Abisatya pun dengan terpaksa melangkahkan kakinya menuju pintu sambil masih sesekali melihat ke arah belakang. Yah dia sebenarnya masih sangat ingin lama di dalam sana. Baru kali ini rasanya dia senang ke dokter gigi, padahal biasanya dia akan sangat malas untuk berobat. Tentu saja itu semua karena dokter cantik itu, dia pun sangat berharap bisa kembali bertemu dengannya, tak apa juga jika dia harus sakit gigi lagi asal bisa bertemu kembali dengan dokter itu.
*****
Sedangkan dalam ruangan kini Ajeng dan Rumi saling pandang lalu tertawa melihat kelakuan aneh pasiennya yang baru saja keluar itu.
“Sepertinya dia masih betah di dalam sini,” sindir Rumi sambil membereskan peralatan bekas tadi.
Ajeng pun hanya tertawa menanggapinya, tak lama ponselnya berdering. Wanita berumur 30 tahun itu pun membuang napasnya berat ketika melihat nama yang tertera di ponsel. Mau tak mau dia pun segera mengangkat teleponnya sebelum orang itu semakin kesal padanya.
“Kamu masih di mana? Lihat ini sudah jam berapa? Kenapa kamu masih belum sampai?” terdengar sambutan ocehan dari ujung sana, membuat Ajeng mengatur napasnya lagi agar tak terbawa emosi juga.
“Iyah aku baru aja beres tanganin pasien terakhirku. Ini aku lagi mau siap-siap pergi, insyaallah aku nggak akan telat sampai sana.”
“Ini hampir jam 5 loh, belum nanti kalau macet gimana coba? Udah pokoknya kamu cepet ke sini awas kalau telat! Oh iyah jangan lupa kamu harus pakai dress yang tadi aku siang kirim!” ketus pria di ujung sana lalu mematikan sambungan teleponnya.
Ajeng pun menghela napasnya berat lagi, sambil menatap paper bag yang berisi dress pemberian calon suaminya itu. Yah calon suaminya itu memang seperti itu, gampang marah, suka mengatur, dan semua yang dia ucapkan harus selalu di turuti.
Wanita itu pun segera menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya, setelah itu dia pun melihat pantulan tubuhnya di cermin. Kini tubuhnya sudah terbalut off shoulder dress berwarna maroon. Sebenarnya dia tidak suka dengan model dress yang menonjolkan bahunya itu. Akan tetapi, dia tak punya pilihan karena calon suaminya lah yang mrnyuruhnya bukan. Tak lupa dia pun segera merias wajahnya dengan make-up agar terlihat lebih segar, serta merapikan rambutnya dengan mengambil sedikit bagian rambut di kedua sisi, lalu memilin masing-masing bagian dan satukan di tengah dengan jepit rambut. Kemudian dia pun mengambil rambut bagian kanannya ke depan dibiarkan terurai agar bahunya tidak terlalu terlihat. Setelah selesai dia pun segera kembali ke ruangannya, lalu mengganti sepatu flat-nya itu dengan heels pilihan sang calon suaminya juga.
“Waw! Dok beda banget dengan pakaian seperti ini,” kagum Rumi melihat Ajeng yang sudah sangat rapi dan cantik tentunya.
Ajeng pun hanya tersenyum samar, “Tapi ini bukan style ku Rum, kamu tahu sendiri aku nggak biasa pake heels dan pakaian terbuka seperti ini.’’
“Tak apa Dok nanti juga terbiasa kok, tapi asli manglingi sekali katon ayu loh Dok!” kekeh Rumi dengan logat jawanya yang kental itu.
Ajeng yang tak suka dipuji itu pun hanya tersenyum, “Sudah ah aku bisa telat nih, aku pergi sekarang yah Rum. Bye!”
Wanita itu pun bergegas keluar ruangannya menuju lobi depan rumah sakit, sambil sesekali melihat jam di ponsel yang sedari tadi digenggamnya, kemudian tiba-tiba.
Brukkk........
“Aww!!!” rintihnya sambil memegang bahunya.
“Aduh maaf Mbak saya tak sengaja, lagian Mbak juga tadi jalannya nggak lihat-lihat.” Pria itu pun menghentikan ucapannya dan mengerutkan alisnya ketika melihat wajah wanita yang tabrakan dengannya itu dari samping, sepertinya dia kenal tapi.
“Ah tidak apa-apa, saya juga salah maaf mas saya lagi buru-buru!” terang wanita itu sambil mengambil salah satu ponsel yang tergelatak di lantai, lalu pergi begitu saja tanpa melihat pria yang menabraknya sedikit pun.
Abisatya pun menatap wanita yang terus berjalan menjauh dari pandangannya itu. Dia yakin betul suara wanita tadi mirip dengan dokter cantik itu. Namun, dia pun segera menggelengkan kepalanya karena tampilan baju wanita yang menabraknya tadi berbeda dengan dokter yang tadi dia temui itu. Yah, mungkin itu hanya halusinasinya saja yang masih berharap bertemu dengan dokter cantik itu lagi. Lalu Abisatya pun mengambil ponsel yang terjatuh saat tabrakan tadi ke dalam saku jaketnya dan berjalan menuju loket apotik untuk mengambil obatnya.
****
“Pak ke Hotel Mahendra yang di Malioboro yah!” seru Ajeng pada supir taksi yang dia naiki.
“Nggih Mbak.”
Ajeng pun menghela napasnya lega karena dia kesusahan mencari taksi depan rumah sakit tadi. Dia sangat berharap semoga bisa tepat waktu sampai sana. Kemudian dia teringat belum mengabari sang ibu yang pasti khawatir jika dia pulang tidak tepat waktu.
Namun, saat dia mencoba buka ponselnya dengan sidik jari, tapi kenapa tidak terbuka, malah menunjukan screen lock yang tidak dia kenal. Lalu dia pun segera membolak balikan ponsel berwarna hitam itu, ponselnya memang persis sama dengan miliknya. Lantas apa artinya tertukar? Dengan siapa? Pikirnya panik mencoba mengingat-ingat.
“Ah apa saat tabrakan dengan orang itu?” bisiknya dan kemudian dia pun teringat memang ponselnya jatuh dan saat tadi di lantai memang ada 2 ponsel tergelatak di sana. Dia pun segera merutuki kebodohannya tadi, lalu mencoba pikir cepat apa yang harus dia lakukan agar bisa mendapatkan ponselnya lagi.
Saat sudah mendapat ide dia pun segera menekan ponsel itu menuju panggilan darurat dan segera menelpon nomor ponselnya sendiri. Dengan cemas dia berharap diangkat. Namun, sayang tidak di angkat sama sekali. Lalu dia pun segera memikirkan cara lain. Saat melihat kembali screen lock ponsel itu adalah sebuah kartu nama yang bertuliskan ‘Kenangan Studio’ yang dilengkapi alamat dan nomor telepon.
Ajeng pun berencana mendatangi alamat studio itu saja. Namun, ternyata tempatnya dekat dengan rumah sakitnya dia bekerja, yang artinya dia harus putar balik lagi. Wanita itu pun mulai kebingungan harus bagaimana. Saat melihat jam masih pukul 17.30 dia pikir masih ada waktu, paling kalau pun terlambat sedikit.
“Pak tolong putar arah ke rumah sakit lagi yah!” seru Ajeng.
“Serius Mbak? Ini sebentar lagi sampai loh Mbak.”
Ajeng pun megnanggukkan kepalanya cepat, karena bagaimana pun dia harus mengambil ponselnya untuk mengabari ibunya yang pasti akan mengkhawatirkannya. Membayangkan ibunya khawatir saja sudah membuatnya ketakutan. Mobil taxi pun segera memutar arah kembali, tak lupa Ajeng pun memberikan alamat yang akan ditujunya sesuai yang dia lihat di ponsel itu. Sepanjang jalan dia pun merasa cemas, apalagi setiap melihat jam yang terus berjalan berganti menit itu.
******
tbc