Sedangkan di lain tempat, Abisatya baru saja masuk ke dalam studio miliknya. Lalu terasa getaran dari ponsel lagi dalam jaketnya, dia pun merasa keheranan karena biasanya dia memakai nada dering tak pernah hanya mode getar. Kemudian dia pun segera megeluarkan ponselnya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat ada 6 panggilan video tak terjawab bertuliskan “Calon Suami” di layarnya.
Abisatya pun menatap heran ponsel itu, tiba-tiba ada panggilan video masuk lagi ke ponsel yang sedang dipegangnya itu. Kemudian dia pun baru tersadar mungkin ponselnya tertukar dengan wanita tadi. Dia pun memilih mengangkat panggilan video itu saja siapa tahu yang menelepon itu wanita tadi menggunakan ponsel “calon suami-nya” itu. Namun, tiba-tiba yang muncul di layar adalah seorang pria dengan ekspresi marah sambil mengerutkan alisnya yang tebal itu.
“Heh, siapa lo? Ini kan nomor cewek gue? Kenapa malah laki lain yang angkat? Sebenarnya lo siapa? Mana cewek gue? Ajeng? Ajeng?” sembur pria itu dengan menggebu-gebu.
Abisatya pun hanya melongo dibantai oleh banyak pertanyaan itu. Namun, baru saja dia hendak menjawab, tiba-tiba ponsel yang dipegangnya itu mati total habis baterai. Dia pun menghela napasnya berat, merasa tak enak sepertinya keputusannya mengangkat panggilan video itu salah karena nyatanya malah pria itu seperti salah paham padanya.
Kemudian dia baru tersadar kalau pria tadi memanggil nama Ajeng? Apakah Ajeng yang dimaksud dokter yang tadi dia temui itu? Atau hanya kebetulan saja namanya sama? Atau memang betul dia? Yah jika betul itu artinya mereka akan bertemu lagi bukan? Kini semakin banyak pertanyaan dalam otaknya.
Teettt.....
Suara bel itu menyadarkan Abisatya dalam lamunannya. Dia heran siapa yang datang? Padahal jelas jelas dia sudah membalikan papannya menjadi tulisan tutup di pintu kacanya itu. Pria itu pun segera menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Setelah dekat pintu, dia pun bisa melihat seorang wanita sedang berdiri di luar. Namun, dia tak bisa melihat mukanya karena wanita itu berdiri membelakangi pintu, kemudian Abisatya pun memutar kunci pintunya itu.
Saat pintu dibuka bersamaan dengan itu Ajeng pun membalikkan badannya, kini Abisatya bisa melihat dengan jelas siapa tamunya itu.
Dua manusia itu pun kini sedang saling menatap dengan perasaan kaget tentunya. Jelas Ajeng pun masih ingat betul kalau ini adalah pasien terakhirnya tadi.
"Oh jadi kamu yang tadi tabrakan di loby dengan saya," kata Ajeng lalu tersenyum kecil mengingat kecerobohannya.
Sedangkan Abisatya masih terpaku di tempatnya, dia masih tak percaya jika wanita yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah dokternya yang tadi. Tentu dia sedang tidak berhalusinasi lagi kan? Tapi barusan memang suara wanita yang sama, ditambah saat tersenyum barusan, dia bisa melihat lesung pipi yang sama. Jadi benar dia dokter cantik itu kan? Batinnya bahagia.
Ajeng pun terheran melihat pria yang dihadapannya kini malah terpaku seperti itu, apa ada tanaman lagi dibelakangnya seperti tadi.
"Maaf Mas, heii!" serunya sambil menggerakkan tangannya di hadapan pria itu.
Abisatya pun langsung tersadar, dia menutup matanya sebentar menggunakan tangannya karena dia sangat malu lagi-lagi terpergok terpaku di hadapan wanita yang sama.
"Eh iyah maaf, sebentar apa anda Dokter Ajeng yang saya temui tadi?" tanyanya ingin memastikan.
"Iyah betul itu saya, kenapa?"
Senyum Abisatya pun merekah setelah mendengar jawaban itu. Jadi, benarkan dugannya. Dia tak menyangka dokternya itu sangat berbeda dengan tampilan seperti ini, membuatnya terlihat sangat cantik dan elegant. Meskipun sebenarnya Abisatya lebih menyukai tampilan polos dokternya itu.
"Manglingi banget Dok!" serunya jujur sambil tersenyum kagum.
Ajeng pun hanya tersenyum samar mendengarnya. "Ah iyah saya ke sini mau menukarkan ponsel, mana ponsel saya?" tanya Ajeng sambil mengulurkan ponsel milik pria itu.
"Ah ponsel, iyah ada di dalam. Ayo masuk dulu ke dalam saja Dok!" ajak Abisatya sambil mengambil ponselnya.
"Ah tidak usah, saya tunggu di sini aja. Kebetulan saya lagi buru-buru." Tolak Ajeng sopan.
"Ah ya sudah tunggu sebantar yah!" Abisatya pun segera masuk ke dalam. Tak lama dia pun sudah kembali. "Ini Dok, oh iyah tadi calon suaminya video call," terangnya sambil memberikan ponsel itu.
Mata Ajeng pun membulat lebar mendengarnya, "Nggak kamu angkat kan?" tanya Ajeng waswas.
"Iyah aku angkat, terus dia marah-marah gitu, pas saya mau jelasin, eh ponselnya mati habis baterai." Rama menjelaskan dengan perasaan tak enak juga.
"Apa?" pekik Ajeng lalu menghela napasnya berat, menutup matanya sebentar, dia yakin pasti calon suaminya itu akan marah padanya.
"Maaf aku lancang malah mengangkat telpon itu," sesal Abisatya yang menjadi tak enak saat melihat ekspresi khawatir wanita dihadapannya ini.
Ajeng pun hanya tersenyum samar saja, "Saya juga minta maaf karena keteledoran saya ponsel kita jadi tertukar."
Abisatya malah tersenyum lebar mengingat itu, 'malah saya bersyukur Dok karena dengan itu kita bisa bertemu kembali,' batinnya. Tentu saja dia tak mungkin mengutarakannya segamblang itu bukan.
Ajeng pun mencoba menghidupkan ponselnya lagi. Namun, nihil ponselnya mati total. Dia pun semakin cemas, memikirkan orang tuanya akan khawatir, ditambah lagi Kama yang pasti sudah salah paham karena yang mengangkat teleponnya adalah pria.
"Oh iyah ini Mbak pakai saja powerbank saya!" seru pria itu sambil menyodorkan benda berukuran persegi panjang itu.
"Ya udah saya pinjam dulu yah Mas, nanti saya balikin sini lagi!" Ajeng pun segera mencolokkan ponselnya ke powerbank itu.
Abisatya pun mengulum senyum mendengarnya karena itu tandanya mereka akan bertemu kembali.
"Ya sudah Mas, saya pamit dulu!" pamit Ajeng.
"Mau saya antar?" tanya pria itu.
Ajeng pun menggelengkan kepalanya cepat, "Ah tidak usah terima kasih, saya bisa pakai taksi kok.”
"Susah loh Dok dapet taksi di sini tuh," tutur Abisatya.
"Serius?" Ajeng mulai panik, karena jika benar itu artinya dia akan sangat terlambat sampai sana.
"Iyah, lagian kan Dokter harus pergi cepat-cepatkan?" Abisatya terus membujuk.
Ajeng pun menatap penuh tanya pada pria yang di hadapannya ini, ‘kenapa dia tahu kalau dirinya sedang buru-buru?’ batinnya.
Abisatya pun seperti mengerti akan tatapan itu pun menjawab, "Tadi kan saya ngak sengaja dengar obrolan Dokter waktu di ruangan tadi itu."
Ajeng pun hanya tersenyum samar mengingat ternyata pasiennya mendengar obrolannya saat di telepon tadi.
"Ya sudah saya antar saja yah! Saya ambil dulu kunci motor saya."
Abisatya pun dengan sigap masuk ke dalam lagi. Sedangkan Ajeng berdiri di pinggir jalan, menunggu sambil berharap semoga saja ada taksi lewat. Jadi, dia tak usah di antar pria tadi. Karena dia jelas tak mau merepotkan pria yang baru dikenalnya itu, terlebih dia pria.
Crettt. ….
Namun, tiba-tiba ada sepeda motor yang melintas dengan kecepatan tinggi, membuat genangan air di jalan itu mengenai badan Ajeng yang sedang berdiri di pinggir trotoar itu. Kini dia pun sedang meratapi bajunya yang sudah kotor dan basah.
Bagaimana bisa ini terjadi? Masa iyah dia harus berpakaian kotor seperti ini di acara ulang tahun calon suaminya itu? Dia pun menutup matanya kembali merutuki kebodohannya yang terus terjadi. Kenapa hari ini sangat kacau sekali? Apakah hari ini adalah hari sialnya? Atau kenapa?
****
tbc