"Nona Aru sudah bangun?" tanya salah satu pelayan yang sudah menungguku di bawah tangga.
"Nona mau sarapan apa pagi ini?" tanyanya lagi.
"Apa saja, Bi," senyum Arunika. Matanya menatap ke penjuru arah. "Tuan Rei ke mana, Bi?"
"Tuan Rei sudah berangkat kerja tadi dengan Tuan Math, Nona," jawab pelayannya sambil menyiapkan makanan untuk Arunika.
Lagi-lagi Arunika menatap ke sekeliling. Ia cuma bingung, mengapa rumah sebesar itu hanya dihuni oleh satu orang tuan rumah, satu orang sekretaris, dan beberapa pelayannya saja. Di mana keluarga Rainer yang asli? Selama ini Arunika memang tidak pernah mempertanyakannya, karena ia tak peduli. Bahkan di hari pernikahannya pun Arunika tidak melihat orang tua Rainer. Di rumah ini pun tak ada foto orang tuanya yang dipajang. Hanya ada foto pernikahan mereka, itu pun baru di pasang kemarin malam.
Kalau ada ibu dan Zack di sini pasti lebih ramai. Sayang sekali mereka tak dibolehkan untuk tinggal di sini, dengan alasan Rainer sudah menyiapkan salah satu hotelnya untuk tempat tinggal tetap mereka berdua. Padahal bilang saja bahwa pria berengsek itu tak ingin ketahuan sifat aslinya yang berengsek. Karena selama ini ia selalu bersikap manis dan sopan di depan ibu dan Zack.
***
Arunika menghabiskan waktu seharian di rumah. Tentu saja, ia sudah berhenti dari pekerjaannya karena permintaan Rainer. Mau tak mau ia harus menuruti keinginannya itu. Jadi, yang dilakukan Arunika saat ini hanya berdiam diri di rumah saja.
Kalau dipikir-pikir, diam di rumah pun percuma. Karena tak ada yang harus ia kerjakan. Semua pekerjaan rumah dipegang oleh para pelayan di rumahnya. Pasti akan sangat membosankan. Tapi kalau pun dirinya memilih untuk bekerja, apakah Rainer akan mengizinkannya.
Untuk apa aku memikirkan pendapat lelaki berengsek itu?
Di lain tempat Rainer sedang duduk di kursi tempat kerjanya. Kedua tangannya sibuk membolak-balikkan halaman yang berisi grafik bisnis perhotelan dan vila miliknya yang semakin hari semakin meningkat. Rainer memang pandai dalam mengelola bisnisnya. Hasil belajar dan kerja kerasnya selama ini benar-benar membuahkan hasil yang memuaskan.
Sementara Math, hanya diam berdiri di samping Rainer dengan posisi istirahat di tempat.
Meskipun tatapan matanya tertuju pada lembaran kertas tipis itu, namun pikirannya dipenuhi oleh Arunika. Dan itu membuat Rainer murka akan perasaannya sendiri.
"Sial, Math." Ia melempar berkas-berkas itu. "Semenjak semalam, wajah wanita itu terus ada di pikiranku sampai saat ini," gerutu Rainer dengan kesal.
"Memangnya semalam apa yang Tuan Rei lakukan?" respon Math, meskipun sudah tahu apa yang biasa pengantin lakukan di malam pertamanya.
"Aku berhasil membuatnya ketakutan. Dan kau tahu, wajahnya yang sedang ketakutan itu terlihat sangat manis, Math," seru Rainer dengan semangat.
Math diam mendengarkan. Suasana kembali hening. "Sepertinya aku harus menghukum perempuan itu, karena sudah berani mengganggu pikiranku."
"Saya bingung dengan Tuan Rei, sebenarnya Tuan sungguh-sungguh mencintai wanita itu atau tidak?"
"Aku sudah pernah mengatakannya berkali-kali, Math. Bahwa aku mencintainya, tapi aku juga membencinya. Aku ingin menyiksa dan membuat hidupnya menderita terlebih dahulu, setelah itu barulah aku akan mencintainya dengan sepenuh hati."
"Tapi, Tuan. Bagaimana jika Nona Aru tak tahan dengan perlakuanmu nanti, dan ia pergi meninggalkanmu."
"Dia tidak akan berani meninggalkanku sebelum kontrak pernikahan selesai. Memangnya dia punya uang sebanyak itu?" Rainer tertawa membayangkan betapa akan menderitanya Arunika menikah dengan dirinya. Ia sudah tak tahan ingin segera menyiksa perempuan itu setelah pulang nanti. Pasti mengasyikan, begitu pikirnya
***
Malam semakin larut, sebagian orang dikota sudah terlelap dalam tidurnya. Dan sebagian lagi ada yang masih terjaga, bahkan ada yang menghabiskan malamnya di jalanan.
Suasana rumah sudah sangat sepi karena para pelayan sudah tertidur, sehingga derap langkah Rainer terdengar jelas saat menapaki beberapa anak tangga, memecah keheningan malam. Ia tengah berjalan menuju kamar Arunika. Di dobraknya pintu kamar dengan kasar. Dan itu membuat Arunika yang tadinya terlelap, terlonjak kaget. Saat bangun ia sudah mendapati Rainer yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah memerah karena amarah.
"Apa kau sudah tak waras, malam-malam begini mengagetkan orang?" tanya Arunika.
"Kau yang sudah tak waras, istri macam apa kau, bisa-bisanya kau tertidur dengan nyenyak. Padahal suamimu belum pulang," lontarnya.
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa?"
"Seharusnya kan kau menungguku sampai pulang. Bagaimana jika aku kelaparan saat sampai rumah?"
"Kau kan punya banyak pelayan. Kenapa tidak meminta mereka saja untuk membuatkanmu makanan."
"Kau ini benar-benar ... pantas saja suamimu yang dulu menceraikanmu. Ternyata begini sikapmu pada suamimu," ejeknya.
"Jangan sembarangan bicara!" sergah Arunika.
Bersamaan dengan itu, datang para pelayan rumah Rainer, Karena mereka ikut terkejut dengan kebisingan yang dibuat oleh Rainer. Termasuk Math yang wajahnya nampak mengantuk berat. Padahal ia baru saja pulang bersama tuannya, dan hendak pergi tidur. Tiba-tiba mendengar dobrakan pintu. Langsung saja bergegas menuju ke arah sumber suara. Khawatir jika itu disebabkan oleh maling. "Ada apa ini, Tuan, Nona?" tanya salah satu pelayan.
"Tidak apa-apa, kalian semua kembali pergi tidur. Dan ingat, jika kalian mendengar suara berisik lagi ... kalian tak usah datang. Kalian tidurlah dengan nyenyak," perintah Rainer. Ia sudah memikirkan apa yang akan diperbuatnya pada Arunika.
"Baik, Tuan," sahut mereka.
Mereka bubar, dan kini hanya ada Rainer dan Arunika yang masih berdiam di kasurnya.
"Sekarang kau ikut denganku." Rainer menarik lengan Arunika dan menyeretnya dengan paksa.
"Lepaskan! Kau mau bawa aku ke mana?" Tetapi Rainer tidak mengindahkan pertanyaan Arunika.
Rainer menyeret Arunika sampai ke depan meja makan. Ia sedikit kasar saat melepaskan tangan Arunika.
"Buatkan aku makanan," ucapnya sambil duduk.
"Apa?"
"Kau tuli? Aku lapar, cepat buatkan aku makanan. Sebelum aku berbuat macam-macam padamu," ancamnya. Ia kemudian bangun, lalu berkata, "Aku akan menunggu di kamar. Nanti aku akan kembali begitu kau selesai."
Arunika ingin menolak, bahkan membantah. Namun, ia sudah terikat kontrak dengan Rainer yang mana semua peraturannya hampir menyebutkan bahwa ia tak boleh membantah Rainer. Akhirnya dengan berat hati, Arunika pun pergi menuju dapur.
***
Tepat jam duabelas malam, semuanya sudah siap. Banyak sekali hidangan yang disiapkan Arunika di atas meja makan. Dia tidak tahu, apa yang diinginkan Rainer. Rainer hanya bilang bahwa pria itu ingin makan masakannya. Jadi, Arunika memasak banyak makanan sebagai bukti bahwa dirinya itu seorang istri idaman. Dan bukan alasan seperti itu yang membuatnya bercerai dengan sang mantan suami.
Tiba saatnya Rainer datang ke meja makan. Dia menatap semua masakan yang disajikan oleh Arunika, pria itu tersenyum miring, meraih sebuah menu, kemudian ....
Praaaanggggg ... Rainer membantingnya ke lantai.
Mata Arunika membulat tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Rainer meraih menu lainnya, dan membuangnya lagi beserta piring-piringnya. Rainer melakukan hal itu berulang-ulang sampai ke menu terakhir. Arunika yang melihat hal itu hanya ternganga, tak mampu mengucap sepatah kata pun.
"Terima kasih makanannya, aku sudah kenyang," Rainer mengecup kening Arunika tanpa rasa bersalah sedikit pun. Seolah itu bukan apa-apa. Arunika tak berontak saat dikecup oleh Rainer, karena ia masih syok dengan apa yang sudah dilakukan suaminya itu. Rainer langsung pergi menuju kamar begitu saja.
Namun, saat setengah perjalanan ia berbalik. "Jangan lupa bersihkan kekacauan itu. Bersihkan sendiri, jangan minta para pelayan. Kau bukan anak manja, kan?" Rainer tersenyum puas melihat Arunika yang sampai saat ini masih diam bergeming tanpa suara.
Ini baru permulaan, Sayang. Kupastikan kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu.