Hari pernikahan telah tiba. Pernikahan itu berlangsung dengan lancar. Semua tampak bahagia. Pesta digelar sangat mewah di salah satu hotel milik Rainer. Para tamu yang datang pun dari kalangan konglomerat semua. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Sang ibu Arunika tampak sangat bahagia, melihat putrinya yang terlihat cantik bagai putri di hari pernikahannya. Tentu saja sebagai seorang ibu ia sangat berharap pernikahan Arunika yang sekarang bisa langgeng dan menghasilkan buah hati.
"Kini saatnya sang pengantin saling berciuman," ujar sang pendeta.
Apa? Ciuman?
Arunika diam mematung dengan wajah tanpa ekspresi. Bagaimana mungkin ia akan berciuman dengan lelaki yang bahkan tidak ia cintai. Ia pikir Rainer akan menolak, karena bagaimanapun kan pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak. Namun, tanpa disangka-sangka Rainer merangkul pinggang Arunika dan merapatkan tubuhnya, hingga jarak wajah mereka hanya beberapa cm saja. Arunika ingin berontak, tapi Rainer berbisik. "Lakukan sesuai yang disuruh pendeta agar pernikahan kita terlihat sungguhan."
Memangnya kau pikir pernikahan ini main-main, huh?
Belum sempat Arunika menjawab, Rainer sudah mengecup bibir Arunika yang ranum. Meskipun itu bukan ciuman pertama Arunika, karena ia sudah pernah menikah. Tetap saja rasanya aneh berciuman dengan orang yang tidak ia cintai.
Selesai itu, semua orang kembali menikmati pesta. Tiba-tiba semua orang mengalihkan padangannya ke arah seorang wanita yang baru muncul dari pintu depan. Ia mengenakan pakaian yang cukup sensual menambahkan kesan eksotis hingga membuat para kaum adam menatap kagum melihatnya.
Wanita itu menghampiri Rainer. Semua mata berhenti menatapnya saat ia mengecup pipi Rainer di depan Arunika. Bukannya marah dicium wanita itu, reaksi Rainer justru biasa saja seolah hal itu sudah lumrah terjadi padanya. Kejadian itu tentu saja membuat Arunika marah, bukan karena cemburu. Tapi, ia merasa seolah tak dihargai oleh Rainer. Karena bagaimana pun juga saat ini status Rainer itu suami dari Arunika.
"Ternyata kau bersungguh-sungguh menikahi perempuan ini," ujarnya.
"Aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Kau tahu itu," jawab Rainer ringan.
"Kenapa rasanya sakit banget, ya." Wanita itu sedikit menekankan kata 'sakit' sambil melirik ke arah Arunika. "Rasanya sakit kau gagal mendapatkan wanita yang lebih cantik dariku, apalagi dia hanya seorang janda." Kembali ia menekankan lima huruf terakhirnya.
Bukannya membela sang istri karena wanita itu sudah merendahkan Arunika, Rainer justru tertawa santai. "Bukankah kau sendiri yang menolak untuk kunikahi?" Ia tersenyum miring.
"Memang, sih," gumam wanita itu. "Tapi, kalau suatu hari kau bosan dengan istrimu. Datanglah ke rumahku. Aku akan menyambutmu dengan hangat seperti biasa," ucap wanita itu dengan nada sensual sambil mengedipkan mata.
Seperti biasa? Apa maksudnya perempuan ini?
"Tentu saja, Ivana sayang," ucap Rainer sambil mencolek dagu Ivana, nama wanita cantik nan seksi itu.
Apa-apan pria ini? Mengapa ia berbuat begitu di depanku? Di depan semua orang. Untung saja ibu dan Zack sedang tidak melihat ke arah sini. Jadi, mereka tak tahu sifat asli pria menyebalkan itu.
Math berdeham di dekat kami. "Tuan Rei, maaf mengganggu suasana. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Tuan George ada di sini. Ia meminta Tuan Rei untuk menemuinya."
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanyanya.
"Saya tidak tahu, Tuan. Dia tidak memberitahu saya."
"Kalau begitu kau ikut denganku." Rainer pergi begitu saja tanpa memedulikan Arunika yang diam bergeming di dekat Ivana.
"Selamat menempuh hidup baru yang akan kau jalani bagai di neraka itu, Sayang," ucap Ivana dengan senyum mematikan. Setelah itu ia pergi meninggalkan Arunika sendirian.
Sementara Rainer dan Math menemui rekan bisnisnya yang bernama George. Seorang pria yang berumur lebih tua lima tahun dari Rainer tengah berdiri di depan meja yang berjejeran beberapa gelas minuman.
"Selamat atas pernikahanmu, Rei," ucap George.
"Katakan, ada perlu apa kau datang ke sini? Bukankah aku tidak mengundangmu?" tanya Rainer tanpa basa-basi.
Bagaimana tidak? Menurut kabar yang tersebar George adalah seorang rekan bisnis yang licik dan suka menipu lawannya. Sudah banyak perusahaan yang berhasil tertipu olehnya. Ia selalu lolos karena tak pernah ditemukannya bukti atas kejahatan yang ia lakukan. Benar-benar licik bukan? Memang Rainer belum pernah tertipu oleh kelicikan George. Namun, ia harus tetap waspada dan berhati-hati.
"Aku ingin mengajakmu kerja sama-"
"Aku tidak tertarik," jawab Rainer cepat memotong ucapannya.
"Hei, aku belum selesai berbicara. Jangan menyela, aku tak suka itu," ujarnya dengan nada kecewa.
"Sebelum aku bertindak kasar, lebih baik kau dan penjagamu segera pergi dari sini." Nada suara Rainer terdengar tajam.
"Jangan kau pikir karena rumor kekejamanmu menyebar, aku takut? Kau akan menyesal karena telah menolak ajakanku."
Tanpa hormat George pergi, dibarengi dua orang penjaganya yang mengekor di belakang.
"Apa Tuan mau saya melenyapkan dia? Karena dia sudah berani mengancam Tuan Rei," tawar Math.
"Tak usah, Math. Dia bukan level kita."
***
Malam ini Arunika sudah terduduk di sofa yang terletak di dalam kamar tidur. Entah mengapa sedari masuk ke dalam sana, jantungnya terus berdegup kencang.
Pintu toilet kamar terbuka menampilkan Rainer yang sudah mengenakan kimono tidur.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Rainer pada Arunika yang menatapnya tanpa kedip dari ke luar toilet sampai pria itu duduk di kasur.
"K-kau tidak akan melakukan sesuatu padaku, kan?" tanya Arunika gugup.
Rainer tertawa mendengar pertanyaan Arunika yang menurutnya bodoh itu. "Kau bercanda? Kau pikir aku tertarik dengan tubuhmu yang sudah bekas orang itu?"
Jleb!
Tak disangka perkataan Rainer sangat menusuk hatinya. Wanita itu membelakangi Rainer. "Jika kau tidak menginginkanku, Kenapa kau menikahiku?" tanya Arunika dengan suara tertekan menahan amarah tanpa menoleh padanya.
Rainer bangkit berjalan menghampiri Arunika, dan duduk di sampingnya. "Karena aku ingin membuatmu menderita," jelasnya.
Arunika mendongak, menatap Rainer tajam. "Apa kau dendam padaku karena dulu aku menolakmu?"
Rainer tertawa. "Akhirnya kau sadar juga, Aru."
"Tapi, kenapa saat itu kau bilang padaku bahwa kau mencintaiku?"
"Aku memang mencintaimu. Tapi, aku juga membencimu. Karena gara-gara diriku yang culun dulu mencintaimu, aku selalu diejek dan jadi korban perundungan oleh anak-anak yang menyukaimu. Mereka bilang bahwa aku tidak cocok denganmu. Bagai langit dan bumi, seperti tokoh dalam Beauty And The Beast."
"Kau punya dendam pada mereka yang merundungmu, dan sekarang kau ingin melampiaskannya padaku? Kau sudah tidak waras?"
"Sejak mulai mencintaimu aku memang sudah tak waras ... Aku menikahimu untuk membuktikan pada mereka bahwa perkataan mereka salah. Dan aku berhasil mendapatkanmu."
"Meskipun dengan cara curang?" timpal Arunika. "Lagi pula, bagus kau tidak tertarik pada tubuhku. Aku juga tidak akan sudi disentuh oleh lelaki angkuh sepertimu!" Arunika berdiri. Ia memutuskan untuk tidur di luar, atau di kamar lain. Karena rumah milik Rainer sangat luas sekali. Sepertinya ada puluhan kamar. Bahkan pelayan rumahnya pun ada lima. Masing-masing orang berbeda pekerjaan, ada yang di bagian dapur, ada yang membersihkan ruang tamu, ruang makan, bahkan ada juga yang bertugas khusus untuk menyiapkan pakaian-pakaian yang dikenakan Rainer.
Sebelum Arunika melangkah jauh dari Rainer, tangannya berhasil diraih dan ditahan. Tanpa disangka, Rainer menariknya sampai menyebabkan Arunika terbanting di atas tubuhnya.
"Sombong sekali, memangnya seindah apa tubuhmu? Apakah lebih indah dari milik Ivana sampai kau bertingkah arogan begitu," desis Rainer.
Apa? Dasar lelaki berengsek. Jadi dia sudah sering tidur dengan wanita itu.
Arunika mencoba berontak, namun kekuatannya kalah telak oleh Rainer. Justru kini Rainer menyeretnya dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Arunika panik karena melihat Rainer yang mulai melepaskan tali yang mengikat kimononya itu. Sehingga, kini Rainer yang ada dihadapannya itu hanya memakai celana pendek. Arunika tak sudi jika pria berengsek yang sudah sering tidur dengan perempuan lain itu menyentuh tubuhnya.
"Mari kita lihat, ada apa di balik pakaian itu. Apakah ada sesuatu yang menarik?" ucapan Rainer terdengar vulgar di telinga Arunika.
Semakin kuat usaha Arunika untuk melepaskan diri, semakin kuat juga usaha Rainer untuk merapatkan tubuhnya pada arunika. Semakin dekat dan dekat, membuat Arunika dapat merasakan deru napas Rainer menerpa wajahnya.
Pemberontakannya pada Rainer hanya membuat Arunika kewalahan, sampai akhirnya ia pasrah dan menangis tanpa membuka mata. Namun, perlahan gerakan Rainer mulai melonggar, dan dirasakan bahwa tak ada sesuatu lagi yang menimpa tubuh Arunika.
Rupanya Rainer sudah menghentikan aksinya itu, ia memungut kembali kimono yang tergeletak di lantai. "Wajah ketakutanmu benar-benar membuatku senang. Aku puas melihatmu tersiksa begitu." Ia bicara sambil tersenyum. "Malam ini tidurlah dengan nyenyak. Aku akan tidur di kamar lain."
Arunika terdiam, napasnya terengah-engah bagai orang yang baru saja melakukan maraton. Padahal ia hanya melawan tenaga Rainer. Pria itu benar-benar kuat.
Arunika membatin, kenapa di pernikahan yang kedua itu dia harus kembali menderita dengan cara yang berbeda? Di pernikahannya yang pertama ia menderita karena selalu disalahkan oleh mantan suaminya gara-gara mereka belum dikaruniai seorang anak. Padahal yang tak bisa memberi keturunan itu suaminya sendiri. Sedangkan di pernikahan yang sekarang, ia malah lebih menderita. Menikah tanpa cinta karena terpaksa, mendapatkan seorang suami yang berengsek karena sudah pernah tidur dengan wanita lain tanpa ikatan pernikahan, selain itu ia dinikahi atas dasar rasa dendam di masa lalu.
Sambil meratapi nasibnya, gadis itu membetulkan beberapa kancing baju yang tadi sempat terlepas karena paksaan Rainer.