“Siapa?” tanya Kama penasaran melirik sebentar pada Ajeng, "Cowok kamu yang tadi?" tebaknya sudah kembali melihat ke arah depan sambil tertawa meremehkan.
Ajeng menggelengkan kepalanya cepat, dia tak mengerti mengapa Kama berpikiran seperti itu dan tentu saja dia tak akan menanyakan hal itu, karena dia lebih memilih memperlihatkan ponselnya pada pria yang duduk di sebelahnya itu sambil menunggu reaksinya.
Mata Kama membulat sempurna, kemudian berdecak ketika melihat tulisan Om Surya memanggil di layar itu. “Gue aja yang angkat!” serunya cepat, sambil menekan tombol off radio mobil.
Ajeng malah menatap penuh keraguan pada Kama, karena dia tak tahu pilihan itu apakah benar atau tidak.
Kama malah dibuat berdecak kembali melihat wanita yang sedang kebingungan itu, “Cepat!” perintahnya tak sabar sambil mengulurkan tangannya dengan telapak tangan terbuka meminta ponsel yang terus berdering itu.
Ajeng pun agak tersentak mendengar nada suara kama yang mulai meninggi disertai tatapannya yang tajam itu, tapi kemudian dia pun menyimpan ponsel itu di atas tangan Kama.
Pria itu berdehem dulu, lalu menggeser layar ponsel itu, dan menempelkannya ke telinga. "Yah ada apa Pah, kita lagi diperjalanan ke rumahnya Ajeng!" jelasnya langsung tanpa diminta dan menyapa terlebih dahulu.
Hening sejenak di ujung telepon sana. Kama tahu betul Papa pasti agak kecewa, karena anaknya sendiri yang mengangkat telepon bukan calon mantu kesayangannya itu. Diam-diam dia pun menyeringai sambil matanya terus melihat ke arah jalan yang masih sangat macet itu.
"Jangan lupa bereskan masalahmu dengan Ajeng hari ini juga dan jangan lupa meminta maaf padanya Kama!" ujar Pak Mahendra dengan tegas.
Kama diam sejenak lalu menghela napas berat, tapi kemudia saat dia hendak menjawab perkataan itu tiba-tiba terdengar suara papanya kembali berkata.
"Dan jangan lupa kamu juga harus mulai belajar mengenal dan mencintai calon istri kamu Kama!" lanjut sang papa, disusul suara sambungan telepon yang terputus.
Mulut Kama yang tadinya sudah terbuka itu pun perlahan menutup, kemudian berdecak pelan ketika mengingat kalimat terakhir yang Papanya katakan itu. Belajar mencintai seorang wanita? Seorang Kama disuruh seperti itu? Seketika bibir pria itu tersenyum kecut, lalu mengusap wajahnya dengan satu tangannya, seraya menghela napas berat.
Sedangkan Ajeng sedari tadi diam-diam melirik ke arah samping karena dia cukup penasaran apa yang dikatakan Pak Mahendra pada anaknya itu hingga tadi sempat membuat rahang Kama mengeras seketika.
"Nih!"
Ajeng segera menoleh dan mengambil ponselnya itu dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Kemudian memfokuskan kembali pandangannya ke depan, tapi sudut matanya masih mencoba memperhatikan pria di sampingnya itu.
Hening kembali, Kama mengetuk-ngetuk setir mobilnya, sambil mengedarkan pandangannya ke luar yang hanya terlihat deretan mobil terjebak macet di sana. Jujur saja dia sangat bosan karena seharusnya saat ini tidak di sini terjebak macet berdua dengan wanita yang hanya diam saja sedari tadi.
Tiba-tiba perasaan kesal dan marah kini datang kembali membuat Kama meremas kuat setir mobilnya itu, lalu berdecak pelan. Padahal seharusnya hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya, tapi sirna begitu saja karena perbuatan calon istrinya itu.
Andai saja Ajeng tak pergi dari pestanya tadi, sudah dipastikan semuanya tidak akan serumit ini, serta sang Papa tak akan mengetahui perbuatan yang dilakukannya pada Ajeng. Dan, saat ini dia pasti sedang asyik menikmati pestanya itu. Kama melirik pada wanita yang masih duduk tenang di tempatnya itu seolah tak bersalah membuatnya semakin kesal.
“Kamu nggak penasaran apa yang dikatakan oleh calon mertua kamu itu?” pancing Kama lalu menatapnya penuh selidik.
Ajeng seketika menoleh dan melihat pada pria yang duduk disampingnya itu dengan tatapan heran.
Lalu Kama malah tertawa kecil, karena terlihat jelas raut wajah wanita itu sangat penasaran. Kemudian dia pun memanfaatkan itu dengan menatap lekat pada kedua mata wanita yang sedang bersamanya itu. “Kamu tau perbuatan kamu yang ninggalin pesta tadi, Aku kena marah Papa karena memperlakukan kamu seperti itu, belum lagi Papa selalu belain kamu terus," ketusnya dengan nada sinis.
Ajeng mengerutkan keningnya heran mendengar yang keluar dari mulut pria itu, "Yah tapi kan yang kamu lakukan itu memang keterlaluan Kama, padahal kita bisa bicarakan baik-baik setelah acara mu itu selesai," sahutnya tak terima karena malah disalahkan seperti itu.
Kama lagi-lagi tersenyum sinis dan semakin mendekatkan badannya pada wanita di sampingnya itu. "Ya aku tidak akan melakukan itu kalau kamu tidaj banyak bertingkah. Kamu tau aku tak suka dengan orang yang terlambat, nggak menghargai pemberian aku, dan diam-diam malah bertemu pria lain di belakang aku!" terangnya dengan penuh penekanan dan emosi menyebutkan semua kesalahan yang diperbuat oleh calon istrinya di hari ini.
Ajeng terpaku dalam duduknya, tanpa sadar kedua tangannya meremas sabuk pengaman yang dikenakannya. Jujur saja sekarang dia sangat terintimidasi dengan nada suara dan kilatan marah dalam mata pria yang sedari tadi menatapnya dengan lekat itu. Ditambah jarak mereka yang terlampau dekat, sehingga saat ini dia bisa merasakan deru napas Kama yang tidak teratur seperti menahan amarah.
Dan, yang paling membuat hatinya mencelos adalah pria itu membeberkan semua kesalahannya itu sekaligus membuatnya tersadar kalau dirinya memang banyak melakukan kesalahan malam ini. Serta mengingatkan lagi kalau keputusan yang diambilnya tadi salah juga. Tiba-tiba terdengar kembali suara-suara yang selalu menghantuinya setiap dia salah mengambil keputusan. Ajeng segera menutup matanya dan mencoba mengendalikan pikirannya itu.
Kama berdecak dan menarik tubuhnya kembali menjadi menyandar di kursinya, sambil menghela napas berat, karena tiba-tiba saja dia kasihan melihat wanita di sampingnya yang sangat ketakutan dengannya. Kemudian Kama menggelengkan kepalanya dan menegakkan kembali duduknya. "Di mana alamat pria yang memakai motor vespa itu?" tanyanya kemudian.
Ajeng yang baru saja bernapas lega itu kini kembali syok mendengar pertanyaan itu. "Buat apa kamu tanya alamatnya?" tanyanya dengan terbata.
Pria itu tersenyum simpul melihat respon wanitanya seketika gugup mendengar pertanyaan yang dilontarkannya itu, membuat dia semakin penasaran. "Aku mau tanya langsung ke dia, sebenarnya apa hubunga kamu sama dia?” Kama mengangkat satu alisnya sambil terus memperhatikan wajah yang duduk di sampingnya itu.
Ajeng dengan cepat menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kamu harus dengarkan penjelasan aku dulu Kama. Kamu tuh salah paham,” katanya dengan nada sangat frustasi.
"Kamu dari tadi bilang salah paham salah paham, tapi tidak menjelaskan sedikit pun alasan itu," potong Kama dengan kesal lalu berdecak.
Ajeng menghela napasnnya berat mendengar itu, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia jelas merasa sangat serba salah, bukan tidak mau menjelaskan, tapi tahu sendiri tadi kelakuan Kama seperti apa. Tapi kemudian Ajeng pun mengubah posisi duduknya menjadi agak miring agar bisa melihat pria yang ada di sampingnya itu dengan jelas karena saat ini dia akan menjelaskan sedetail mungkin pada calon suaminya itu.
Sebelumnya Ajeng menarik napasnya dalam dulu lalu berkata. "Ok aku jelaskan sejelas jelasnya. Jadi, tadi saat aku jalan ke luar rumah sakit aku tabrakan dengan pria itu dan tanpa sengaja ponsel kita tertukar. Aku baru sadar saat sudah dalam taxi. Kebetulan ada alamat yang punya ponsel itu di ponsel-nya. Jadi, akhirnya aku pun menukarkan ponsel ku dulu ke tempat dia. Nah saat aku mau kesini aku malah kena cipratan genangan air. Jadi-" Ajeng menutup kembali mulut yang sudah terbuka itu, dia berhenti bercerita karena Kama mengisyaratkan dirinya untuk diam dengan tangannya itu.
"Drama banget, stop aku nggak mau dengar!" sela Kama cepat sambil menggelengkan kepalanya. Karena Dia Tak butuh cerita yang seperti drama itu.