Arunika menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan. Sambil sesekali celingkukan ke kanan dan kiri. Ia sangat berharap untuk tidak bertemu dengan Rainer hari ini. Kalau bisa selamanya.
Malam tadi pria itu benar-benar membuatnya kesal, marah, campur emosi. Bisa-bisanya Rainer berbuat begitu pada dirinya. Itu baru pertama kalinya Arunika diperlakukan begitu oleh lelaki. Mantan suaminya pun bahkan belum pernah berbuat begitu. Sampai kapan pun kejadian itu akan selalu diingat oleh Arunika.
Pagi ini Arunika duduk dengan tenang di depan meja makan. Beberapa menu masakan sudah ada di atasnya. Sang bibi pelayan menyiapkan piring dan nasi untuk Arunika. Melihat para pelayan yang bekerja, Arunika merasa kasihan. Karena mereka harus mendapatkan majikan yang kejam seperti Rainer.
"Kalian betah kerja di sini?" tanyanya.
"Memangnya kami tidak betah kenapa, Nona?" Bibi pelayan balik bertanya.
"Ya ... kenapa kalian betah bekerja dengan majikan yang kejam seperti Rainer?"
"Tuan Rei memang dikenal kejam. Tapi, dengan musuhnya, Nona. Kalau dengan kami, dia sangat ramah dan baik sekali pada pekerja di rumahnya," jelas bibi pelayan sambil menuangkan air pada gelas untuk minum Arunika.
"Bahkan Tuan Rei mau memungut orang-orang seperti kami di jalanan, lalu memberikan tempat tinggal dan pekerjaan yang layak seperti sekarang ini," imbuhnya.
Kening Arunika mengkerut, tak mengerti dengan maksud 'orang-orang seperti kami'.
"Memangnya kalian itu orang-orang seperti apa?"
Bibi pelayan tersenyum. "Dulunya kami ini adalah sekelompok pencuri, Nona."
Spontan Arunika yang tadinya sedang mengunyah langsung berhenti karena terkejut. "Bibi serius?" tanyanya tak percaya.
Bibi pelayan terkekeh pelan. "Saya serius, Nona. Hanya saja kami sekelompok pencuri yang terpaksa harus mencuri untuk bertahan hidup. Karena kami hidup sebatang kara tanpa keluarga. Bahkan kami tak punya tempat tinggal," jelasnya lagi.
"Dan kami beruntung saat Tuan Rei datang, ia menawari pekerjaan untuk kami." Bibi pelayan menambahkan.
Arunika terdiam, ia tak tahu harus bicara apa. Karena, bagaimanapun juga Rainer itu suami yang kejam di matanya.
***
Rainer berjalan menuju salah satu ruang kerjanya, tak lupa Math juga ikut berjalan di belakangnya. Sesekali pria itu melonggarkan sedikit dasinya.
"Mengapa room division kita tiba-tiba mengundurkan diri, Math?" tanyanya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Dia tidak memberikan alasan. Tapi, saya sudah dapat orang untuk menggantikan posisinya. Dia mantan seorang pembisnis. Dan orang itu sudah menunggu Tuan di ruangan yang biasa Tuan Rei mewawancarai calon pegawai baru," jelas Math.
"Baguslah, aku tak ingin menunggu lama untuk mencari pegawai baru. Karena aku butuh orang-orang yang bisa mengurus hotel dengan cepat. Hotel dan vilaku selalu dipenuhi para pengunjung."
Sesampainya di ruangan, seorang pria yang berusia tak jauh dari Rainer sedang duduk. Ia menoleh saat pintu terbuka.
"Selamat pagi, Tuan," sapanya sambil sedikit membungkuk.
"Langsung saja perkenalkan dirimu," jawab Rainer tanpa basa-basi.
Pria itu pun langsung memperkenalkan dirinya. Dia bernama Richard.
Rainer langsung meraih CV milik Richard, dan membacanya.
"Lamaranmu memenuhi kriteria, kau langsung diterima di sini, selamat bergabung." Rainer mengulurkan tangannya, dan Richard menjabatnya.
"Terima kasih, Tuan." Pria itu tersenyum.
***
Beberapa hari berdiam diri di rumah membuat Arunika merasa bosan. Ia sangat kesal dengan peraturan yang dibuat Rainer, pria itu melarangnya untuk pergi ke luar dari rumah. Bahkan untuk sekadar membeli kebutuhan dirinya pun, harus para asisten rumah tangganya yang pergi. Rainer benar-benar membuat Arunika seperti berada di dalam penjara. Hanya saja penjara yang mempunyai fasilitas yang sangat mewah.
Arunika sudah berganti dengan pakaian rapi, wajahnya sedikit dipoles make-up. Ia memutuskan untuk pergi sebentar ke luar, tidak peduli dengan aturan yang dibuat Rainer. Hanya mencari angin sebentar, tak masalah kan? Begitu pikirnya. Lagi pula dia juga pergi tak jauh dari rumah Rainer.
"Nona mau ke mana?" tanya bibi pelayan.
"Saya mau ke luar sebentar, Bi. Cari udara. Bosan di rumah terus."
"Tapi, nanti kalau Tuan Rei tahu Nona tak ada di rumah, saya harus bilang apa?" Ada raut kekhawatiran dalam wajahnya. Ia takut jika Rainer tahu bahwa para pelayan itu membiarkan Arunika keluar dari rumah, mereka akan dimarahi.
"Bibi tak perlu khawatir, saya cuma sebentar kok. Saya akan tiba di rumah sebelum Rainer pulang. Dia kan suka pulang larut malam. Jadi masih ada banyak waktu," jawab Arunika santai. Entah apa yang ada dalam benak wanita itu, ia sama sekali tak ada takutnya dengan ancaman Rainer.
Sebelum bibi pelayan bicara lagi, Arunika sudah menghilang dari pandangannya. Dia diantar oleh seorang supir yang memang sengaja bertugas untuk mengantar para pelayan pergi membeli kebutuhan sehari-hari.
Arunika pergi menuju ke sebuah plaza yang memang terletak tak jauh dari rumah Rainer. Di sana terdapat beberapa toko besar yang menjual beberapa macam fashion yang tak kalah bagus di mal. Ada makanan juga. Semuanya lengkap di sana.
Saat sedang asyik melihat-lihat di salah satu toko fashion, seseorang menepuk pundak Arunika. Tentu saja itu membuatnya terkejut. Saat berbalik, ternyata sesosok pria yang merupakan teman Arunika saat masih bekerja di bank.
"Hei, Aru. Kupikir siapa, ternyata kau. Pantas saja aku seperti mengenalimu dari jauh," sapanya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" sambungnya.
"Aku sedang cari angin, Roy," jawab Arunika.
"Dengan siapa?"
"Sendiri."
"Suamimu ke mana?"
"Dia kan kerja."
"Oh ... Apa kau mau minum teh denganku sebentar?" tawar Roy kemudian.
Arunika langsung mengiyakan ajakan Roy, ia tak butuh berpikir lama karena Roy adalam teman baiknya saat masih bekerja di bank.
"Jadi, saat ini kau sedang sibuk apa?" tanya Roy setelah menyeruput teh miliknya. Saat ini mereka duduk di sebuah kafe yang masih terletak di daerah situ.
"Nggak sibuk apa-apa, sih. Di rumah aja."
"Enak ya, jadi istri seorang CEO yang kaya raya." Roy menggoda Arunika.
Arunika hanya membalasnya dengan senyuman sambil sesekali menyeruput teh miliknya. Tak mungkin kan dia menceritakan kehidupan rumah tangganya yang sesungguhnya.
"Bisa beli apa pun yang kau inginkan," imbuhnya.
"Mmmm ... Roy, boleh tidak jangan bahas suamiku? Aku sedang tak ingin membicarakannya," pinta Arunika. Memang kan niat dirinya pergi ke luar untuk menghirup udara bebas. Melupakan sejenak sosok Rainer.
"It's okay. Jadi, bagaimana dengan kabar ibumu dan Zack?" Akhirnya mereka pun mengobrol panjang.
***
"Di mana dia?" Rainer bertanya pada supir mengantar Arunika. Saat ini dirinya sudah berada di rumah. Ia marah ketika tahu Arunika tidak ada di rumah, dan pergi ke luar. Para pelayan pun menjadi imbas kemarahan Rainer.
"Nona ada di salah satu kafe, Tuan."
"Kafe? Mau apa dia di sana?"
"Saya juga tak tahu, Tuan. Tadinya Nona hanya melihat-lihat pakaian di salah satu toko. Sampai ada seorang pria yang mengajaknya mampir ke kafe."
"Apa?" Rainer merasa tak suka mendengarnya. "Kirimkan foto mereka!" perintahnya sebelum mematikan telepon.
"Dasar wanita j*lang, berani-beraninya dia ke luar rumah untuk menemui seorang pria. Untung saja hari ini saya pulang cepat. Kalau tidak, dia bisa bertindak lebih jauh lagi, Math ... Wanita itu memang tak ada takutnya padaku," geramnya pada Math. Rainer menunggu pesan masuk dari supirnya, dan ketika dia mendapatkan apa yang dia mau. Rainer semakin memanas.
Tampak di sana Arunika sedang tertawa di hadapan seorang pria.
"Apa-apaan wanita ini, berani-beraninya dia menampilkan tawanya untuk pria lain." Rainer tak akan memaafkannya. Nanti malam, dia harus memberikan hukuman yang sedikit lebih kejam pada Arunika. Biar perempuan itu punya rasa takut padanya.