Mata Kama membulat sempurna saat melihat seorang pria paruh baya yang mirip dirinya sudah berada di hadapannya dengan sorot mata yang tajam serta kerutan di dahinya, dia adalah Bapak Surya Mahendra. Tanpa kata Papanya itu memerintah untuk mengikutinya.
Mau tak mau Kama pun mengekor di belakang Papanya itu sambil menggerutu dalam hatinya. Baru saja dirinya akan bersenang-senang eh malah diganggu oleh Papanya sendiri. Kenapa juga Papa tiba-tiba datang, padahal sebelumnya bilang tidak akan bisa hadir karena sibuk rapat. Perasaannya mulai tak enak saat ini karena dia sudah bisa menebak alasan Papanya yang super sibuk itu tiba-tiba datang ke acaranya. ‘Sial!’ gerutunya dalam hati.
Surya Mahendra, adalah seorang pengusaha sukses dan ternama di Jawa Tengah. Keluarganya terpandang dan sangat dihormati banyak orang. Beliau merintis sendiri bisnisnya itu dari nol sampai sebesar sekarang. Mahendra Group nama perusahaannya, berkecimpung dalam bidang perhotelan, perusahaan itu mengelola banyak hotel bintang 5 dan 4 di sekitar jawa tengah. Selama ini Pak Surya sangat memperhatikan kedua putranya, yaitu Kamadaka Putra Mahendra dan Kamadava Putra Mahendra, agar mereka selalu menjaga nama baik keluarga dan perusahaan yang dibangunnya selama berpuluh-puluh tahun itu.
Kini Ayah dan Putranya itu sudah memasuki sebuah ruangan yang berada dalam ballroom. Karena Surya ingin mengobrol dengan putra pertamanya dengan tenang tanpa suara hingar bingar pesta yang diadakan oleh Kama itu.
"Kama! Tadi Papa nemuin ponsel kamu di lantai. Kenapa kamu lempar-lempar ponsel begini?" tanya Surya langsung mengawali pembicaraan dengan berdiri membelakangi Putranya, sambil menggerakkan tangannya yang sedang memegang sebuah ponsel berwarna hitam. Benda itu ditemukan Surya di lantai ballroom tadi. Tentu saja ia tahu betul ponsel itu milik Putranya, karena melihat foto wallpaper ponselnya adalah wanita yang mereka cintai dan rindukan, yaitu Mama Kama yang juga istri tercintanya.
Kama pun langsung mengambil ponsel itu dari tangan Papanya. "Nggak sengaja Pah!” kilahnya. Kenapa juga harus sang Papa yang menemukan itu, keluhnya dalam hati sambil memasukkan benda itu ke dalam saku celananya.
Surya malah berdecak mendengar jawaban itu. "Terus, mana calon istri kamu?" tanyanya, kemudian membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan Putranya itu.
Kama pun bergumam sebelum menjawab, "Udah pulang tadi, Pah!” singkatnya sambil menghindari tatapan tajam Papanya itu.
"Kenapa?" tanya Surya lagi dengan keheranan sambil menaikkan satu alisnya. "Harusnya dia kan ada di sini menemani kamu yang sedang mempunyai acara malam ini," lanjutnya sambil terus memperhatikan gerak-gerik tubuh Putranya yang terlihat mulai gelisah itu.
Kama kemudian mengangkat bahunya acuh, dia tak mau menjelaskan itu pada Papanya.
Pak Mahendra pun dibuat berdecak kembali oleh tingkah Putranya itu. "Juna, tolong panggilkan Danar, suruh masuk ke dalam sini!" perintahnya pada Juna yang sedari tadi berdiri di dekat pintu.
"Siap Pak!" jawab pria berbadan tegap itu, kemudian segera berjalan keluar ruangan memanggil Danar.
Juna adalah tangan kanan Surya yang selalu mendampinginya kemana pun. Bagaikan Kama punya Danar yang setia mengikutinya. Dan, Surya pun tahu persis kalau Danar pasti ada di luar menunggu Bosnya yang sedang diam tak mau menjelaskan apa yang terjadi pada Papanya sendiri itu.
Tak lama Danar pun memasuki ruangan, lalu berdiri di dekat bosnya yang sedang berdiri berhadapan dengan ayahnya itu. "Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Danar dengan sangat sopan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ajeng? Kenapa dia sudah pulang?" Surya langsung bertanya karena itu jugalah alasannya dia datang ke acara putranya ini karena mendengar kejadian yang mempermalukan calon menantunya itu. Tapi, yang ada Putranya itu tak mau menjelaskan maka satu satunya cara adalah bertanya pada Danar ini.
Danar melirik sedikit pada Bosnya yang sedang memberi isyarat padanya untuk tak menjawab.
Pak Mahendra pun berdehem. "Danar. Kamu mau saya pecat?" ancamnya saat tahu Danar akan menuruti perintah Kama.
Danar pun otomatis menggelengkan kepalanya, lalu segera menceritakan soal kejadian yang terjadi sampai Ajeng meninggalkan pesta tadi. Sedangkan Kama hanya menunduk, mengomel dalam hatinya karena bawahannya yang ketakutan pada ancaman Papanya itu.
Surya pun menggelengkan kepalanya tak percaya, sambil beberapa kali berdecak kesal karena Putranya itu melakukan hal yang sangat buruk pada seorang wanita. Kemudian Pria berumur 50 tahun itu menatap tajam ke arah Putra pertamanya itu. "Papa tak habis pikir kenapa kamu sampai memperlakukan dia seperti itu? Bukan begitu cara memperlakukan wanita Kama!" ujar Papa dengan sangat kecewa, marah, serta malu melihat kelakuan putra pertamanya itu.
Kama malah tersenyum simpul, benar kan dugaannya pasti Papa akan membela wanita itu ketimbang Putranya sendiri dan itu jugalah alasannya tadi tak ingin menjelaskan pada Papanya itu. Lalu Kama mengangkat wajahnya dan menatap mata Papanya yang sedang terlihat marah dan kesal itu. "Aku ngak suka dengan orang terlambat Pah, begitu pun dengan Papa kan?" Kama mulai membela diri.
Surya malah tersenyum sinis mendengar pembelaan Putranya itu. "Tetap saja itu tak membenarkan perbuatanmu. Kalau kamu ngak mau dia terlambat, ya kamu jemput dia dong. Gimana sih kamu! " lanjut sang Papa masih terlihat sangat kesal.
Kama hanya diam tak ingin menanggapi perkataan Papannya itu dan percuma juga di mata Papanya dia selalu salah.
Saat ini Surya masih tak menyangka, putranya yang bahkan tak tahu cara memperlakukan calon istrinya itu seperti apa. Tapi, tiba-tiba terbesit alasan yang jelas tentang perlakuan Kama itu. Seketika rasa bersalah pun menghinggapi hatinya. Akan tetapi, sebisa mungkin Surya mengendalikan dirinya agak tak terlihat goyah di hadapan putranya itu. "Ya udah pokoknya kamu sekarang harus kejar Ajeng, antarkan dia sampai rumahnya, dan selesaikan masalahmu dengan dia malam ini juga!" perintah Surya masih dengan nada kesalnya.
Kama refleks menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tak setuju karena itu artinya dia harus meninggalkan pesta miliknya itu. "Tapi Pah!"
"Kama, sekarang!" Surya menyela perkataan Putranya, karena dia tak mau mendengar alasan apapun.
Kama pun berdecak pelan, kini dia pun semakin kesal karena Ajeng yang bertingkah itu, kini dia harus menanggung semua ini, dimarahi Papanya dan juga melewatkan pesta ulang tahunnya sendiri.
Pak Mahendra pun semakin kesal melihat putranya yang malah terdiam dengan raut wajah yang terlihat bingung dan kesal itu. “Kamadaka Putra Mahendra!” Panggilnya penuh penekanan memperingatkan.
Kama menutup matanya sekejap, kemudian berdecak pelan karena saat Papanya mulai memanggil namanya lengkap, artinya Papanya itu sudah sangat kesal dan perintahnya tadi harus dikerjakan tanpa ada bantahan sedikit pun. Tanpa menunggu lama Kama melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu sambil menghela napas berat dan juga perasaan yang sangat kesal.
Surya pun tersenyum simpul melihat Putranya pergi seperti itu, “Danar, ikuti dia!” tegasnya memerintah Danar.
Danar pun segera mengejar bosnya yang sudah keluar duluan itu. Lalu dia bertemu Kama sedang di luar ballroom jalan mondar-mandir mencari calon istrinya itu.
"Udah ngak ada Bos?" tanya Danar sambil mengedarkan pandangannya juga.
Kama hanya mengangkat bahunya acuh, karena sebenarnya dia sudah sangat malas tapi kalau tidak dituruti Papanya pasti akan semakin marah bahkan bisa memberinya hukuman.
Yah, meskipun sudah besar Papanya masih selalu mengancamnya dengan hukuman, seperti mengurangi saham miliknya dan juga memblokir kartu kreditnya. Maka dari itu dia harus selalu menuruti semua perintah Papanya itu. Lalu Kama pun segera berbagi tugas dengan asistennya itu dan mereka pun mulai berpisah mencari Ajeng kembali.
***
Entah sudah berapa lama Ajeng berdiri di lobby dan belum juga mendapatkan taxi. Dia pun sudah mencoba memesan taxi online maupun ojek online tapi selalu ditolak karena memang jalanan lalu lintas daerah sini sedang macet parah. Lantas dia pun mulai bingung harus pulang bagaimana. Kini dia mulai gelisah dan cemas dalam berdirinya.
"Bu Ajeng!"
Ajeng menoleh saat seseorang memanggil namanya. "Eh Danar!" katanya heran.
"Mau pulang kan Bu? Susah dapat taxi yah?" tebak Danar kemudian.
Ajeng pun menganggukkan kepalanya dan berharap pria ini bisa membantunya.
Danar tersenyum simpul. "Tenang saja Bu saya akan membantu. Tunggu sebentar!" katanya dengan senyuman lebarnya.
Ajeng menghela napas lega mendengar hal itu. Lalu dia melihat Danar maju ke tempat mobil berhenti dan tak lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti.
"Ayo silakan masuk Bu!" ujar Danar sambil membukakan pintu depan mobil itu.
Ajeng merasa heran kenapa Danar cepat sekali mendapatkan taxi online untuknya. Tapi, kemudian Ajeng tetap berjalan mendekati mobil itu.
Namun, ketika sudah dekat Ajeng malah refleks melangkah mundur saat melihat orang yang duduk di kursi pengemudi adalah orang yang sangat tidak ingin ditemui saat ini yaitu, Kama. Ya, pria itu sedang duduk dengan wajah angkuhnya sambil pegang setir mobilnya.
Ajeng pun seketika menggelengkan kepalanya. "Saya mau pulang sendiri aja!" terangnya pada Danar yang sedang menatap dirinya dengan keheranan.
Kama yang bisa mendengar itu dari dalam pun berdecak kesal. "Masuk Ajeng!" tegasnya.
Ajeng pun mulai bingung dia mulai takut kembali mendengar suara tegas itu. Perlahan dia pun menggelengkan kepalanya, karena dia sudah lelah tak ingin bertengkar lagi dengan calon suaminya itu.
Tanpa melihat Kama tentu sudah tahu pasti Ajeng tidak ingin masuk ke dalam mobilnya, Kama berdecak kesal. "Cepet masuk! Apa perlu aku gendong kamu ke dalam mobil?" ancamnya kemudian sambil mencondongkan badannya ke kursi penumpang agar bisa melihat wajah calon istrinya itu dengan lekat.
Bulu kuduknya bergedik mendengar ucapan itu, lalu Ajeng malah menutup matanya sekejap sambil berdecak pelan. Dia sangat kesal, kenapa dia selalu tak punya pilihan, keluhnya membatin. Dan, dengan terpaksa dia pun masuk ke dalam mobil itu dengan berat hati.
"Gitu dong, kenapa sih aku harus selalu pakai nada tinggi dulu biar kamu nurut!" gerutu Kama saat wanita itu sudah duduk dan menutup pintu mobil.
Tanpa sadar Ajeng menggigit bibirnya sendiri menahan kesal karena baru juga dia masuk sudah mendapatkan omelan, gerutunya. Lalu wanita itu pun memilih diam saja karena dia tahu lebih baik tak usah menanggapi perkataan pria di sampingnya itu.
Kama melirik sebentar pada wajah wanita yang sedang duduk dengan raut wajah yang terlihat tertekan itu, dia malah tertawa puas dalam hatinya. "Pakai seatbelt!" ketus Kama.
Ajeng menanggapinya dengan bergumam saja. Karena tanpa diberitahu pun dia tahu apa yang harus dilakukannya, gerutunya dalam hati sambil memakai seatbelt. Dan, perlahan mobil pun mulai berjalan meninggalkan hotel memasuki jalanan yang sedang macet, berbaur dengan kendaraan lainnya.
Kawasan Jalan Malioboro malam sabtu ini sangat macet, mobil hanya bisa jalan perlahan dan lebih banyak diamnya. Macet memang suatu hal yang sangat membosankan dan menyebalkan tentunya.
Apalagi saat ini Ajeng merasakan itu dua kali lipat menyebalkannya karena harus satu mobil dengan calon suaminya yang masih terlihat kesal padanya. Tapi, Ajeng pun terus mencoba mengontrol dirinya agar kuat bertahan dalam perjalanan pulang yang panjang ini.
Sedangkan Kama, awalnya dia senang bisa membuat wanita yang menghindarinya itu kini terjebak kemacetan dengannya. Tapi, setelah 10 menit dilewati kini dirinya mulai agak bosan, apalagi saat melihat wanita di sampingnya itu masih duduk dengan tenang menatap lurus ke depannya seolah menikmati moment menyebalkan ini. Melihat itu Kama menjadi kesal sendiri juga, terlebih dia memang tipe yang gampang bosan.
Lalu Kama pun mulai menyalakan radio di mobilnya, dia mulai mengganti-ganti channel radio karena tak ada satupun yang membuatnya merasa terhibur. Namun, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dalam mobil. Kama segera menoleh pada wanita di sampingnya yang sedang menggenggam ponsel yang sedang berdering itu dengan tatapan yang bingung, membuat mata Kama menyipit menyelidik.