Arumi ingat betul dua bulan yang lalu harus melakukan perawatan akar gigi. Jadi, dia pun bolak balik bertemu dengan dokternya yaitu, Ajeng.
Dari awal bertemu Arumi sudah sangat suka dengannya karena dokter itu ramah, sopan, pintar, dan cantik. Paket komplit yang sempurna, pikirnya saat itu.
Akhirnya Arumi mulai menyuruh putranya untuk sekalian periksa gigi karena akhir-akhir ini putranya itu suka mengeluh sakit dan tentu saja membuatnya sangat khawatir. Serta ada satu alasan lain selain kesehatan putranya yaitu, Arumi ingin secara tidak langsung mempertemukan putranya itu dengan Dokter Ajeng, karena Arumi yakin putranya pasti akan menyukai wanita itu seperti dirinya. Serta berharap pertemuan mereka bisa berlanjut menjadi pertemanan dan berkembang menjadi sebuah hubungan yang lebih. Tapi, putranya itu malah susah sekali disuruh ke dokter, banyak sekali alasannya, seperti almarhum ayahnya dulu.
Hingga akhirnya sebulan yang lalu Arumi putuskan bertanya pada dokter Ajeng apakah sudah punya pacar atau teman dekat belum. Dan, mulai menceritakan kalau dirinya mempunyai seorang putra yang seumuran dengannya. Serta Arumi bahkan mengatakan langsung dirinya ingin sekali dokter Ajeng itu menjadi menantunya.
Awalnya dokter Ajeng hanya tersenyum saja tidak memberi jawaban dan membuatnya agak kecewa. Tapi, tentu saja Arumi tidak patah semangat karena dia yakin putranya sangat cocok dengan Dokter Ajeng. Hingga akhirnya dia malah mendapatkan jawaban itu dari suster yang bekerja dengan sang dokter.
Katanya Dokter Ajeng itu baru saja tunangan seminggu yang lalu. Tentu saja Arumi sangat menyesal karena ternyata sudah hilang kesempatan untuk mempunyai menantu dokter.
Abisatya benar-benar dibuat terperangah mendengar cerita Mamanya itu. Dia masih tak menyangka kalau Mama berani melakukan hal seperti itu, menawarkan anaknya sendiri pada wanita yang baru dikenalnya. "Mama benar-benar melakukan itu?" gumamnya masih tak menyangka pasalnya dahulu setiap dia membawa seorang wanita pasti Mamanya seperti tak suka, tapi kenapa tiba-tiba seperti itu pada dokter Ajeng.
Mama malah mengulum senyumnya, yah saat itu dia sangat nekat melakukan itu karena keinginannya memang sebesar itu, meskipun berujung kecewa. "Yah, tapi nyatanya takdir berkata lain Nak!"
Abisatya malah menaikkan satu alisnya, “Sebegitu sukanya kah Mama pada Dokter Ajeng?” tanyanya ingin memastikan.
Arumi malah tersenyum simpul. “Nak, tapi nyatanya takdir berkata lain!” ulangnya lagi sambil mengelus tangan putranya itu.
Abisatya malah menghela napas berat. Ya, andai saja dia bisa mengulang waktu. "Tapi, kemarin takdir berkata lain Mah!" gumamnya sambil tersenyum lebar mengingat kejadian semalam.
"Maksud kamu?" Arumi bertanya penasaran karena melihat raut wajah Putranya yang sangat bahagia itu.
Abisatya segera menceritakan kejadian barusan yang terjadi bersama dokter cantik itu.
Mama mendengarkannya sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. "Kamu nggak lagi mengarang cerita kan Nak?" tanyanya penuh selidik.
Kini Abisatya yang tertawa kecil karena disangka menghayal. "Ya nggak lah Mah, Mama serius nggak percaya?"
Tentu saja Arumi tak percaya, tapi ia bisa lihat kalau putranya tidak mungkin mengarang seperti tadi. “Jadi, ini yang membuat kamu terlihat sangat happy sekarang?" tanyanya ingin memastikan.
Kepala Abisatya mengangguk dengan cepat, serta bibirnya terus merekah tersenyum.
Tapi, Arumi malah memberikan raut wajah yang berbanding terbalik. Karena dia sangat memahami putranya yang ternyata benaran sudah jatuh cinta pada dokter yang ditemuinya itu. "Kamu nggak boleh deketin dia Nak, dia sudah punya orang lain!" ujarnya dengan wajah serius.
Abisatya malah tertawa kecil mendengar itu, "Tapi mereka belum menikah Mah. Jadi, belum sah menjadi punya orang bukan?"
Arumi tetap menggelengkan kepalanya. "Tapi, mereka sudah bertunangan Nak, namanya tunangan sudah melangkah serius dan akan segera menikah!" terangnya mulai cemas.
Abisatya segera menggenggam tangan Mamanya dan menatap wajah khawatirnya. "Iyah Abi tau, tapi mereka belum akad nikah kan? Dan, kita nggak tau takdir apa yang menanti kita di depan Mah. Manusia kan memang bisa berencana tetap tuhan yang menentukan,” terangnya dengan sangat lembut agar Mamanya lebih tenang.
Arumi hanya terdiam, perkataan putranya itu memang ada benarnya juga. "Tapi, tetap kamu tidak boleh mendekati dia.” Keukeuhnya memohon.
Abisatya hanya mengangkat alisnya satu dan tersenyum simpul pada Mamanya.
Membuat Arumi semakin cemas, apalagi dia sangat tahu kalau putranya itu memang sangat gigih jika sudah menyukai suatu hal termasuk wanita. "Abi, janji? Jangan dekati dia!" ujarnya lagi dengan nada tegas karena dia tak mau putranya merusak hubungan orang lain,
Abisatya malah menarik napasnya dalam, dia tau apa yang dikhawatirkan Mamanya itu.
Arumi ikut menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian mengelus wajah putranya itu sambil menatap matanya. "Abisatya, ingat yah perkataan Mama tak boleh kamu berusaha untuk mendapatkannya,” katanya penuh peringatan.
Abisatya ikut mengelus lembut wajah Mamanya itu sambil tersenyum. 'biarlah takdir yang berkata Mah, aku hanya mengikuti alurnya saja.' jawabnya dalam hati, karena dia tau jelas sang Mama pasti akan marah dan semakin mencemaskannya jika dia berkata seperti itu.
Arumi malah semakin khawatir melihat tatapan putranya itu karena dia mencoba membaca pikirannya. “Abisatya!” panggilnya dengan lembut memperingatkan
"Udah deh Mah, tenang aja aku tau batasan kok!" ujar Abisatya mencoba menenangkan wanita yang dicintainya itu.
Arumi malah menghela napas berat. Dia benar-benar tak tenang sekarang.
"Mama udah sarapan?" Abisatya sengaja mengakhiri topik itu.
Arumi menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kita sarapan dulu yuk, sebelum aku pergi! Tadi aku beli ini di jalan," terangnya sambil menunjukkan paper bag berisi makanan yang dibelinya saat perjalanan ke rumah dan mereka pun menyantap sarapan bersama.
***
Sedangkan di lain tempat, seorang wanita sedang duduk di meja riasnya. Kini dia baru selesai merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang, kemudian mengoleskan lip-tint tanpa warna pada bibirnya agak terlihat lembab. Ya bukan lipstik karena dia tak terbiasa menggunakan lipstik dan lebih suka berpenampilan polos seperti ini.
Setelah selesai, dia pun mengambil ponselnya hendak memasukkan dalam tasnya, tapi sebelumnya dia mengecek dulu benda itu. Dan, seperti biasa tak ada chat satu pun masuk dalam ponselnya itu. Tapi, entah mengapa dia malah tiba-tiba teringat pada Kama. Mereka memang jarang berkomunikasi, pria itu menelpon atau chat hanya saat ada keperluan saja.
Tiba-tiba saja dia mengingat kembali pertanyaan bapaknya soal kedekatannya dengan calon suaminya itu. Ajeng pun sadar betul kalau mereka memang belum saling mengenal satu sama lain.
Padahal seharusnya mereka melakukan tahapan itu sebelum pertunangan, tapi karena pertunangan itu benar- benar sangat mendadak jadinya mereka melewati tahapan itu dan alhasil saat sudah satu bulan bertunangan mereka masih belum juga saling mengenal. Ditambah mereka memang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kama yang dia tahu adalah GM (General Manager) pimpinan tertinggi di salah satu hotel milik Mahendra Grup, sedangkan dirinya tentu saja sibuk praktek dari hari senin-sabtu.
Tok… Tok…
Suara ketukan pintu itu menarik wanita itu dalam lamunannya.
"Ajeng!" .
"Ya Bu masuk aja!" ujarnya saat mengenal suara ibunya memanggil di balik pintu.
Tak lama pintu pun terbuka dan terlihat wanita paruh baya yang sangat mirip dengannya itu sedang menatapnya dengan senyuman sumringah di wajahnya, membuat Ajeng heran.
"Udah siap?" Sekar bertanya saat melihat putrinya itu sedang duduk di depan meja riasnya.
Ajeng menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ada apa Bu?"
"Sudah ada yang menjemput kamu!" serunya terlihat bahagia.
Ajeng malah memasang raut wajah sebaliknya dengan sang ibu. "Siapa?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya heran.