Di rumah sakit, Arunika sedang duduk termenung ditemani Zack kakaknya. Ia sedang memikirkan biaya rumah sakit ibunya.
Dari mana aku bisa mendapatkan uang ratusan juta dalam sehari untuk biaya pengobatan ibu? Sementara kata dokter, ibu harus terus dirawat sampai ia sadarkan diri. Tapi, kalau sampai besok aku belum melunasinya, rumah sakit akan memulangkan ibu dengan paksa. Tuhan, tolong beri aku petunjuk dan bantuanmu.
Arunika mengusap wajahnya dengan lesu.
"Maafkan aku tak bisa membantumu," ujar Zack memegang pundak adiknya. "Coba saja kalau kakiku tidak lumpuh, aku memang tak berguna," sesalnya.
"Tidak, Zack. Ini semua sudah takdir. Jangan berkata begitu, itu sama saja kau menyalahkan takdir." Arunika memegang lengan Zack.
Saat itu juga Rainer dan Math datang. Math berjalan di belakang Rainer. Kedatangan mereka berdua menimbulkan tanda tanya dalam benak Arunika dan Zack.
Arunika terbangun dari duduknya. "Sedang apa kau ada di sini?"
Bukannya Rainer yang menjawab, tetapi Math membuka suara. "Kedatangan Tuan Rei ke sini untuk menawarkan sesuatu kepada Nona."
"Maksudnya?" kening Arunika berkerut.
"Tuan Rei bersedia membayar semua biaya perawatan Ibu Nona sampai beliau sembuh ...." Math menggantung ucapannya. Dan itu membuat Arunika penasaran. "Dengan syarat, Nona harus mau menikah dengannya."
Arunika membelalakkan kedua bola matanya. Ia tersinggung. "Kau pikir aku perempuan murahan yang bisa dibeli begitu saja dengan uang?"
"Niatku baik, aku ingin menanggung semua biaya pengobatan ibumu. Bahkan aku akan mencarikan rumah sakit yang terbaik untuk menyembuhkan ibumu. Asal dengan imbalan kau mau menikah denganku. Bagaimana?" Suara Rainer terdengar mengerikan di telinga Arunika. Perempuan itu sudah punya firasat bahwa lelaki yang ada di hadapannya itu bukan lelaki baik-baik. Padahal seingat dirinya, Rainer yang dulu adalah seorang anak lelaki culun yang sangat baik hati, bahkan bertutur kata lembut saat bicara padanya. Sangat berbanding terbalik dengan Rainer yang berdiri di hadapannya itu saat ini.
"Kalau niatmu baik, kau tak mungkin meminta imbalan dariku," sanggah Arunika.
Rainer tersenyum miring. "Kau memang perempuan pintar. Tapi, bukankah dalam hidup kita ada arus timbal balik? Kita harus menjadi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan satu sama lain. Kau bisa berbakti pada ibumu dengan memberinya pengobatan terbaik, dan aku bisa menikahimu."
"Kenapa kau ingin menikahiku?"
"Pertanyaan bagus ... Kenapa, ya?" Pria itu bergumam. "Karena aku mencintaimu, dari dulu sampai sekarang yang kutahu, aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa melupakanmu. Dan kau tahu itu, Arunika," tuturnya. Tatapan matanya berubah menjadi teduh. Dan itu membuat Arunika sedikit luluh.
Benarkah yang diucapkannya itu? Tapi, mengapa aku tak percaya padanya. Apalagi setelah bertahun-tahun aku baru bertemu dengannya lagi sekarang.
"Kau pembohong. Aku tak percaya padamu. Lebih baik kau pergi saja sekarang. Aku sedang tak ingin diganggu," perintah Arunika.
"Tapi, Nona-" Math hendak angkat bicara, namun ia dihentikan oleh Rainer.
"Biarkan saja, Math. Sekarang kita pulang. Kau tak dengar perempuan itu tadi mengusir kita?" Nada suara Rainer kembali menjadi tajam. Lalu ia mengeluarkan selembar kartu dari sakunya. "Kalau kau berubah pikiran. Kau bisa meneleponku." Rainer meletakkan kartu namanya di kursi. Setelah meletakkan itu, mereka pergi meninggalkan Arunika.
"Kenapa kau tidak menerima tawarannya saja, Aru," ujar Zack sepeninggal Rainer dan Math.
"Aku tidak mungkin menerima lamaran orang yang baru kukenal," jelas Arunika kepada Zack.
"Tapi, bukankah tadi dia bicara kalau dia sudah mencintaimu dari dulu?"
"Memang Zack. Aku kenal dia. Dia salah satu anak lelaki yang menyatakan cintanya dulu saat aku masih sekolah. Tapi, itu dulu. Sekarang dia berbeda. Tatapan matanya juga berubah dengan yang dulu."
"Aku tak mengerti. Tapi, tak ada pilihan lain, Aru."
"Ada, Zack," gumam Arunika. "Kita akan menggadaikan sertifikat rumah." Ia berkata tanpa menatap kakak laki-lakinya itu.
"Kau serius?"
Arunika mengangguk mantap. "Iya, kita tak ada pilihan lain."
***
Arunika menjatuhkan tas miliknya ketika melihat rumah tempatnya tinggal sudah hancur menjadi abu. Ia terduduk lemas di atas tanah. "Siapa yang sudah melakukan ini?" pikirnya dibarengi oleh tangisannya.
Seseorang sudah membakar rumah Arunika. Tak ada harta yang tersisa sedikit pun.
"Sekarang apa yang harus kulakukan? Uang tabungan yang kusimpan di bank masih belum cukup untuk membayar pengobatan ibu." Arunika menunduk, air matanya terjatuh menetes ke tanah. "Dan aku tak bisa meminjam pada bank tanpa jaminan." Ia menangis sesenggukan.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan seorang pria sedang mengintainya di dalam mobil. Rainer menatap Arunika di balik kacamata hitamnya. Ia duduk bersandar ke kursi. Sedangkan di depan, tampak Math yang menyetir.
"Kerja bagus, Math." Ia tersenyum puas dengan hasil pekerjaan sekretarisnya itu. "Bagaimana dengan orang-orang yang melihat kebakaran rumah itu? Apakah kau sudah membuat mereka menutup mata dan mulutnya?" tanyanya.
"Sesuai permintaan Tuan. Saya sudah memberi mereka sejumlah uang agar tidak membuka mulutnya. Dan mereka menyukai itu," jelas Math.
"Kali ini kau tidak bisa melakukan apa pun selain menerima tawaranku." Rainer bicara dengan dirinya sendiri.
***
Arunika berjalan menuju rumah sakit dengan lesu. Matanya yang sembab berwarna merah. Naum, tak mengurangi kecantikannya. Tentu saja itu menimbulkan tanda tanya pada Zack.
"Kau kenapa, Aru? Apa yang sudah terjadi?" tanya Zack menggerakkan kursi rodanya mendekati Arunika.
"Zack," kata Arunika dengan suara parau. "Rumah kita kebakaran," tangisnya kembali pecah.
"Apa?"
Zack ingin menangis, tetapi tak mungkin ia bisa menangis di depan adik bungsunya itu. Sebagai seorang kakak, ia harus bisa tegar dan menguatkan Arunika. "Kau yang sabar, ya. Kita pasti bisa melewati semua ini."
"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Zack? Kita sudah tak punya tempat tinggal. Terus harus membayar pengobatan ibu. Aku bingung, Zack. Kenapa Tuhan memberiku ujian sebesar ini. Kehidupan pernikahan yang terasa seperti surga hanya bersifat sementara dan harus berakhir dalam perceraian, baru dua bulan bercerai sekarang sudah dapat musibah kembali," keluhnya disertai tangis.
Tak ada yang bisa Zack lakukan selain menyemangati Arunika. "Andai saja saat itu aku tidak kecelakaan. Pasti hidup kita tak akan susah seperti ini. Maafkan aku karena jadi kakak tak berguna untukmu."
Di tengah kesedihan yang melanda mereka, tiba-tiba Zack teringat tawaran Rainer. Ia pun mengambil sesuatu dari kantong bajunya.
"Ini." Ia menyerahkan kartu nama Rainer pada Arunika.
"Apa ini?" tanya Arunika.
"Ini kartu nama pria tadi."
"Dari mana kau mendapatkannya? Bukankah aku sudah membuangnya?" tanya Arunika lagi.
"Memang, tapi aku memungutnya kembali ... kita tak ada pilihan lain. Kau ingin ibu sembuh bukan?"
"Tapi, aku tak ingin menikah dengan pria itu. Aku tidak mencintainya."
"Kesempatan tidak datang dua kali, Aru. Singkirkan egomu. Lakukan itu semua demi ibu. Lagi pula, jika kau tidak mencintainya. Tapi, dia mencintaimu. Kalau kau menikah dengannya kau akan bahagia. Biaya pengobatan ibu akan terjamin, kehidupan kita bertiga juga sudah terjamin." Zack mencoba meyakinkan Arunika. Karena untuk saat ini memang sudah tak ada pilihan lain lagi selain menerima tawaran emas itu. Kapan lagi ada orang asing yang datang tiba-tiba menawarkan bantuan bagai mimpi itu. Bahkan kerabat sendiri pun rasanya mustahil ada yang berani melakukan itu. Tapi belum tahu, karena mereka bertiga tak punya kerabat di kota itu.
Arunika menghentikan tangisnya. Ia diam berpikir, merenungkan keputusan apa yang akan dia pilih. Sampai akhirnya Arunika meraih kartu nama itu, di sana memang tertera nama Rainer Bastian dan di bawahnya tertera deretan angka yang merupakan nomor Rainer. Beberapa detik lamanya ia menatap nomor itu, sampai akhirnya meraih smartphone dan menekan beberapa tombol angka.
"Halo." Suara Rainer di seberang sana mengangkat telepon Arunika.