Sudah dua hari semenjak kejadian itu Rainer tak pulang ke rumah. Semarah itukah dirinya padaku? batin Arunika. Harusnya kan aku yang marah padanya. Arunika berdesis kesal.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dan gerbang terbuka. Yang tadinya duduk, spontan Arunika langsung berdiri. Ia menghampiri pintu rumah yang sudah dibuka oleh para pelayan. Betul saja itu mobil Rainer.
"Dari mana saja kau?"
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus tanpa menatap Arunika.
"Aku ini istrimu. Jadi, aku berhak tahu kemana kau pergi!"
Rainer menghentikan langkahnya. "Istri macam apa yang berani jalan dengan pria lain di saat suami tidak ada di rumah?"
"Kan sudah kubilang kalau dia--"
"DIAM!" potong Rainer. "Harusnya suami pulang kau sambut dengan baik. Bukan malah diajak berantem."
"Kenapa tubuhmu wangi parfum wanita?" tanya Arunika sambil mengendus.
"Sudah kubilang bukan urusanmu!"
"Jangan-jangan kau sudah bermain dengan wanita itu?"
"Kalau iya, kau mau apa?"
"Lalu untuk apa kau menikahiku kalau kau mencintai perempuan lain?" suara Arunika terdengar berat menahan amarah.
Sesaat tangan Rainer melayang di udara, hendak menampar istrinya itu, Arunika sudah siap menerima rasa sakit yang kesekian kalinya itu. Namun, terdengar suara seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
"Sudah cukup, Tuan," ujar suara pria itu yang tak lain adalah milik Math.
"Beraninya kau menghentikanku?" Kini amarah Rainer tertuju padanya. Namun, tak membuat pria itu gemetar atau takut. Malah ia terlihat sangat tenang menghadapi amarah Rainer.
"Mohon maaf jika saya lancang. Sebaiknya Tuan istirahat karena besok kita ada pertemuan penting untuk memperluas saham hotel. Dan saya tidak mau Tuan terlihat kelelahan," tutur Math dengan sedikit membungkuk.
Dan ternyata Rainer nurut apa kata Math, "Kali ini kau bisa lolos, Aru," gertaknya sambil menunjuk Arunika. Setelah itu Rainer masuk ke kamar pribadinya.
Math menatap Arunika, "Sebaiknya Nona jangan terlalu sering membuat Tuan Rei marah."
Mata Arunika membulat mendengar ucapan Math yang seolah membela tuannya itu. "Hei, kenapa kau membela orang yang jelas-jelas dia yang salah!" sergahnya.
"Tuan Rei tidak akan semarah itu jika anda tidak berbuat salah."
Arunika tersenyum miring, "kau betul-betul mirip seekor anjing yang sangat setia pada tuannya," sindirnya sambil berlalu pergi meninggalkan Math.
****************
Malam merayap perlahan menutupi langit biru. Suara binatang malam yang terdengar dari berbagai pelosok kota. Di dalam rumah megah yang tak lain milik Rainer, seorang pria yang sedang terlelap dalam tidur, namun beberapa kali ia membalikkan badan ke kiri dan kanan dengan gelisah. Keringat dingin bercucuran meskipun mata tertutup rapat. Ada yang mengganggu dalam pikirannya. Sebuah ingatan yang diputar bagai film itu adalah mimpi buruk dari ketakutan Math. Dalam mimpinya ia ditunjuk oleh sekelompok orang-orang tanpa wajah yang jelas, ia ditunjuk dan diteriaki seorang pembunuh oleh mereka. Semakin larut dalam mimpi, Math semakin ketakutan sampai akhirnya ia terbangun dari mimpinya.
Math membuka mata dengan napas tersengal-sengal. "Mimpi sialan," umpatnya.
Untuk sesaat Math terdiam menenangkan dirinya. Setelah tenang, ia beranjak bangun dari kasur. Mengelap keringat dengan punggung tangannya. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 05.00 am. Sudah baginya untuk mandi karena sebentar lagi ia harus mengantar Rainer menemui klien penting.
****************
"Senang bisa melakukan kerjasama bersama Anda, Tuan." Rainer tersenyum sambil menyalami sosok pria tua yang berdiri di hadapannya itu, pria yang melakukan investasi pada perusahaannya. Seperti biasa, di sampingnya berdiri Math.
Setelah semua selesai semua klien pulang. Rainer hendak kembali masuk ke ruangan pribadinya, namun dari kejauhan terdengar suara gaduh seorang wanita paruh baya. Dari gerakan tangannya yg menunjukkan bahwa ia sedang memarahi seorang di depan ruang resepsionis.
Terlihat para staff hotel mulai dari F&B service, Housekeeping, bahkan Assinstant General Manager pun ada di sana.
"Sepertinya ada sesuatu yang serius terjadi di sana, Math. Sampai Assinstant General Manager kita pun ada di sana," ucapnya.
"Sepertinya begitu, Tuan. Apakah kita harus menghampiri mereka?" tanya Math.
"Tidak usah. Biarkan saja mereka yang menangani customer itu."
Namun, saat akan masuk ke dalam. Terdengar wanita itu berteriak-teriak mengatakan bahwa, "hotel ini adalah hotel terburuk yang pernah saya kunjungi. Pelayanannya minus, masa hotel bintang lima tapi ada serangga di makanannya? Pokoknya saya minta pengembalian uang!"
Serangga? selama bertahun-tahun membangun dan mengurus hotel-hotel miliknya Rainer tidak pernah sekalipun menemukan serangga pada makanan. Bahkan seekor lalat pun tak akan ia biarkan masuk ke dalam hotelnya. Apalagi semua staff yang bekerja padanya sangat profesional. Jadi, tidak masuk akal! begitu pikir Rainer.
"Sepertinya kita harus menghampiri mereka, Math." Rainer memutar langkahnya dan menghampiri kegaduhan itu.
"Mohon maaf, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rainer dengan sopan.
"Tuan, Rei." Para staff setengah bungkuk memberi hormat pada Rainer.
"Mohon, maaf atas ketidaknyamanan yang mengganggu Tuan Rei, sehingga Tuan Rei datang menghampiri kami," tutur Assinstant General Manager.
Wanita itu kini berpaling muka pada Rainer. "Memangnya siapa kamu?"
"Kebetulan saya pemilik hotel ini."
"Pas banget ya, saya mau komplain. Katanya Hotel bintang lima. Tapi, kok bisa ada Serangga Kecoa di makanan saya."
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Selama saya membangun hotel ini. Belum pernah ada seorang pun yang komplain mengenai makanan. Apalagi kalau sampai ada serangga. Bahkan lalat pun tidak saya biarkan masuk, karena saya benar-benar menjaga kebersihan dan kenyamanan hotel saya dengan para staff yang sudah profesional."
"Terus ini buktinya apa?" tanya wanita itu sambil menunjukkan seekor kecoa yang berada dalam piring makanan yang terletak di atas meja stand trolly.
Rainer menghela napas, "Baiklah kalau begitu sebagai gantinya anda akan dibebaskan dari biaya penginapan. Saya harap itu sepadan sebagai bentuk tanggung jawab saya dan ganti rugi bagi anda. Dan saya harap masalah ini sudah selesai bagaimana?" tawarnya.
Awalnya wanita itu mendelik kesal, namun akhirnya ia tetap menyetujui tawaran Rainer. Masalah pun selesai dan wanita itu kembali ke kamar inapnya.
"Tuan Rei, apa tidak berlebihan jika harus memberikan sewa inap secara gratis?" tanya Math. "Lagi pula belum tentu itu salah kita. Bagaimana jika wanita itu sengaja memasukkan serangga supaya dapat kompensasi dari kita?"
"Maka dari itu, kau bantu mereka untuk mengecek CCTV hotel kita. Siapa yang sudah berani berkhianat di sini," ujar Rainer. "Dan aku hanya mempercayakan itu padamu. Jadi, kau cek sendiri bersama security."
Para staff saling pandang. Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Rainer, merekapun kembali bergegas pada tugas masing-masing. Sementara Math bersama security bergegas menuju ruang keamanan CCTV.