Dengan serius Math menonton rekaman CCTV bersama dengan Security. Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui siapa pelakunya. Dengan sigap Math langsung berdiri dan menyuruh security untuk menyeret pelakunya yang tak lain salah satu koki hotel itu sendiri. Sementara Math bergegas menuju ruangan Rainer.
Selama menunggu, Rainer hanya duduk dengan posisi kaki menyilang. Sambil menggerakkan kaki yang bertumpu di atas kaki kiri. Sementara Math, seperti biasa berdiri di samping Rainer.
Seseorang mengetuk pintu, lalu masuk. Security itu masuk sambil menyeret seseorang pria. Pria itu terlihat sangat gemetar, dengan wajah penuh keringat. Padahal seluruh ruangan hotel itu ber-AC. Ia menundukkan kepala.
Rainer bangun dari duduknya. Perlahan menghampiri Pria itu. Lalu ia berdiri tepat di depan pria itu dengan tatapan 8mata yang tajam Rainer bertanya, "Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah kau sudah bekerja bertahun-tahun denganku?" Suara Rainer memang terdengar datar namun mematikan bagi di telinga orang yang berhadapan dengannya.
"Ma-maafkan saya, Tuan ... s-saya terpaksa melakukan itu ..." jawabnya dengan terbata-bata.
"Apa yang membuatmu sampai bisa melakukan hal bodoh seperti itu? Kau tau kan siapapun yang membuat masalah denganku akan berakhir seperti apa?"
Pria itu menggerakkan giginya dengan rasa ketakutan.
"Beritahu aku alasan yang masuk akal sampai kau berani melakukan hal itu."
"Saya diancam oleh seseorang, jika saya tidak melakukan apa yang dia suruh, keluarga saya akan dibunuh."
Rainer mengalihkan pandanganya pada Math dan pria itu secara bergantian. "Lalu, kau tidak takut jika aku membunuhmu karena kau sudah berani membuat bisnisku hancur?" Ucapan Rainer berhasil membuat pria itu bersujud memohon ampun.
"Maafkan saya, Tuan. Saya takut karena orang itu terus meneror saya dan keluarga saya. Bahkan ia bisa masuk dan mengetahui pin apartemen saya," ujarnya dibarengi isak tangis.
"Aku akan memaafkanmu jika kau memberitahuku siapa orang yang sudah menyuruhmu itu."
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Selama ini orang itu hanya mengirim surat ancaman dan teror secara tidak langsung."
"Jangan berbohong kau!" Math ikut nimbrung. "Kau tau kan akibatnya kalau berani macam-macam dengan Tuan Rei? Apa aku harus memberimu pelajaran?" Math perlahan mendekati.
"Sudah biarkan, Math. Kita lepaskan dia." Rainer memegang pundak Math untuk menghentikannya.
"Tapi, Tuan-" Ucapan Math terhenti hanya dengan Rainer menatapnya. Math langsung patuh dan diam, kemudian ia perlahan mundur kembali.
"Kau boleh pergi, tetapi tidak untuk kembali lagi."
Pria itu mendongak, menatap wajah Rainer dan memohon, "tolong jangan pecat saya, Tuan."
"Math, kau urus dia. Aku tidak ingin melihat dia ada di hotelku lagi."
Cukup dengan satu kalimat, Math langsung menuruti perintah tuannya itu. Namun, koki itu memberontak saat Math berusaha untuk menariknya keluar.
"Kumohon Tuan maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu semua." Ia masih berusaha berontak namun tentu saja tenaganya kalah jauh dengan Math sehingga Math berhasil menyeretnya keluar.
"Seharusnya kau berterima kasih karena Tuan Rei melepaskanmu tanpa menghukummu!" bisik Math.
****************
Brakk!!!
Rainer memukul mejanya dengan kepalan tangan. "Siapa orang berengsek yang berani menggunakan orang-orang kepercayaanku untuk menghancurkanku," gerutu Rainer dengan kesal.
"Apakah Tuan percaya dengan omongan Koki itu?" tanya Math.
"Tentu saja. Orang biasa mana yang berani mengusik hidupku jika dia tidak ingin mati? Hanya orang-orang yang punya kuasalah yang berani melakukan itu padaku, Math."
"Lalu, Anda ingin saya melakukan apa, Tuan?"
"Tanpa kuberitahu kau pasti sudah tahu, Math."
"Baiklah, kalau begitu saya akan mencari tahu untuk Anda, Tuan." Math pamit undur diri seperti biasa.
Kini hanya tinggal Rainer dan keheningan yang tersisa. Tentu saja itu membuat Rainer berpikir, siapa orang yang sudah berani menyalakan api padanya. Jika Rainer tahu orang itu, maka dipastikan bahwa ia akan membunuhnya.
Tiba-tiba telepon di sampingnya berbunyi. Rainer meraih benda itu, "Halo."
"Tuan Rei, saya ingin menyampaikan kabar buruk pada Anda." Ternyata panggilan itu berasal dari Math.
"Ada apa, Math?"
"Koki yang tadi Anda pecat setelah ia keluar dari hotel dan pulang menuju rumah, mengalami sebuah kecelakaan hingga menyebabkan koki itu meninggal," jelas Math.
Rainer membelalakkan matanya, "Apa? Bagaimana bisa?"
"Menurut pengamatan saya, sepertinya ini bukanlah sebuah kecelakaan. Melainkan sebuah pembunuhan berencana."
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu?" Rainer mengangkat sebelah alisnya.
"Sepertinya Anda harus melihatnya sendiri kemari. Kebetulan saya sedang berada di tempat kejadian." Math mengakhiri pembicaraan. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Rainer langsung menuju ke tempat yang disebut Math. Sepertinya ini masalah serius jika apa yang diucapkan Math benar. Itu berarti musuh sudah mengetahui bahwa rencananya untuk menghancurkan Rainer lewat koki itu gagal, bahkan sebelum Rainer bertanya dan menyelidiki lebih jelas. Orang itu mengambil tindakan lebih cepat dengan membunuh kunci utama untuk Rainer menyelidiki lebih lanjut, yaitu koki itu.
****************
Kumpulan asap hitam mengepul tinggi menuju langit yang tak lain berasal dari sebuah mobil yang sudah tak berbentuk jelas karena terhalang oleh kobaran api besar.
Beberapa orang damkar sedang berusaha untuk memadamkan api agar tidak bertambah besar, bunyi sirine menggema di udara hingga menyebabkan banyak orang yang berkumpul di area kejadian. Polisi pun ikut menertibkan orang-orang yang memaksa mendekati wilayah kecelakaan. Padahal itu bukanlah suatu tontonan yang harus dilihat.
Wartawan pun mulai berdatangan satu persatu berlomba-lomba memuat berita terhangat.
Selang beberapa menit. Rainer sampai dan sudah disambut oleh Math.
"Kenapa bisa kejadian seperti ini, Math?" tanya Rainer setelah turun dari mobilnya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Ketika saya akan membuntuti dia, tiba-tiba di perjalanan mobilnya meledak sendiri. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan terjadinya kecelakaan," tutur Math.
Rainer manggut-manggut, sudah dipastikan bahwa ini perbuatan musuhnya. mungkinkah orang itu telah menyewa seseorang untuk menghilangkan bukti dengan melenyapkan mantan kokinya itu. Dan pastinya musuh kali ini sangat berbahaya karena ia bahkan bisa dengan mudah menghasut salah satu staff yang sangat dipercayakannya.
"Sepertinya mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati, Math. Karena aku merasa bahwa musuh mulai bergerak terang-terangan untuk menghancurkan bisnisku."
"Apa perlu kita meminta bantuan polisi-"
"Jangan, Math!" potong Rainer. "Lebih baik kita tidak usah melibatkan aparat, karena akan lebih mudah diketahui oleh para reporter. Kalau masalah ini masuk berita ke stasiun tv maka urusannya akan jadi rumit. Lebih baik kita urus dan selidiki masalah ini sendiri."
Math mengangguk tanda mengerti. Bersamaan dengan itu entah sejak kapan salah satu reporter itu menyadari kehadiran Rainer, mereka pun berlomba-lomba untuk mewawancarai pria itu. Karena mereka tahu orang yang telah mengalami kecelakaan itu adalah salah satu staff yang bekerja di hotel Rainer.
"Apakah Anda Tuan Rainer?" tanya salah seorang reporter. Mendengar nama Rainer membuat semua mata para reporter itu melayangkan pandangannya pada Rainer. Alhasil kini mereka bergantian mengerubungi Rainer.
Tentu saja itu membuat Rainer sangat terganggu dan tidak nyaman. Terlebih pertanyaan-pertanyaan para reporter yang sangat membuatnya kesal seperti, "Apakah kejadian ini ada hubungannya dengan Anda, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.
Rainer perlahan mundur menjauhi mereka, sedangkan Math berusaha menghalang-halangi para reporter yang kini berbondong menyudutkan Rainer dengan berbagai macam pertanyaan.
"Sebaiknya Tuan masuk ke dalam mobil!" Rainer pun menuruti perintah Math, setelah berhasil masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung tancap gas menjauh dari kerumunan.