Ajeng mengerutkan keningnya heran, kenapa dia bertemu lagi dengan pria itu? Lalu kenapa pria itu duduk di sebelah bapaknya sekarang? Dia kan pria yang tertukar ponselnya pada seminggu yang lalu. Lalu Ajeng melihat ke arah petugas polisi yang menangani bapaknya. “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Bapak anda menjadi calon korban pemerasan pura-pura tertabrak yang dilakukan oleh pria yang di sana!” jawab petugas polisi sambil menunjuk satu pria lain yang menunduk di sebelah Abisatya.
Ajeng melihat pada pria yang ditunjuk bapak polisi itu, lalu dia melirik sebentar pada Abisatya yang sedari tadi menatap ke arahnya terus. Kini Ajeng menatap kembali ke arah polisi karena ia ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi.
“Jadi, saat Bapak anda sedang mengendarai mobil di jalan tiba-tiba dikejar oleh motor yang membawa pelaku dan menunjuk-nunjuk mobil Bapak anda. Setelah mobil Bapak anda berhenti, pelaku turun dari motor dan berlari tergesa-gesa ke depan mobil bapak anda lalu berpura-pura pincang. Kemudian ia mengatakan pada orang-orang sekitar kalau ditabrak oleh mobil bapak anda itu dan meminta sejumlah uang untuk ganti rugi. Tapi, untungnya ada pria ini yang bilang kalau itu bohong dan mempunyai bukti atas perkataannya itu. Sehingga sang pelaku kesal dan menghajar pria yang bersaksi ini.”
Ajeng menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar penjelasan dari petugas polisi itu. Lalu ia melihat ke arah bapaknya.
“Nak, kamu duduk dulu di kursi tunggu sana yah! Biar Bapak selesaikan ini dulu sebentar lagi!” Prasetya mengelus lengan putrinya yang terlihat kaget itu.
Ajeng menurut segera duduk di kursi tunggu dan menutup matanya sejenak menenangkan dirinya sendiri. Karena tak menyangka bapaknya akan mengalami hal itu ketika akan menjemputnya.
Lalu Ajeng merasa ada yang aneh, ia merasa ada yang menatapnya sedari tadi. Lantas ia membuka matanya perlahan dan benar saja matanya bertemu dengan mata yang sedari tadi menatapnya itu. Tapi, kemudian Ajeng segera mengalihkan pandangannya dengan mengamati sekitarnya.
15 menit berlalu, Prasetya sudah selesai memberikan keterangannya lalu ia segera menghampiri putrinya yang terlihat cemas sedari tadi. “Yuk, kita keluar Nak!” serunya.
Ajeng segera bangkit dan memegang lengan bapaknya itu dan berjalan keluar kantor polisi.
“Bapak beneran tidak apa-apa? Bapak pasti syok kan mengalami itu semua?” tanya Ajeng setelah mereka sudah di luar kantor polisi.
Prasetya menghentikan langkahnya. “Ya Bapak baik-baik saja Jeng. Semua berkat pria ini!” serunya sambil menunjuk seseorang di belakang mereka.
Lantas Ajeng menoleh ke arah belakang dan melihat Abisatya berdiri di sana. Ia tak menyadari kalau ternyata pria itu sedari tadi di belakang mereka.
“Jika bukan karena dia, Bapak pasti sudah dalam masalah besar dan diperas oleh pelaku tadi. Terima kasih banyak yah Nak. Orang tuamu pasti membesarkanmu dengan baik, karena jarang yang mau membantu orang lain belakangan ini.” Prasetya mengulurkan tangannya pada pria yang menolongnya itu.
Abisatya segera menerima uluran tangan itu dan melirik sebentar pada wanita yang hanya diam saja sedari tadi. “Sama-sama Pak!” serunya.
Ajeng memperhatikan dua pria itu saling tersenyum lebar satu sama lain sambil bersalaman. Tiba-tiba terdengar deringan telepon.
Prasetya segera melepas cengkraman tangan itu, lalu mengeluarkan ponselnya. “Ah sebentar saya angkat telepon dulu!” pamitnya lalu berjalan menjauh.
Abisatya mengulum senyumnya karena saat ini mereka hanya berdua. “Hei, ingat saya kan?” sapanya sambil tersenyum dan menunjuk dirinya sendiri.
Ajeng menganggukkan kepalanya, tentu saja ia mengingat jelas siapa pria itu dan ia tak pernah berpikir akan bertemu kembali dengannya. Tapi, bertemu dengannya malah mengingatkan kembali pada kenangan tak mengenakkan pada seminggu yang lalu itu dan itu membuatnya agak kesal juga.
Akan tetapi, dia mengingat kembali perkataan bapaknya yang mengatakan kalau pria ini menyelamatkannya. “Terima kasih, telah membantu Bapak saya!” ujarnya sangat tulus karena memang sudah seharusnya kan ia mengucapkan itu.
Senyum Abisatya malah merekah mendengar itu, tapi kemudian ia meringis karena terdapat luka di sana, lalu ia menganggukkan kepalanya. “Sama-sama,” jawabnya.
“Maaf karena membantu Bapak saya, anda jadi terluka, apakah sudah diobati?” tanya Ajeng prihatin ketika melihat ada dua luka memar di wajah pria itu, di sudut mata dan bibirnya.
Hati Abisatya berasa bahagia mendengar perhatian itu, tapi ia tak bisa tersenyum lebar lagi karena luka di sudut bibirnya akan terasa perih lagi. “Anda peduli dengan saya?” tanyanya ikut bicara formal.
Ajeng segara menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan itu!” jawabnya cepat, lalu bergumam. “Saya hanya tak suka berhutang budi.” Lanjutnya menerangkan.
Abisatya menghela napas berat mendengarnya. “Tenang saja, luka ini bukan apa-apa!’ terangnya tak ingin membuat wanita itu merasa terbebani.
Ajeng menganggukkan kepalanya mengerti, lalu mengalihkan pandangannya pada bapaknya yang kini menghampiri mereka kembali.
“Ini tadi ibu kamu, biasa khawatir.” Prasetya menjelaskan pada putrinya itu, lalu beralih menatap pada pria yang menyelamatkannya itu. “Nak, bapak sangat berterima kasih dan ingin membalas budi atas kebaikanmu. Maka dari itu bapak ingin mentraktirmu makan. Ngomong-ngomong apa yang kamu suka?”
“Saya bukan pemilih makanan Pak. Jadi, saya akan setuju saja terserah bapak mau di mana!” Abisatya menjawab dengan semangat.
Prasetya tersenyum lebar mendengar itu. Tiba-tiba terdengar kembali deringan telepon, ia mengeluarkan kembali ponselnya. “Ibumu lagi, Nak!” terangnya pada sang putri lalu mengangkat telepon kembali sambil berjalan beberapa langkah menjauh.
Ajeng masih memperhatikan bapaknya yang sibuk menelepon, sedangkan Abisatya diam-diam mengulum senyumnya memperhatikan wanita yang berada di dekatnya kini. Tak lama Prasetya kembali menghampiri mereka.
“Ajeng, Bapak harus segera pulang karena ibumu sangat khawatir. Jadi, kamu bisa kan mentraktir dia makan sebagai gantinya?” tanya Prasetya.
Ajeng mengerutkan keningnya heran, “Hanya berdua saja?” tanyanya tak percaya.
Prasetya tanpa ragu menganggukkan kepalanya. “Ya, karena barusan kan bapak janji akan mentraktir dia. Bapak tidak enak kalau sampai tidak jadi mentraktirnya hari ini. Jadi, kamu saja yah!” pintanya sambil mengelus bahu putrinya itu.
Ajeng melirik sekilas pada pria yang sedang mengulum senyum itu, lalu ia menghela napas berat dan menganggukkan kepalanya.
Prasetya segera melihat ke arah pria itu. “Nak, tidak apa-apa yah digantikan dengan putri saya?” tanyanya menyesal.
Abisatya menganggukkan kepalanya semangat, tentu saja ia semangat karena itu adalah harapannya. “Ya tidak apa-apa Pak!”
Prasetya menghela napas lega, “Kalau begitu ayo kalian saling berkenalan!”
“Hai Dokter Ajeng!” sapa Abisatya langsung.
“Kalian sudah saling mengenal?” tanya prasetya heran menatap kedua orang itu.
“Ya!”
“Tidak!” jawab Ajeng.
Prasetya mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban itu dan kini kedua orang itu sedang saling menatap heran juga.
“Saya pernah menjadi pasiennya Pak!” Abisatya memberitahu.
Prasetya malah tersenyum lebar. “Ah pantas saja, bagus kalau begitu. Ya sudah saya pamit yah!” Prasetya menepuk pundak pria itu. Lalu menatap putrinya. “Kamu bawa dia ke cafenya Ayu saja yah, Jeng! Jadi, di sana Ayu bisa menemanimu,” bisiknya.
Ajeng menganggukkan kepalanya mengerti karena usul itu sangat bagus juga. “Hati-hati yah Pak!”
Prasetya mengangguk. “Ya sudah bapa pergi yah!” pamitnya lalu pergi berjalan menuju mobilnya.
“Jadi?” tanya Abisatya langsung karena Ajeng hanya diam saja sedari tadi.
“Ya, tentu saja karena itu perintah bapak saya dan kita naik taxi saja!” terang Ajeng.
“Bagus, karena saya juga tidak membawa kendaraan,” terangnya lalu mengikuti Ajeng yang sudah duluan jalan di depannya.
Kini mereka sudah duduk di dalam taxi duduk di kursi belakang dengan jarak yang cukup jauh. Diam-diam Abisatya melirik memperhatikan wanita yang sedang memperhatikan luar dari jendela mobil di sampingnya itu. Ia benar-benar tak menyangka akan duduk satu mobil dengan wanita yang sangat ingin ditemuinya ini.
Bahkan, ia sangat ingat tadi beberapa jam yang lalu ia masih merasa kesal dan kecewa karena wanita itu mengembalikan barangnya dengan cara seperti itu. Tapi, siapa sangka ternyata mereka dipertemukan kembali dengan cara seperti ini. Bahkan, mereka akan makan bersama dan artinya mereka bisa berkenalan dan mengobrol banyak. Memikirkan itu bibirnya tersenyum lebar lagi tapi tak lama ia meringis karena luka di sudut bibirnya itu.
Ajeng refleks menoleh mendengar suara asal ringisan itu, lalu mereka tanpa sengaja bertatapan dan ia segera memalingkan wajahnya nya kembali melihat ke arah luar. 'Katanya bukan apa-apa tapi meringis,' batinnya berbicara.
Abisatya mendesah kecewa karena ia kira ajeng akan bicara padanya tapi nyatanya tidak. Baiklah kalau begitu biar dirinya saja yang akan memulai obrolan. Karena ia sangat penasaran wanita ini akan membawanya kemana? Dan ia akan bertanya langsung.