terasa pedas, kalau buat menjotos muka orang loh?" semprot Liana, sambil bergaya memelototkan kedua bola matanya.
Hanif pun semakin tertawa geli. Kehadiran Liana pagi di pagi itu, benar-benar membuat hatinya membuncah bahagia.
"Bercanda Na. Sensi amat. Kamu loh, biasa aja kalau dicandain mereka-mereka? Sama aku, kok nggak bisa? Kenapa? Hm?" tanya Hanif, sambil mengacak pucuk rambut Liana sekali.
"Bukan gitu. Abang kan terbiasa serius, tahu-tahu bilang begitu, 'kan auto kaget salto akunya. Lagian Abang itu nggak cocok ngomong m***m sama tampang Abang yang alim begitu," jelas Liana sambil manyun.
"Bahasamu Na Na. Iya ya ... nggak lagi-lagi kok," ucap Hanif sambil mengacak-acak kembali dengan gemas rambut panjang milik Liana itu.
Gadis mungil yang tak pernah menjaga image dengan siapapun itu, yang lebih suka bertingkah apa adanya. Selalu riang gembira, membuat orang-orang di sekelilingnya ikut bersuka cita. Setidaknya begitulah yang selalu dirasakan oleh Hanif.
"Iss! Berantakan Bang!" sembur Liana pada Hanif.
Sedangkan Hanif hanya menanggapi dengan kekehannya.
"Dapur kamu pindah ke sini, Lian?!!"
Suara yang sudah berhasil Liana hafal di luar kepala itu pun membuatnya sekejap membalikkan badan seratus delapan puluh derajat.
Sosok Arkhan ternyata sudah berdiri menjulang di depan Liana dan Hanif. Menatap awas dengan mata tajamnya pada Hanif, ketika elusan tangan Hanif masih bertengger di kepala cantik milik Liana.
Namun tidak dengan Liana, dengan wajah khas cengirannya itu, "eh ada Chef. Tumben pagi datangnya?"
Setelah berjalan mendekat, Arkhan pun tampak menjitak pelan kening milik Liana dengan kepalan jari kanannya.
"Cengengesan melulu kamu ini. Apa ini ciri khas kamu? Udah dibilang saya nggak suka lihatnya. Bikin sebel, tahu nggak?"
Mendengar perkataan Arkhan, seketika membuat Liana memanyunkan bibirnya yang sedikit sexy.
"Nggak usah pakai dimonyongin itu bibir. Jelek tahu!" ucap Arkhan sadis.
"Biarin. Jadi manusia kok nyinyir sekali ya, Chef? Coba kayak Bang Hanif nih, baik, alim, dan juga penyayang. Bukan kayak Chef nih, ngegas terus kayak tabung gas tiga kilo," sahut Liana tidak mau kalah.
Entah sejak kapan, antara mereka menjadi saling suka menghujat atau pun menyindir begitu. Seperti tikus kecil dan kucing anggora.
"Jangan banding-bandingkan saya dengan siapapun!" balas Arkhan kembali mode ketus-ketus lucu karena kesal.
Hanif yang mendengar perdebatan manja antara Liana dan Arkhan, hanya bisa tersenyum masam. Paginya mendadak ambyar karena kedatangan chef yang terkenal dengan wajah frezzernya itu.
Tetapi yang membuat hati Hanif bertanya-tanya, mengapa dengan Liana sosok Arkhan berubah banyak omong begini? Apakah keriangan dari karakter Liana bisa menular ke manusia es itu juga?
"Na. Abang, masuk dulu ya ... semoga harimu menyenangkan, Cantik. See you ...," pamit Hanif sambil tersenyum manis. Yang dibalas anggukan oleh Liana.
"Lap tuh ilernya. Cowok model begitu berserak di pasar sana. Nggak usah pakai terpesona begitu," ucap Arkhan sambil menyentil kening Liana lagi.
"Issh ... nggak sopan banget sih, Chef. Kepala orang ditoyor-toyor begini. Benjol juga lama-lama keningku yang dah glowing ini," sungut Liana.
Di dekat Arkhan, entah mengapa selalu bisa membuat darah tingginya naik. Padahal bersama karyawan hotel yang lain, Liana adalah cewek yang suka usil dan membanyol bahkan riang gembira.
"Halah. Kening lebar kayak lapangan aja dibanggain. Sini saya geprek pakai teflon."
"Ogah," jawab Liana sambil melangkahkan kakinya kembali ke ruang loker.
"Heh. Mau ke mana itu?" tanya Arkhan sambil mencegah, ketika langkah Liana bukan menuju ke ruangan dapur mereka.
"Loker, Chef. Kenapa? Mau ikut?"
"Nggak pakai lama. Saya tunggu di ruangan. Oh ya, udah baca jadwal menu untuk hari ini?"
"Belum. Hehehe ...."
"Saya pukul nanti tuh mulut, kalau masih suka cengengesan di depan saya," ucap Arkhan dengan nada galak, dan spontan membuat Liana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tugas kamu nanti, saya hanya perlu bilang sekali ini. Jangan cengengesan, yang serius kalau saya jelasin. Karena hari ini sudah masuk setengah dari jadwal menu dalam seminggu, sabtu sore nanti tugas kamu untuk mengatur , menyusun dan mencatat menu -menu untuk seminggu ke depannya. Nanti setor ke saya draft menunya yang sudah kamu buat itu, biar saya review. Paham!"
"Iya, Chef. Paham."
"Saya tunggu di ruangan. Hari ini ada orderan dessert seribu potong. Jangan santai-santai," ucap Arkhan sambil berlalu dari hadapan Liana.
"Dasar cabe. Main tinggal-tinggal aja," guman Liana lirih.
"Saya masih bisa dengar, Lian! Mau saya cabein itu mulut!" sambar Arkhan sambil menengokkan kepalanya kembali ke arah Liana.
"Ampun Chef," jawab Liana sambil menundukkan kepala dan punggung sedikit.
"Childish!" desis Arkhan saat melihat tingkah konyol dari seorang Liana.
***
Ruangan dapur untuk Chef Arkhan dan Liana begitu sangat lebar. Kitchen set yang serba mewah. Sesuai dengan keadaan hotel tersebut, yang sudah terkenal di kota itu dalam hal pelayanan hidangan makanannya.
"Jangan lelet."
"Ini juga udah maksimal, Chef. Chef aja yang bawel pakai banget."
"Kita bukan santai di sini, Lian. Kita juga harus berpacu dengan waktu. Jangan sampai klien sampai komplain sama kita, kalau pesanan mereka sampai terlambat."
"Baiklah Tuanku. Istri Raden Bandung Bondowoso ini, akan segera mengerjakannya dengan cepat," sambung Liana sambil membungkukkan sedikit kepalanya.
"Bandung bondowoso gundulmu. Bercanda melulu hidupmu itu."
"Eh, aku bercanda tapi tanganku bekerja loh Chef. Hidup jangan dibawa serius melulu kenapa?"
"Oh. Kamu nggak mau diajak serius?"
"Eh. Apa maksudnya nih?" potong Liana cepat sambil menghadapkan wajahnya ke arah Arkhan.
Tuk!
Arkhan kembali menyentil kening Liana memakai centong kayu.
"Mikir apa kamu? Kerja ya harus serius. Kamu di sini digaji buat bekerja, bukan ngebadut."
"Oh kirain," sahut Liana kembali mengerjakan adonan Mouse Cake, nama dessert tersebut.
"Kenapa? Udah baper?" ledek Arkhan.
"Sakit kepalaku Chef kalau makan baper. Apalagi baper buatannya Chef itu," jawab Liana balik ketus. Namun, tangannya masih sibuk membuat adonan.
"Mak___"
"Udah ya Chef. Istri Bandung Bondowoso ini mau kerja. Jangan diganggu dulu. Oke?" potong Liana cepat dengan masih mode sewot.
Arkhan pun hanya bisa menggelengkan kepala, sedikit takjub atas tingkah absurd asisten barunya itu. Tetapi, di sudut bibirnya tampak senyum yang ditahan sedikit. Dan tentu saja Liana tak melihat hal tersebut. Jika melihat, pasti dia sudah habis diledek balik oleh Liana.
'Bar-bar tapi lucu.' Batin Arkhan dengan masih sesekali memperhatikan cara kerja Liana.
"Kalau udah siap, langsung dioven, Lian. Pakai tangga sana kalau nggak sampai."
"Apa gunanya kamu, Chef, kalau masih sibuk cari tangga juga. Itu oven tingginya hampir tiga meter loh Chef."
"Terus, apa gunanya asisten kalau masih saya juga yang ngerjain ovennya?"
"Iya iya. Yang waras ngalah deh," sungut Liana sedikit sebal.
Membayangkan dia harus naik tangga khusus hanya untuk mengoven segala jenis kue-kue tersebut. Sungguh atasan yang sangat kejam. Batin Liana.
"Mulutnya!"
"Iya, ampun, Chef."
"Lanjutkan. Saya mau cek ice cream buat dessert-nya nanti."
"Hm."
***
Liana tampak memakai helmnya, karena bersiap akan pulang. Sungguh hari yang begitu melelahkan baginya. Seminggu sudah dia bekerja dan bersyukur masih waras di bawah kuasa dan perintah seorang atasan yang bernama Arkhan. Bayangan mandi dan tidur di kasur empuknya di rumah, sudah jelas terbayang di pelupuk matanya. Malam ini dia berniat menyepi tidur tenang di kamar cantiknya, demi kesehatan tubuh dan jiwanya.
"Lian!"
Liana pun menghembuskan napas lelah. Setiap mendengar sang chef memanggilnya, sudah alamat pasti ada tugas baru yang akan menyongsongnya.
Gadis yang beranjak dewasa tapi terlihat mungil itu langsung menampilkan wajah juteknya. Sebagai tanda wilayah batas nyamannya mulai terganggu.
"Apa Chef."
"Udah mau pulang?"
"Chef lihat gimana? Pakai nanya!" jawab Liana jutek.
"Hari ini kita lembur," ucap Arkhan tanpa basa-basi.
"Eh! Lembur dalam rangka apa nih? Nggak ada orderan dadakan kan?" tanya Liana mulai panik.
"Nggak ada alasan buat nolak. Ini lembur versi saya. Dan wajib."
"Bilang dulu. Lembur apa? Aku nggak mau ya dimesumin."
Tuk!
Kembali kening Liana kena sentil dari Arkhan.
"Udah saya bilang. Otaknya itu buat mikir, tapi bukan buat mikir yang aneh-aneh. Saya juga mikir berkali-kali, buat mesumin cewek rata plus datar model kamu gitu."
"Woooo! Ngajak gelud ya Chef. Udah nyuruh, pakai ngatain lagi. Nggak sopan."
"Kembalikan motor kamu ke mess. Ikut saya pakai mobil saya."
"Bukan tugas di dapur, Chef?" tanya Liana masih mode tidak ikhlas. Malam cantik buat istirahatnya, alamat gagal total.
"Bukan. Tugasnya di luar hotel. Nggak usah mikir buruk. Kamu aman sama saya."
"Pulangnya jam berapa? Aku belum kasih kabar Mama Papa loh, Chef."
Dengan cepat, Arkhan menadahkan telapak tangan kanannya ke arah Liana.
"Sini ponsel kamu, sambungkan ke nomor Papa kamu, saya yang ngomong."
Liana pun mendial nomor papanya, ketika sudah tersambung langsung ia serahkan ponselnya ke Arkhan.
Dengan santai Arkhan pun berbicara dengan papanya Liana itu.
"Iya Pak. Halo, saya, atasan Liana, Pak."
"___"
"Iya aoak. Hari ini Liana pulang ke mess hotel Pak. Ada tugas tambahan."
"___"
"Baik Pak. Besok pagi, Liana berangkat dari mess."
"___"
"Terimakasih Pak atas ijinnya. Selamat sore, Pak."
Arkhan pun segera memutuskan sambungan tersebut, setelah di ujung sana sang papa membalas salamnya.
"Nih. Kamu udah dapat kan? Mess khusus karyawan?" tanya Arkhan, sambil menyerahkan ponsel milik Liana.
"Ada. Jadi, aku benar-benar nggak bakal pulang ke rumah nih?"
"Sepertinya. Kalau acaranya lama, kamu tidur di mess saja."
"Aku belum mandi loh, Chef," ucap Liana masih mencoba menawar, karena jujur saja, tubuhnya sudah letih sangat. Acara istirahat manjanya terancam gagal total, karena ulah Arkhan sang chef.
"Ini. Saya sudah bawakan baju ganti. Pulang dulu ke mess kamu. Nanti jam setengah delapan, saya jemput. Tidak pakai telat, dan tidak pakai protes."
Setelah menyerahkan paper bag, Arkhan pun segera balik kanan meninggalkan Liana yang masih melongo bingung tak mengerti.
"Kesambet apa sih itu orang?"
Liana pun menenteng tas dan paper bag dari Arkhan itu, kemudian menyalakan motornya menuju mess khusus karyawan, yang jaraknya hanya seratus meter dari hotel tersebut. Sudah sangat jelas dalam hatinya penuh dengan kekesalan akan sikap dan kelakuan dari cowok yang menurutnya aneh itu.
Malam pun sudah menunjukkan pukul delapan malam kurang lima belas menit.
Untuk pertama kalinya, Liana duduk di mobil milik Arkhan. Sepanjang jalan hanya suara lagu-lagu yang terdengar di telinga mereka.
"Kita mau tugas ke mana sih, Chef?" tanya Liana masih penasaran. Namun, yang ditanya tidak mau menjawab dengan pasti.
"Nanti juga kamu tahu sendiri. Kamu tinggal duduk manis aja bisa, 'kan? Nggak usah banyak cerewet!" jawab Arkhan sedikit ketus dan masih fokus sama kemudinya.
"Jangan-jangan saya mau diculik ya?"
"Kamu terlalu jelek buat saya culik!" tandas ketus Arkhan si raja tega.
"Duh. Itu mulut pedas banget yak, kayak petasan banting," balas Liana keki.
Mobil Arkhan pun tampak memasuki kawasan parkir yang lumayan luas dan lebar. Banyak mobil-mobil bagus, mewah, dan bermerk yang sudah terparkir di situ. Dan berbagai macam warna serta bentuk.
Liana pun memicingkan mata, saat membaca papan nama di atas bangunan yang akan mereka singgahi tersebut.
"Nggak salah ini Chef, kita datang ke sini?" tanya Liana mulai curiga.
"Iya. Kenapa emangnya?" jawab Arkhan sambil menyeringai lebar. Menikmati wajah takut sang asistennya itu.
"Ini kan club! Wah! Chef mau jual aku yak!" seru Liana, dan sudah siap marah.
Pletaakkk!