Kama malah menyeringai, ia takjub melihat wanita yang sudah berstatus istri orang itu tetap menggoda di restoran suaminya sendiri. Lantas ia segera mencondongkan tubuhnya. "Jangan merayu Cindy, tunangan ku sudah kembali!” bisiknya lalu tersenyum evil.
Cindy malah tertawa kecil lalu beranjak dari kursinya mempersilakan wanita yang berstatus tunangan Kama itu untuk duduk.
“Kalau begitu selamat menikmati dinner kalian!” serunya lalu mengusap bahu Kama, “Bye!” Cindy melambaikan tangannya dan berjalan sambil menatap Kama penuh arti.
Ajeng memilih memalingkan pandangannya ke arah luar saja, daripada harus melihat wanita itu terus menggoda calon suaminya.
Setelah memastikan wanita itu pergi menjauh dari meja mereka, barulah Ajeng duduk menatap Kama. "Apa wanita itu juga yang menjadi alasan kamu ingin terlihat kita menjadi pasangan yang sempurna?" tebaknya memulai percakapan.
Kama malah tersenyum tipis. "No!" jawabnya cepat. "Frenemy ku hanya Sandy!" lanjutnya penuh penekanan. Karena jujur saja ia merasa kaget juga karena tiba-tiba bertemu teman wanita yang sudah lama tak ia temui itu, serta ternyata Sandy dan Cindy itu menikah. Dia bahkan tak pernah memikirkan akan mendapatkan kejutan ini.
"Oh!" respon Ajeng, sebenarnya ia ingin menanyai lebih lanjut tapi takut makin merusak mood pria itu serta mungkin membuat dirinya semakin insecure. Jadi, dia memilih diam saja mencari aman.
Tak lama seorang waiters datang "Selamat malam!" sapanya lalu menyimpan hidangan di meja. "Ini hidangan appetizer-nya selamat menikmat!" ujarnya lalu pergi dari meja.
"Oh ternyata Papa bahkan sudah memilihkan menu untuk kita!" gumamnya menggelengkan kepalanya tak percaya karena nampak jelas Papanya sangat memanjakan hubungannya ini.
Ajeng jelas melihat raut wajah Kama seperti tidak suka dengan apa yang dilakukan Om Surya. "Dia sangat peduli dengan hubungan kita!" timpalnya lalu meneguk minuman yang tersedia di atas meja.
Kama malah berdecak. "Ya, tapi menurutku ini berlebihan!"
"Ya dia begitu karena khawatir melihat hubungan kita. Apa kamu peduli dengan hubungan ini?" Ajeng sengaja memulai membuka topik yang ingin dibahasnya karena baginya perkataan Kama tadi umpan yang bagus.
Kama terdiam sejenak, berpikir, tapi kemudian tak lama ia mengangkat bahunya acuh dan mulai menyendokkan hidangan appetizer berupa cream soup itu ke mulutnya. Karena ia merasa tak punya kewajiban menjawab pertanyaan itu
Ajeng menghela napas berat karena ia bisa menyimpulkan sendiri jawaban kama dari sikap pria itu dan ia tak bisa membiarkan begini terus. Lalu ia menegakkan duduknya. "Kama, apa kamu serius dengan hubungan pertunangan ini?"
Mendapatkan pertanyaan itu Kama segera meletakkan sendoknya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, seraya menatap wanita yang sedang serius berbicara padanya itu. "Apa aku terlihat main-main?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.
Kini giliran Ajeng yang terdiam karena merasa sangat terintimidasi oleh tatapan mata pria di hadapannya ini. "Tidak, bukan begitu!" belanya agak tergagap. Lalu mengatur napasnya sebentar kemudian berkata. "Hanya saja, aku merasa hubungan pertunangan ini hanya status saja, bahkan komunikasi di antara kita saja tak baik. Itulah yang akhirnya membuat Om Surya terlihat ikut campur dengan hubungan kita, karena kita tidak terlihat seperti pasangan tunangan pada umumnya. Dan, mereka mengkhawatirkan itu."
Kama mencerna dengan baik ocehan frustasi wanita di hadapannya itu. Tapi, lagi-lagi ia memilih diam tak ingin menanggapi ocehannya. Kemudian pria itu lebih memilih untuk melanjutkan memakan cream soup-nya saja.
Ajeng berdecak pelan, kemudian tersenyum sinis karena ia mulai kesal pria itu tak menanggapi perkataannya sama sekali atau dia memang tak berminat membahas perihal ini. Tapi, bagaimanapun Ajeng sudah bertekad akan tetap membahas ini karena entah kapan lagi ada kesempatan seperti ini bagi mereka. Dinner berdua sekali ini saja ia terlihat tak berminat.
Wanita berumur 30 tahun itu segera menegakkan duduknya kembali. "Atau apa sebenarnya kamu belum siap atau menyesal kita bertunangan terlalu cepat? Padahal seharusnya saat itu lebih baik kita saling mengenal dulu dengan baik baru memutuskan ke jenjang selanjutnya. Jadi, apa alasannya dulu kamu mengajak bertunangan langsung?"
Kama tersenyum tipis mendengar Ajeng menanyakan hal yang sama seperti di hari itu, ya tentu saja ia masih ingat pertanyaan yang dilontarkannya waktu itu. "Kamu masih penasaran?" Pria itu bertanya sambil mengangkat alisnya satu.
Tanpa ragu Ajeng mengangguk. "Ya tentu, karena aku merasa aneh saja kenapa tiba-tiba cepat bertunangan dan hubungan pertunangan kita aneh seperti ini, bahkan sampai sekarang kita belum saling mengenal satu sama lain. Jadi, wajarkan kalau aku berpikiran mungkin kamu hanya ingin statusnya saja tapi tidak dengan hubungan sebenarnya."
Kama tentu mengerti arah pembicaraan wanita di hadapannya ini. Lalu ia segera ikut menegakkan duduknya. "Ya sudah, ayo kita saling mengenal, kamu mau tau apa dari aku!" tantangnya.
Satu alis Ajeng malah terangkat mendengar itu. "Kamu tak akan menjawab pertanyaan yang tadi?"
Kama menggelengkan kepalanya. "Ya tidak akan, karena yang sudah ya sudahlah!" terangnya. Padahal sebenarnya ia tak ingin Ajeng mengetahui kalau dirinya mengajukan pertunangan itu demi mendapatkan tanda tangan Papanya untuk persetujuan proyeknya sebulan yang lalu itu.
Ya Kama saat itu hanya memanfaatkannya saja, tapi tentu saja ia pun tak gegabah memutuskan dan sudah memikirkan itu. Karena menurutnya cepat atau lambat ya mereka memang pasti harus bertunangan dan Kama hanya ingin memanfaatkan moment itu saja selagi bisa.
Ajeng sebenarnya tak puas dengan jawaban itu. Tapi, baiklah ia akan menghilangkan rasa penasarannya dan mengambil kesempatan bagus yang ditawarkan calon suaminya itu. "Oke, jadi sekarang kita setuju untuk saling mengenal?" tanyanya ingin memastikan dulu.
"Ya, silakan kamu bisa bertanya apapun padaku!" Kama siap menjawab.
Ajeng tersenyum tipis mendengarnya. Lalu ia berpikir sambil mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Pertanyaan apa yang harus dilontarkannya pertama kali. "Apa kamu beneran tidak punya pacar?" tanyanya agak terbata sebenarnya ia malu menanyakan soal ini tapi rasanya ia harus tahu jika ingin mempertahankan pertunangan ini..
Kini satu alis Kama terangkat, ia tak menyangka mendengar pertanyaan itu. "Kamu beneran bertanya itu?"
"Ya, karena aku merasa aneh saja pria macam kamu tidak punya pacar?" Ajeng menatap heran pria di hadapannya itu.
Kama malah tersenyum angkuh sambil mengangkat dagunya. "Ya aku tahu aku tampan, kaya, dan mapan. Maka jangan heran jika banyak wanita yang menginginkan aku!" terangnya dengan penuh percaya diri.
Namun, Ajeng tiba-tiba merasa mual melihat kepercayaan diri yang dipunya calon suaminya itu. Ya mungkin bagi wanita di luar sana tampan, tapi bagi Ajeng calon suaminya itu tetap sangar. "Jadi, kamu punya banyak pacar di luar sana? Dan salah satunya wanita yang tadi?" tebaknya menyimpulkan dari jawaban calon suaminya barusan itu.