Abisatya mengendarai motor vespanya dengan perasaan senang, karena dia bisa membantu dokter cantiknya yang baru ditemuinya itu. Sedangkan Ajeng masih merasakan cemas. Apalagi saat melihat jalanan yang mulai macet, padahal belum memasuki jalan malioboro. Dia pun menghela napasnya berat lagi, ketika memikirkan jam berapa dia bisa sampai tempat calon suaminya itu.
“Tenang Dok, saya tau kok jalan pintas agar bisa cepat ke hotel itu.”
Ajeng pun terdiam mendengar perkataan pria itu. Kenapa lagi-lagi pria ini bisa tahu apa yang dipikirkan dan mencoba menenangkan dengan solusi yang dia punya.
“Lewat mana?” tanya Ajeng sangat penasaran.
Pria itu pun tersenyum, ketika mendengar antusias dari wanita yang diboncengnya itu. “Lewat gang gitu, Dok. Tenang aja pokoknya dokter tinggal duduk tenang saja!” Bibirnya pun tertarik membentuk sebuah lengkungan yang manis setelah mengatakan itu, karena sepertinya usahanya untuk menenangkan berhasil.
Yah, sebenarnya dia tahu wanita yang sedang dibocengnya itu gugup dari gerakan tangan wanita itu yang terus-terusan meremas jaketnya. Namun, setelah diberi tahu soal solusi tadi, kini dokter cantik itu sudah tidak meremas jaketnya lagi.
Abisatya pun segera membelokkan motornya ke jalan kecil di sebelah kirinya. mengendarai motornya menuju gang yang padat oleh rumah penduduk. Ajeng benar-benar sangat asing dengan jalan itu. Dia selama ini tak pernah mencoba masuk jalan ke gang seperti ini. Tapi tak lama mereka segera keluar dari jalan kecil itu dan terlihat lah gedung besar bertuliskan nama hotel yang ditujunya.
Ajeng pun menghembuskan napas lega ketika akhirnya dia sampai juga. Lalu dia pun segera turun dari motor itu dan melepas helm yang dipakainya, "Terima kasih banyak yah Mas." Katanya sangat tulus sambil memberikan helm itu.
Abisatya pun tersenyum, "Sama-sama Dok,” jawabnya sambil menerima helm itu.
Ajeng kini bingung harus berkata apalagi, "Ya sudah saya masuk dulu yah Mas, permisi!" pamitnya lalu Ajeng jalan cepat masuk ke dalam gedung hotel itu.
Abisatya pun tersenyum melihat wanita yang sedang terburu-buru itu, lalu dia pun menghidupkan kembali motornya dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Sepanjang jalan bibir pria itu tersenyum lebar karena memikirkan hal hal tak terduga yang terjadi di hari ini.
*****
Ajeng segera memasuki hotel bintang 5 milik keluarga calon suaminya itu. Namun, kini dia sedang kebingungan di loby karena lupa tidak menanyakan di lantai berapa acara ulang tahun Kama itu di gelar. Lalu dia pun memutuskan untuk bertanya saja, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar ada yang memanggil namanya, kemudian dia pun membalikkan badannya untuk mengetahui siapa itu. Tiba-tiba matanya pun membulat ketika melihat pria yang di kenalnya itu.
“Mbak Ajeng baru dateng?”
Ajeng pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega, ketika ternyata Dava kini berada di hadapannya. Pria itu adalah Kama Dava, adiknya Kama.
“Iyah nih Dav, oh iyah acaranya di mana?” tanyanya tak sabar.
Pria berkacamata itu pun tersenyum, “Ayo aku antar aja, Mbak!” serunya lalu memberi Ajeng isyarat agar mengikutinya. Lalu wanita itu pun mengikutinya adik dari calon suaminya itu.
Kini Ajeng sudah berdiri di depan pintu salah satu ballroom hotel yang di jadikan pesta ulang tahun tunangannya itu. Calon adik iparnya tadi sudah pergi kembali, karena katanya masih ada urusan yang harus diurusnya.
Dari sini dia bisa mendengar hingar bingar yang berasal dari dalam ruangan itu. Ajeng pun menarik napasnya dalam, kemudian melangkahkan kaki memasuki ruangan itu. Suasana di sana sangat ramai dan riuh oleh suara DJ yang memainkan musik. Banyak orang yang sedang berjoget, ataupun mengobrol di sana.
Ajeng pun berjalan mencari Kama dalam ruangan dengan pencahayaan minum itu, dia melewati orang-orang yang sedang asyik menari mengikuti alunan DJ yang berada di atas panggung sana. Sebenarnya dia sangat tak suka acara yang seperti ini, tapi yah lagi-lagi dia tak punya pilihan untuk tidak datang ke sini.
Dia pun masih mengedarkan pandangannya mencari sosok Kama. Lalu dia pun menghela napasnya lega saat melihat Kama sedang duduk bersantai bersama teman-temannya di sofa dekat panggung. Dengan cepat Ajeng pun menghampirinya, setelah dekat dengannya Ajeng pun melihat Kama yang melihat ke arahnya. Ajeng pun segera melambaikan tangannya.
Namun, tiba-tiba pria itu menatapnya dingin lalu memalingkan wajahnya. Ajeng pun menelan susah salivanya itu. Yah dia tahu jelas jika prianya itu kini sedang marah karena dia sangat telat datang. Rasanya jika bisa memilih dia akan pergi dari sana saja, tapi tentunya tidak mungkin karena dia harus menghadapi kekasihnya yang sedang marah itu.
Lalu Ajeng pun segera menghampiri meja Kama. Seketika teman-temannya yang sedang duduk di dekat Kama pun satu persatu meninggalkan mereka.
“Gue ke sana dulu bro!” pamit para teman-temannya itu, sedangkan Kama tak mempedulikan ucapan teman-temannya itu, dia malah sibuk memalingkan wajahnya dari calon istrinya itu.
Ajeng pun segera duduk di samping pria yang masih memalingkan wajah darinya. Jantungnya kini sangat tak beraturan melihat Kama yang sepertinya sangat marah padanya itu. “Kama,” panggilnya pelan, lalu menelan salivanya susah payah karena menunggu respon dari pria yang berada di sampingnya itu.
Pria itu tetap terdiam di tempatnya. Kemudian Ajeng pun mengelus pundak pria itu sambil memanggilnya dengan lirih.
Kama pun menarik napasnya dalam, lalu membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan wanita yang berada di dekatnya itu.
“Lihat jam berapa ini?” ketusnya sambil melihat jam tangannya yang sudah pukul 7 malam.
Ajeng pun menutup matanya sekejap, dia sangat takut dengan tatapan mata Kama yang tajam itu. Tapi dia pun tahu Kama marah seperti ini karena salahnya sendiri jadi dia memang pantas mendapatkan kemarahan darinya. “Sorry Kam,” lirihnya lagi sambil menundukkan wajahnya, dia merasa sangat bersalah padanya.
Pria itu malah berdecak melihat permintaan maaf itu. Lalu dia pun mengamati wanita itu dari atas sampai bawah, seketika alisnya pun semakin berkerut. “Terus kenapa kamu pakai baju yang kaya gini? Ke mana dress yang aku kirim tadi siang itu? “ tanyanya sangat keheranan.
Ajeng pun menarik napasnya dalam, lalu mengangkat kepalanya perlahan. “Itu tadi aku-“ mulut Ajeng pun terbuka tanpa bisa berkata, karena Kama menyimpan telunjuknya di bibirnya.
“Stop!” sela Kama dengan cepat tak ingin mendengar alasan itu dulu karena ada hal yang lebih penting yang harus dibahasnya sekarang. “Ada yang ingin aku tanyakan lebih penting dari baju itu. Siapa cowok yang tadi angkat hp kamu itu? Apa hubungan kamu sama dia? Hah?” semburnya dengan penekanan karena saat ini dia benar-benar sangat marah.
Ajeng pun menutup kembali matanya, dia benar-benar sangat kaget mendengar kemarahan calon suaminya itu. Tak terasa air mata pun mulai menggenang di pelupuk matanya. Kemudian, Ajeng pun mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengatur napasnya.
Kama pun malah berdecak melihat sikap calon istrinya itu, “Jawab Ajeng!” bisiknya dengan tegas.
Ajeng pun menelan salivanya berat sambil membuka matanya perlahan, dan melihat wajah tegas milik calon suaminya itu. “Kamu salah paham Kam,” lirihnya sambil menatap mata yang sedang marah itu dengan lembu, berharap kemarahannya berkurang.
***
tbc