Kama malah menyeringai. "Mereka yang menginginkan aku, tapi aku tidak ingin berkomitmen atau pun menjalani hubungan yang lebih!" tegasnya, lalu melanjutkan makan cream soup-nya.
Ajeng berdecak mendengar ocehan pria yang sangat percaya diri itu. "Dan alasan kamu mau dijodohkan dan bertunangan denganku karena dipaksa Papa-mu, begitu kan?"
"Ya betul sekali, entah kenapa Papa sangat ingin sekali melihat kita menikah.” Kama berkata sambil mengangkat bahunya. Karena sampai saat ini ia masih belum mengerti mengapa papanya sampai keukeuh seperti ini.
"Ya karena dia ingin kamu berubah menjadi sosok yang lebih baik!" Ajeng memasukkan kembali satu sendok cream soup ke dalam mulutnya.
Kama hanya tersenyum tipis mendengar itu. "Atau pun bukan, dia melakukan itu karena ingin membuatku terus tersiksa saja dengan memberikan keputusan sepihak!” Setelah mengatakan itu ia segera mendorong jauh cream soup-nya itu, karena tiba-tiba saja ia merasa makanan itu pahit, seperti hidupnya sekarang.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Ajeng, ia tentu bisa melihat Kama yang masih belum bisa menerima perjodohan ini dan tentu Ajeng paham betul bagaimana rasanya. Kemudian dia pun ikut menyudahi makannya itu dan menatap pria yang di hadapannya sekarang. “Kama, aku tahu rasanya sangat sulit menerima keputusan sepihak. Aku sangat akrab dengan rasa itu, karena sedari kecil sudah terbiasa tak diberi kesempatan untuk memilih dan hanya akan menerima semua keputusan yang sudah dipilihkan orang tuaku. Meskipun kecewa dan berat hati, aku tetap menjalankannya dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan hasil yang terbaik dan membuat orang tua ku bangga dan bahagia. Hanya satu yang aku yakinkan dalam diri saat menjalani semua itu yaitu, aku yakin kalau orang tua selalu tau yang terbaik untuk anaknya dan tak mungkin menjerumuskan anaknya pada hal yang tak baik!”
Kama benar-benar menyimak perkataan itu dengan baik sampai ia akhirnya membuka mulut dan menggelengkan kepalanya tak percaya akan pikiran bernama Ajeng itu. Serta dari situ tiba-tiba ia mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari. “Ah aku jadi tahu pasti apa alasan Papaku inginkan kamu jadi istri ku!” serunya lalu tersenyum. “Karena kepribadianmu yang patuh, gigih, dan sabar atau lebih tepatnya pasrah. Dan, satu hal lagi ia sangat tahu betul kalau kamu tak akan mengecewakannya!” Ia mengatakan semua itu sambil menatap takjub wanita yang akan menjadi istrinya itu dan tak menyangka papanya bisa menemukan wanita yang seperti ini.
Mendengar penilaian calon suaminya tentang dirinya itu membuat Ajeng meringis, tapi memang benar apa yang Kama pikirkan tentang dirinya, seperti itulah dirinya. "Ya sekarang kamu sudah paham kan aku bagaimana. Maka dari itu aku ingin bertanya sekali lagi, apakah kamu serius dengan hubungan ini?"
"Entahlah!" Kama menjawab asal pertanyaan wanita yang sedang menatapnya dengan serius itu dengan mengangkat bahunya. Karena jujur saja ia belum menemukan hal yang menarik dalam hubungan ini. Ia masih harus mencari sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya sendiri dalam menjalani ini. Bukan hanya sekedar papanya yang bahagia dan senang. Terlebih dia sendiri yang menjalaninya, maka ia harus mendapatkan harga yang bagus bukan untuk pengorbanannya itu. Serta ia bukan Ajeng, wanita lemah yang sangat patuh pada orang tuanya.
Ajeng tersenyum kecut pada calon suaminya yang terlihat tak peduli itu. Kemudian ia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu ia segera membeberkan apa yang ia akan lakukan agar calon suaminya itu mengerti. "Asal kamu tahu aku akan mempertahankan hubungan ini bagaimanapun caranya demi orang tau ku dan Om Surya karena aku tak ingin mengecewakan mereka ataupun membuat mereka sedih!"
Kama malah tertawa kecil mendengarnya, tentu ia sudah akan menduga itu barusan. “Ya silakan lakukan saja apa yang menurutmu benar!” ujarnya sambil mengangkat bahunya lagi. "Lalu apalagi yang ingin kamu tahu lagi dari aku?" lanjutnya menantang kembali wanita di hadapannya itu.
Ajeng berdecak pelan karena ia benar-benar kesal mendengar perkataan pria itu barusan. Akan tetapi tentu ia tak akan melewatkan kesempatan yang ditawarkan pria ini. “Apa para wanita yang kamu sebut mendekati dan menginginkanmu itu, jenis wanita bernama Cindy itu?" Setelah mengatakan itu ia segera menundukkan kepalanya dan menutup rapat mulutnya karena menyesali pertanyaan yang terlontar begitu saja tanpa dipikirkannya karena ia tadi terlalu kesal pada pria itu atau ia merasa risih terbayang perlakuan wanita bernama Cindy tadi. "Sorry kamu nggak usah jawab, aku hanya meracau saja!" sesalnya sangat menyesal.
Kama malah tertawa kecil. "Tak apa aku akan menjawabnya!" keukeuh nya. "Ya semacam wanita seperti itulah!"
Ajeng malah tersenyum simpul mendengarnya dan sekarang ia paham pantas saja jika orang yang sudah mengenal Kama pasti akan memandangnya dengan tatapan heran dan merendahkan saat melihat dirinya. Karena dirinya memang tak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita yang memiliki badan bagus dengan pakaian sexy dan bersikap agresif itu.
"Apa kamu cemburu?" tebak Kama sambil mengangkat satu alisnya heran karena melihat raut wajah tunangannya itu seperti sangat kesal dan cemas.
Ajeng langsung dengan lantang berkata "Tidak!" Sambil menggelengkan kepalanya.
Lalu seorang waiters datang dan menyajikan hidangan selanjutnya. "Ini hidangan main course-nya, selamat menikmati!"
"Terima kasih!" seru Ajeng Tersenyum pada waiters yang hendak pergi dari meja mereka.
Kama malah tertawa kecil lagi karena semakin kentara perubahan ekspresi Ajeng itu. "Tenang saja aku kebal oleh godaan mereka!" bisiknya lalu menyeringai.
Kini giliran Ajeng yang mengangkat bahunya acuh ketika mendengarnya. Kemudian ia mulai memakan hidangan utamanya, sebuah steak yang terlihat menggiurkan daripada harus membahas soal wanita macam tadi.
"Kamu mau tahu apalagi tentang aku? Silahkan mumpung hari ini aku sedang berbaik hati!" tawar Kama sambil mulai memotong steak itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Ajeng mengunyah dan menelan makanannya itu kemudian berdecak pelan. "Aku lupa tidak membawa kertas yang diberikan bapak waktu itu, andai saja aku bawa!" serunya menyesal karena ia tak ingat satu pun pertanyaan yang dituliskan bapaknya waktu itu.
Lagi-lagi Kama tertawa kecil karena ia pun tahu kertas yang dimaksud wanita itu. Bahkan, ia ingat beberapa poin pertanyaan konyol itu, tapi tentu ia tak akan mengatakan itu pada wanita polos di hadapannya ini.
“Perasaan dari tadi hanya aku saja yang bertanya, apa kamu tidak penasaran denganku?” Ajeng bertanya heran sambil memakan kembali makanannya.
Kama menggelengkan kepalanya. “Aku sudah lebih dari cukup mengetahui tentangmu dari obrolan kita malam ini!”
Ajeng memiringkan kepalanya menatapnya tak percaya, tapi ya sudahlah mungkin kepribadian dirinya ini gampang ditebak oleh orang. Kemudian ia kembali fokus dengan makanannya.
Tapi, tak lama Kama menjentikkan jarinya dan menyudahi makannya. “Ah ada yang ingin aku tanyakan!” serunya.
“Apa?”
“Tadi kamu bilang tak ingin mengecewakan orang tuamu dan juga Papa ku kan? Nah, kenapa kamu peduli juga pada Papa ku?” Kama bertanya heran.
Ajeng malah tersenyum dan tentu tak heran kenapa Kama menanyakan itu karena ia sudah tahu Kama tak banyak tahu soal Papanya sendiri. “Karena Om Surya sudah banyak membantu keluargaku dan aku sampai jadi seperti ini.”
Kama manggut-manggut kepalanya karena jujur saja selama ini ia tak mengetahui apa yang diperbuat oleh Papanya itu, tapi saat ini ia sudah paham betul kenapa keluarga mereka dan keluarga Ajeng merasa sangat terikat. ”Oh pantas saja kalau begitu!”
. “Ada lagi?” Kali ini Ajeng yang mengatakan itu.
Kama menegakkan duduknya ia tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya ia sudah penasaran sejak lama. “Di mana cincin tunangan yang saat itu aku kasih?” tanyanya karena dia hanya melihat cincin itu tersemat saat hari itu saja.