Arunika sangat senang hari ini, karena bisa bercanda dengan temannya setelah sekian lama. Semuanya terasa lebih baik sekarang.
Setelah pulang, ia langsung masuk ke dalam rumah. Tapi setelah menutup pintu, ia membalikkan badannya dan melihat sosok Rainer yang tiba-tiba saja sudah berdiri tak jauh dari pintu rumahnya. Menatap Arunika penuh dengan kebencian. Wanita itu sedikit terkejut tahu bahwa Rainer sudah pulang lebih awal dari biasanya.
Rainer tampak mengamati Arunika dari atas sampai bawah. "Dari mana saja kau?" tanyanya keras.
"A-aku keluar cari angin sebentar."
"Setelah itu?" tanya Rainer lagi, kali ini pria itu sudah melepaskan dasi yang melingkari lehernya.
"Bertemu dengan temanku."
"Seorang pria?"
"Iya, dia teman kerjaku di bank dulu."
"Kau sudah mulai berani selingkuh dengan pria lain?"
Arunika mengernyit. "Apa maksudmu? Aku tidak selingkuh. Pria itu hanya temanku," sergahnya.
"Oh ya? Kau pikir aku akan percaya padamu?"
"Memangnya aku memaksamu untuk percaya padaku?" jawab Arunika tak mau kalah.
Rainer tersenyum miring. "Kau memang sama sekali tidak punya rasa takut padaku, ya."
"Memangnya kau siapa sampai aku harus takut padamu?" tantangnya.
"Dari kemarin aku memang terlalu lembut padamu. Baiklah, akan kutunjukkan padamu sebuah rasa takut." Rainer menyeret paksa Arunika masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Lepaskan!" berontak Arunika yang kesakitan karena genggaman tangan Rainer yang kasar dan kuat.
Rainer membuka paksa dress yang dikenakan Arunika, bahkan dengan kasar hingga robek. Tentu saja itu membuatnya sangat terkejut. Sambil menutupi tubuhnya dengan tangan seadanya, wanita itu berkata, "Apa yang akan kau lakukan?"
Tanpa menjawab pertanyaan Arunika, Rainer mengikat pergelangan tangan Arunika dengan dasinya, menggantungnya di tiang shower, hingga Arunika tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tenaga wanita itu kalah oleh Rainer. Meskipun sudah berontak sekeras apa pun, ia tetap tak bisa melepaskan diri dari Rainer. Pada akhirnya Arunika tak bisa melakukan apa pun selain pasrah. Rainer membalik tubuh Arunika menghadap ke arah dinding, membelakangi Rainer. Lalu pada detik selanjutnya, Rainer melakukan aksi gilanya. Ia memasuki pusat diri Arunika tanpa pemanasan sedikit pun.
Arunika mengerang kesakitan. "Rainer ... Berhenti!!!" Dia mulai menangis. Tetapi, Rainer tak peduli. Pria itu tetap melakukan aksinya, bahkan sesekali dia menggigit kulit Arunika, sampai meninggalkan bekas luka di sana.
"Aaarrgghhh ... hentikan Rainer ... hentikan!!! Kumohon!!!" pinta Arunika sambil menjerit dan menangis. Suaranya menggema di kamar mandi. Untung saja kamar Rainer kedap suara. Jadi, apa pun yang terjadi di dalam tidak akan terdengar di luar.
"Sekarang katakan bahwa kau takut padaku," bisik Rainer dengan tajam.
Arunika pun mengangguk dengan cepat. "Iya ... aku takut padamu ... kumohon hentikan!!!!"
***
Rainer berdiri menatap tajam ke arah Arunika yang masih terduduk di atas lantai kamar mandinya. Tubuh wanita itu masih telanjang dan sudah basah. Ikatannya sudah dilepaskan. Arunika tampak masih terisak dengan wajah yang dia tenggelamkan di antara kedua lengannya.
"Kau benar-benar seorang iblis!" Suara Arunika terdengar parau. Namun, pria itu tak mengindahkan ucapannya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Arunika.
Sampai beberapa menit berlalu Arunika masih belum beranjak dari lantai kamar mandi, ia masih menangis sesenggukkan atas apa yang sudah diperbuat Rainer padanya.
Setelah Rainer keluar dari kamar mandi, ia segera mengganti pakaiannya yang basah, ia sudah rapi kembali dan hendak pergi ke suatu tempat.
"Tuan Rei mau pergi ke mana lagi?" tanya Math yang sudah berdiri di bawah tangga.
"Aku ingin pergi minum sebentar," jawabnya tanpa menengok.
"Apa perlu saya temani?"
"Tidak usah, Math. Aku ingin sendiri." Tanpa menunggu jawaban Math, pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
***
Derap langkah kaki seseorang yang kini memasuki area club malam. Suara dentingan musik mulai terdengar saat memasuki area itu. Wanita itu melayangkan pandangan ke seluruh ruangan, ia tersenyum saat matanya berhasil menangkap sosok orang yang ia cari.
Ivana pun segera menuju ke tempat duduk pria tersebut dan memeluk pria itu dari belakang sampai dadanya terasa menyentuh pundak pria itu karena posisi pria itu yang duduk, sedangkan Ivana berdiri.
"Maaf menunggumu terlalu lama," tuturnya dengan lembut sambil mencium pipi Rainer.
Rainer tersenyum. "It's okay. Tidak apa, Sayang."
"Kenapa kau memanggilku? Apakah wanita itu membuatmu kesal?" tanya Ivana setelah duduk di samping Rainer.
Tiba-tiba perasaan Rainer kembali menggebu saat foto Arunika dengan pria lain terbayang di ingatannya. "Kau betul, wanita itu sudah berani berselingkuh di belakangku!"
"Benarkah? Kalau begitu, kau harus memberinya pelajaran yang setimpal!"
"Sudah kulakukan. Aku sudah menyiksanya ... aku puas, tapi setelah itu mood-ku kembali hancur."
"Makanya kau memintaku untuk menemanimu, kan?" tebak Ivana.
Rainer hanya mengangguk dengan pelan. "Tak apa kan jika aku menghubungimu? Karena kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan selalu menyambutku dengan hangat."
"Tentu saja, Rei. Aku selalu siap dan dengan senang hati akan menemanimu saat kau sedih, menjadi wadah berkeluh kesahmu selamanya," ujar Ivana dengan memegang lengan Rainer.
Beberapa saat mereka saling diam. "Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Rainer tiba-tiba, bau alkohol tercium dari mulutnya.
"Tentu saja aku mencintaimu. Bahkan aku sangat mencintaimu," jawab Ivana sambil menatap Rainer tanpa kedip.
"Lalu, mengapa kau menolak saat aku melamarmu?"
Tak disangka ternyata Ivana merespon pertanyaan Rainer dengan tawa. Setelah tawanya mereda, Ivana berkata, "Kau begitu naif, Rei ... kau ingin menikahiku, tapi kau tidak mencintaiku. Lalu untuk apa aku harus menghabiskan seluruh hidupku bersama dengan orang yang salah?" Beberapa saat mereka kembali terdiam. "Aku tahu bahwa kau hanya mencintai wanita itu, meskipun kau membencinya. Tetapi, cintamu padanya terlalu besar. Bahkan aku sendiri tidak bisa menggantikan posisinya di hatimu. Aku selalu berharap bahwa suatu saat nanti kau bisa mencintaiku juga. Makanya sampai saat ini pun aku selalu bersedia jika harus menjadi wadah untuk memuaskanmu," imbuhnya.
"Kau benar-benar membuatku kehabisan kata-kata, bagaimana aku harus membalasmu?"
Ivana diam berpikir, alis matanya naik turun sambil tersenyum. "Bagaimana jika kita 'bermain' hari ini?" bisiknya dengan nada genit.
Tentu saja Rainer tidak menolaknya. Mereka pun pergi menuju rumah Ivana.
Sesampainya di sana. Mereka langsung bermain dengan panas. Rainer mengalirkan kehangatan di bibirnya pada Ivana. Sementara dinding kamar yang selalu menjadi saksi saat mereka memadu kasih. Selama sebulan tak bertemu, terutama semenjak Rainer menikah. Dia dan Ivana sudah tak pernah lagi memadu kasih berdua. Kini, ada banyak rindu yang menuntuk untuk dicurahkan saat ini.
"Kau hebat seperti biasa," puji Ivana disertai sejuta senyum kepuasan.
Setelah itu mereka pun tertidur dengan pulas berdua di rumah Ivana. Bahkan Rainer tak menyesal dengan apa yang telah ia perbuat pada istrinya.
Pria itu bersenang-senang dengan wanita lain, sementara Arunika menikmati malam yang panjang itu dengan kesakitan dan penderitaan.