"Aduh!" pekik Liana kaget bercampur sakit, spontan ia elus-elus keningnya berkali-kali yang sedikit memerah itu akibat jitakan dari Arkhan, yang menggunakan gantungan kunci mobil.
"Gaji saya itu lebih-lebih buat hidup saya sendiri. Nggak perlu jual-jual badan kamu yang minimalis semua itu."
"Chef! Satu kali lagi Chef pukul kening aku ini, aku gigit nanti daging Chef itu. Keterlaluan banget jitaknya, sakit tahu nggak?!!" sembur Liana semakin sewot.
"Mulut kamu itu yang sakit!" jawab Arkhan lebih ketus.
"Kok bisa?" tanya Liana sambil membuang muka ke arah lain.
"Sebelum ngomong itu, dipikir dulu. Kalau saya berniat mau jual kamu, ngapain saya belikan kamu baju seperti itu," sanggah Arkhan sambil melotot kesal. Alhasil spontan Liana pun memperhatikan tampilan pakaiannya, setelah ia mendengar ucapan Arkhan.
Saat ini Liana memakai celana jeans warna biru gelap dengan panjang sampai ke mata kaki, dan untuk atasannya ada baju tunik panjang sepaha warna hitam bergambar kepala kucing. Lumayan tertutup. Menyadari hal tersebut, Liana pun hanya bisa menampakkan senyum malu-malu dan lucu.
"Kalau saya berniat macam-macam, pakaian yang saya berikan pasti seperti yang dipakai oleh cewek itu," jelas Arkhan sambil menunjuk dengan dagu runcingnya ke arah beberapa wanita berpakaian serba terbuka, yang sedang berjalan menuju pintu masuk club.
"Jadi, bener nih, aku bakal aman di sini?" tanya Liana masih sedikit curiga, "siapa tahu kan nanti, di dalam sana, aku dikasih minuman aneh, terus tepar, terus nggak sadar diri, terus aku digrepe-grepe, teru___"
Tuk!
"Hidup kamu itu penuh halu ya? Turun sekarang!" perintah Arkhan sambil membuka pintu mobil di sebelahnya.
"Ya namanya juga dibawa ke tempat beginian. Siapa yang gak jadi mikir macam-macam," ucap Liana dengan ciri khas mendumelnya.
Liana pun segera membuka juga pintu mobil sebelah yang ia duduki.
Saat sedang merapikan baju tuniknya yang sedikit hilang kerapiannya, tahu-tahu Arkhan sudah ada di sampingnya.
Arkhan dengan tinggi lumayan menjulang. Memakai celana jeans model robek di lututnya warna hitam dan atasan kaos berwarna hitam polos juga.
"Di dalam serem nggak Chef?" tanya Liana, sambil menyamakan langkah kakinya dengan Arkhan.
Arkhan pun menolehkan sedikit wajahnya ke arah Liana, "bisa iya bisa enggak, yang penting kamu jangan jauh -jauh dari aku. Dan jangan usil, iseng, semau sendiri, apalagi cengengesan."
Sejenak Liana menghentikan langkah kakinya. Sedikit terkejut dengan bahasa Arkhan yang sedikit berbeda saat itu.
Merasa Liana tidak mengikuti langkahnya kembali, Arkhan pun ikut berhenti dan membalikkan badan, mengernyitkan dahinya, saat melihat asisten pribadinya itu berhenti dan dengan wajah melongo.
"Kenapa berhenti? Jangan mulai berulah, Lian."
"Chef, serius ber-aku aku tadi ngomongnya?" tanya Liana masih tak percaya.
Arkhan pun seketika mengusap tengkuknya sedikit grogi, dia pun baru menyadari ucapannya tadi, "ini di luar hotel dan lain jam kerja, tak masalah kalau aku rubah sapaanku ke kamu," jawab Arkhan tegas dan mencoba berkelit.
"Udah, pakai aja sapaan itu seterusnya, lebih rileks. Jadi hidupnya Chef itu nggak kebawa serius melulu."
Arkhan tampak meraih telapak tangan kiri Liana, lalu membawanya melangkah kembali.
"Kalau bicara terus, kapan nyampai ke dalamnya. Kamu itu kalau udah cerewet kayak nenek-nenek," desis Arkhan masih sambil menggenggam tangan Liana.
"Chef nggak nyadar ya kalau cerewet juga. Berarti Chef nenek-nenek juga dong?"
Tuk!
"Kebiasaan. Ngejawab melulu kalau dikasih tahu."
"Chef. Bener nih. Satu kali lagi nyentil kening aku, aku gigit beneran loh. Lihat aja nanti," sungut Liana kesal.
Sudah tidak terhitung berapa benjolan yang ada di keningnya saat ini. Liana pun tak habis pikir, mengapa Arkhan gampang sekali menjitak kening dan dahinya itu.
"Sorry ... udah nyaman sih," balas Arkhan sambil mengusap lembut kening Liana dengan santainya. Lalu kembali melangkahkan kakinya.
Namun tidak bagi Liana, sedikit hatinya seperti berdetak dengan tidak biasanya karena ulah dan perkataan dari atasannya itu.
'Please. Jangan baper sama si cabe ini.' ratapnya dalam hati, sambil mengelus-elus pelan dadanya.
Suara musik terdengar sangat berisik berdentum dan menghentak-hentak di telinga Liana. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, setelah dua puluh tahun menuju dua satu tahun, baru kali ini ia masuk ke dalam club malam, itu pun karena tipu muslihat dari Arkhan.
Bosnya itu benar-benar membuatnya pusing. Tidak di hari siang kerja, malam pun ia harus repot menemani Arkhan.
Baru dua langkah masuk ke club itu, suara nyaring dan terdengar genit merayu, sudah menghadang langkah mereka.
"Hei Beb! Kamu juga datang. Kenapa telepon aku nggak diangkat tadi sore. Padahal aku mau, kamu yang jemput aku loh," ucap wanita yang memakai pakaian setengah bahan itu, sambil bergelayut manja pada lengan kiri Arkhan.
Sedangkan telapak kanan Arkhan masih setia menggenggam jemari Liana yang mulai terasa dingin dan kaku. Mungkin Liana mulai merasa tidak nyaman dengan suasana dalam Club tersebut.
Arkhan pun tampak berusaha melepas untaian tangan manja wanita itu, "lepas! Gue gerah lo nempel-nempel begini."
Wanita setengah dewasa itu tampak mencebik kesal, "kamu berubah ya Beb. Nggak ingat yang lalu-lalu?" ucap wanita itu sambil melirik ke arah Liana, sedikit memicingkan matanya, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Eh, lo bukannya penjual kebab malam itu kan?"
Liana hanya menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum canggung.
"Wah. Selera kamu berubah ya Beb. Model beginian. Katanya gak mau. Katanya rata. Eh, diembat juga. Bisa main apa aja model beginian?" ledek wanita seronok itu sambil mencibir.
Saat melihat gelagat Liana yang ingin membalas sindiran dan omongan pedas dari wanita itu, Arkhan pun segera mengeratkan genggaman tangannya pada Liana.
"Nggak usah ngomong aneh-aneh, May!" sahut Arkhan dengan tegas dan nada dingin.
"Beb. Kamu kenapa sih, dah amnesia? Masih asyik dan bohay aku ke mana-mana loh. Dan yang pasti, aku pernah bikin kamu puas," kata wanita yang bernama Maya itu berbisik genit dan cukup dekat di telinga Arkhan.
Arkhan refleks menjauhkan wajahnya dari rayuan maut Maya. Dari tatapannya, tampak jelas ia tidak suka atas omongan dan perlakuan wanita satu malamnya itu.
"Maaf, gue nggak pernah mau main dengan perempuan yang sama, yang kemarin hanya happy fun aja. No perasaan. Ingat itu."
Setelah mengatakan hal yang jelas dan cukup bengis, Arkhan pun kembali menyeret Liana, untuk mencari tempat untuk duduk.
Sedangkan Liana masih bengong, mencoba mencerna omongan wanita kurang bahan itu dengan atasannya tersebut, barusan.
"Chef,"
"Hm."
Mereka duduk di sofa double dengan satu meja kaca di depannya.
Saat duduk pun, Arkhan tidak berusaha melepaskan genggamannya pada Liana. Ia paham, saat ini mungkin, asistennya itu sedang berusaha menahan rasa takut atau gugup. 'ck. Anak polos.' Batin Arkhan tersenyum geli.
Rasa kesalnya pun pada Maya berangsur hilang, hanya dengan melihat wajah polos milik Liana itu.
"Chef," panggil Liana sambil menyenggol lengan Arkhan.
"Apa?"
"Tadi itu, bukannya cewek yang beli kebab di kedai sahabat aku ya? Yang bonceng bertiga dengan gaya cabe-cabean bareng Chef itu?"
"Hm."
"Kok, Chef jadi dingin gitu. Padahal waktu itu, kalian lengket kaya lem alteco?" tanya dan cerca Liana masih penasaran. Padahal ia sebenarnya sedang menahan telinga yang berdengung karena suara keras musik dalam club itu.
"Sudahlah. Anak kecil tahu apa? Nggak usah mikir berat-berat. Kasian otak kecil kamu itu," jawab Arkhan ketus, sambil melambaikan tangan ke arah bartender club.
Bartender itu pun, menganggukan kepalanya, tanda paham atas kode yang diberikan oleh Arkhan.
"Chef."
"Apa? Haus? Pesan jus atau air mineral aja ya?"
"Bukan. Aku mau tanya. Kita ngapain sih duduk di sini. Kalau mau sekadar duduk, duduk di taman kota kan lebih asyik, bersih lagi. Di sini bikin pusing, dan sesak nafas. Banyak asap rokok, berisik lagi," ucap Liana agak nyaring, takut sang chef tidak bisa mendengarkan ucapannya.
"Udangan teman."
"Undangan apa?"
"Ulang tahun. Itu yang duduk di pojok sana, yang punya acara. Nanti kita ke sana kalau dah mau pulang," tunjuk Arkhan dengan dagunya memberi tahu.
"Acara ultah model apa an sih. Nggak asyik," dengus Liana mulai kesal.
"Makanya kamu diam-diam di sini sama aku. Nggak usah kambuh dulu keisengan kamu itu."
"Mana bisa iseng. Aku udah sesak nafas duluan begini."
Seorang pelayan lumayan sexy dengan pakaian seragam club, datang menghampiri mereka berdua, lalu meletakkan nampan yang berisi satu botol whiskey dan satu kaleng vodka, sedangkan di gelas yang lain ada jus melon untuk Liana, serta ada beberapa piring berisi camilan.
Saat Arkhan membuka botol berisi whiskey, datang seorang perempuan cantik dengan gaun yang indah, sepanjang sampai betisnya, tetapi tampak sobek dari belahan pahanya, rambutnya pun tergerai halus dan bergelombang, sesuai dengan wajahnya yang melankolis.
Liana pun hanya bisa mendesah keki, dunia apa ini sebenarnya. Batin Liana kesal. Acara tidur manjanya terganggu dengan acara tidak berfaedah begini. Arkhan benar-benar merusak mood dan malamnya. Bahkan, tanpa permisi telah meracuni otaknya yang masih bersih dari kebisingan club tersebut.
"Hai, Ar ... udah lama?" sapa cewek itu, lalu duduk di penyangga sofa di sebelah Arkhan, dengan lengan tangan kanannya tampak merangkul erat ke bahu Arkhan.
Dari raut wajah Arkhan, terlihat biasa-biasa saja, tidak terkesan menolak perlakuan perempuan itu. Bahkan terlihat menikmati usapan lembut di bahunya itu.
Arkhan kembali meneguk whiskey miliknya. Sedangkan Liana makin merasa tidak nyaman dengan sekelilingnya. Ia takut, jika Arkhan mabuk, bagaimana nasibnya nanti. Sedangkan sekarang pun, ia mulai dilupakan. 'dasar cabe,' dengus Liana menahan capek dan marah serta kesal.
"Baru saja Darl ... datang sama siapa kamu?" tanya Arkhan lembut.
"Sama Vriska. Aku nggak tahu kalau kamu datang. Kalau iya aku pilih nebeng kamu tadi."
"Bukannya kemarin kamu bilang nggak bisa keluar? Abang kamu kemana? Tumben nggak jadi bodygard kamu?"
"Leo, terbang ke Dubai. Sama papa. Aku malam sedang bebas Ar," jawab perempuan yang dipanggil Darl itu oleh Arkhan sangat lembut dan feminin. Jika disandingkan dengan Liana, tentu saja bagaikan langit dan bumi.
"Pulang, sama aku ya?" tawar Arkhan untuk Darl dan seketika membuat perut Liana mulas, apalagi genggaman tangan mereka pun secara tidak sadar sudah terlepas, entah sejak kapan. Alamat benar-benar dilupakan keberadaannya Liana itu.
"Kamu sendiri kan Ar?" tanya Darl ingin meyakinkan, jika malam ini pertemuan dengan Arkhan tak akan sia-sia.
Pertanyaan Darl, membuat Arkhan seolah kembali ke alam nyata. 'Lian,' desisnya terkejut.
Nama yang ia sebut, ternyata sudah tidak berada di samping Arkhan lagi.
Bahkan, Arkhan baru menyadari, genggaman tangannya pun sudah terlepas, entah sejak kapan.
"Lian!" seru Arkhan ketika melihat Liana berjalan ke arah bar tempat bartender menyiapkan segala minuman.
"Siapa Ar?"
"Sebentar Darling. Aku harus mengurus anak itu dulu."
Tanpa menunggu jawaban Darl, Arkhan pun segera melajukan langkahnya mengejar Liana.
"Mas!" seru Liana kepada bartender itu.
"Siap mba. Mau pesan apa?"
"Mas. Tolong bikinkan minuman yang alkoholnya sembilan puluh persen. Nggak pakai lama ya!" seru Liana kembali, membuat Mas bartender itu mengernyitkan dahi tampak bingung.
"Buat siapa Mba? Mas Arkhan nggak pernah order minuman seperti itu."
"Bukan buat dia. Tapi buat aku," jawab Liana gemas dan kesal.
"Nggak boleh Mba. Minuman itu nggak dianjurkan buat cewek, apalagi itu buat mba. Mana alkoholnya tinggi lagi."
"Udahlah. Bikinkan saja. Aku bayar kok. Jangan khawatir."
"Lian! Ngapain kamu kemari? Lupa sama pesan aku tadi!" seru Arkhan setelah sampai di samping Liana.
"Ih. Apaan sih. Chef ngapain juga urusin aku. Sana urusin cewek kamu ity. Aku bisa kok pulang sendiri. Tahu gini mending aku bobok cantik di rumah!" jawab Liana ketus.
Arkhan tampak mengeratkan rahangnya, tanda dia sudah marah. "Jangan ngebantah Lian!"
"Isss ... apaan sih. Jangan ngatur-ngatur aku, bisa! Sumpah ya? Aku kesal sama Chef!" bentak Liana tidak mau kalah.
Braakkkk!
Arkhan pun tampak menggebrak meja bartender itu, hingga sebagian gelas yang sudah tersusun rapi itu sedikit bergoyang. Bahkan bartender tersebut sampai ikut terkejut.
"Kamu bisa nggak sih, nurut sekali saja!"
"Gak mau!"
"Lian!"
"Apaan sih,"
"Pulang sekarang!"
Arkhan refleks menggenggam tangan Liana dengan erat, lalu menariknya dengan sedikit kasar, dan membawa Liana keluar dari dalam club itu. Arkhan bahkan lupa akan janjinya pada Darl, yang ada di pikirannya, bagaimana menyelamatkan Liana dari tingkah konyolnya itu.
Setelah membuka pintu mobil untuk Liana, Arkhan pun segera mendorong tubuh Liana ke dalam mobil itu.
Setelah itu, Arkhan segera berlari memutari mobil ke sisi pintu sebelah kemudinya.
Cara menutup pintu mobil tersebut pun, menandakan jika Arkhan sedang dalam emosi.
Mereka terlihat terdiam, tanpa ada sepatah kata lagi, cukup lama.
Membuat Liana yang terbiasa cerewet menjadi sungkan dan segan.
"Chef," panggil Liana pelan.
Tak dipungkiri, perlakuan Arkhan membuatnya sedikit takut.
Arkhan tampak mengusap pelipisnya, nafas dalam dadanya masih terlihat naik turun dengan cepat, tanda kemarahannya itu belum reda.
"Chef," ulang Liana kembali.
"Diam Lian! Aku bisa lepas kendali jika marah."
"Tapi___"
Arkhan pun spontan menghadapkan wajahnya ke arah Liana. Sedikit ia mendekatkan wajahnya sejajar dengan wajah pucat milik Liana. Bahkan hidung mereka pun hampir bersentuhan. Sangat dekat, hingga bau whiskey dari mulut Arkhan pun sangat tercium jelas di indra penciuman Liana.
"Kamu bisa kan diam sebentar. Ngomong sekali lagi, aku lumat nanti bibir cerewet kamu ini," bisik Arkhan pelan, namun sangat tegas.
Liana pun hanya bisa kembali melongo bingung. Bahkan dia sudah tidak mampu membayangkan warna wajahnya seperti apa sekarang. Dengan spontan, ia pun menjauhkan wajahnya dari hadapan Arkhan. Tentu saja jantungnya mendadak berdebar kencang. Merasakan hal yang tak biasanya.
Membuat Arkhan menyunggingkan senyum devil.
"Kalau diam begini. Kamu kelihatan manis juga, Lian."
"Eh?" Tanpa aba-aba, Liana pun segera memundurkan badannya ke belakang.
.