Wajah Liana tampak terlihat kucel, kesal dan cemberut, ketika ia memasuki lobi hotel berjalan menuju kotak lift. Dikarenakan Liana sedang memendam kekesalan untuk atasannya itu sejak dari ruang meeting tadi.
Saat Liana kembali ke hotel tempat ia menginap, tentu saja ada juga Arkhan di dekatnya, dengan tampang cuek dan masa bodoh tetapi tetap gerak cepat selalu membuntuti asistennya itu.
"Apa lihat-lihat!" sembur Liana ketika mereka sudah berada di dalam kotak lift tersebut.
"Gak usah sok dramatis. Gak cocok sama face kamu itu," sahut Arkhan dengan intonasi tenang, sambil bersedekap lengan tangannya di depan antara d**a dan perutnya.
"Bodo. Aku emang bukan artis kok. Wajar dong kalau gak bisa main drama," ucap Liana masih mode senggol bacok. Sungguh hari yang ingin sekali ia menghancurkan wajah datar milik bosnya itu.
"Terus ngapain sok sok dicemberutkan begitu muka jeleknya itu?" tanya Arkhan setengah mencibir, lebih tepatnya menghina dengan gaya santai.
Seketika Liana pun membalas Arkhan dengan pelototan matanya.
"Diam aja deh, Chef. Daripada aku sembur juga nanti," semprot Liana lebih ketus.
"Makanya besok-besok gak usah sok genit dan akrab gitu sama orang asing. Malu-maluin saja."
"Eh, Tuan Arkhan yang terhormat. Chef Zidan itu bukan orang asing. Beliau itu juga sama kayak kita. Apa salahnya kalau dia tanya, ya aku jawab lah. Chef aja yang kelewat sok care ke aku."
"Kalau jawab ya jawab aja. Gak usah dipakai genitnya itu."
"Dasar possesive."
"Siapa possesive?" tanya Arkhan sambil menyentil ringan kening Liana dengan cardlock.
"Sumpret. Sakit nih Chef. Kebiasaannya kok jelek gitu sih! Gini ya Chef yang katanya ganteng maksimal. Aku loh mau ngobrol sama siapa pun pakai Chef larang-larang kan? Itu kalau bukan possesive gila, apa namanya coba?" tanya Liana dengan mode menantang, karena saat itu dirinya langsung menghadap ke arah Arkhan dan sambil berkacak pinggang kesal.
"Jangan kegeeran. Kamu kalau enggak diawasin bisa kebablasan kegenitan. Lagian, kalau orang itu bukan saya, ya orang asing namanya. Paham?"
"Dasar kentang. Aku oven juga nanti baru tahu rasa."
"Mulutnya," tegur Arkhan kembali menyentil keningnya Liana.
"Bodo."
"Lian!"
"Gak dengar. Sakit tahu gak sih Chef? Pakai diinjak-injak lagi ini kakiku. Emang Chef kira kakiku batu apa? Mana pakai sepatu pantofel lagi. Kan keras," sanggah Liana masih memasang wajah cemberut.
"Kamu juga yang ngeyel. Udah aku ingatkan gak usah terlalu dekat sama cowok lain, masih aja makin tebar pesona. Ketawa ketiwi macam cewek haus kasih sayang saja."
"Chef tuh haus kasih sayang. Makanya jadi rese bin ngeselin."
"Jangan ngebantah kalau dikasih tahu tuh," sela Arkhan sambil menarik hidungnya Liana itu.
"Bodo, ah. Awas ya habis ini kalau masih ganggu aku lagi."
"Asalkan kamu mau nurut," balas Arkhan tanpa mau dibantah lagi.
Membuat Liana kembali menyimpan rasa kesalnya lagi. Liana pun masih mengingat kejadian yang benar-benar membuatnya kesal.
Saat itu, ketika acara presentasi antar chef dan asistennya selesai, mereka semua akhirnya dikumpulkan di ruang meeting, yang masih di area hotel penyelenggara, untuk mendapatkan ilmu tambahan dan pengarahan serta sharing bersama antar sesama chef.
Mereka berduabelas, tampak duduk melingkar mengelilingi meja besar dan bundar, ditambah lagi ada satu manager F&B (Food and Beverage Management) dari hotel tersebut.
Manager F&B adalah manager yang mempunyai wewenang dan tugas untuk mengatur segala jenis operasional dapur serta standar kualitas masakan dan makanan yang akan disajikan ke hadapan tamu dan pengunjung hotel.
Saat manager F&B tersebut memberi pengarahan dan penjelasan untuk para chef dan asistennya, Chef Zidan yang kala itu mendapat duduk tepat di samping kiri Liana malah menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol. Yang padahal di sebelah kanan Liana duduk itu ada Arkhan juga.
"Liana, kan namanya?" tanya Zidan dengan nada pelan, takut mengganggu pembicaraan yang dilontarkan oleh manager F&B tersebut.
Karena demi menjaga kesopanan, Liana pun menganggukkan kepala dengan ramah dan sopan. "Iya Chef."
"Tahu gak sama namaku?" tanya Zidan lagi.
"Tahu. Tuh kebaca lewat name-tagnya Chef," jawab Liana jujur.
Membuat Arkhan yang sedang mencuri dengar obrolan mereka berdua pun menahan senyum meledek. Ia membayangkan, pasti malu hatinya chef Zidan tersebut, mendapat jawaban dari Liana yang kelewat polos itu.
Namun ternyata, perkiraan Arkhan salah. Zidan tetap percaya diri mengajak ngobrol Liana kembali.
"Syukurlah, jadi kita enggak perlu kenalan lagi kan ya?" tanya Zidan masih mengajak sok akrab.
"Iya Chef."
"Tahu gak Lia,"
"Tahu apa Chef?"
"Sejak melihat kamu pagi tadi, yang sebelum acara memasak itu. Aku udah perhatikan kamu terus," ucap Zidan makin ingin mengakrabkan diri.
"Kenapa bisa gitu Chef?" tanya Liana langsung menghadapkan wajahnya ke arah Zidan, tetapi tetap menjaga volume suara mereka.
"Iya bisa. Awal lihat kamu itu, wajah kamu seperti orang yang gak bisa diajak ngobrol. Habisnya wajah kamu jutek pakai banget. Aku kira kan gak bakal asyik nih anak diajak ngobrol gitu. Tapi setelah aku perhatikan lagi, ternyata kamu kelewat asyik malahan. Mana kocak dan riang lagi," jelas Zidan sambil tersenyum manis.
Mendengar hal itu pun Liana pun sedikit tertawa tanpa suara. Kemudian mendekatkan bibirnya ke arah telinga milik Zidan. Zidan yang paham pun segera mendekatkan wajahnya ke arah Liana.
"Chef harusnya paham. Aku jutek karena atasanku juga jutek begitu. Mau gak mau akunya ketularan kan?" bisik Liana pelan sambil menahan tawa.
Dan tentu saja perkataan Liana tersebut seketika membuat Zidan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Berusaha menahan tawa. Zidan pun hanya bisa menganggukkan kepala berkali-kali tanda setuju.
"Tapi jangan bilang-bilang ya? Takut nanti aku diamuk sama dia. Dia kan suka jadi macan kalau lagi badmood," lanjut Liana berbisik.
"Tenang. Aku ini bukan cowok mulut dua. Aman pokoknya rahasia kamu di aku," sahut Zidan sambil berbisik juga.
Sedangkan Arkhan yang sebenarnya ingin fokus pada pengarahan yang diberikan oleh sang manager, mau tidak mau terganggu juga dengan gelagat dan interaksi yang ditunjukkan oleh Liana dan rekan chefnya itu.
Reflek Arkhan pun menginjak punggung kaki kanan milik Liana dengan kaki kirinya sebagai tanda untuk segera diam. Tentu saja hal itu membuat Liana sangat terkejut, dan sudah pasti terasa sakit. Ditambah lagi saat itu Arkhan sedang memakai sepatu pantofel.
"Apa sih Chef?" ucapnya tertahan sambil menggigit gigi gerahamnya. Untung kaki mereka terlindung oleh meja bundar, kalau tidak Liana pasti sudah kepalang malu.
"Bisa diam gak! Hormati atasan kalau sedang berbicara serius. Malah asyik ngobrol sendiri," tegur Arkhan pelan juga sambil memelototkan mata garangnya.
Terlihat sekali di wajahnya Arkhan mode tidak suka, melihat Liana lebih asyik berbicara dengan orang lain.
"Aku dengar kok. Udah deh, lagian Chef aja yang mestinya lebih fokus ke arah sana. Pengarahan itu kan diperuntukkan untuk semua Chef," sanggah Liana tidak mau kalah.
"Yang kamu ajak ngobrol itu juga seorang Chef Lian. Ngerti gak maksud saya? Sama saja kamu mengganggu konsentrasi orang lain."
"Iya iya!" sahut Liana tidak kalah ketus.
"Jangan bikin malu saya," ancam Arkhan.
"Malu ngapain sih. Aneh Chef nih lama-lama."
"Bisa diam gak?" tanya Arkhan dengan mimik wajah serius.
Membuat Liana mau tidak mau mengatupkan bibirnya. Wajah Arkhan yang seperti itu lah yang sering ia hindari. Walaupun sebenarnya masih ada sejuta dongkol bercokol di hati Liana.
"Chef Arkhan. Jangan khawatir. Saya juga ikut mendengarkan Manager berbicara kok. Ini bukan salah Lia," ucap Zidan membela Liana dengan suara pelan.
Dan beruntungnya mereka duduk di ujung tengah dari titik sang manager itu duduk.
"Lebih baik Anda juga diam, Chef. Asisten saya ini suka lepas kontrol kalau terlalu asyik diajak ngobrol," sahut Arkhan pelan tetapi penuh ketegasan dan wibawa.
Dan itu cukup membuat Zidan menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Maaf ya Chef," bisik Liana ke dekat wajah Zidan.
Tentu saja hal itu membuat Zidan tersenyum kembali.
"No problem. Nanti setelah acara ini kita ngobrol lagi," balas Zidan sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Okey,"
Dan tanpa diduga oleh Liana, Arkhan pun sudah menginjak kaki kanannya Liana kembali.
"Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini. Kalau tidak bisa dikasih tahu. Memalukan!"
Liana memang langsung terdiam, menutup rapat mulutnya. Namun, bisa dipastikan hatinya masih memendam dendam untuk Arkhan Dewangga.
'Awas aja nanti. Aku balas kamu, Chef.' Liana membatin kesal.
"Gak usah ngedumel jeleek dalam hati. Gak sopan itu namanya," bisik Arkhan tegas, dan terdengar jelas di telinga milik Liana.
Arkhan mengetuk kening Liana, saat Liana sedang melamunkan kejadian di ruang meeting tadi.
"Apa sih!" semprot Liana dengan ketus.
"Mau keluar dari sini gak?"
Dan ternyata, mereka sudah sampai di lantai hotel mereka menginap. Dengan tanpa membalas omongan atasannya itu, Liana pun segera melenggang cuek meninggalkan Arkhan.
"Langsung istirahat. Satu jam lagi, kita ikut acara makan bersama dengan para dewan direksi dan tamu undangan lainnya."
Liana yang berjalan cepat di depan tampak berdiam diri enggan menanggapi ucapan bos nya itu.
"Lian!" seru Arkhan tertahan, karena merasa dicueki oleh asistennya tersebut. "Enggak cocok kamu ngambek enggak jelas begitu," sambungnya.
"Bodo dah."
"Lian!"
Liana pun menghentikan langkah kakinya di selasar lantai kamar hotel tersebut.
"Iya. Aku ikut meeting tadi juga ikut dangerin. Bukan buat setor muka aja. Udah deh, Chef gak perlu ngulang-ngulang lagi."
"Saya cuma mengingatkan."
"Ujung-ujungnya aku juga yang sering ngingatin,"
"'Kan memang sudah tugas kamu."
"Maka dari itu. Chef gak perlu basa basi panjang lebar lagi. Udah ya. Aku mau istirahat. Badan sama otakku perlu ketenangan."
Setelah mengatakan semua uneg-unegnya, Liana segera menempelkan cardlock pada sensor pintu kamar hotelnya tersebut.
"Satu lagi ya Chef, jangan kelewat over gitu kalau memperlakukan aku. Orang lain bisa nyangka, kalau Chef sedang jatuh cinta sama aku."
Setelah selesai bicara, Liana pun segera masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Dasar anak kecil," gumam Arkhan sambil menggelengkan kepala gemas.
.
Bersambung...
Yang belum tap love, yuk yuk yuk jangan lupa ya...