"Akhirnya kau setuju juga dengan tawaranku," ujar Rainer puas. Pria itu tersenyum.
Arunika menatap mata hitam itu dengan wajah tidak menampilkan ekspresi sedikit pun. "Aku mau menikah denganmu, tapi setelah kau memberikan pengobatan yang terbaik untuk ibuku sampai ia terbangun dari komanya."
"Kau licik juga, ya. Aku suka itu." Kalimat terakhir diucapkan Rainer sambil berbisik pelan di telinga Arunika. Dan itu membuat Arunika tersentak ke belakang.
"Math," panggil Rainer pada Math yang sedang berdiri tak jauh di belakangnya itu, dengan sigap Math langsung menghampiri.
"Ya, Tuan." Tanpa diperintah, Math langsung mengeluarkan selembar kertas yang berisi tulisan-tulisan dari dalam tas kerjanya.
"Kertas apa ini?" tanya Arunika sambil menatap deretan huruf di atas kertas itu.
"Ini adalah surat perjanjian pranikah, di situ tertulis hal apa saja tidak boleh kau lakukan," jelas Rainer.
Arunika membaca baik-baik peraturan-peraturan yang tertera di sana.
1. Nona Arunika tak boleh membantah perintah Tuan Rei.
2. Nona Arunika harus menuruti semua perintah Tuan Rei.
3. Nona Arunika tak boleh mencampuri urusan pribadi Tuan Rei. Termasuk melarang Tuan Rei untuk berkencan dengan perempuan lain.
4. Nona Arunika tidak boleh menceraikan Tuan Rei sampai masa kontrak berakhir. Jika itu terjadi, Nona Arunika harus membayar denda sebesar 50 miliar.
5. Jika Nona Arunika tidak setuju dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh Tuan Rei ini, balik lagi ke nomor 1.
Peraturan gila macam apa ini?
Peraturannya mungkin hanya 5 saja, tapi itu semuanya hanya mengekang Arunika. "Peraturan macam apa ini? Kenapa semuanya hanya dituju untukku saja?" dengusnya.
"Suka-suka aku, kan yang buat perjanjiannya aku."
"Kalau kau menikah hanya ingin mengekangku, kenapa kau menikahiku?" Arunika meninggikan suaranya.
"Karena aku ingin memilikimu ... kalau kau tak setuju tak apa. Kita batalkan semua-"
"Huh, tidak. Aku sama sekali tak keberatan," potong Arunika dengan malas menahan Rainer yang tadi akan bangun. "Mana bolpoinnya? Aku akan menandatanganinya."
Math menyerahkan bolpoin yang ia selipkan di kantong jas kerjanya. Dengan cepat campur perasaan kesal dan terpaksa, Arunika menandatangani surat perjanjian itu.
Rainer tertawa. Tawanya menggema di seluruh ruangan. Dan menatap Arunika kembali. Memang saat ini mereka sedang berada di salah satu ruangan yang berada di kantor milik Rainer. "Keputusan yang bijak."
"Math, Kau langsung urus semuanya. Kalau perlu cari rumah sakit terbaik di negeri ini," perintah Rainer.
"Baik, Tuan." Math langsung pergi dan menjalankan tugasnya dengan baik seperti biasa.
"Sepertinya kau sangat kaya, ya," sindir Arunika sambil tersenyum kecut.
"Tentu saja. Itu semua hasil dari kerja kerasku selama bertahun-tahun," ungkap Rainer dengan bangga.
Arunika hanya tersenyum ketus mendengar ucapan Rainer yang terdengar angkuh di telinganya itu.
Beberapa hari pun berlalu semenjak ibunya Arunika dipindahkan ke rumah sakit ternama dan terbaik, pastinya termahal juga di negerinya. Perlahan kondisi ibunya mulai membaik. Sampai suatu hari sang ibu tersadar. Arunika sangat senang melihat ibunya berhasil melewati masa-masa kritis. Senyum kebahagiaan terus mengembang menghiasi wajahnya. Namun, senyuman itu menghilang ketika ia teringat akan janjinya yang mau menikah dengan Rainer jika ibunya sudah sadar.
Keceriaan wajah Arunika yang berubah jadi kemuraman tertangkap oleh ibunya. "Ada apa, Aru? Mengapa wajahmu berubah jadi sedih?"
Arunika diam, dirinya bingung harus memulai cerita dari mana. Untung saja ada Zack yang membantunya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Arunika.
"Maafkan Ibu, gara-gara Ibu kau harus mengorbankan dirimu, Aru."
Arunika mengelus lembut tangan ibunya sambil berkata, "Tak apa, Bu. Mungkin memang sudah saatnya untuk Aru membuka lembaran baru."
"Jadi, di mana calon suamimu? Ibu ingin melihatnya."
"Saya ada di sini, Bu," timpal Rainer yang sudah berdiri di ambang pintu. Rainer menghampiri mereka, dengan sopan ia mencium tangan ibu Arunika.
Kenapa dia sangat sopan pada ibu? Sebenarnya orang ini baik atau jahat?
"Kelihatannya kamu anak baik-baik. Terima kasih, ya. Karena kamu sudah mau membantu kami. Dan kamu juga mau menerima Arunika apa adanya, tanpa mempermasalahkan statusnya."
Rainer tersenyum manis, tentu saja itu semua palsu, hanya untuk menutupi sifat aslinya yang kejam. Ia harus bersikap lemah lembut di depan orang tua Arunika agar diberikan restu.
"Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kami yang akan dilaksanakan minggu depan."
Apa? Hei!
Arunika ingin memprotes, sejak kapan pria itu berunding dengannya tentang tanggal pernikahan. Tapi, ia tak bisa melakukan apa-apa, karena dirinya sudah terikat kontrak dengan Rainer yang salah satunya menyebutkan bahwa Arunika tak boleh membantah tentang keputusan si tuan menyebalkan itu.
***
Jika di pernikahan sebelumnya Arunika dibuat sangat sibuk, berbeda dengan pernikahannya yang sekarang. Ia justru sangat santai. Yang dilakukannya hanya mencoba gaun pengantin saja. Sedangkan sisanya sudah di urus oleh Math, sekretaris Rainer.
Sebelum hari pernikahan, Arunika dan keluarganya tinggal di salah satu hotel milik Rainer. Sebuah hotel mewah bintang 5. Seumur-umur meskipun menjadi seorang istri dari seorang suami pengusaha sebelumnya, Arunika belum pernah sekali pun menginap di hotel bintang 5. Kalau hanya sekadar makan pernah, itu pun sesekali. Karena sisanya dipakai untuk biaya berobat jalan ibunya sebelum parah seperti kemarin.
Kamarnya saja sangat luas, mungkin seluas satu rumah Arunika yang terbakar. Para desainer ternama tengah menjajarkan gaun-gaun termewah, terbagus, dan terunggul milik mereka. Arunika tak habis pikir. Memangnya sekaya apa suaminya sampai mengundang beberapa desainer ternama yang harga busana buatannya bisa dibandrol ratusan juta.
"Silahkan pilih yang Nona suka," tutur Math dengan sopan.
Arunika kadang dibuat bingung oleh sikap sekretaris Rainer itu. Bagaimana bisa orang yang sopan dan lemah lembut seperti Math bisa bekerja dengan bos yang sombong seperti Rainer?
"Aku bingung, Math. Bagaimana kalau kau yang memilihkannya untukku," pinta Arunika.
"Baik, Nona." Math mulai sibuk memilihkan gaun yang cocok untuk Arunika. "Sepertinya gaun ini cocok untuk Nona." Ia mengambil sebuah gaun ala princess berwarna putih dengan rok lebar dan bervolume, namun gaunnya tak terlalu banyak layer. "Karena tubuh Nona yang mungil, jadi gaun ini sangat cocok untuk Nona."
Hei! Aku tidak mungil. Tinggiku ini pas. Kalian saja yang terlalu tinggi!
Tapi, gaun pilihan Math memang sangat cocok untuk dirinya. Kalau begitu Arunika tak jadi marah. Setelah mengambil gaun yang cocok. Para desainer itu pergi tanpa disuruh.
"Bagaimana dengan Rainer? Apa dia sudah memilih jas yang pas untuknya?" Entah kenapa Arunika harus peduli pada lelaki itu.
"Tuan Rei sudah dapat jas yang akan ia kenakan nanti di hari pernikahan. Karena tugas saya sudah selesai, saya mau undur diri." Sebelum Math berbalik, Arunika menghentikannya.
"Tunggu, Math. Ada yang ingin kutanyakan."
Math kembali menghadap ke arah Arunika. "Ada apa, Nona? Apakah ada sesuatu yang Nona butuhkan lagi?"
"Bukan itu. Aku cuma ingin bertanya, kenapa kau mau bekerja dengan orang sombong seperti tuanmu itu?" celetuk Arunika.
"Tuan Rei itu sebenarnya orang baik. Saya senang bisa bekerja dengannya. Dia bahkan dengan baiknya mau mempekerjakan orang-orang seperti kami," jelasnya dengan sopan.
Apa maksudnya mempekerjakan orang-orang seperti kami? Memangnya Math orang seperti apa?
"Saya permisi dulu, Nona. Karena Tuan Rei sudah menunggu saya di dalam mobil." Math pun pamit.
Rainer ada di sini? Kenapa dia harus capek-capek menunggu di mobil? Kenapa tidak masuk ke sini? Ini kan hotel miliknya.
***
Math berjalan menuju lobi hotel, di sana Rainer sudah duduk menanti. Saat Math masuk ke dalam mobil, ia sudah dihujani pertanyaan.
"Bagaimana? Apakah ada gaun yang dia suka?" tanya Rainer tanpa menatap ke arah Math.
Math membenarkan kaca spion yang kini diarahkan pada Rainer.
"Nona Aru sudah menemukan gaun yang cocok dengannya, Tuan," jawab Math.
"Bagus." Rainer manggut-manggut sambil mengusap-usap dagunya dengan senyum miring.
"Mengapa Tuan tak melihatnya sendiri ke dalam?"
"Aku hanya ingin melihatnya saat hari pernikahan nanti, agar aku kembali terkesan dengan kecantikan Arunika yang dulu sempat memudar karena termakan waktu oleh kebencianku," ucapnya.
"Baiklah, Tuan. Sekarang kita akan ke mana?" tanya Math.
"Aku ingin menemui rekan bisnisku. Bawa aku ke sana," perintah Rainer.
"Baik, Tuan." Math pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.