Ajeng menggigit bibirnya menahan kesal serta mengerutkan alisnya heran. "Ini serius Kama, aku bukan drama karena memang seperti itu kejadiannya!" terangnya tak terima.
Kama malah tertawa meremehkan sambil mengangkat bahunya acuh dan memilih fokus melihat ke depan pada jalanan yang sudah mulai agak lancar. Tidak seperti tadi yang hanya maju sedikit demi sedikit.
Ajeng meremas kembali sabuk pengamannya dengan erat. Berusaha untuk menahan emosinya yang terasa semakin lama semakin susah dikendalikannya karena melihat sikap Kama yang seperti itu. Tak menghargainya sama sekali. Tapi, kemudian Ajeng pun kembali menegakkan duduknya. "Terserah kalau kamu mau percaya atau nggak. Aku akan tetap menjelaskan sedetail mungkin!" tekadnya, lalu mulai melanjutkan cerita yang dialaminya tadi. Meskipun sang calon suaminya itu terlihat acuh dan menguap beberapa kali menyebalkan memang, tapi Ajeng yakin pria itu mendengarkannya dengan baik.
Karena jika Kama sungguh tak ingin mendengarkannya, bisa saja kan pria itu menyalakan radio agar tak bisa mendengar ceritanya. Akan tetapi, Kama tidak melakukannya, yang artinya pria itu mendengar semua penjelasannya dengan seksama, Ajeng pun merasa sedikit lega memikirkan hal itu.
"Udah? Udah cerita dramanya?" tanya Kama saat Ajeng sudah berhenti bicara dan kembali duduk lurus melihat ke arah depan kembali.
Ajeng menganggukkan kepalanya. "Maaf, aku tau aku salah, maka dari itu aku meminta maaf!" katanya dengan tulus sambil menundukkan kepalanya. Saat ini ia benar-benar menyesal karena keputusan yang diambilnya salah.
Tapi, Kama malah tertawa kecil mendengar permintaan maaf itu. "Percuma, permintaan maaf kamu nggak akan merubah apapun. Karena kamu lihat sendiri, kamu udah ngancurin mood aku, ngancurin pesta ulang tahunku, dan membuatku meninggalkan pestaku sendiri lalu terjebak macet dengan kamu sekarang. Jadi, paham kan kalau aku sangat marah sama kamu!" hardik Kama dengan menggebu-gebu, entah kenapa amarahnya semakin memuncak ketika mendengar perkataan maaf itu. Tetapi, di tengah rasa marahnya itu dia masih harus fokus mengendarai mobilnya, karena dia tak ingin menambah daftar kesialan hari ini dengan kecelakaan yang konyol.
Ajeng membatu di tempatnya, jantungnya berdetak semakin tak beraturan. Dia benar-benar sangat syok dan takut karena malah mendapatkan bentakan kembali dari calon suaminya itu. Tak terasa air mata pun menetes dari ujung matanya, lalu kemudian dia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah samping kirinya agar pria itu tak melihat air matanya.
Saat ini Ajeng tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi pada Kama, karena pria itu tak menghargai sama sekali penjelasan ataupun permintaan maafnya tadi. Yang jelas saat ini perasaan kesal, marah, dan rasa bersalah muncul bersamaan menghinggapi hatinya.
Ajeng ingin sekali segera keluar dari mobil ini, tapi tentu saja itu tak akan bisa bukan. Untung saja air matanya tak keluar banyak, tapi wanita itu masih memilih duduk sambil memalingkan wajahnya ke arah kiri karena dia sedang mencoba menenangkan diri dan perasaannya yang sangat kacau saat ini.
Kama melirik beberapa kali pada wanita yang tak menanggapi pernyataan kemarahannya tadi. Tiba-tiba saja dia merasa penasaran sebenarnya apa yang dipikirkan calon istrinya itu ketika melihat kepribadian buruknya ini. Dan, yang membuatnya heran kenapa wanita itu tak ikut terpancing marah-marah padanya juga? Malah duduk diam seperti itu. Padahal Kama lebih suka adu mulut dengan seseorang ketika dia marah.
Keadaan dalam mobil kini sangat hening kembali membuat perjalanan mereka terasa semakin lama padahal mereka sudah melewati jalanan macet tadi.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dengan 20 menit itu pun menjadi satu jam karena macet tadi. Kini akhirnya sampailah mereka di depan rumah Ajeng. Dan, tanpa mereka sadari dua orang itu sama-sama menghela napasnya lega. Karena ketidaknyamanan yang sedari tadi mereka rasakan itu sudah berakhir.
"Makasih!" kata Ajeng sambil membuka seatbelt-nya sambil melirik sebentar pada pria yang hanya diam menatap lurus ke depannya.
Ajeng tahu betul Kama pasti masih sangat marah padanya, tapi bodohnya ia malah berharap Kama setidaknya melirik padanya dan tentu saja itu tak akan terjadi.
Tanpa lama Ajeng segera keluar dari mobil dan benar saja saat pintu sudah menutup, mobil yang baru ditumpanginya itu langsung pergi melesat begitu saja meninggalkan dirinya yang masih diam berdiri di tempatnya.
Ajeng tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya tak percaya menatap kepergian mobil yang terus menjauh darinya itu. Dia benar-benar tak menyangka kalau hari ini dia melihat kepribadian Kama yang sangat buruk baginya. Dan, ternyata terlihat kalau pria itu sangat tempramental sekali dan ini pertama kalinya mereka bertengkar setelah sebulan pertunangan itu.
Sudah dipastikan dia sangat syok dan takut melihat kepribadian dan marahnya Kama ternyata seperti itu. Jadi, seperti itu lah aslinya calon suaminya itu? Apakah dia sanggup menghabiskan hidupnya dengan pria tempramental itu?
Wanita yang sedang overthingking itu pun menelan salivanya susah payah dan kepalanya pun mulai berdenyut karena pertanyaan itu terus beputar di kepalanya. Kemudian Ajeng pun segera menggelengkan kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" Ajeng berkata sambil masuk ke dalam rumahnya dan melihat orang tuanya sedang duduk santai di atas sofa sambil menonton TV.
"Waalaikum salam. Eh kamu udah pulang lagi? Tak kirain bakal larut malam pulangnya," kata Sekar, ibunya Ajeng sambil menepuk sofa di sampingnya menyuruh putrinya untuk duduk bergabung dengan mereka.
Ajeng pun menurut dan duduk di sofa bergabung dengan ibu dan bapaknya.
"Gimana acaranya tadi, lancar?" tanya Sekar penasaran dengan memasang wajah yang sangat antusias.
Ajeng pun seketika mengangkat alisnya sambil berpikir, lalu dia lebih memilih menjawab pertanyaan itu dengan, menganggukkan kepalanya saja dan tersenyum. Karena dia tak mungkin kan menceritakan kacaunya pesta Kama tadi.
“Ah begitu.” kata Sekar agak kecewa dengan jawaban putrinya yang seperti itu, tidak sesuai harapannya. Karena tentu saja ia berharap kalau putrinya akan bercerita panjang lebar soal acara calon suaminya itu.
Perasaan bersalah kini menghinggapi Ajeng karena melihat ibunya yang seperti itu. Tapi, tetap saja dia memang tak biasa bercerita panjang lebar. Apalagi ceritanya ini bukan cerita yang positif, melainkan negatif.
“Lalu bagaimana hubunganmu dengan calon suamimu itu?” Pertanyaan lain muncul dari mulut Prasetya, bapaknya Ajeng. Sebagai seorang bapak yang menjodohkan putrinya sendiri tentu dia harus mengetahui tentang semuanya. Untuk memastikan kalau hubungan mereka baik-baik saja.
Kening Ajeng seketika mengerut ketika mendengar pertanyaan itu untuk pertama kalinya. Lalu dia pun lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Yah baik!” jawabnya singkat dan berharap pilihan berbohong saat ini adalah pilihan yang tepat. Karena dia tak bisa menghancurkan kebahagian yang dirasakan orang tuanya saat ini dengan mengatakan kalau mereka baru saja bertengkar untuk pertama kalinya.
Kedua orang tuanya itu kini saling menatap dan tersenyum bahagia serta lega, “Syukurlah!” katanya bersamaan.
“Terus, sudah berapa jauh kalian mengenal saat ini?" lanjut Prasetya.
Ajeng sontak syok mendengar pertanyaan selanjutnya itu. Karena dia benar-benar belum terlalu mengenal calon suaminya itu, yang dia tahu saat ini hanyalah kepribadian buruknya saja dan tentu tak bisa membeberkan itu semua pada orang tuanya.
"Jadi?" Prasetya mulai menaikkan satu alisnya, menanti jawaban dari putrinya yang terlihat sangat tegang itu.
Ajeng menelan salivanya susah payah sambil menatap bergantian kedua orang tuanya yang tampak khawatir itu, kemudian menjawab, "Yah belum banyak Pak, masih proses!" katanya mencoba meyakinkan.
"Iyah lah wajar, kan mereka baru juga bertunangan sebulan kan!" timpal Sekar cepat menenangkan suaminya yang terlihat tak puas dengan jawaban putrinya itu.
Ajeng pun mengangguk dan tersenyum setuju mendengar perkataan ibunya itu.
"Apa kamu sudah menulis daftar pertanyaan yang akan ditanyakan pada calon suamimu itu?" cecar Prasetya lagi.
Ajeng kini mengerutkan kembai keningnya heran, karena dia tak mengerti dengan maksud pertanyaan bapaknya itu. Kemudian dia melihat ke ibunya yang malah tertawa kecil.
Terdengar decakan pelan dari pria paruh baya itu. "Yah beneran belum buat Bu dia." lanjut Prasetya menebak dari ekspresi putrinya itu sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sekar pun segera mengelus pundak suaminya itu. "Udahlah Pak, biarkan mereka yang menangani proses pengenalan itu. Mungkin mereka punya cara tersendiri. Ya kan Nak?" katanya sambil tersenyum dan memberikan isyarat pada putrinya agar setuju saja.
Ajeng segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya lagi. Kini dia merasa lega mendengar pembelaan ibunya itu.
Prasetya malah menghela napas berat, "Ya sudah yang jelas Ibu dan Bapak akan selalu mendoakan semoga hubungan kalian baik, lancar, dan langgeng, aamiin!"
"Aamiin!" timpal Sekar yang kini sedang melempar senyum dengan suaminya itu.
Ajeng lagi-lagi hanya tersenyum menatap bergantian ke dua orang tuanya yang begitu terlihat bahagia dan khusyuk mendoakannya. "Ya sudah Pak, Ibu aku pamit bersih-bersih dulu yah, sekalian mau langsung istirahat,” ujarnya kemudian.
"Ah ya ya Nak, silakan!" jawab Sekar sambil tersenyum lebar.
Dengan segera Ajeng bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan ruang tv itu menuju kamarnya untuk menyimpan tasnya, setelah itu barulah dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.