Di sebuah ruangan serba putih ada seorang wanita yang mengenakan jas dokter sedang berdiri menghadap jendela dengan sebuah ponsel menempel di telinganya, sambil menganggukan-anggukan kepalanya, dan juga menngigiti bibirnya tanda menahan kesal pada orang yang sedang meneleponnya itu.
“Iyah Kam, aku ngerti ini acara penting buat kamu. Acaranya jam 6 kan? Masih ada waktu, ini pasien terakhirku. Jadi, tenang aja aku nggak akan telat kok. Ya udah aku-.” Saat perkataannya belum selesai, sudah ditutup sepihak oleh orang yang meneleponnya. Wanita itu pun menghela napasnya berat, sambil memejamkan matanya sejenak untuk meredakan kesalnya pada calon suaminya itu.
“Dok!” Ajeng pun segera membalikkan badannya ketika mendengar dipanggil asistennya, Rumi.
“Ini Dok, pasien terakhir kita hari ini.” Ajeng pun kemudian tersenyum pada pria yang sedang duduk di depan meja konsultasinya itu, lalu dia pun segera duduk di kursinya.
“Ah selamat sore, maaf yah Pak tadi saya terima telepon dulu sebentar,” terangnya tak enak, ketika ternyata pasiennya sudah ada dalam ruangan saat menelepon tadi. Namun, tak ada tanggapan malah pasien pria itu menatapnya terus, sambil menaikkan alisnya membuat Ajeng bingung.
“Pak, Pak!” serunya sambil menggerakkan tangannya di hadapan pria itu.
Pria itu pun tersadar, “Aduh maaf Dokter, emm saya malah fokus melihat tanaman yang ada di belakang dokter itu,” elaknya.
Padahal pasien itu jelas daritadi terpana melihat dokter cantik yang memiliki dua lesung pipi di pipi kanan dan kirinya itu. Tapi alangkah malunya dia terpergok, maka dia pun memakai alasan melihat tanaman yang berada di belakang dokter itu.
Ajeng yang heran mendengar alasan itu pun segera menengok ke belakangnya dan melihat tanaman itu memang ada di belakangnya. Lalu dia pun menganggukan kepala tanda mengerti sambil mulai membuka berkas rekam medis pasiennya yang sudah tersedia di atas meja.
“Dia pasien baru Dok, keluhannya sakit gigi karena berlubang.” Ajeng pun mengangguk-anggukan kepalanya, ketika mendengar penjelasan dari asistennya yang berdiri di sampingnya itu.
“Oke, Pak Abisatya saya akan memeriksa gigi anda. Silahkan duduk di kursi pemeriksaan!” seru Ajeng dengan sopan.
“Panggil Mas saja Dok, sepertinya kita seumuran!” cetus pria itu sambil tersenyum pada dokter.
Ajeng pun mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan pasiennya itu, tetapi dia pun segera tersenyum samar menjaga etikanya sebagai dokter. Lalu dia pun siap-siap untuk memeriksa pasiennya.
Begitupun dengan Abisatya, kini pria itu sudah duduk di kursi pemeriksaan. Tak lama dokter pun menghampirinya dan duduk di kursi sebelah dental unit.
“Boleh dibuka mulutnya Pak! Saya akan periksa kondisi gigi dan rongga mulutnya dulu,” terang Ajeng.
Abisatya pun perlahan membuka mulutnya, kemudian dokter pun mencondongkan badannya untuk memeriksa. Saat itu juga Abisatya menahan napasnya, dia sangat terpana melihat wajah dokter itu yang begitu dekat dengannya. Meskipun wanita itu memakai face shield dan masker.
“Ah ternyata ada lubang di gigi bawah sebelah kanan, tapi tidak besar jadi saya akan menambalnya saja yah Pak,” lanjut sang dokter. Abisatya pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, serta matanya terus tertuju pada wajah dokter yang berada didekatnya itu.
“Baik kita mulai yah.”
Ajeng yang seorang dokter itu pun lalu memulai melakukan proses tambal gigi dibantu oleh asistennya. Dimulai dari membersihkan area gigi yang berlubang, menggunakan bur gigi.
Abisatya yang biasanya tidak suka saat proses pengeburan gigi karena rasa ngilu atau suara bising yang dihasilkan. Namun, sekarang dia sangat menikmatinya karena dia bisa terus melihat dokter cantik itu dengan jarak yang sangat dekat.
Setelah gigi benar-benar bersih, maka tahap tambal gigi selanjutnya adalah pengolesan bahan perekat tambalan yang disebut dengan bonding. Bahan bonding diperlukan agar bahan tambal bisa merekat sempurna ke permukaan gigi. Setelah itu barulah proses meletakkan bahan tambal gigi sedikit demi sedikit sambil dibentuk sesuai anatomi gigi, agar nyaman saat nantinya menggunakan gigi tersebut untuk menggigit atau mengunyah.
“Baik Pak, saya sudah menempelkan bahan penambalnya, sekarang coba gigit dan rasakan apakah ada yang mengganjal?” tanya Ajeng.
Pria itu pun segera menggerakkan gigi-giginya sambil merasakan. “Ah tidak Dok sepertinya sudah pas.”
“Oke kalau begitu kita lanjutkan tahap akhirnya yah, yaitu finishing.”
Dokter Ajeng pun memulai lagi tindakan finishing agar permukaan tambal semakin halus dan tidak ada celah yang memungkinkan bakteri kembali masuk. Tak lama tindakannya pun selesai.
“Baik Pak prosesnya sudah selesai, anda bisa duduk kembali di kursi konsultasi,” tutur Rumi, asisten dokter.
Semantara Ajeng mencuci tangannya sambil melepas perlengkapannya tadi. Setelah itu dia pun duduk kembali di kursinya.
“Baik Pak tadi itu giginya berlubang, tetapi belum dalam. Sehingga tadi saya sudah menambalnya permanent. Jadi, Bapak tidak perlu kembali ke sini.”
Abisatya pun tentu kecewa mendengar hal itu. Dia jadi berharap kalau giginya lubang parah agar bisa bolak balik bertemu lagi dengan dokternya ini.
“Nah, setelah dilakukan penambalan wajar jika Bapak merasa sedikit ngilu pada gigi yang ditambal karena kondisi tersebut adalah hal yang normal. Biasanya, rasa ngilu ini akan hilang dengan sendirinya setelah satu minggu. Rasa tidak nyaman setelah gigi ditambal pun adalah hal yang biasa terjadi dan hanya memerlukan penyesuaian selama beberapa hari atau minggu hingga Bapak merasa nyaman menggunakan permukaan gigi yang baru tersebut. Namun, jika rasa ngilu serta tidak nyaman tidak kunjung hilang dan sudah benar-benar mengganggu. Maka Bapak bisa kembali ke sini untuk dilakukan pemeriksaan ulang,” lanjut sang dokter panjang lebar.
Abisatya pun mendengarkan dengan seksama penjelasan lengkap dari dokter yang dia kagumi sedari tadi itu. “Ah Baik saya mengerti Dok.”
“Kalau begitu ini ada resep obat untuk pereda nyeri yang diminum jika sakit yah Pak!” Ajeng pun memberikan selembar kertas berisi resep obat.
Abisatya segera mengambil kertas itu, lalu dia pun kembali melihat ke arah dokter yang seperti sedang harap harap cemas melirik jam sedari tadi.
Ajeng pun keheranan karena pasiennya tak kunjung pergi juga dari ruangannya, padahal dia sudah menjelaskan detail sedari tadi. Lalu Ajeng pun memberi isyarat pada asistennya.
“Emm Maaf Pak, apa ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya Rumi sopan.
“Ahh, emm tidak sepertinya. Dokter Ajeng tadi sudah sangat detail memberitahu,” jawab pria itu.
“Kalau begitu, Bapak boleh langsung saja ke depan untuk menebus obat.”
“Yah? Oh begitu,” desahnya dengan raut wajah kecewa, yang membuat Ajeng dan Rumi mengerutkan alis karena pasiennya ini terlihat masih ingin berada di sini.
“Ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak Dokter.”
“Sama-sama Pak,” jawab Ajeng.
*****
tbc