Waktu berganti ke hari berikutnya dan menjadi pagi kembali. Arkhan dan Liana sudah tiba di hotel Panca Mulia, di mana acara pertukaran resep dan presentasi antar para chef diadakan.
Mereka berkumpul di aula dapur raksasa. Dan tentu saja, seperti dapur hotel pada umumnya. Peralatan kitchen-set yang terlihat mewah dan elegan terpampang indah di depan mata mereka. Karena bagi seorang chef, kitchen set adalah harta terindah mereka.
Ada enam chef termasuk Arkhan yang ikut hadir di acara tersebut, sesuai dengan undangan dari hotel penyelenggara. Sedangkan setiap chef yang diundang, diwajibkan membawa satu asistennya masing-masing. Seperti Arkhan yang telah membawa Liana.
Dan kebetulan sekali saat itu, Arkhan dipasangkan dengan salah satu chef senior dari hotel penyelenggara tersebut. Chef Rengga namanya.
Enam chef beserta para asistennya itu, mereka mencoba membuat Fusion Food (makanan fusion), yaitu masakan campuran yang menyatukan dua atau lebih dari budaya dan kultur yang berbeda, sehingga dapat menyajikan reka baru pada suatu makanan agar bisa lebih menarik dari sebelumnya. Dan biasanya masakan atau makanan ini sering ditemui di perkotaan dan juga multibudaya.
Selain fusion food, para chef tersebut juga diwajibkan menyajikan masakan khas dari daerah masing-masing.
Karena Arkhan dan Liana datang dari daerah Surabaya, mereka pun membawakan resep khas daerah mereka juga. Seperti rawon, rujak cingur, lontong balap, soto lamongan, tahu tek, dan nasi krawu. Dan semua masakan yang disebutkan itu, adalah masakan yanh akan dimasak oleh Arkhan.
Sedangkan Chef Rengga, menyajikan resep makanan khas Bali, berupa, sate lilit, ayam betutu, nasi jinggo, dan bebek timbungan.
Mereka berdua, Arkhan dan Rengga di meja kitchen-set yang sama dan saling bertukar dan mengajari semua resep yang sudah ditentukan.
Kemudian mereka juga membuat menu lokal dengan resep baru tanpa meninggalkan inti dari resep itu sendiri.
"Lian," panggil Arkhan pada asistennya itu yang sedang ikut berdiri di sampingnya.
"Iya, Chef."
"Untuk salah satu makanan fusionnya, bisa kamu kerjakan sekarang. Saya akan menyelesaikan masakan utamanya dulu bersama Chef Rengga."
"Fusion food yang mana dulu, Chef?" tanya Liana, sambil berjalan ke arah meja kitchen lainnya.
"Buat dulu yang Bake Jacket Potatoes," saran Arkhan.
"Baik Chef."
"Ingat. Jangan asal takar dan asal memasukkan bahan," ucap Arkhan lebih normal suaranya dari pada biasanya.
"Siap Chef."
"Chef Arkhan," panggil Rengga pada rekan duetnya itu.
"Iya Chef?"
"Lebih baik, asisten saya juga ikut membantu Nona Liana. Setelah itu, giliran Nona Liana bisa membantu pekerjaan asisten saya. Jadi mereka bisa bertukar resep juga nantinya."
"Saya rasa, begitu juga bagus. Kemarin belum terpikirkan oleh kita," sambut Arkhan dengan intonasi ramah.
"Dengar Lian?" tanya Arkhan menyambungkan.
"Iya Chef."
"Mulai kerjakan."
Dengan keahlian yang sudah ia miliki, Liana pun dengan gesit meraih beberapa buah kentang pilihan lalu ia taruh di dalam baskom stainless. Lalu membawa kentang tersebut ke wastafel kitchen tersebut, untuk dicuci bersih dengan menggunakan sikat khusus dan air mengalir dari kran.
"Chef, kentangnya langsung bisa dipotong saja kan?"
"Sudah benar bersih?"
"Sudah."
"Lebih baik kamu siapkan dulu semua bahannya. Kalau kamu potong sekarang, kentang itu akan terlihat menghitam. Tidak bagus di penyajian nantinya,"
"Oh. Baiklah Chef."
"Teruskan. Seperti yang pernah saya ajarkan," ucap Arkhan, lalu kembali ke stand kitchennya.
"Baik Chef."
Langkah pertama, tampak Liana menarik alumunium foil. Kemudian membentuk alumunium foil tersebut menjadi seperti mangkuk cekung dengan rapi. Kemudian mengulang kembali, hingga menjadi enam buah mangkuk alumunium foil.
"Mba Ketut," panggil Liana setelah melihat ke arah name-tag asisten chef Rengga.
"Ya, Mba Lia."
"Bisa bantu buat campuran toppingnya?"
"Maksudnya saya yang masaknya, Mba?" tanya Ketut balik.
"Nanti saya pandu. Biar kita sama-sama belajar," ucap Liana sambil menyerahkan selembar resep ke hadapan Ketut yang ia ambil dari saku apronnya. "Bisa sambil dibaca dulu, Mba. Ini resep dan takarannya," sambung Liana. Dan dibalas anggukkan kecil oleh Ketut.
"Mba Lia baru juga bikin makanan ini?" tanya Ketut lagi setelah selesai membaca resep tersebut, sambil meraih panci kitchen well bersih, lalu meletakkannya di atas kompor freestanding. Di mana kompor tersebut sudah dilengkapi oven di bawahnya.
"Enggak. Sudah sering juga bikin jenis masakan ini, kalau di hotel tempatku kerja sana,"
"Kalau gitu, Mba Lia aja yang memasaknya. Saya bantu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan."
"Okey," sahut Liana menyetujui.
Mereka berdua pun tampak kompak, "tolong ambilkan brokoli. Sekalian bersihkan dan rebus ya, Mba," sambung Liana memberi perintah.
"Baik."
Di saat Ketut menyiapkan bahan yang dimintanya, Liana pun tidak tinggal diam. Ia pun berlari ke stand market mini, untuk mengambil bahan-bahan tambahan. Seperti mentega, s**u UHT, kornet beef, tepung terigu. Tidak lupa Liana pun mengambil keju mozarella dan bubuk oregano. Ketika sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Liana pun segera kembali ke kitchen setnya.
Setelah itu, Liana mengambil enam buah kentang yang sudah dibersihkan sebelumnya, lalu memotongnya masing-masing enam umbi itu menjadi empat bagian. Kemudian menyusun setiap potongan tersebut di mangkuk alumunium foil.
Liana menyalakan kompor freestanding itu yang di mana, sudah ada panci kitchen well di atasnya.
Ketika sudah dirasa panas sedang, Liana memasukkan mentega ke dalam panci tersebut sesuai takaran. Lalu ia masukkan juga kornet/beef, dan garam, sesuai takaran resep juga, sambil terus menumisnya. Kemudian menyusul ia masukkan pula s**u UHT, tepung terigu setengah sendok makan, lalu kembali ia aduk tumis lagi.
"Brokoli sudah siap, Mba Ketut?" tanya Liana.
"Sudah Mba. Sudah saya tiriskan sekalian juga."
Setelah melirik sebentar ke arah rebusan brokoli, dan dirasa cukup volumenya, Liana pun memerintahkan Ketut untuk memasukkan juga brokoli itu ke dalam tumisannya.
"Semua ya, Mba?"
"Iya, Mba."
Liana terus mengaduknya hingga matang.
Ketika sudah dirasa cukup matang, Liana mengambil sendok khusus yang ada di kitchen itu, lalu menyendokkan sedikit kuah yang baru saja ia buat.
Liana menganggukkan kepala puas, saat masakan yang ia buat sudah terasa pas bumbunya. Segera ia mematikan api kompor tersebut.
Kemudian menyiramkan tumisan yang baru saja ia masak tadi di atas potongan-potongan kentang yang sudah tersusun rapi di dalam mangkuk alumunium foil. Langkah tearkhir Liana menambahkan keju mozarella dan bubuk oregano di atas kentang itu juga.
"Sudah siap. Tolong panggang di suhu tigapuluh derajat celcius, ya Mba," ucap Liana memberi perintah pada Ketut.
"Siap Mba Lia." Ketut pun segera mengangkat hasil karya Liana itu lalu memasukkannya ke dalam oven yang ada di bawah kompor freestanding tersebut.
"Berapa lama Mba Lia?"
"Tujuh sampai sepuluh menit dengan tingkat suhu yang saya sebutkan tadi."
"Baiklah." Dengan patuh Ketut melakukan apa yang dikatakan oleh Liana.
Sedangkan Liana tampak membersihkan area kitchen set dan panci well yang telah ia gunakan itu.
Saat fokus mengelap meja kitchen, suara Arkhan menyapanya dari belakang.
"Sudah selesai, Lian?" tanyanya dengan suara pelan. Membuat Liana terjengkit kaget.
"Selalu. Bikin kaget," sembur Liana bersiap untuk mendumel kesal.
"Heh, jaga image kamu. Ini di wilayah orang lain."
"Ahli pura-pura Chef nih."
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Arkhan sambil memandang ke arah wajah Liana yang saat itu menyanggul rambutnya dan menutupnya dengan topi koki. Terlihat lebih imut di mata Arkhan, apalagi dengan poni rambut yang Liana biarkan jatuh di keningnya.
"Tanpa ditanya kan bisa Chef lihat sendiri," sahut Liana jutek, lalu kembali melanjutkan acara bersih-bersihnya.
"Gak sopan. Ditanya baik-baik, jawabnya kayak nini pelet gitu."
"Udah. Udah kelar sesuai perintah Chef."
"Udah matang?"
"Tuh, lagi ditunggui sama Mba Ketut," sahut Liana sambil menunjuk menggunakan dagunya.
"Kalau udah siap semua, nanti hidangkan fusion foodnya di meja utama."
"Siap."
"Capek?" tanya Arkhan seolah-olah memberikan perhatian.
"Iya."
"Saya lebih capek. Kamu cuma masak satu menu, itu pun sangat simpel. Beda dengan saya. Masak beberapa macam menu utama," ucap Arkhan sedikit mencemooh. Membuat Liana kembali ingin melepaskan tanduk kekesalannya.
"Terus? Apa hubungannya sama aku, Chef?" tanya Liana gemas.
"Gak ada. Cuma ingin tahu saja. Asisten pilihan saya cemen atau enggak," sahut Arkhan cuek.
"Dasar sumpret. Aku udah biasa ya ditindas sama Chef. Ini mah kecil," tantang Liana sedikit ngegas.
"Udah, selesaikan tugas kamu."
"Hm."
"Dengar Lian," ucap Arkhan mengulang.
"Iya Chef. Bawel amat sih."
"Satu lagi. Jangan genit sama Chef-chef lain. Saya ngawasin kamu terus,"
"Semprul. Emang aku cewek apaan?"
"Nanti istirahat makan siang sama saya," ucap Arkhan mengalihkan pembicaraan.
"Aku juga ingin jalan sendiri lah, Chef. Masa iya suruh buntutin Chef terus?" bantah Liana semakin dongkol.
"Gak usah bantah. Ucapan saya adalah kewajiban buat kamu."
"Tahu gak? Chef tuh sama kayak kentang,"
"Kenapa emang?" tanya Arkhan sambil memicingkan matanya.
"Sama-sama pengin aku panggang dalam oven," jawab Liana dengan nada kesal.
"Gak papa lah. Nanti sama-sama kamu makan juga."
"Bengek. Sorry, gak baper."
"Setelah ini, langsung kerjakan lemper saus mangganya. Gak pakai protes."
"Loh loh ... itu kan masakan untuk jam kedua setelah istirahat, Chef."
"Sekarang saja, masih banyak waktu. Karena setelah istirahat kamu harus dampingi saya presentasi di depan para atasan dan direksi."
Setelah mengatakan perkataan tersebut, Arkhan pun segera membalikkan badannya, kembali menuju ke arah kitchennya.
"Chef kamu sweet banget ya Mba Lia," ucap Ketut tiba-tiba dari arah belakang Liana. Membuat Liana kembali terkejut.
"Kayak gitu sweet? Coba aja jadi asistennya sehari saja. Kalau masih kamu bilang sweet, aku acungin dua jempol."
"Kok bisa Mba? Barusan saya lihat, dia tipe bos yang perhatian dan baik," sanggah Ketut lagi.
"Itu pencitraan!" seru Liana tertahan, kemudian berlalu menuju tempat oven.
.
Bersambung...