Pagi itu, Liana sedang duduk santai di tangga koridor yang berada di area divisi pajak. Sang pagi belum pergi, tetapi di tangannya sudah ada dua jenis ice cream, yang satu telah terbuka dan sedikit demi sedikit sudah berpindah masuk ke dalam mulutnya.
Di sekitarnya ia duduk, seperti biasa, ada Hanif dan kawan-kawannya.
"Bang Hanif, besok ganti rasa lain ya, udah bosen yang coklat dan vanila," ujar Liana masih sambil menjilati ice cream di tangan kanannya.
Liana sudah seperti tidak memperdulikan mulut dan pipinya yang belepotan karena ice cream itu.
"Beres."
"Aku ada stok macaroni pedas level setan Na. Mau?" tanya Andi menyahut kemudian.
Mata indah Liana langsung berbinar riang suka, "mau dong. Di mana? Di bawa nggak?"
"Ada. Di laci mejaku. Nanti aku antar ke loker kamu."
"Waahhh ... makasih ya. Jangan khawatir, nanti aku bikinkan cake spesial buat kalian semua."
"Wuih ... ini yang kita-kita suka. Timbal balik yang saling menguntungkan," ucap Rio menimpali.
Liana pun menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu melanjutkan acara jilat menjilat ice creamnya itu.
Dari arah belakangnya, tampak seseorang mengelus rambut Liana. Spontan Liana menengokkan kepalanya agar bisa melihat, siapakah kiranya yang sudah berani menyentuh rambutnya itu.
Dan Liana pun tiba-tiba tersedak, ingat sesuatu saat tahu siapa pelakunya.
"Hati-hati kalau makan Na," sahut Hanif sambil menepuk-nepuk punggung Liana dengan pelan, dan saat itu Hanif juga sedang duduk di sebelah kiri Liana.
"Eh, ada Chef," sapa Liana kikuk, dia teringat saat kejadian di mobil saat bersama dengan Arkhan, malam itu.
"Makan ice cream pagi-pagi begini, nggak takut sakit gigi kamu?" tanya Arkhan masih dalam posisi berdiri di belakang Liana.
Kedua belah tangan Arkhan tampak bersedekap di depan d**a. Namun matanya sibuk mengawasi pergerakkan yang telah dilakukan oleh tangan Hanif.
Liana yang bingung menjawab apa, hanya bisa menampilkan senyum dan wajah canggung dan malunya.
"Chef, getol amat ya sekarang komentarin dan buntutin si Liana?" sahut Rio sengaja menyindir.
Oleh karena, sekarang setiap mereka berkumpul dengan Liana, chef muda itu pun selalu merecoki dan mengganggu kebersamaan mereka. Jadwal kebersamaan mereka pun sudah tidak setenang dulu, sebelum Liana naik jabatan sebagai asistennya Arkhan.
"Kenapa? Apakah jadi masalah buat Liana?" tanya Arkhan dengan nada setengah tidak suka.
"Udah Rio. Masih pagi jangan cari masalah," potong Hanif tiba-tiba.
"Jangan sampai nangis nanti kamu ya, Nif. Kalau tahu-tahu Liana punya tempat lain yang lebih nyaman dari pada kamu," sanggah Rio sambil meledek ke arah Hanif. Yang hanya dibalas senyuman masam oleh Hanif.
"Berdiri Lian!" perintah Arkhan dengan gaya dan suara intimidasi.
Mendengar perintah Arkhan, Liana pun segera berdiri bersejajar dengan bos nya itu. Arkhan lalu mengambil dua buah ice yang tersisa, kemudian membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekat mereka.
"Eeehhh. Kenapa dibuang? Aku kan belum selesai itu makannya itu," sembur Liana sedikit marah, hilang sudah rasa malunya kepada Arkhan.
"Gigi kamu bisa rusak, tiap hari ngemil ice cream terus menerus," jawab Arkhan.
Kemudian Arkhan membersihkan kedua telapak tangan dan jari-jari Liana yang sudah belepotan karena tetesan ice cream, dengan tissu gulung yang ada atas wastafel cuci tangan dekat tangga itu. Tidak lupa membersihkan sisa ice cream itu di sekitar bibir dan pipi Liana.
Hilang sudah amarah Liana, mendapat perlakuan sok manisnya dari tuan Arkhan. Seketika bibirnya terkunci karena salah tingkah.
Bahkan para bodygard Liana itu pun sampai terpana, melihat perlakuan lebih Arkhan kepada asistennya itu.
"Makin kalah kamu Nif ... saingan kamu gercep banget itu ...," sela Rio menggoda teman sedivisinya itu.
"Dah lah, aku ke ruangan dulu ya. Liana, Abang pergi dulu ya," pamit Hanif sambil berdiri, dan segera melangkahkan kakinya ke ruangan kerjanya tanpa menunggu jawaban dari Liana.
Liana yang belum sempat menjawab, hanya bisa menghela napas pelan. Selalu begitu, Hanif lebih memilih pergi jika ada Arkhan berada di antara mereka.
"Kebawa perasaan bener itu bocah kayanya," kata Andi kemudian.
"Iyalah ... kurang siasat, kalah pasti sama yang hari-harinya yang lebih dekat," sambung Rio sambil ketawa jahat. Dan disambung tawa juga oleh Andi dan Wildan.
Sedangkan Arkhan tidak memperdulikan sama sekali ocehan para laki-laki yang ada di sekeliling Liana itu. Fokusnya hanya tertuju pada Liana.
"Udah. Sekarang ganti bajumu sana, seorang koki itu jangan sampai meremehkan pekerjaannya. Kalau jam segini saja kamu masih santai, gimana nasib jam makan untuk para tamu yang menginap di hotel ini?" ucap Arkhan setelah berhasil membersihkan tangan dan jari-jari serta bibir Liana.
"Iya Chef. Maaf," jawab Liana masih sedikit canggung dan tidak berani menatap ke arah teman-temannya. Pasti mereka diam-diam meledeknya.
"Saya tunggu kamu di ruangan. Nggak pakai lama." Dan seperti biasa, setelah memberi petuah pada asistennya, Arkhan pun berlalu pergi tanpa menengok kembali.
"Betah kamu Na, kerja sama yang model begituan? Diktator amat yak?" tanya Andi setelah Arkhan menghilang dari pandangan mata mereka.
"Ya dibetah-betahin Bang, kan aku kerja untuk digaji," jawab Liana santai. "Udah ya, aku kerja dulu, kalian juga Bang, waktunya kerja. Jangan korupsi waktu," ucap Liana setengah bercanda, setelah itu Liana pun ikut berlalu juga dari hadapan para cowok-cowok tersebut.
"Lucu banget sih tuh bocah," kata Andi sambil geleng-geleng kepala.
"Lucu, tapi kelewat polos Ndi. Sampai orang kasih signal ke dia, dianya nggak ngaruh gitu. Kasian nasib hati Hanif ...," sahut Rio terkikik membalas omongan Andi sekaligus mencibir sahabatnya, si Hanif, yang kalah gentle untuk Liana.
***
"Jangan main kira-kira Lian. Ditimbang dulu bahan-bahannya kalau nggak hafal." Suara Arkhan mengingatkan Liana yang saat itu sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan, Banana Flambe.
"Beres, Chef," jawab Liana masih fokus dengan pekerjaannya.
"Kalau udah, antar ke meja saya. Saya mau ke pak Edi dulu," perintah Arkhan sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, ngapain ke Chef Edi?"
"Kepo."
"Wahhh, ada yang kangen nih. Sampai dibela-belain datang ke dapur sebelah." Goda Liana sambil masih fokus ke arah teflon khusus kue.
"Mulutnya. Mau saya grepek pakai telenan sampai habis lagi!" ancam Arkhan sambil memelototi, tetapi malah terlihat lucu di mata Liana. "Jangan selengean kamu. Nggak sopan. Mentang-mentang saya bermurah hati sama kamu, kamu seenaknya begitu."
"Iya ya. Cowok kok nggak bisa diajak bercanda. Dasar cabe," sungut Liana ikut gemas.
"Kerjakan tugas kamu. Dan harus sesuai dengan ekspetasi saya. Itu makanan salah satu yang akan dipajang di pagelaran acara besok. Simple memang cara membuatnya, tapi, kalau kamu nggak bener-bener sama takarannya bisa ancur cita rasanya."
"Iya Chef."
Sekitar lima hingga tujuh menit berkutat akan tugasnya, Liana sudah berhasil menyajikan satu piring Banana Flambe, di meja milik Arkhan. Bahkan kitchen set pun sudah kembali bersih, karena sudah dibersihkan oleh Liana sambil menunggu Arkhan yang sedikit lama tapi belum balik juga ke dapur mereka lagi.
"Udah selesai?"
Saat Liana masih asyik mengelap pinggiran piring dengan tissu, suara Arkhan tahu-tahu sudah berada tepat di belakangnya.
"Eh, Chef, sesuai dengan perintah yang mulia. Makanan telah siap," jawab Liana sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Tuk!
"Cengengesan terus kerjaan kamu."
"Maaf Tuan."
"Minggir sana. Saya cicipin dulu karya kamu ini," usir Arkhan agak garang.
Kemudian ia meneliti dan memutar-mutar piring berisi Banana Flambe itu. "Dilihat dari tampilannya kurang menggoda ini, orang mau makan pertama kali yang dilihat bentuk dan rupanya. Jadi, selain tentang rasa, cara penyajiannya pun kamu juga harus tahu dan paham. Pelajari lagi ilmu plating-nya. Untuk ini kamu jangan berdebat."
"Iya Chef. Silahkan dicicipi dulu, nanti dilanjutkan lagi ceramahnya," jawab Liana masih dengan sok formalnya.
Padahal dalam hatinya sudah kesal. Bagi Liana model dan tampilan makanan buatannya itu sudah sangat menarik bagi dia. Namun tidak bagi Arkhan.
Setelah satu kunyahan, tampak sejenak Arkhan menundukkan tubuhnya sambil menumpukan ke-dua tangannya di sisi pinggiran mejanya, sambil memejamkan mata, seakan berusaha menikmati hasil karya asistennya itu.
"Sudah sesuai resep kamu bikinnya?"
"Sudah Chef."
"Sudah ditakar sesuai yang ada di resepnya?"
"Iya Chef."
"Yakin kamu?"
"Yakin?"
"Benar?"
"Iya Chef," jawab Liana agak lirih.
Karena sebenarnya ia saat membuatnya hanya memakai ilmu kira-kira. Terlalu ribet baginya kalau harus menakar takar dulu apalagi memakai timbangan mini.
Brakkk!
"Mau bohongin saya, kamu. Lidah saya ini paham rasa. Ini kebanyakan soda. Tahu kamu. Cicipi dulu masakan kamu, sebelum dihidangkan ke orang lain!" sembur Arkhan sedikit marah, lalu membanting sendok ke piringnya kembali. "Ini bukan tentang murah atau mahalnya bahan makanan, tapi, tentang gimana cara kita mengeksekusi bahan makanan itu. Begini juga kamu nggak ngerti-ngerti."
"Iya Chef. Maaf."
"Kamu terlalu menganggap semuanya remeh. Omongan saya jarang kamu anggap."
"Maaf Chef."
"Udahlah. Kamu kalau nggak ngeyel dulu, emang nggak lega mungkin. Awas, kalau besok kamu sembrono lagi. Jangan suka menganggap remeh apapun."
Liana hanya bisa menganggukkan kepala, melihat bosnya mulai yang meradang itu.
"Kamu ke pak Edi aja sana dulu. Bantuin beliau bikin sambal. Jangan balik kalau belum saya suruh balik."
"Iya."
Karena merasa bersalah, Liana pun segera berbalik badan menuju dapur koki senior bagian penyajian makanan untuk semua staff hotel tersebut. Dalam hati Liana heran, bisa-bisanya bosnya itu punya dua kepribadian. Pagi baik lembut, siang sudah balik kembali menjadi macan.
Arkhan menghembuskan napas lelah. Hari-harinya berubah seratus delapan puluh derajat setelah ia menunjuk Liana menjadi asisten pribadinya.
Tak mungkin juga Arkhan mengganti asistennya kembali. Karena walau tampak iseng begitu, Liana adalah tipe pegawai yang disiplin, cekatan, dan bisa cepat mengerti apa yang dimaksudkan oleh bosnya walau terkadang juga masih seenaknya sendiri. Hanya saja kelakuan absurd nya itu yang kadang berhasil membuat Arkhan meletupkan emosinya.
***
"Badan kecil, makannya banyak." Goda Hanif sambil mengacak-acak rambut Liana.
Siang itu mereka kembali makan siang bersama, tidak ketinggalan ada Rio, Andi, dan Wildan.
"Menghadapi bos model chef muka frezzer itu, sangat dibutuhkan asupan gizi yang maksimal dan seimbang," cetus Liana sambil meletakkan piring makannya di meja yang di tempati oleh Hanif CS. "Eh Bang. Jagain piring aku ya. Minumanku ketinggalan!" seru Liana yang sudah kabur ke arah meja khusus berbagai minuman.
"Ada-ada aja kelakuan princess kamu itu Nif," ujar Rio menggoda Hanif. Yang digoda pun hanya tersenyum simpul.
Ketika Liana sudah kembali dan akan duduk di kursi di sebelah Hanif sesaat setelah mengambil segelas es jeruk, seseorang sudah merampas piringnya.
"Eh!" ucapan Liana spontan berhenti, ketika tahu siapa yang merebut piring makan siangnya itu. "Itu makanan aku chef."
"Terus?" tanya Arkhan santai, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, bahkan ia pun telah menggeser tempat duduk Liana.
"Chef kan bisa ambil sendiri. Aku lapar loh Chef. Nggak sopan banget sih," sungut Liana makin kesal. Yang disungutin bahkan tidak menganggap ocehannya Liana.
Padahal saat di dapur mereka tadi, terakhir Arkhan masih seperti singa lapar yang siap menelannya hanya karena masalah soda. Berbanding terbalik dengan tingkahnya saat ini. "Lagian bukannya Chef masih marah sama aku?" tanya Liana sambil memicingkan mata.
"Siapa yang marah? Hoax itu."
"Dasar cabe. Nyebelin."
"Daripada ngomel, mending kamu ambil makan lagi sana. Waktu istirahat sebentar lagi habis."
Liana pun dengan kesal menghentakkan kakinya, lalu tanpa ba bi bu ia pun berbalik berlalu untuk mengambil makanan jatahnya kembali.
"Kamu suka banget ya recokkin Liana, Chef?" tegur Hanif dengan suara pelan.
"Masalah buat kamu?"
"Nggak enak aja dilihat. Pamor seorang Arkhan berubah seratus persen kalau udah di dekat Liana," cibir Hanif sambil menyuapkan makanan yang ada di piringnya.
Jujur saja, Hanif sudah lama kesal maksimal, kesempatannya bersama Liana sering dirusak oleh Arkhan. Arkhan hadir bagaikan tembok untuknya dan Liana.
"Itu masalah orang yang melihat. Gue nggak ada urusan meladeninya," balas Arkhan masih dengan santainya, bahkan makanan yang ia suap sudah habis setengahnya.
"Kamu sengaja, merecoki kami?"
"Lo merasa?"
"Tingkah kamu kelihatan."
"Dan gue nggak ada urusan buat mendengar ocehan lo itu," ucap Arkhan, lalu meminum minuman yang di bawa oleh Liana tadi. "Kalau lo suka Lian, berjuang. Jangan cemburu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Apalagi cemburu lo sama gue, lo salah alamat. Ingat, Lian itu bukan milik lo aja," sambung Arkhan sambil mengelap bibirnya dengan tissu.
Saat berdiri, dan membalikkan badan, sosok Liana pun terlihat berjalan ke arah mereka dengan wajah ditekuk masam.
Dan Arkhan pun segera menghampirinya. Lalu menarik paksa lengan kanan Liana, sedangkan tangan kanannya beralih membawa piring makanan milik Liana.
"Apa sih Chef. Aku mau makan, main tarik aja," ucap Liana sewot, tetapi tetap mengikuti langkah kaki Arkhan juga.
"Makan di ruangan saya saja. Bentar lagi jam istirahat udah kelar."
"Ngaco kamu nih Chef. Masih juga satu jam lagi istirahatnya."
"Jam kerja kamu itu ikutin jam saya. Nggak usah pakai ngeyel."
"Aneh," ucap Liana sambil meracau. Padahal dia masih ingin mengobrol lebih lama dengan anggota gank nya.
Sejenak Liana pun menengokkan kepalanya ke arah Hanif dan yang lainnya, sebelum keluar dari ruangan pantry umum itu.
Di sana, Hanif hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, lalu ikut menganggukkan kepalanya. Mencoba mengerti akan tingkah laku Arkhan pada Liana itu.
Belum juga membalas senyum untuk Hanif, suara Arkhan sudah menghalanginya. "Nggak usah tebar pesona. Jelek tahu."
"Apaan sih Chef. Rese banget sih."
"Kabanyakan tebar pesona bisa bikin kamu menghalu, nggak baik buat makanan yang akan kamu buat nantinya."
"Aneh. Kok bisa," ucap Liana sambil mengerutkan keningnya.
"Bisalah! Terkontaminasi sama kegenitan kamu itu!" jawab Arkhan dengan ketus.
Dan untuk kali ini, Liana pun tidak berhasil mencerna dan mengartikan omongan bos absurd nya itu. Ada apa dengan bosnya tersebut?
.
Bersambung...
Jangan lupa tap love para pembaca setia.
Akan up rutin tiap hari...