Setiap orang pasti menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna, dan berakhir sampai kakek nenek hingga hanya maut yang memisahkan. Namun, takdir selalu tak terduga. Siapa sangka pernikahan Arunika Clarissa harus berakhir dalam perceraian. Sesuatu hal yang sangat dibenci oleh kaum wanita.
Kini Arunika sudah resmi menjadi seorang janda tanpa anak. Setelah sidang perceraiannya yang terakhir, ia harus kembali menjadi tulang punggung ibu dan kakak lelaki satu-satunya itu. Alasan mengapa Arunika yang menjadi tulang punggung keluarga ialah, karena kondisi sang kakak yang lumpuh dan hanya bisa duduk di kursi roda, sedangkan Ayahnya sudah lama meninggal, sementara sang Ibu sudah sering sakit-sakitan.
Arunika kembali bekerja di sebuah bank swasta. Sebelumnya ia tidak bekerja setelah menikah karena suaminya seorang pengusaha. Makanya ia bisa bersantai dan membiayai kebutuhan ibu dan kakaknya.
Saat ini ia tengah disibukkan oleh para nasabah yang ingin membuka rekening. Saat nomor antrian berikutnya dipanggil. Seorang lelaki duduk di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Arunika tersenyum manis seperti biasa pada setiap nasabah yang ia layani.
"Kau Arunika, kan?" tanya pria itu.
Arunika mengerutkan dahinya. "Maaf, Anda siapa?"
Pria itu terkekeh. "Sampai saat ini kau bahkan tak pernah mengenalku."
Arunika semakin bingung dengan ucapan pria itu.
"Apa perlu aku mengingatkanmu tentang diriku? Kau ingat orang yang dulu memberimu setangkai bunga sepatu?" ujarnya.
Seketika memori beberapa tahun yang lalu saat Arunika masih berseragam putih abu-abu perlahan berputar bagai film. Ia mulai mengingat saat seorang anak lelaki menyatakan cintanya hanya bermodalkan setangkai bunga sepatu, dan tangan lainnya memegang satu balon. Belum sempat Arunika menjawab pernyataan anak lelaki itu, di saat yang bersamaan juga ada beberapa anak lelaki yang menyatakan cinta padanya. Hanya saja mereka membawa buket bunga dan coklat yang mahal-mahal. Arunika merupakan primadona di sekolah pada saat itu, jadi tak heran banyak anak lelaki yang tergila-gila padanya.
Perlahan anak lelaki berwajah culun itu mulai tersingkir ke belakang oleh mereka yang menyerobot paksa mendekati Arunika. Sampai ia tak terlihat oleh Arunika.
"Sudah ingat?" ucapan Pria itu membuyarkan lamunan Arunika.
"Oh, maaf. Tapi, sebelumnya apa keperluanmu datang ke sini? Karena antrian sudah mulai panjang." Arunika mengalihkan pembicaraan.
"Sampai saat ini pun kau masih mengacuhkanku, ya." Ia tersenyum sinis.
Sebenarnya bukan itu maksud Arunika. Ia hanya tak ingin mengobrol di luar pekerjaan pada jam kerjanya. Jika ketahuan atasan, bisa-bisa Arunika kena peringatan.
"Bukan begitu maksudku ... kalau ingin bicara nanti saja di luar jam kerja."
"Sudahlah, tadinya aku cuma ingin membuat rekening baru. Tapi, kurasa tak perlu." Pria itu bangun dari duduk dan bergegas keluar. Arunika hanya memandanginya dalam diam.
***
Arunika menghempaskan dirinya di kursi yang terletak di luar rumah. Setelah bercerai, ia kembali ke rumah Ibunya. Hari yang sangat melelahkan. Batinnya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Sebuah suara seorang wanita muncul dari balik pintu.
"Baik, Bu. Lancar seperti biasa. Hari ini tak ada nasabah yang marah-marah seperti kemarin," ujar Arunika sambil tersenyum. Menyembunyikan rasa lelahnya.
"Apa kau tak ada niat untuk menikah lagi?" tanya ibunya tiba-tiba.
"Bu, aku baru jadi janda dua bulan. Belum ada sedikit pun pikiran ke sana," jelas Arunika.
"Tapi, apa kau tidak lelah jika harus bekerja sepanjang hari? Lebih enak nikah, kau bisa bersantai mengurus rumah."
"Tak apa jika aku harus bekerja. Yang penting Ibu sama Zack bisa terpenuhi semua kebutuhan kalian ... Ngomong-ngomong Zack ke mana?" Zack adalah nama kakak lelaki Arunika yang sudah berusia 30 tahun, tadinya saat Arunika masih bersekolah. Zack-lah yang membiayai kehidupan mereka. Tapi, suatu hari Zack mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Sampai saat ini ia hanya bisa duduk di kursi roda. Maka dari itu setelah lulus dari pendidikan, Arunika-lah yang menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan Zack.
"Entahlah, mungkin dia sedang jalan-jalan di sekitar sini."
Arunika membulatkan mulutnya sambil berkata, "Oh."
"Ibu mau menyiapkan makan untukmu." sang ibu beranjak ke dapur, baru sampai pintu. Tiba-tiba ibunya jatuh pingsan. Dan itu membuat Arunika panik.
"Ibu, ibu kenapa? Bangun, Bu." Arunika berusaha untuk membangunkan ibunya. Tapi sang ibu tak kunjung bangun juga.
***
"Tak kusangka setelah bertahun-tahun akhirnya aku bertemu denganmu," gumam Rainer saat melewati lorong menuju ruangannya sambil melihat sebuah foto lawas seorang wanita yang sedang tersenyum di tangannya.
Rainer Bastian yang biasa disapa Rei adalah pemilik dari Bastian corp. Hampir semua hotel dan vila yang bertaraf internasional adalah miliknya. Anak lelaki culun itu kini telah tumbuh menjadi seorang CEO yang terkenal dingin, angkuh, dan arogan.
Setelah sampai di ruangannya, di sana telah duduk seorang pria yang berusia tak jauh dari Rainer. Dia bernama Math, sekretaris kepercayaan Rainer.
Math yang tadinya sedang duduk, spontan langsung berdiri saat Rainer datang.
"Aku ingin kau mengumpulkan informasi tentang wanita ini." Rainer melemparkan foto yang ternyata gambar Arunika di atas meja kerjanya.
Math meraih foto itu. "Siapa wanita ini, Tuan?"
"Kau tak perlu tahu. Tugasmu hanya mencari informasi tentangnya," ujar Rainer ringan.
Math mengangguk. "Baiklah, Tuan. Saya akan langsung mencarinya sekarang." Math undur diri untuk langsung menjalankan tugasnya.
"Siapa perempuan cantik ini, kenapa ia sampai membuat Tuan Rei ingin mencari informasi tentang dirinya." gumam Math, setahu dirinya selama bertahun-tahun bekerja dengan Rainer, pria dingin itu tak pernah sedikit pun berbicara tentang wanita pada dirinya. Meskipun ia tahu bahwa Rainer seorang pria playboy yang suka gonta-ganti pasangan.
***
Suara tembakan pistol dari jauh mengenai tepat sasaran. Tatapan tajamnya membuat orang bergidik ngeri ketika melihatnya. Lagi dan lagi ia selalu mengenai tepat sasaran dan tidak pernah goyah sedikit pun. Siapa lagi kalau bukan Rainer, saat ini ia sedang berlatih menguji kemampuan menembaknya. Perundungan yang ia alami semasa sekolah membuatnya trauma. Sampai akhirnya ia memutuskan belajar bela diri, bahkan ia juga belajar menembak seperti saat ini yang sedang dilakukannya. Menurut Rainer, menembak itu perlu untuk melawan musuh yang menghalangi jalannya. Selain tumbuh menjadi seorang pria yang dingin dan arogan, Rainer juga tumbuh menjadi pria yang kejam. Kehidupanlah yang merubah dirinya.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu." Suara Math dari belakang membuat Rainer menghentikan kegiatannya.
"Apa yang kau dapat?"
"Wanita itu baru saja bercerai dengan suaminya-"
"Bisa-bisanya dia menikah dengan pria lain. Semudah itu dia melupakanku," potong Rainer dengan sinis. "Lalu?"
Math kembali melanjutkan ucapannya. "Setelah bercerai, Arunika kembali menjadi tulang punggung keluarganya. Ia bekerja di sebuah bank swasta. Kini ia sedang ada di rumah sakit, karena Ibunya sedang dirawat lantaran mengidap penyakit paru obstruktif kronis. Sedangkan kakaknya yang bernama Zack sudah tak dapat berjalan. Kedua kakinya lumpuh, sehingga ia harus memakai kursi roda," jelas Math panjang lebar. "Dan setelah diselidiki lebih dalam lagi, ternyata Arunika tak mampu membayar biaya perawatan ibunya. Pihak rumah sakit memberinya waktu sampai besok. Kalau sampai Arunika tak lekas melunasinya, ibunya akan dipulangkan dengan paksa."
Rainer tersenyum licik. "Terima kasih Math atas informasinya , sepertinya aku punya rencana. Maukah kau membantuku?"
Math mengangguk. Tapi pikirannya penuh tanda tanya, entah apa yang sedang direncanakan bosnya itu. "Tapi sebelumnya, Tuan. Bolehkah saya bertanya, apa alasan Tuan melakukan itu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Math, Rainer hanya berkata, "Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang, siapkan mobil untukku."
"Baik, Tuan." Sang sekretaris berlalu pergi meninggalkan Rainer.