Ajeng masih berdiri di pinggir trotoar sedang merenungi nasib sialnya hari ini. Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan andai saja jika tadi dia langsung saja ke tempat Kama, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi dan yang jelas Kama pun tidak akan salah paham padanya karena ponselnya di angkat oleh pria lain.
Dia pun mulai menyesali keputusan yang diambilnya dan semakin menyadari kalau keputusannya memang selalu salah, membuatnya sangat frustasi. Lalu apa yang harus dilakukannya saat ini? Apa dia harus tetap datang ke acara kama dengan baju yang kotor seperti ini? Seketika dia pun menggelengkan kepalanya. Yah, tentu saja itu bukan pilihan yang bagus karena sudah pasti akan membuat Kama tambah murka karena sudah mempermalukannya di acara besar pria itu.
Lantas, bagaimana? Kalau dia pulang ke rumah dulu untuk berganti baju, jelas tak mungkin karena itu akan semakin telat. Bahkan, Sekarang saja sudah sangat telat. Dia benar-benar sangat bingung harus berbuat apa. Wanita itu pun mulai memijit keningnya yang mulai terasa berdenyut, karena mimikirkan hal-hal tadi.
"Dok, nggak apa-apa kan saya antarnya pakai motor?"
Suara pria itu menyadarkannya dari lamunan. Lalu, dia pun membalikkan badannya melihat pria yang sedang memberikan sebuah helm padanya.
Kening Abisatya pun berkerut seketika, ketika melihat baju yang dikenakan dokter itu terlihat sangat kotor dan dia pun melihat raut wajah cemas di wajah sang dokter. Dia pun menarik kembali helm yang belum diambil oleh wanita di hadapannya itu. "Sepertinya dokter tidak mungkin pergi dengan pakaian kotor seperti ini kan? Apa dokter membawa baju ganti?" tanyanya, mencoba mencarikan solusi pada wanita yang terlihat bingung dan cemas itu.
Mendengar pertanyaan itu, bibir Ajeng tersenyum lebar, ketika teringat kalau ada baju yang tadi pagi dipakainya ke rumah sakit yang disimpan di ruang dokternya. "Ah benar, bisa nanti kita mampir ke rumah sakit dulu? Ada baju ganti saya di sana."
Abisatya pun tersenyum lega ketika melihat wanita itu sudah mendapatkan solusinya. Lalu dia pun menganggukan kepalanya setuju, "oke, ayo cepat kalau begitu, sebelum semakin terlambat!" ajaknya sambil memberikan kembali sebuah helm.
Ajeng pun menerimanya, lalu memakai helm itu. Sedangkan Abisatya menghidupkan motor vespanya itu. Tak lama kini vespa itu sudah ada di depannya. Dia sebenarnya masih ragu untuk di antar pria yang baru dikenalnya ini. Apakah ini memang pilihan yang benar? Tanyanya dalam hati, sambil masih berharap sebuah taxi lewat. Dia pun mengamati sekitarnya lagi.
"Ayo Dok. Nanti semakin terlambat!" ajak Abisatya mengingatkan.
Ajeng pun semakin cemas, ketika mendengar kata terlambat itu. Lalu dia pun menutup matanya sejenak, yah hanya ini satu-satunya jalan agar dia tak semakin terlambat. Setelah meyakinkan dirinya, Ajeng pun kemudian duduk di jok belakang motor vespa itu dengan posisi duduk miring ke samping. Yah, dia terpaksa duduk seperti itu karena tak mungkin dia duduk dengan posisi kaki mengangkang karena dress yang dia kenakan ini agak ribet.
Namun, setelah duduk dia pun bingung harus berpegangan kemana karena motor vespa ini tak ada pegangan di bagian joknya. Apa artinya dia harus memegang badan pria yang baru dikenalnya ini? Oh tidak pikirnya.
Abisatya pun menyadari kebingungan wanita di belakangnya, "Dok karena posisinya seperti ini. Dokter boleh kok pegangan ke jaket saya aja. Soalnya saya khawatir Dokter jatuh!" saran pria itu dengan sopan.
Ajeng pun menimbang-nimbang tawaran itu. Namun, akhirnya dia pun memegang jaket pria itu. Karena dia pun takut jika tak berpegangan.
Seketika senyum pria itu pun mekar setelah merasakan ada seseorang yang memegang erat jaketnya kepinggir, seperti anak kecil yang menarik baju sang ayah ketika ingin sesuatu. "oke kita jalan sekarang!" serunya. Abisatya pun mulai melajukan motor vespanya itu menuju rumah sakit.
Tak butuh lama, 5 menit kemudian kini mereka pun sudah sampai di lobby rumah sakit karena memang jarak studio Abisatya lumayan dekat dengan rumah sakit tempak sang dokter itu praktik. Kini Abisatya pun sedang menunggu di dekat lobby sambil masih duduk di atas motor vespanya itu.
Bibirnya tak berhenti tersenyum ketika mengingat kejadian hari ini. Awalnya dia sangat malas jika harus ke dokter gigi, tapi akhirnya dia pun pergi karena sang ibu terus saja menerornya dengan telepon menyuruhnya untuk segera ke dokter. Maka dengan terpaksa dia pun menurut segera pergi ke dokter. Namun, sekarang dia malah bersyukur karena berkat itu dia malah bertemu dengan dokter cantik yang mencuri hatinya pada pandangan pertama itu.
Tak lama dia melihat wanita itu sedang berjalan menghampirinya dengan penampilan yang berbeda. Namun, entah mengapa dia malah lebih suka melihat penampilan dokter itu yang sekarang, yang menggunakan blouse lengan panjang berwarna putih, dipadukan dengan straight pants berwarna pink. Membuat wanita itu terlihat sangat feminim dan semakin cantik tentunya. Lalu pria itu pun segera menyadarkan pikirannya tak boleh terlihat tercengang kembali di hadapan wanita itu. Kini wanita itu sudah berdiri di dekatnya, tapi wajah sang dokter itu terlihat masih sangat cemas dan kebingungan juga. “Jadi, mau di antar kemana Dok?”
Ajeng pun lalu melihat ke arah pria yang bertanya padanya. Sedari tadi dia berharap ada taxi kosong yang melintas, tapi tak ada satu pun. Sebenarnya dia sangat ingin menyuruh pria itu pergi saja, karena dia benar tak enak sudah merepotkan pria yang baru dikenalnya itu. Tapi dia pun bingung harus mengatakan apa, karena pria ini sangat semangat ingin membantunya. Sedangkan, waktu terus berjalan yang pertanda dia sudah sangat telat ke acara Kama.
Abisatya pun menatap bingung wanita yang semakin terlihat cemas di hadapannya kini. Jika dia tak salah tebak sepertinya dia tidak nyaman diantar olehnya, mungkin karena baru kenal pertama kali. "Dok, saya cuma berniat membantu saja ingin mengantarkan dokter ke tujuan menggunakan motor saya, karena jika dokter pergi ke sana menggunakan taxi sudah pasti akan terjebak macet. Tahu sendiri kan daerah sana selalu macet apalagi saat jam segini. Dan saya sama sekali tak merasa keberatan melakukan ini, karena saya tulus ingin membantu dokter.” Pria itu pun tersenyum ketika telah menjelaskan semua itu.
Ajeng pun diam mendengarkan semua penjelasan pria yang baru dikenalnya. Pria itu seperti tau apa yang ada dpikiranya saat ini. Tapi jika di pikir memang benar juga ucapannya. "Maaf yah kalau jadi repotin kamu," ujarnya dengan sungkan.
Abisatya pun tersenyum, "Sama sekali tak repot Dok, ya udah ayo Dok!" ajaknya.
Ajeng pun kembali memakai helm-nya dan duduk di jok belakang. Namun, kini dia duduk dengan posisi yang benar, duduk menghadap ke arah depan, tak miring seperti tadi. Motor vespa itu pun mulai melaju menuju jalanan yang cukup ramai.
Ajeng pun menghela napasnya lega, karena beberapa masalah sudah teratasi. Dia cukup lega karena tadi sudah sempat menelpon dan mengabari ibunya kalau dia pulang telat. Tapi saat dia menghubungi Kama malah tidak bisa, nomornya tidak aktif terus membuat dia menjadi semakin cemas. Karena sepertinya pria itu sengaja mematikan ponselnya. Lagipula yang terpenting dia datang ke acara ulang tahun calon suaminya itu, meskipun sudah dipastikan dia datang terlambat, biar sajalah daripada tidak sama sekali, pikirnya mencoba menenangkan pikirannya.
****
tbc