Ajeng malah tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu karena artinya ternyata diam-diam calon suaminya ini memperhatikannya. Lantas ia segera menyimpan peralatan makan yang sedari tadi digenggamnya itu, karena makanannya memang sudah habis. Lalu mengelap tangannya itu dengan tisu, dan segera menarik lembut keluar kalung yang selama ini selalu disembunyikannya dalam baju. “Ini!”
Kini giliran Kama yang tersenyum simpul saat melihat kalung yang bergantung liontin cincin pemberiannya itu, padahal ia kira wanita ini menghilangkan cincinnya tapi ternyata selalu dibawa bersamanya kemana pun. “Kenapa tidak di pakai di tempat semestinya?”
“Agak longgar dan saat menangani pasien aku harus melepasnya daripada lupa, jadi ya lebih baik di sini kan lebih aman!” serunya memasukkan kembali kalung itu tertutup pakaiannya.
“Dan tak terlihat!” sindir Kama.
Ajeng tersenyum simpul. “Kama, apa kamu akan bekerja sama membuat hubungan ini semakin baik?”
Pria itu malah bergumam, kemudian mengangkat bahunya. “Tergantung!” ujarnya sambil mengangkat satu alisnya.
“Tergantung apa?” Ajeng bertanya heran.
“Tergantung mood ku lah!” lanjut Kama dengan santai.
Terdengar helaan napas panjang dari Ajeng. “Baiklah terserah kamu, yang penting asal kamu tahu aku akan berjuang meskipun sendiri!” teguhnya lalu menyandarkan badannya pada sandaran kursi.
“Silakan! Tapi, kamu harus satu hal aku tak mau dikekang dan jangan berharap aku akan percaya pada kamu!” tegas Kama memberitahu lalu meneguk minumannya.
Kening Ajeng berkerut heran, “Kenapa?”
Seorang waiters datang lagi ke meja mereka, mengambil perlatan bekas yang sudah dipakai, lalu menyimpan hidangan yang mereka bawa. “Ini hidangan penutupnya, selamat menikmati!”
Kedua orang itu pun segera tersenyum pada waiters yang langsung pergi dari meja.
“Karena aku tak mudah percaya pada orang, siapapun itu! Makanya jangan heran kalau aku kadang suka menuduh kamu atau apapun itu!” Kama mulai menyendok dessert berupa mouse cake itu ke mulutnya.
Ajeng menghela napasnya berat lalu menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin pasti ada satu hal yang membuat Kama menjadi seperti itu, tapi ia sangat yakin pria itu tak akan membeberkannya dan ia akan menyudahi obrolannya ini.
Lalu Pasangan itu menikmati hidangan terakhirnya dengan diam, sambil menikmati suasana malam di restoran mewah yang bergaya eropa itu. Lalu tiba-tiba mata Kama berhenti terpaku melihat meja di sebelahnya tampak keluarga kecil yang duduk di sana. Sebuah keluarga yang lengkap, ada ibu, ayah dan 1 anak laki laki yang sepertinya masih berumur 4 tahun. Terlihat mereka sedang asyik makan sambil bercakap-cakap dan sesekali tertawa melihat tingkah putra kecilnya. Melihat itu Kama malah berdecak pelan dan memalingkan wajahnya sambil mengusap wajahnya, mendadak hatinya merasa aneh.
Tiba-tiba terdengar deringan ponsel, Ajeng maupun Kama menatap pada benda yang sedang berdering di atas meja itu
Kama melihat layar ponselnya itu tanpa memegangnya. "Papa video call!" serunya berdecak pelan. "Ngapain sih harus sampai sebegitunya?" umpatnya kesal merasa papanya keterlaluan.
"Kan sudah ku katakan Karena dia sangat peduli dengan hubungan kita!" Ajeng menimpali
"Ya dan karena itu keinginan besarnya adalah menjadikanmu sebagai menantunya dan dia sangat egois, hanya memikirkan keinginannya sendiri, sedangkan entah apa yang aku dapatkan dari semua ini!” kesalnya dengan nada mulai meninggi.
Ajeng menatap heran calon suaminya itu yang tiba-tiba muncul sikap menyebalkan dan pemarahnya itu. Padahal sebelumnya mereka sudah bisa berbicara baik-baik, bahkan tertawa bersama tadi. Tapi, kenapa tiba-tiba ia berubah kembali menyebalkan, seperti ada sesuatu yang memicunya tapi Ajeng tentu belum tahu apa itu.
"Kamu tak akan mengangkatnya?" tanya Ajeng sambil melirik ponsel yang terus berdering itu.
"Kamu saja yang angkat dan bilang aku sedang di toilet!!" serunya lalu beranjak pergi, tapi baru juga berjalan 3 langkah ia memutar kembali badannya. "Oh ya, setelah menerima telepon langsung ke mobil karena aku akan menunggu di sana!" perintahnya dengan menunjuk, lalu melanjutkan kembali jalannya menuju pintu keluar.
Ajeng menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya mendapatkan tatapan tajam kembali itu, ia benar-benar heran melihat perubahan sikap drastisnya Kama. Lalu dia segera mengangkat video call itu dan otomatis tersenyum ketika melihat wajah om surya di layar ponsel. "Hai Om?"
"Oh hai Ajeng. Bagaimana dinner-nya?"
"Ya baik, lancar dan enak, terima kasih banyak Om!" Ajeng masih memamerkan senyuman di wajahnya.
"Syukurlah kalau kamu suka, oh iyah mana Kama?"
"Ah dia sedang ke toilet dulu Om. Ada apa?"
"Ah tidak, Om hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja dan benar datang ke sana!"
"Oh tenang saja Om kita baik-baik saja!" Ajeng meyakinkan dan menghela napas lega ketika melihat om surya tersenyum lega juga.
"Ya sudah kalau begitu, Om tutup yah takut mengganggu acara kalian."
"Ya baik Om, bye!" Sambungan telepon pun terputus, Ajeng menghela napasnya lega. Lalu ia melihat layar ponselnya Kama yang menggunakan foto screen lock seorang wanita cantik dan tentu Ajeng tahu betul kalau itu ibunya Kama.
Sepertinya dibalik sikap menyebalkan dan tempramental-nya Kama, ternyata ia sangat mencintai ibunya dan tentu itu sebuah nilai plus pikirnya. Karena ia pernah mendengar katanya pilihlah pria yang sangat mencintai dan memperlakukan ibunya dengan baik, kelak ia juga akan seperti itu pada pasangannya.
Tapi, apakah itu berlaku pada Kama? Soalnya Kama juga ditinggal ibunya saat masih kecil. Entahlah yang jelas Ajeng segera menepis semua ekspektasinya itu dan segera beranjak dari duduknya karena ia ingat Kama sudah menunggunya dan ia tak boleh membiarkan pria itu lama menunggu. Jika lama tamat lah sudah dipastikan ia akan kena marah lagi.
Maka dari itu Ajeng segera bergegas keluar restoran menuju mobil Kama, dan segera duduk. "Nih!" Ajeng menyodorkan benda mati itu apa pemiliknya.
Kama hanya menerimanya lalu menghidupkan mobil dan segera mengendarainya menuju rumah Ajeng.
Sepanjang jalan sangat hening, Kama benar-benar hanya menyetir fokus matanya ke depan, pada jalan yang membentang, yang diisi oleh kendaraan-kendaraan lainnya di hari yang sudah malam ini. Tiba-tiba saja moodnya tadi berubah 180 derajat, membuat dirinya menjadi kesal sendiri dan yang dibutuhkannya sekarang adalah pulang ke rumah. Maka tujuannya saat ini dengan cepat mengantarkan wanita di sampingnya itu ke rumahnya dulu.
Sementara Ajeng sama masih duduk tenang melihat ke arah luar tapi pikiranya sangat riuh sekali. Sebenarnya Ajeng ingin mengetahui apa penyebab Kama tiba-tiba berubah dingin kembali itu. Tapi, ia tak punya keberanian untuk itu. Maka dia memilih diam saja, serta memberi ruang untuknya sendiri.
Setelah melakukan perjalanan yang panjang dan hening itu, kini akhirnya mereka sampailah di rumah Ajeng. Wanita itu segera melepas seat belt-nya lalu melirik pria yang hanya terdiam seribu bahasa itu. Kemudian ia menghela napas penjang dan mengumpulkan keberaniannya kemudian berkata. "Terima kasih aku sangat menikmati dinner kita malam ini!” Jeda sejenak, Ajeng melihat Kama yang tak sedikit pun menoleh padanya, tapi tentu saja ia akan melanjutkan perkatannya. “Maaf kalau malam ini mungkin ada perbuatan atau sikapku yang membuat kamu tak nyaman. Aku sungguh minta maaf!” lanjutnya dengan penuh penyesalan meskipun ia tak tahu sebenarnya penyebab Kama menjadi diam begini apa, tapi ya sudah ia tetap meminta maaf setulus hatinya.
Pria yang sedari tadi hanya diam menatap lurus ke depan itu hanya bergumam saja menanggapi perkataan terima kasih dan maaf dari wanita itu. Kama pikir wanita itu terlalu mudah mengatakan maaf.
Lantas Ajeng langsung segera keluar dari mobil dan seperti biasa mobil yang baru ditumpanginya itu langsung melesat pergi ketika ia sudah menutup pintunya. Helaan napas panjang keluar dari mulut Ajeng, ia tak menyangka dinner pertamanya mereka berakhir seperti ini, padahal sebelumnya ia merasa sangat enjoy makan dan mengobrol dengan calon suaminya itu. Dan, sempat berpikiran positif hari ini pasti berakhir dengan baik. Tapi, ya sudahlah sepertinya hubungannya dengan Kama memang jangan terlalu ber-ekspektasi tinggi agar tak berujung kekecewaan yang didapat.
Ajeng langsung segera masuk ke dalam rumahnya agar segera bisa merebahkan tubuhnya ini di atas kasur, setelah melewati hari yang panjang ini.