Seorang pria sedang duduk sambil terus melihat ke arah pintu dengan kaki yang terus bergerak-gerak tanda tak sabar. Seketika pria itu menegakkan badannya saat melihat ada seseorang yang akan membuka pintu studio, tapi dia tak bisa melihat wajah yang datang itu tapi yang jelas itu seorang wanita, tanpa sadar pria itu menahan napasnya menanti sosok yang akan muncul di sana.
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan sosok wanita di sana, tapi seketika bahunya pun lemas dan menundukkan kepalanya, serta berdecak kecewa karena itu bukan wanita yang diharapkannya. Sudah seminggu ini dia terus berharap bertemu lagi tapi harapannya itu tak kunjung datang juga.
"Misi Mas saya mau ambil hasil foto," kata wanita yang baru saja masuk itu.
Abisatya mengangkat wajahnya, "Ah ya silakan ke meja sana Mbak!" jawabnya sambil menunjukkan sebuah meja panjang yang berada di pojok kanan, tempat untuk reservasi, ambil hasil foto, dan kasir.
Abisatya menyandarkan kembali kepalanya di sandaran sofa, sambil memandang kembali ke arah pintu.
"Heh!"
Abisatya pun tersentak kaget karena mendapatkan tepukan di bahunya.
"Sakit Bro!" keluhnya kesal sambil mengusap bahunya yang terasa sakit itu.
Pelaku yang memukul itu hanya menampilkan deretan giginya saja, ia adalah Bayu partner kerjanya,
"Eh gue perhatiin kok lo seminggu belakangan ini sering banget duduk di depan sini? Kan biasanya lo lebih suka di atas. Lo lagi nunggu seseorang yah?" cecar Bayu menebak.
Abisatya pun kaget saat partnernya itu menebak semuanya dengan benar. Tapi, tentu saja ia tak mau memperlihatkannya karena ia pasti akan diledek. "Ya nggak apa-apa dong, bebas aja kan ini studio gue juga,” jawabnya ketus.
"Bukannya gitu, udah deh nggak usah pakai rahasiaan segala, sebenarnya nunggu siapa sih lo?" Bayu tetap berusaha mengorek temannya itu.
"Lo nggak bakal kenal mau gue sebutin juga!" Abisatya keukeuh.
Bayu berdecak. "Elah, gebetan baru?"
Abisatya hanya mengangkat kedua bahunya saja. "Eh Bro kalau dokter itu pasti punya hari libur kan yah?"
Bayu menatap temannya itu heran. "Kenapa tiba-tiba tanyain soal dokter? Gigi lo sakit lagi? Wah berarti dokter yang kemarin kerjanya nggak bener dong, malah buat gigi lo makin sakit kan. Dokter gadungan kali, aww!" Teriaknya tiba-tiba sambil mengelus kepalanya yang tiba tiba dipukul oleh Abisatya.
"Kebiasaan yah lo kalau ngomong tuh nyerocos banget!" Keluhnya kesal karena tak terima dengan omongan asal temannya itu.
"Yah apa salah gue? Gue kan belain lo, kenapa malah gue yang dipukul sih," protes Bayu tak terima juga.
"Gue nggak ngeluh sakit gigi Bro, gue cuma tanya jadwal libur dokter,” terang Abisatya.
Bayu malah mengerutkan keningnya heran. "Ya terus, buat apa lo tanya tanya soal dokter kalau bukan mau periksa lagi ya kan?”
Abisatya menghela napasnya berat, "Udah ah capek ngomong sama lo. Intinya gigi gue udah baik-baik aja!"
Bayu malah berdecak, lalu memilih pergi keluar studio saja.
Abisatya menyandarkan kembali kepalanya di sandaran sofa. Ya memang benar seminggu terakhir ini dia sedang rajin duduk di sofa depan ini jika sedang tidak ada pekerjaan, karena tentu saja ia sedang menunggu dokter gigi cantik itu.
Karena dia yakin wanita itu akan mengembalikan powerbanknya. Bahkan ia ingat betul saat dokter itu berkata akan mengembalikan powerbank yang dipinjamnya itu. Dan, Abisatya sangat optimis mereka pasti akan segera bertemu lagi. Dia bahkan sudah berencana dalam kesempatan ketemu itu ia akan mencoba berkenalan secara resmi dengan dokter cantik itu. Tapi,nyatanya seminggu sudah berlalu tapi orang yang dinantinya itu tak kunjung datang juga.
"Bro!" Panggil temannya lagi yang baru keluar dari luar itu.
Abisatya pun tersadar kembali dari lamunannya. "Apaan lagi sih lo, ngagetin mulu?” kesalnya
"Ngelamun mulu sih lo!" Bayu mengejek lalu melempar sesuatu pada temannya itu.
Dengan refleks Abisatya segera menangkapnya dan mengaduh kesakitan karena ternyata benda yang ditangkapnya itu cukup berat. "Apaan lagi ini? lumayan beratt?" tanyanya heran sambil membolak-balik paket berukuran setelapak tangan itu.
"Tuh tadi ada ojek online yang anterin itu katanya buat lo!" terang Bayu.
Abisatya menatap heran kotak itu, karena perasaan dirinya tak memesan atau membeli produk online sama sekali. "Dari siapa?"
Bayu mengangkat kedua bahunya. "Mana gue tau, ngak ada tulisanya emang?"
Abisatya mengecek kembali kotak itu dan paket itu hanya bertuliskan.
*Untuk Abisatya*
“Siapa yah?” gumamnya
"Ih awas bom loh!" Bayu bergidik setelah mengatakn itu.
Abisatya malah berdecak, "Ngarang banget lo!"
"Ya udah cepet buka kalau gitu!" seru Bayu penasaran lalu pergi mengambil kater dan memberikannya pada temannya itu.
Abisatya pun segera merobek plastik pembungkus paket itu karena penasaran dan membuka tutup kotaknya, kemudian ia malah menghela napas berat setelah melihat isi kotak itu. "Pupus sudah harapan gue!" lirihnya mengeluh menyimpan kotak itu di atas meja ia bahkan malas untuk mengeluarkannya dalam kotak itu karena paket itu berisi power bank yang dipinjam oleh dokter cantik itu.
Bayu semakin penasaran ia segera mengambil kotak itu dan mengeluarkan isinya, "Ini memang power bank punya lo kan!” serunya mengenali benda itu karena ia pun suka meminjamnya. “Kok dipaketin?” tanyanya heran.
"Sttt … udah ah berisik mood gue lagi buruk, gue mau kerja aja!" kesalnya lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruangan editing.
"Orang aneh!" ejek Bayu, lalu ia mencoba mengecek kembali kotaknya siapa tau saja ada sesuatu dan benar saja dia menemukan sesuatu. “Bi!” panggilnya semangat.
Yang dipanggil itu malah berdecak, lalu menghentikan langkahnya. “Apaan lagi sih?” tanyanya tanpa menoleh masih membelakangi temannya itu.
“Ini ada sesuatu lagi di dalam kotaknya!” seru Bayu.
Seketika Abisatya segera membalikkan badannya dan menghampiri temannya itu. “Mana?” tanyanya antusias.
“Nih!” Bayu menyodorkan kotak kosong bekas paket tadi, namun ternyataada tempelan kertas di sana.
*Maaf lama dan terima kasih*
Abisatya berdecak karena ternyata hanya tulisan seperti itu saja dan tadi ia tak melihatnya karena tertindih oleh power bank itu.
Bayu semakin menatap heran temannya itu. “Siapa sih Bro?”
Abisatya hanya menggelengkan kepalanya saja dan berjalan kembali menuju tujuannya tadi yaitu, ruang editing. Ya wajar saja ia merasa sangat kecewa karena ternyata harapannya bertemu dengan dokter itu sudah sirna.
Ternyata wanita itu memilih mengirimkannya lewat ojek online ketimbang datang sendiri memberikannya langsung dan bertemu dengannya. Ya, dia tau terlalu berharap saat ini bahkan setia menunggunya sampai seminggu, dan berujung kekecewaan yang di dapat. Tiba-tiba saja ia ingat perkataan Mamanya yang bilang mungkin kini takdir telah berkata lain lagi.
Kini Abisatya sudah berada di ruangan editing. Kemudian ia segera duduk di depan komputer dan siap menghilangkan rasa kecewa dengan bekerja. Ya, tak ada obat yang lebih efektif selain bekerja, tekadnya mulai sibuk dengan komputernya.
Abisatya berprofesi sebagai fotografer dan dia mempunyai studio foto yang dirintisnya bersama kedua temannya, Bayu dan Darto. Mereka bertiga menyewa ruko untuk studio foto mereka itu. Ruko ini mempunyai 3 lantai, lantai pertama untuk ruang tunggu reservasi, dan ruang editing, lantai 2 studio foto dengan berbagai macam spot dan background yang beragam sesuai tema, sedangkan lantai 3 dijadikan kamar untuk mereka beristirahat, karena mereka jarang pulang ke rumah masing-masing dan memilih tidur di ruko.
Kenangan Photo Studio, adalah studio foto melayani jasa fotografi dan videografi untuk personal, kelompok, ataupun foto produk untuk komersil. Mereka juga menerima jasa untuk wedding, prewedding, maternity shoot, dan juga bekerja sama dengan vendor event organizer.
Usaha yang dibangun oleh Abisatya dan teman-temannya ini sudah berjalan tahun ke-2 dan Kenangan Photo Studio ini sudah cukup terkenal dan sudah banyak client yang mereka tangani.
***
Ajeng baru saja selesai praktek pukul 14.00 dan hari ini ia akan dijemput oleh bapaknya. Jadi, dia memilih menunggu di dalam ruangannya saja sampai bapaknya mengabari kalau sudah sampai.
Untuk menghabiskan waktu ia memainkan ponselnya dan berniat mengirim pesan pada Kama. Ajeng ingin mengajak tunangannya itu bertemu untuk memastikan sesuatu pada Kama. Namun, ia sedang kebingungan harus mengirim chat seperti apa untuk memulainya.
Ajeng Sudah mengetikkan beberapa kata tapi malah dihapus kembali. Apakah ia harus menyapanya dulu? Atau menanyakan kabar? Atau langsung saja ke intinya? Ajeng benar-benar bingung dan tak biasa memulai chat dengan pria jadi beginilah. Dan, juga ia pesimis dan takut Kama menolak ajakannya itu dengan mentah-mentah atau bahkan mengabaikan chat-nya itu.
Namun, tiba-tiba ada notif chat masuk dan ternyata itu adalah dari Om Surya. Ajeng segera membukanya.
Om Surya
Ajeng, malam ini ada waktu luang? Om sudah reservasi-kan tempat untuk kalian dinner hari ini.
Mata Ajeng berbinar setelah membaca chat itu. Om Surya juga mengirimkan foto dan alamat restoran yang sudah dipesannya itu dan ternyata tempatnya di salah satu restoran internasional yang ada di jogjakarta. Perasaannya sangat senang kali ini karena saat ini dia mempunyai solusi juga kesempatan untuk jalan dengan Kama dan sudah dipastikan jika dari Papanya seperti ini pria itu tak akan menolak. Ajeng segera membalas pesan itu dulu.
Ajeng
Baik Om, terima kasih banyak.
Om surya
Have fun yah malam mingguannya.
Ajeng hanya mengirim emoticon senyum saja pada calon mertuanya itu. Kemudian ia segera forward chat itu pada Kama. Tapi ternyata pesannya itu tak kunjung dibuka padahal sudah ada tanda terkirim.
10 menit berlalu, tapi Kama tidak kunjung membuka pesannya itu. Ajeng meletakkan ponselnya itu sambil menghela napas berat. Dia tentu mengerti Kama memang selalu sibuk atau pria itu memang tak menganggap penting chat darinya itu. Tak lama ponselnya malah berdering tanda panggilan masuk dan Ajeng segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Ya Pak? Sudah sampai?" tanya Ajeng sambil beranjak dari kursinya siap segera keluar ruangan.
"Waalaikum salam. Maaf Ajeng, bapak tidak bisa jemput kamu, soalnya bapak sedang ada di kantor polisi."
Ajeng terpaku sejenak mencerna perkataan bapaknya itu. "Kenapa? Apa Bapak baik-baik saja?" tanyanya sangat khawatir.
"Tenang saja, Bapak baik-baik saja Nak. Jadi, kamu pulang naik taxi aja yah, takutnya lama kalau kamu nunggu Bapak!"
"Bapak di kantor polisi mana?" tanya Ajeng masih dengan nada cemas.
"Di kantor polisi Gedongtengen."
"Ok aku akan ke sana!" seru Ajeng lalu segera bergegas pergi keluar mencari taxi menuju kantor polisi. Sepanjang jalan dia tak tenang sekali karena memikirkan kondisi bapaknya, sambil terus berdoa semoga semua baik-baik saja.
Sesampai di kantor polisi, Ajeng segera masuk ke dalam dan ternyata kondisinya cukup ramai banyak orang di dalam sana. Ia segera mengedarkan pandangannya mencari sosok bapaknya.
"Ajeng!"
Ajeng mengenali suara itu, ia segera mencari ke arah suara dan saat melihat sosok dikenalnya ia langsung berjalan cepat menghampiri bapaknya yang baru beranjak dari duduknya. "Bapak baik-baik aja kan?" tanyanya sangat khawatir sambil memperhatikan bapaknya dari atas sampai bawah.
Prasetya segera mengelus lengan putrinya itu, "Ya bapak baik-baik saja Nak. Bapak di sini sedang dimintai keterangan oleh polisi."
Ajeng menghela napas lega, setelah memastikan bapaknya memang tidak terluka sedikitpun. Namun, saat bapaknya duduk kembali di kursi, mata Ajeng membulat sempurna dan mengerjapkan matanya beberapa kali karena melihat ada seorang pria yang sedang duduk di samping ayahnya sedang melambaikan tangan ke arahnya. 'kenapa dia di sini?' tanyanya dalam hati.