Tujuh bulan pun telah berlalu, di mana Liana masih bekerja di bawah pengawasan Chef Arkhan. Seperti awal-awal mereka mengenal dan bekerja sebagai partner kerja, insiden perang kecil atau pun besar sudah terbiasa terjadi. Bahkan, rekan-rekan kerja yang lain sudah hafal dengan kelakuan dan tabiat mereka berdua. Namun, tidak jarang juga mereka bisa akur damai layaknya teman atau pun sahabat.
Mereka berdua pun seperti bisa paham akan kebiasaan atau hobby masing-masing. Arkhan yang paham akan kecerewetan dan keras kepalanya Liana, tetapi gesit dan disiplin serta tanggung jawab dalam bekerja. Sedangkan Liana sendiri pun sudah mulai paham akan kelakuan atasannya itu di luar jam kerja. Kebiasaannya yang berpacaran dengan banyak perempuan atau pun mabuk minuman keras dan main ke club langganannya. Seperti biasanya, Liana selalu mendapat tugas agar ia mau menemani bosnya itu. Dan untungnya hanya untuk menemani tanpa diajak macam-macam.
Seperti pagi itu, mereka sedang ada dinas atau pekerjaan di luar hotel. Pihak hotel mengirim mereka berdua ke hotel yang ada di luar pulau, sebagai perwakilan untuk pertukaran resep, tepatnya di pulau Bali.
Setelah sampai di resepsionis hotel, Arkhan pun segera memesan kamar. Sedangkan Liana tampak patuh mengikutinya dari belakang. Setelah mendapatkan cardlock dari salah satu resepsionis tersebut, Arkhan pun segera kembali menarik koper miliknya, lalu melangkahkan kakinya.
"Jalan."
"Ke mana?" tanya Liana dengan wajah polosnya.
Membuat Arkhan berdecak gemas. " Ke kamar lah Lian. Kita taruh dulu kopernya di sana. Baru kita menemui Chef Rengga. Untuk mendiskusikan tentang acara besok."
"Okey, kalau gitu cardlock buat kamar aku mana, Chef?" tanya Liana sambil menadahkan telapak tangan kanannya ke arah Arkhan.
"Kata siapa, kita kamar masing-masing?" tanya Arkhan balik.
"Loh. Kita kan berdua, Chef. Kamarnya mesti dua juga dong."
"Satu saja. Ngirit pengeluaran."
"Nggak mau! Enak saja. Masa namanya aja tugas antar pulau, kok sewa kamar cuma satu doang," oceh Liana kekeh menolak.
"Jangan mikir macam-macam deh, Lian. Saya juga nggak bakal nafsu sama tubuh kecil mungil kamu itu."
"Ini bukan masalah nafsu nggak nafsunya. Ini tentang prinsip, Chef. Kalau udah jadi satu kamar biar badan aku terlihat b***k begini, tetap aja Chef bakal kalah sama bisikannya setan."
"Jangan lebay deh, Lian. Acara kita padat di sini. Kamar hotel juga buat numpang mandi doang."
"Bodo amat."
"Lian." Yang dipanggil hanya menggelengkan kepala dengan tegas.
"Bodo."
"Jangan kekanakan, Lian!" seru Arkhan berusaha menekan volume suaranya.
Terlihat sekali ketiga resepsionis di belakang mereka itu tampak berbisik-bisik, mungkin sedang menggosipkan perdebatan antara Liana dan Arkhan.
"Bodo. Aku lebih milih tidur di lobi hotel, daripada satu kamar sama Chef."
"Lian!"
"Bodo. Aku gak dengar."
Dan Liana pun tidak main-main dengan ancamannya. Ia pun segera menarik koper mungilnya ke arah sofa tamu yang ada di lobi hotel tersebut. Menyandarkankan tubuhnya di sandaran sofa dengan posisi kaki menjuntai ke lantai. Kemudian dengan santai memejamkan kedua kelopak matanya.
Arkhan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah laku anak buahnya itu. Padahal dirinya merasa sudah sangat keras kepala. Namun ternyata, masih ada yang lebih keras kepala lagi prinsipnya dibandingkan dirinya.
Akhirnya, mau tidak mau Arkhan pun berbalik menuju meja resepsionis yang ada di belakangnya.
"Maaf, Mba. Saya pesan satu kamar lagi. Kalau bisa yang bersebelahan dengan kamar yang baru saja saya pesan tadi ya Mba."
"Baik Tuan. Kebetulan samping kanan kamar Tuan masih free," jawab salah satu resepsionis yang bername-tag Irma itu. "Bisa saya lihat kartu tanda pengenalnya, Pak?" sambung resepsionis Irma bertanya.
"Atas nama saya saja, Mba."
Setelah membayar dan menerima cardlock satu lagi, Arkhan pun segera berbalik, dan berlalu menuju di mana Liana sedang setengah merebahkan tubuhnya itu di sofa lobi hotel. Tampak Liana seperti sedang tertidur.
"Nih." Arkhan tampak melempar cardlock tepat di wajahnya Liana. Membuat Liana sempat tergagap kaget.
"Gak sopan," ucap Liana setelah terkejutnya hilang.
"Jangan banyak omong. Cepat bangun. Malu-maluin aja tingkah kamu lama-lama."
"Kalau malu-maluin, ngapain enggak bawa asisten lainnya," sungut Liana sambil berdiri lalu berjalan duluan ke arah pintu lift.
"Kopernya, Lian."
"Bawakan lah sekalian. Siapa suruh tadi mengganggu mood aku."
Kembali Arkhan hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi. Namun, tetap saja meraih koper mini milik asistennya itu, lalu menyusul langkahnya Liana.
"Makin hari makin songong ya kamu," desis Arkhan setelah berdiri di samping Liana, sambil menunggu pintu lift itu terbuka.
"Dari awal kan aku gak mau ikut acara ini. Chef aja yang maksain," sanggah Liana sambil fokus ke layar ponselnya.
"Kalau kamu gak ikut saya, mau ngapain kamu sendirian di hotel sana?" tanya Arkhan sambil memandang ke wajah asisten kecilnya itu.
"Ngapain aja lah. Bisa bantu koki lain. Atau paling tidak jagain dapur hotel."
"Dapur juga gak bakal kabur, tanpa kamu jagain."
"Aku malasnya ikut acara ini, karena harus aku juga yang mikir menu buat pertukarannya nanti. Apa gunanya ada Chef?"
"Mana ada begitu. Kamu. ngerjain tugas sesuai tugas kamu juga. Saya sudah ada job sendiri."
"Ya sama aja," bantah Liana.
"Gimana sama sih Lian. Kamu cuma diminta menyajikan dua menu aja loh,"
"Ya kan, Chef bisa bawa anak buah lain. Yang kata Chef lebih jago."
Liana pun melangkahkan kaki masuk ke dalam lift yang sudah terbuka itu, dan tampak dua orang keluar dari dalamnya. Setelah itu, baru Arkhan pun ikut masuk ke dalam lift tersebut. Kemudian ia menempelkan cardlock pada layar sensor, dan seketika pintu lift pun menutup.
"Kamu asisten saya. Ya wajar kalau kamu yang saya ajukan untuk menemani saya di acara besok."
"Ya udah sih. Jangan banyak protes kalau gitu."
"Siapa yang protes?" tanya Arkhan sambil mengerutkan keningnya.
"Chef lah, siapa lagi?" tanya balik Liana.
"Dah lah, gak usah dibahas lagi. Susah emang bicara sama kamu itu," ucap Arkhan dengan helaan napas.
"Ya udah. Daritadi juga aku udah diem. Chef aja yang banyak omong."
"Setelah ini, saya kasih waktu kamu buat istirahat satu jam. Nanti sekalian jam makan siang kita baru ketemu dengan Chef Rengga nya."
"Nah, gitu kok mau sekamar. Satu jam itu lama."
"Karena kita beda kamar, makanya jadwal kita, saya rubah. Harusnya sehabis menaruh koper kita keluar lagi," sanggah Arkhan tidak mau kalah.
"Gak capek apa, Chef. Kita baru turun loh dari pesawat. Langsung sewa kamar hotel. Masa iya langsung nugas lagi," komentar Liana sambil melangkahkan kaki karena pada saat itu pintu lift terbuka, tanda mereka telah sampai di lantai yang dituju.
Arkhan yang masih membawa koper milik asistennya itu pun hanya bisa menghela napas pasrah lagi.
"Lian."
"Apa?"
Arkhan pun menyerahkan koper Liana ke hadapan asistennya itu, ketika mereka sudah berjalan di lorong kamar-kamar hotel tersebut.
"Bawa sendiri koper kamu," ucap Arkhan. Setelah itu ia pun segera berlalu menuju pintu kamar hotel yang ia pesan. Lalu membukanya dengan menggunakan cardlock miliknya.
"Ingat pesan saya yang tadi. Kalau kamu ketiduran saya tinggal," sambungnya sebelum menutup pintu kamarnya.
"Dasar gak jelas. Harusnya aku yang ngomong begitu. Bukannya selama ini semua urusannya aku juga yang ngurus," gerutu Liana sambil menyeret koper miliknya, lalu bergegas menuju pintu kamar hotel yang telah dipesankan untuknya itu.
Ketika akan melangkahkan kaki untuk masuk, "Lian!"
"Astaga. Bisa gak sih Chef kalau enggak kagetin!" seru Liana sambil berkali-kali mengelus dadanya.
"Saya lupa bawa sabun mandi cair. Saya cari di koper gak ada,"
"Terus?"
"Kamu ke bawah lagi. Ke minimarket hotel ini. Belikan sabun buat saya," perintah Arkhan sambil menyerahkan satu lembaran uang pecahan ratusan ke arah Liana.
"Chef, tidak mungkin di hotel sebesar ini gak ada persediaan sabun, sandal dan sebagainya di kamar yang siap buat menginap." Liana pun dengan gemas menjawab perintah Arkhan tersebut.
"Terus, kenapa masalahnya kalau saya minta carikan lagi? Kamu juga tahu 'kan, saya tidak. bisa memakai sabun yang bukan sabun saya sendiri."
"Astaga. Buat sehari dua hari aja loh Chef. Paksa pakai aja kenapa? Manja amat itu badan!" seru Liana sambil mengepalkan salah satu telapak tangannya.
"Saya bukan minta bantahan kamu, Lian. Cepat turun, dan carikan. Harus sama dengan sabun yang biasa saya pakai," perintah Arkhan bernada santai tapi dengan wajah yang kaku.
"Sekarang?" tanya Liana dengan tampang wajah yang mendekati dongkol.
"Ya sekarang lah. Masa tahun depan!" jawab Arkhan kembali ketus.
Liana pun membanting kopernya. "Kok gak sekalian di bawah tadi sih, Chef? Ini loh kita juga udah di lantai lima. Sengaja 'kan mau ngerjain aku?"
"Terus masalahnya apa, kalau baru saya kasih perintah sekarang? Kamu juga enggak harus turun ke bawah lewat tangga darurat kan?" tanya Arkhan dengan wajan songongnya.
"Tap___"
"Gak usah banyak komentar. Cepat ke bawah. Saya mau mandi,"
"Biar aku masuk sebentar Chef. Aku ingin rebahan sejenak," tawar Liana dengan wajah dimelas-melasin.
"Saya butuhnya sekarang. Badan saya juga udah gerah, gatal, dan lengket."
"Dasar penjajah," ucap Liana kembali kesal, sambil merampas uang yang diulurkan oleh atasannya itu.
"Oh ya. Gak pakai lama. Saya gak butuh alasan leletnya kamu."
"Ada lagi?" tanya Liana masih sambil menahan kekesalannya.
"Gak usah genit di bawah sana." Setelah itu Arkhan pun berbalik dan kembali masuk ke kamar kamar hotelnya. Meninggalkan Liana yang sudah berwajah merah padam karena terlalu kesal.
"Semprul!" maki Liana dengan menendang angin.
.
Bersambung...
Mari ramaikan lapak ini ya...