“Salah paham? Salah paham apa?” tanya Kama keheranan lalu tersenyum sinis, serta menaikkan satu alisnya, menunggu respon calon istrinya itu yang malah diam saja membuatnya semakin kesal. “Udah cepet kamu jujur aja, apa hubungan kamu sama dia hah? Jujur!” tegasnya dengan nada sangat kesal. “Aku juga tau kok kamu tadi kesini diantar sama pria itu dengan vespa bututnya itu kan!” cecarnnya lagi, lalu tersenyum sinis kembali dan bangkit dari duduknya.
Ajeng tampak sangat kaget, kenapa Kama tahu soal itu, ditambah baru kali ini dia melihat calon suaminya terlihat sangat marah seperti ini. Meskipun sekitarnya sangat berisik serta lampu yang remang-remang, tapi dia bisa mendengar nada marah itu dengan jelas, rahangnya yang mengeras, serta tatapan tajam pria di hadapannya itu sudah menjelaskan betapa marahnya dia. Sebenarnya Ajeng sangat takut sekarang tapi bagaimanapun dia harus menghadapi ini. “Kam, ceritanya panjang!” ujarnya dengan nada menyesal sambil ikut bangkit dari duduknya, berdiri di samping pria yang sedang marah itu.
Kama malah berdecak mendengar jawaban itu. Bukan itu jawaban yang diharapkannya. “Mana Danar? Danar!” teriaknya sambil bertolak pinggang.
Seorang pria berkulit gelap datang menghampiri Kama,”Ya ada apa Bos!” kata pria bernama Danar. Dia adalah asistennya Kama, orang yang selalu berada di sampingnya.
“Lo suruh DJ itu matikan musiknya sekarang!" teriaknya memerintah, lalu mendekati pria itu dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Baik Bos!" sigap Danar lalu segera pergi melakukan tugasnya itu menuju DJ yang sedang asyik memainkan musik di atas panggung.
Ajeng pun menatap calon suaminya itu dengan kerutan di keningnya, sambil mulai menduga-duga untuk apa dia memberikan perintah seperti itu, hatinya mulai merasa tidak enak.
Tak lama musik berhenti dan semua orang bersorak kecewa karena mereka sedang asyik berjoget ria itu harus terhenti begitu saja. Disusul lampu sorot kini menyorot pada Kama dan Ajeng yang kini sedang berdiri saling berhadapan, membuat pasangan itu menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di ruangan itu.
Ajeng mulai panik, "Apa-apaan sih Kam?" bisiknya memprotes tak suka, pasalnya dia tak suka menjadi sorotan seperti ini.
Kama malah menyeringai melihat calon istrinya mulai panik. "Katanya kamu mau jelasin, ayo sekarang jelaskan sejelas-jelasnya, semuanya di depan semua orang!" tantangnya dengan berbisik, lalu mengangkat dagunya tinggi sambil memicingkan matanya.
Ajeng refleks menggelengkan kepalanya, sambil menggigiti bibirnya, dia semakin takut melihat raut wajah calon suaminya itu. Jelas dia tak suka diperlakukan seperti ini, dia sangat benci menjadi tontonan banyak orang apalagi harus menjelaskan semua yang terjadi tadi. "Tapi kan kita bisa bicara berdua baik-baik Kama. Nggak harus seperti ini!" bisiknya mencoba bernegosiasi sambil menundukkan wajahnya karena dia tak mau semua orang melihat wajahnya yang cemas sekarang.
Kama menggelengkan kepalanya. "Nggak! Aku maunya seperti ini dan kamu harus lakukan itu!" bisiknya keukeuh lalu menyeringai kembali dan tak lupa memberikan tatapan tajam kembali pada wanitanya itu.
Ajeng pun menggelengkan kepalanya lagi, dia sudah tak mengerti jalan pikir calon suaminya itu.
Sedangkan Kama kini semakin tersenyum puas melihat ekspresi wanita yang sedang tegang, takut, dan mulai terlihat pucat berada di hadapannya itu. Kemudian Kama mengubah posisi badannya menghadap para tamu yang sedang menatap ke arahnya itu. “Selamat malam semua!” sapanya sangat gembira dengan senyuman lebar di mulutnya.
“Malam!” Terdengar suara para tamu menjawab sapaan itu.
“Kam, lo mau pasti mau ngasih pertunjukkan bagus kan? Sampai-sampai lo matikan musik, padahal kita lagi asyik-asyik nya loh!” teriak salah satu pria dari kerumunan itu.
Kama pun bertepuk tangan mendengar itu. “Tebakan lo benar Bro!” serunya senang.
Semua orang pun mulai sibuk mengobrol menebak-tebak apa kira-kira pertunjukan apa yang akan mereka lihat.
Kama tersenyum sangat lebar melihat antusias para tamu yang hadir itu. Lalu dia pun tersenyum simpul. "Mari kita dengarkan sejenak cerita drama dari tunangan saya!" ujarnya sambil mempersilakan Tari untuk segera berbicara.
Mata Ajeng langsung membulat sempurna dan seketika tubuhnya pun semakin tegang, karena mendengar perkataan Kama barusan. Ditambah perasaan malu, cemas, dan takut pun mulai menyerbu ketika dia menjadi pusat perhatian orang seperti ini. Kini napasnya menjadi pendek, detak jantungnya berdetak semakin tak beraturan, serta keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Ajeng pun semakin menundukkan wajahnya dan kakinya perlahan mulai melangkah mundur.
Sedangkan Kama mengulum senyumnya, dalam hatinya sangat puas karena dia sengaja memberi pelajaran pada calon istrinya yang sudah merusak mood-nya di hari ulang tahunnya ini.
Semua orang pun mulai berbisik bisik membicarakan mereka. Sebagian teman Kama yang hadir memang sudah mengetahui kalau Kama sudah bertunangan, tapi ada juga yang belum mengetahui. Dan yang membuat mereka kaget adalah melihat wajah dan penampilan wanita itu terlihat sangat sederhana dan biasa saja, sedangkan mereka tahu selera Kama seperti apa.
Dalam posisinya kini Ajeng pun menyadari kalau sekarang dia menjadi topik pembicaraan semua orang yang berada dalam ruangan itu. Dia sudah tak tahan lagi, dia harus bertindak. Ajeng pun mengumpulkan keberaniannya, dimulai mengepalkan kedua tangannya, lalu melangkah maju mendekati calon suaminya itu. "Aku tidak suka diperlakukan begini Kama!" desisnya lalu melangkah pergi meninggalkan Kama.
Kini giliran Kama yang membelalakkan matanya tak percaya dengan tindakan itu. "Ajeng, Ajeng!" lantangnya dengan nada kesal. "Sini kamu Ajeng!" teriaknya lagi.
Sedangkan Ajeng menghiraukan teriakan itu, dia terus berjalan menuju pintu keluar ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Dia berjalan melewati orang-orang yang kini menatapnya dengan tatapan tak suka. Bahkan, selagi dia berjalan itu telinganya menangkap bisikan-bisikan.
Serius dia tunangannya Kama?
Calon istrinya? Dijodohkan.
Kasian banget si Kama dapet cewek nggak sopan gitu.
Dih nggak banget deh, liat aja style-nya norak kayak gitu
Nggak sopan banget lagi, ninggalin calon suaminya gitu aja.
Kok nggak sepadan yah?
Ajeng hanya tersenyum miris mendengar itu semua. Yah, dia tahu betul kalau Kama dan dirinya memang tak sepadan. Lihat saja Kama pria metropolitan yang modis, gaul, kaya, dan banyak teman. Sedangkan dia hanya seorang wanita polos, norak, yang tidak mengerti fashion atau make-up, serta tak punya teman. Memikirkan itu membuat dirinya semakin melangkahkan kakinya dengan cepat dengan perasaan kesal yang kian memuncak.
Sesampainya di luar Ballroom, Ajeng menyandarkan tubuhnya di tembok koridor, sambil masih terengah-engah. Lalu matanya mulai berkeliling, memperhatikan sekitarnya memastikan kalau keadaan di sini lebih aman daripada di dalam tadi. Saat tadi di dalam dia merasakan kecemasan yang berlebihan karena dihadapkan dengan sesuatu hal yang tidak terprediksi seperti tadi. Dia bahkan masih tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti barusan hari ini.
Untungnya keadaan di koridor memang sangat sepi sekarang hanya ada dirinya sendiri. tapi tiba-tiba kakinya terasa sangat lemas membuat tubuhnya merosot ke bawah. Kini wanita malang itu sedang berjongkok, lalu memajamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya, mengatur napasnya agar kembali normal, serta meyakinkan dirinya sendiri kalau kejadian tadi sudah berakhir. Perlahan tapi pasti rasa cemas itu mulai memudar, akan tetapi perasaan malu dan kesal masih terasa di hatinya, atau mungkin akan meninggalkan bekas.
Di saat sudah agak lebih tenang, Ajeng pun membuka perlahan matanya dan menghela napas lega. Kini dia merasa badannya sangat lelah sekali dan yang dibutuhkannya saat ini adalah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Yah, artinya dia harus segera cepat pulang. Kemudian Ajeng mulai berdiri dan menyeret kakinya berjalan dengan perasaan berat hati, sambil sesekali menengok ke belakang. Entah apa yang diharapkannya, dia pun tak mengerti. Dan, tiba-tiba terbesit sebuah pikiran, dia meninggalkan calon suaminya yang sedang marah, apakah pilihan yang dilakukannya saat ini benar? Apakah akan berujung sebuah masalah? Perasaannya mulai bimbang, membuat hatinya semakin tak nyaman. Tapi pertanyaan serupa itu terus bermunculan di kepalanya sedangkan kakinya terus berjalan.
***
Sedangkan di dalam ruangan, Kama melempar asal ponselnya karena barusan dia mencoba menelepon calon istrinya yang pergi itu tapi tidak diangkat juga.
"Kenapa tidak dikejar aja tadi Bos?" tanya Danar dengan polos, melihat bosnya sedang gusar menelepon calon istrinya itu.
"Gengsi dong!" jawabnya singkat sambil berdecak dan merapikan rambutnya yang panjang sebahu bergelombang itu. "Suruh lagi DJ mainkan musiknya lagi!" perintahnya sambil menunjuk.
Dengan sigap Danar pun segera pergi menghampiri DJ yang masih diatas panggung, dan tak lama suara musik pun mulai terdengar di sertai lampu yang kembali berkelap-kelip membuat para tamu yang hadir bersorak gembira.
Begitu pun dengan Kama yang kini bisa tersenyum lebar lagi. Yah, hari ini adalah hari bahagianya bahkan dia sudah membuat party se-heboh ini mengundang semua temannya. Jadi, dia harus bisa menikmati malam ini. Anggap saja masalahnya tadi dengan calon istrinya itu hanya iklan semata.
"Yeahh!" teriaknya semangat mulai menikmati musiknya dan ikut berjoget bergabung bersama teman-temannya di depan panggung. Musik yang dibawakan DJ itu pun bergema membuat semua orang yang ada di ruangan besar itu menggerakkan badannya mengikuti alunan musik.
Namun, saat Kama sedang asyik berjoget bersama teman-temannya, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Kama pun refleks berdecak dan menatap tajam teman-teman yang ada di sekelilingnya. "Apaan sih?" tanyanya kesal karena mengganggu kesenangannya itu.
Tapi, teman-temannya itu malah memasang muka segan dan menyuruh dirinya melihat ke belakang. Dengan santai Kama pun memutar badannya dan seketika matanya pun membulat sempurna saat melihat ternyata yang menepuk itu adalah.