"Yah, siapa lagi kalau bukan calon suami kamu." Sekar tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda putrinya itu. "Ini pertanda baik untuk hubungan kalian kan!" seru Sekar sangat lega karena akhirnya mereka mulai sering bertemu dan memang sudah seharusnya juga lah mereka mulai saling mengenal.
Ajeng hanya terdiam menatap ibunya tak percaya. Kenapa Kama tak mengabarinya dulu jika akan datang? Kenapa juga tiba-tiba dia mau mengantarnya pergi bekerja? Dan, kenapa hari ini? batinnya mengeluh. Karena jujur saja saat ini dia tidak mau bertemu dengannya karena kejadian semalam masih begitu membekas di kepalanya.
Sekar segera menghampiri putrinya yang terlihat kaget dan melamun itu, mungkin dia belum terbiasa dengan hal itu sehingga responnya seperti ini. “Nak, kamu baik-baik aja kan?”
Ajeng segera tersadar saat merasakan elusan di kepalanya. Lalu dia segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada ibunya yang tampak khawatir itu. “Aku baik-baik aja Bu!” katanya meyakinkan.
Terdengar helaan napas lega keluar dari mulut ibunya itu. “Ya sudah yuk, kasian Nak Kama sudah menunggu daritadi!” ajak Sekar.
Ajeng menurut dan bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar kamar bersama sang ibu. Terlihat Kama sedang duduk sambil berbincang dengan bapaknya di sofa. Ajeng seketika penasaran apa yang Kama bicarakan dengan bapaknya itu/
“Nah itu dia sudah siap!” ujar Prasetya semangat dan tersenyum lebar ke arah putrinya itu.
Kama ikut melihat ke arah Ajeng yang sedang berdiri di samping ibunya itu. “Ya udah Pak Bu, kita pamit dulu!” ujarnya sambil beranjak dari duduknya.
“Eh, emang kalian tidak akan sarapan dulu?” tanya Prasetya heran bergantian menatap putri dan calon mantunya itu.
"Kita sarapan di luar aja Om, ya kan Jeng?" Kama menatap ke arah Ajeng sambil menganggukkan kepalanya menyuruh wanita itu menyetujuinya. Karena dia merasa tak nyaman saja makan bersama seperti itu, tanpa Papanya sendiri.
Ajeng refleks ikut menganggukkan kepalanya juga, "Ya Pak kita sarapan di luar aja!" ujarnya menyetujui usulan calon suaminya itu karena dia khawatir orang tuanya melontarkan pertanyaan yang tak biasa lagi pada dirinya dan Kama.
Prasetya menghela napas berat, "Ya sudah kalau begitu,” katanya agak kecewa karena tadinya dia sangat ingin menyantap sarapan bersama mereka sambil berbincang santai.
“Ya udah biarkan saja mereka sarapan berdua aja Pak, itu lebih bagus kan!” timpal Sekar sambil tersenyum simpul pada suaminya yang sedang kecewa itu dan seketika suaminya itu ikut tersenyum juga.
Berbeda dengan Kama yang malah menaikkan alisnya satu mendengar pertanyaan itu. "Ya sudah kalau begitu kami langsung pamit Om dan tante!" Pamit Kama.
Bapak dan ibu mengangguk bersamaan, “Ya sudah hati-hati kalau begitu!” ujarnya.
Kama langsung menyalami calon mertuanya itu bergantian, dan Ajeng pun sama. Setelah itu Kama segera pergi keluar rumah duluan menuju mobilnya, sedangkan tangan Ajeng ditahan oleh Bapaknya saat bersalaman.
“Ada apa Pak?” tanya Ajeng heran
Bapak malah meletakkan kertas yang sudah dilipat ke dalam tasnya yang masih terbuka itu, membuat Ajeng semakin heran. “Apaan itu Pak?”
Akan tetapi, kedua orang tuanya malah saling pandang dan tersenyum simpul. “Itu daftar pertanyaan yang harus kamu tanyakan pada Kama,” bisik Sekar menjelaskan.
Karena orang tuanya yakin jika putrinya tidak mahir dalam sebuah hubungan, apalagi ini pertama kali untuknya, maka mereka ingin mencoba membantunya.
Ajeng malah tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya tak percaya mendapatkan kertas itu. "Ya sudah Bu, Pak, Ajeng pergi! Assalamualaikum." Setelah pamitan dia segera menyusul Kama ke mobilnya, sambil sesekali menengok pada orang tuanya yang sedang tersenyum ke arahnya. Nampak jelas sekali raut bahagia kedua orang tuanya melihat Kama datang menjemputnya seperti ini, sedangkan dirinya sendiri tentu sangat tidak nyaman karena hal yang terjadi kemarin itu.
“Akhirnya yah Pak, mereka mulai ada perkembangan,” ucap Sekar sangat lega.
Prasetya pun semakin tersenyum lebar, “Harus dong Bu, tinggal menunggu waktu saja sampai tumbuh perasaan di antara mereka.” timpalnya. Lalu mereka pun saling menatap dan tersenyum bahagia.
Sedangkan di dalam mobil kedua orang itu malah sama-sama diam. Ajeng bingung harus mengatakan apa, lagipula dia sangat yakin Kama pasti masih merasa sangat kesal padanya. Dan, dia takut diabaikan kembali olehnya. Jadi, diam sepertinya lebih baik, pikirnya.
Kama beberapa kali menghela napasnya berat, apalagi wanita yang lagi-lagi duduk di sampingnya itu hanya terdiam saja. Lalu dia pun melihat ke rumah Ajeng nampak kedua orang tuanya masih berdiri di depan pintu. Alhasil Kama pun segera menghidupkan mobilnya dan mulai meninggalkan rumah itu.
Tapi, tak lama saat sudah keluar komplek perumahan Kama memberhentikan mobilnya dekat lapangan. “Kita berhenti dulu di sini sebentar karena ada yang harus kita bicarakan sebentar,” jelasnya.
Ajeng hanya menganggukkan kepalanya setuju.
“Kamu pasti anehkan kenapa aku tiba-tiba datang menjemput kamu seperti ini?” Kama memulai percakapan.
Ajeng refleks menoleh pada pria yang duduk di sampingnya itu karena pria itu menebak dengan benar apa yang barusan melintas di pikirannya.
Kama tersenyum simpul karena tebakannya selalu benar. “Tentu saja karena disuruh oleh Papa, maka jangan heran!” lanjutnya menjelaskan dengan penuh penekanan. Karena tentu saja dia masih sangat kesal, setelah semalam dia tak bisa menikmati pestanya, lalu pagi-pagi sekali Papa membangunkannya dan memaksanya untuk segera mengantarkan wanita yang akan menjadi calon istrinya itu untuk pergi ke tempat kerjanya.
Ajeng malah semakin tak enak pada Kama dan sudah dipastikan pria itu pasti semakin kesal padanya. Tapi, tetap saja dia tak bisa berbuat apa-apa karena itu perintah Om Surya bukan keinginannya. “Maaf!” hanya itu kata yang bisa diucapkannya dari semalam sampai saat ini.
Kama hanya tersenyum sinis mendengar permintaan maaf itu lagi. Rasanya bosan sekali mendengar kata itu saja yang terlontar dari mulut calon istrinya itu.
“Aku bisa kok pergi sendiri. Jadi, kamu nggak usah beneran antar aku ke rumah sakit, yang terpenting Om surya dan orang tuaku tahu kalau kamu sudah menjemput.” Ajeng mencoba memberi solusi pada pria yang terlihat terpaksa menjemputnya itu.
Kama malah tersenyum sinis kembali, “Ya dan alhasil aku bakal kena marah Papa ku lagi jika sampai dia tau. Karena bisa jadi sekarang kita sedang dimata-matai oleh orang suruhannya, sebab Papa ingin kita semakin dekat, bahkan dia menyuruh untuk mulai mencintaimu!” Pria itu tertawa sinis kembali setelah mengatakan itu karena dia tak terbayang saja harus jatuh cinta pada wanita yang kini sedang duduk sambil menatapnya dengan tatapan yang bingung seperti itu.
Ajeng hanya mengulum bibirnya, karena dia pun tak tahu harus berkata apa. Mendengar kata mencintai, rasanya tak mungkin tumbuh rasa seperti di antara mereka, karena lihat saja sikap Kama yang terlihat tak menyukainya atau bahkan membencinya.
"Kamu tau kan kalau kita sama-sama di posisi yang tak bisa menolak tentang perjodohan ini. Maka, jangan heran dengan sikapku yang memang seperti ini!" terang Kama lalu menghela napas berat karena jujur saja dia masih merasa keberatan dengan keputusan Papanya itu.
Ajeng melakukan hal yang sama menghela napas berat juga mendengar pernyataan itu. Ya, tanpa diberitahu pun tentu dia tahu kalau hubungan mereka memang sama-sama terpaksa.
Namun, biarpun terpaksa Ajeng merasa tetap harus menjalankan semua ini dengan baik dan sungguh-sungguh. Karena ini menyangkut orang tuanya dan juga Om Surya. Dia tak mau membuat mereka kecewa. Meskipun Ajeng tahu betul ini tak akan mudah, apalagi dengan kepribadian Kama yang dia tahu seperti itu. Tapi, dia tetap akan berusaha melalui itu semua. Ya, dia akan melakukan semua ini demi kedua orang tuanya, tekadnya dalam hati.
Kemudian Ajeng mengubah posisi duduknya dan menatap langsung pria yang akan menjadi calon suaminya itu. “Kama ada yang harus tanyain ke kamu!”